
Kala melihat adiknya bermain di ayunan taman dekat rumah. Ia tahu adiknya sedang gundah. Di satu sisi, Aira ingin kembali ke pesantren namun di sisi lain ia enggan bertemu wanita yang sudah meninggalkannya.
“Hayo, ngelamun!” Kala mengagetkan adiknya. Aira langsung turun dari ayunan dan mengejar kakaknya hendak memukul.
Keduanya berlari ke sana sampai kelelahan dan kembali ke ayunan. Kala mendorong ayunan adiknya hingga tinggi. Aira tertawa kesenangan.
Setelah puas, Kala duduk di ayunan sebelahnya.
“Dek, lusa Mas sama keluargaku pulang. I will miss you and Aya. Nggak kerasa udah hampir dua bulan Mas dan Liam di sini.”
“Jangan diingetin. Aira jadi sedih.”
“Balik ke pesantren, Dek.”
“Aku mau cari pesantren lain aja. Males di sana ada Mama. Ngapain ketemu sama ibu yang tega ninggalin anaknya?”
“Sepertinya kisah Tante Hanna dan Aya memang salah dari awal, ya … Hadir di tengah Aya dan Buna.”
“Pelakor,” sahut Aira ketus.
“Hmmm… Buna bilang kita tetap harus sopan sama yang lebih tua. Apalagi ini mama kamu sendiri. Walau salah, dia tetap mamamu, Dek.”
“Dua belas tahun Aira baik-baik saja hidup tanpa Mama. Lagian ngapain sih Mas Kala jadi belain Mama? Kalau nggak ada wanita itu, Aya masih hidup sama wanita yang dicintai.”
“Tapi bisa jadi kita nggak akan ketemu. Mungkin Mas punya adek, tapi belum tentu kamu.”
Keduanya terdiam. Aira mengayun sambil mendongakkan kepala, melihat langit yang mulai mendung.
“Aira, saran Mas, kamu balik ke pesantren kemarin. Kejar cita-citamu. Terkait Tante Hanna, jangan jadikan keberadaannya sebagai penghalang.”
Aira menghela napas. “Sebetulnya Aira juga berat ninggalin Aya.”
“Aku juga berat ninggalin Aya sendiri. Aku sebetulnya kepikiran untuk pindah sekolah ke Solo, tapi gimana sama Buna?”
“Aya pasti seneng banget kalau Mas sekolah di Solo. Hanya saja Buna pasti sedih banget berjauhan dari Mas. Bingung ya, Mas, jadi anak kecil mau ninggalin orang tua. Nggak kayak Mamaku enteng banget ninggalin aku,” balas Aira dengan nada sinis.
Kala tidak menjawab. Mungkin jika terjadi padanya dunia akan serasa runtuh. Keresahan berpisah dari Qiara ada kaitannya dengan beberapa kali saat mereka menghadapi insiden penculikan.
“Mas, Aira akan ke pesantren, tapi nggak mau mengakui Mama. Toh itu sudah jadi pilihan Mama belasan tahun lalu, Aira tinggal meneruskan saja.”
“Mama kamu sepertinya sudah menyesal, Dek. Tapi jalani saja, yang penting kamu harus ingat pesan Nabi kita bahwa ibu adalah sosok yang harus dihormati baru setelah itu ayah.”
“Ay ay, Captain!” Jawab Aira mengikuti gaya kakaknya.
“Ngeledek, sini kamu, Mas kelitikin sampe ngompol!”
“Mas jorooook!” Aira langsung kabur dari kakaknya.
Dua remaja itu berkejaran menikmati sisa waktu bersama. Dari jauh seorang wanita bercadar tersenyum melihat Kala dan Aira yang saling menyayangi.
***
Liam, Kala, Aira memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper. Aira dibantu Abby sementara Liam dan Kala mendapat tiga orang krucil yang siap diperintah.
