
“Buna … Buna … Bunaaaa…” Seorang anak laki berlari menghambur ke ibunya. Mereka sedang piknik di sebuah taman di Sydney.
Kala yang sangat menyukai kehidupan bawah laut merengek untuk ke Aquarium Sydney. Jadilah keduanya berangkat menggunakan kereta. Devan yang mengetahui segera menyusul.
“Kala … udah mainnya sama Uncle Devan?”
Devan berjalan di belakang Kala, pria yang bertahun-tahun menggunakan kursi roda kini sudah mampu berjalan normal walau masih dalam jarak dekat.
“Udah, Kala tadi menang main bola. Kala bikin gol tiga kali, Oom Devan cuman segini.” Kala membuat kode angka nol dengan jari gendut-gendutnya. Matanya berbinar-binar kegirangan. Anak laki-laki itu langsung duduk di pangkuan dan bergelendot ke ibunya.
“Uncle kan belum latian, Kal,” Devan merebahkan diri di samping Qiara. Matanya terpejam, ia menikmati suasana pagi hari itu.
Qiara menatap wajah tampannya.
“Kenapa liat-liat, suka, ya?” Celetuk Devan sambil tertawa nyengir.
“Liatin laler yang nemplok di hidung,” sahut Qiara asal.
“What, hush hush hush,” Devan langsung bangkit sambil mengibaskan tangannya.
Qiara dan Kala tergelak melihat tingkah polah Devan. Sadar ibu dan anak itu mengerjainya Devan ikut tertawa.
“Nih kalian minum dulu, haus, kan,” Qiara menuangkan minuman dingin honey lemon grass ke dalam gelas warna-warni. Kala dan Devan menyesap pelan-pelan menikmati kesegaran minuman yang dibuat Qiara.
“Buna, enak. Kala mau lagi…” ucapnya dengan gaya anak kecil. Matanya bulat mengharap ibunya memberikan segelas lagi minuman segar.
“Abis ini udah, ya, Kala kalau minum dingin kan batuk.”
“Loh kan Uncle Dave itu dokter, jadi kalau batuk, tinggal minta resep,” sahut Kala dengan seringai jahil.
Qiara dan Devan tertawa mendengar jawaban pintar anak berumur 2 tahun yang kini duduk tekun menyesap minuman kesukaannya.
Devan memerhatikan Qiara yang asik melihat tingkah laku putranya. Sejak kelahiran Kala, hubungan Devan dan Qiara semakin akrab. Devan selalu ada di setiap momen penting Kala dan Qiara, sementara Qiara selalu menyemangati Devan untuk terus melatih kakinya.
“Qiara, pakai topinya nanti kamu kepanasan. Cuaca musim panas di Australia bisa sangat menyengat.”
Devan memberikan topi lebar pada Qiara.
“Thanks!”
“Buna, Kala mau main lari-larian di sana,” pinta Kala sambil menyerahkan gelas dan melap mulut dengan punggung tangannya.
“Don’t play too far, okey.”
“No worries, Bunna!”
Qiara memerhatikan Kala yang sibuk lari melompat-lompat mengejar kupu-kupu.
“Qiara, mmmm aku bisa tanya sesuatu sama kamu?”
Dengan pandangan bertanya Qiara menoleh ke arah Devan yang duduk di sebelahnya.
“Tumben halus, biasanya langsungan.”
Devan terkekeh.
“Sudah hampir tiga tahun, apakah kamu ada niatan mmm … menjalin … mmmm hubungan?”
“Belum tahu, Dev. Aku pernah begitu mencintai seseorang hingga terluka begitu dalam. Sampai sekarang aku masih merasakan sakitnya namun juga sangat merindukan dia di saat yang bersamaan.”
“Kamu … kamu masih mencintai dia? After all this time?” Devan menggigit bibirnya.
Qiara mengangguk, matanya kembali melihat Kala yang kini asik main bola.
“Buna lihat, Kala bisa bikin tendangan pisang!” Bocah lincah itu menendang dengan keras lalu dengan bangga melihat ke arah ibunya.
“Hebat Kala!”
Kala adalah satu-satunya yang bisa mengobati kerinduan Qiara pada Thoriq. Semakin hari, anak laki-laki berusia dua tahun itu makin mirip dengan ayah yang belum pernah ia jumpai.
Bahkan kebiasaan-kebiasaan kecil Thoriq menurun pada Kala. Sebagaimana ayahnya, Kala suka sekali membuat orang tertawa dengan tingkah polahnya. Thoriq adalah orang yang serius dalam bekerja, demikian juga Kala jika ia sudah mulai suatu kegiatan makan dirinya akan tuntaskan.
Devan tak melepas pandangan dari wanita berkerudung di sebelahnya. Ada rasa ingin melindungi, menyayangi, memilikinya setiap ia bersama Qiara.
Pria itu tidak tahu bagaimana perasaan Qiara padanya, namun kini ia tahu bahwa di hati wanita itu masih ada orang lain.
__ADS_1
“Uncle Jeremy!” Teriak Kala melihat laki-laki berambut pirang dan bermata biru jalan mendekat.
Qiara dan Devan menoleh. Devan mendengus kesal. Kehadiran Jeremy jelas-jelas mengganggu kebersamaannya dengan Qiara dan Kalandra.
“Hey Kiddo,” sapa Jeremy sambil melirik Devan dengan tatapan penuh persaingan.
“Uncle udah beli tiketnya?”
“Kala, nanti Buna aja yang beli tiketnya kalau loket udah buka.”
“No worries kemarin setelah telepon Kala, aku langsung beli tiket terusan ke zoo. Tapi ya itu aku beli tiketnya cuma tiga,” ucap Jeremy sambil melirik penuh kemenangan pada Devan.
Devan merutuki keputusannya mengikuti rencana Qiara untuk membeli tiket di loket. Dibalasnya tatapan Jeremy lalu ia bangkit.
“Kala, itu kios kukis sudah buka, tadi kamu mau, kan?”
“Yeay! Buna aku beli kukis dulu sama Uncle Devan. Buna tunggu di sini sama Uncle Jeremy, ya.”
“Oh no, Qiara ikut yuk. Jer, kamu di sini jaga barang-barang, ya,” titah Devan sambil membantu Qiara bangkit. Kini gantian Jeremy mendengus kesal.
“Jer, ikut aja, cuma tikar dan makanan, nggak usah dijagain.”
“Eh jangan, siapa tahu ada tapir nanti. Tolong ya, Jer, kita bakal lama di toko kukis,” sahut Devan asal lalu menggandeng Kala sambil sekali lagi melirik Jeremy penuh kemenangan.
“Mana ada tapir di tengah kota Sidney, Uncle,” Kala terkekeh-kekeh mendengar jawaban Devan.
“Buna temenin Uncle Jeremy aja, abis dari kios kukis aku mau main game, ya, kan Uncle Devan?”
Qiara tersenyum, lagi-lagi kebiasan Thoriq yang suka mengatur menurun ke anaknya.
“Dev, aku beberes sama Jeremy, nanti aku nyusul kamu dan Kala.”
Mata Jeremy langsung berbinar.
“Okay Kala and Devan, you guys have fun,” dengan tulus mengucapkannya ke Kala namun mengedipkan sebelah mata ke arah Devan.
Devan yang hendak membalas terpaksa mengurungkan niat karena Kala sudah tidak sabar dan menggandengnya ke kios kukis.
“Jer, bantu aku masukin makanan ke keranjang.”
Dengan gerakan yang diperlambat, Jeremy membantu Qiara. Terkadang berulang kali menanyakan pertanyaan yang bodoh hanya supaya bisa berduaan lebih lama dengan Qiara.
“Jer, kuenya jangan langsung dimasukin. Taro tupperware dulu.”
“Oh baik-baik, kok bisa nggak kepikiran ya.”
“Minuman dingin taro di cool box aja jangan di keranjang. Kok snack malah yang di cool box.”
Jeremy diam-diam tersenyum, sebagai pemilik kafe tentunya ia paham betul bagaimana cara menyimpan makanan.
“Oh my God, how silly am I.” Lalu mengulang lagi pekerjaan simpel yang harusnya selesai sejak tadi.
“Sengaja, ya?” Seloroh Qiara sambil melempar tissue ke arah Jeremy.
“Heh jangan buang sampah sembarangan, dendanya besar,” balas Jeremy sambil memungut tisue, hatinya berbunga-bunga.
Dengan suara lebih serius, Qiara berkata, “Jer, aku ganti uang kamu yang buat beli tiket. Maaf anakku merepotkanmu.”
“No need. Please Qiara, aku seneng banget bisa beliin kalian tiket. Bahkan kalau tahu lebih awal kalian ke Sidney, aku bisa antar.”
“Makasi, Jer. Tadinya memang mau berdua aja, terus Devan telpon, Kala yang angkat. Kamu tau kan anak aku langsung cerita dari A sampai Z. Bawel banget.”
“Kayak kamu banget,” celetuk Jeremy menanggapi.
“Iih aku nggak bawel, lagi.” Qiara mencebikkan bibir. Jeremy harus berpaling untuk menahan diri. Baginya Qiara adalah wanita yang mandiri namun sekaligus menggemaskan.
“Jer, izinin aku ganti uang kamu ya,” bujuk Qiara yang tidak mau berhutang.
“Boleh, tapi aku traktir kamu makan malam, ya.” Jeremy mengerling nakal.
“Kapan?”
“Kamu mau? Nanti malam, yuk. Aku tahu restoran Prancis halal enak banget.”
“Ajak Kala dan Devan?”
__ADS_1
Jeremy mendengus, “Ya enggak, Kala dititipin Devan aja.”
“Aku nggak mau ninggalin Kala, Jer.”
Qiara membawa keranjang piknik sedangkan Jeremy membawa cool box lalu berjalan ke arah kios kukis.
“Kalau gitu nanti pas balik ke Melbourne, ya.”
Qiara tersenyum lalu berkata, “Thanks for the ticket. I will transfer to you as soon as possible.”
Hidung Jeremy kembang kempis menahan kebahagiaan yang membludak. Dia sudah menyukai Qiara sejak pertama berjumpa di kafe. Qiara baru tiba di Australia dan memulai perjuangannya seorang diri.
Qiara bukanlah wanita pada umumnya. Dirinya lembut namun punya kemauan keras. Supel namun punya prinsip dalam berteman.
Kelahiran Kala semakin membuatnya terpesona pada Qiara. Ibu muda yang berjuang untuk anaknya. Selelah apapun Qiara akan ada untuk menjaga dan membesarkan Kala. Seorang diri.
“Buna!” Seorang anak kecil menyongsong ibunya dengan berlari-lari lincah.
“Uncle Devan menangin aku mobil-mobilan di game lempar bola. Baru satu kali lempar padahal udah kena semua.” Kala bercerita penuh semangat.
“Ya nanti Uncle Jeremy juga menangin yang lain buat Kala, ya.”
Devan mengambil keranjang piknik dari Qiara.
“Kita taro di mobilku aja, jadi Qiara nggak keberatan bawa-bawa keranjang.”
“Di mobilku juga nggak apa-apa, Dev. Nanti kalau kamu cape, aku bisa kok antar-antar mereka,” sahut Jeremy santai.
Devan melotot karena Jeremy mengangkat kelemahannya. Walau sudah bisa berjalan, tapi dokter menyarankan Devan untuk tidak berjalan-jalan terlalu jauh. Ia harus sering mengistirahatkan kakinya.
Jeremy terkekeh menang.
“Devan kamu cape? Aku bisa temenin kamu istirahat, Kala bisa masuk ke aquarium sama Uncle Jeremy.”
“Aku maunya sama Buna.” Kala langsung cemberut mendengar ide ibunya. Tangannya dilipat ke dada. Mulutnya mencebik, keningnya berkerut.
“Iya iya, Kala sama Buna. Kala mau makan es krim nggak? Enak loh makan kukis pakai es krim. Sekalian Uncle Devan istirahat, terus nanti kita masuk bareng-bareng.”
Kala mengangguk setuju, lalu memeluk ibunya.
“Pokoknya Kala mau sama Buna.”
Qiara mengacak rambut anaknya yang mulai basah oleh keringat.
Dua laki-laki itu akhirnya sepakat kalau Jeremy yang akan mengantar Qiara dan Kala ke hotel karena mobilnya diparkir lebih dekat.
Mereka berdua berjalan ke sana.
“So … start to make a move on Qiara, eh?” Devan bertanya dengan wajah sebal.
“Sama kayak kamu. Ngapain coba jauh-jauh anter sampai ke Sydney.”
Devan menoleh ke belakang melihat Qiara yang sedang memangku Kala di bangku. Anak kecil dua tahun itu menikmati momen bermanja-manja dengan ibunya.
“Hai, awas nubruk tiang, aku nggak akan bantu,” cetus Jeremy. Hatinya cemburu melihat tatapan Devan kepada Qiara dan Kala.
“Haish,” balas Devan tak kalah ketus.
Kedua laki-laki itu bergegas kembali setelah menyimpan peralatan piknik. Kala sudah tidak sabar. Qiara mengelus-elus dada anaknya untuk menyabarkan. Berulang kali menyembunyikan tawa melihat ekspresi anaknya. Benar-benar mirip Thoriq jika sedang tidak sabar.
“Buna gemesh sama Kala.” Qiara menyiumi pipi gembil anaknya. Kala tersenyum ke ibunya lalu kembali cemberut melihat Devan dan Jeremy mendekat.
“Let’s go get some ice cream,” ucapnya sambil turun dari pangkuan Qiara lalu menarik tangannya ke kedai es krim.
Siang itu adalah siang yang membahagiakan bagi Qiara dan Kala. Aneka fauna laut tidak henti membuat anak kecil itu terbelalak, berjingkrak-jingkrak, dan tertawa kesenangan.
Qiara mengajarkan betapa Allah itu Maha Pencipta. Betapa beragamnya flora laut dengan bentuk dan cirinya masing-masing.
Devan menggandeng Kala untuk melihat aneka penyu saat seseorang memanggilnya, “Daddy?”
***
Hai hai, karena besok Idul Adha, Thor absen, yaaa… selamat Idul Adha bagi yang merayakan.
***
__ADS_1