Qiara dan Devan masih di hotel. Liburan di Tanah Jawa bagaikan bulan madu karena anak-anak mereka memilih menginap di rumah Thoriq bersama kakak-kakaknya.
Devan sangat tidak keberatan. Hari-hari di London sangat sibuk sehingga ia bisa berdua-an dengan istrinya hanya di malam hari.
“Qia, kalau tiba-tiba kamu hamil lagi gimana? Kayaknya kita sering banget main selama di sini.”
Qiara menatap wajah suaminya. “Hmm, aku mau aja, semoga kehamilan kali ini nggak pakai aneh-aneh. Pas hamil Kala, aku kabur dari Mas Thoriq. Lahir ditolong dokter lumpuh di rumah klien. Pas Abby, aku abis bertempur melawan Stella dan akhirnya melahirkan prematur. Triplets, si Hayyan terlilit tali pusar.”
Devan menangkup wajah Qiara dengan kedua tangan.
“Pingin deh melahirkan macam ibu-ibu yang lain. Ke salon dulu, dandan, terus ada video cantik. Ini tiap-tiap melahirkan aku awut-awutan. Hadeh …”
Devan terkekeh mengingat pengalamannya menolong kelahiran Kala di kamar Liam waktu itu. Dia masih berangasan dan baru mengamuk pada Qiara yang ngotot mempertahankan kamar Liam.
“Kamu mikirin pas lahiran Kala ya?” Iiih aku malu tau.” Qiara menutup matanya, gayanya menggemaskan.
“Lah masih malu? Anu kamu udah bolak balik aku liat. Aku juga udah sering …”
“Devan!” Qiara membenamkan wajahnya ke dada suaminya.
Devan hendak memulai serangan ketika hapenya bunyi. Dengan malas ia menjauh namun langsung semangat melihat nama di layar.
“Assalamualaykum, Kala …”
“Waalaykumussalam, Daddy. Lagi pada ngapain sih di hotel? Kok dari tadi nggak diangkat terus sekarang request video call aku ditolak?”
“Mmm anu, ini Daddy sama Buna, aduh!” Devan mengaduh karena dicubit keras oleh Qiara.
“Daddy lagi di kamar mandi …” Devan berbohong, sementara di belakang Kala terdengar suara Liam terkekeh jahil.
“Kok suaranya kayak nggak di kamar mandi? Anyway, maaf Kala ganggu. Abis telepon Buna juga ke mailbox terus.”
Qiara cemberut menyalahkan Devan yang sedari malam minta jatah terus.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Kala mau dijemput? Nanti Daddy suruh driver ke sana?”
“Daddy, Aya mau undang kita semua makan di sini. Farewell dinner jam tujuh malam. Besok Aira balik ke pesantren.”
“Kala, nanti Buna suruh adik-adik pulang dan mandi dulu di hotel. Mereka nggak dibawain baju rapi buat dinner soalnya,” titah Qiara.
“Lho kok ada Buna? Katanya Daddy di kamar mandi?” Suara Kala terdengar heran dan menyelidik.
Qiara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dari belakang Kala terdengar suara Liam berdendang, “Ooo… ooo kamu ketahuan.”
“Daddy ketahuan apa, Liam?” Terdengar suara Azka.
“Udah, udah, Liam! Kala, nanti driver jemput adik-adik, ya.”
“Daddy sama Buna lagi ngapain?” Barran ikut bersuara di speaker.
Qiara yang putus asa memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Membiarkan Devan yang bertanggung jawab.
“Halooo … halooo … Kala, Barran ini sinyal jelek. Putus, putus … ya udah sampai nanti .. Halooo,” ucap Devan lalu memutus sambungan telepon.
Sambil terkekeh Devan meletakkan hape kembali di nakas lalu menyusup masuk ke dalam selimut. Qiara menatapnya sebal.
“Kamu sih minta terus, jadi nggak denger anaknya telepon.”
“Hmm yang penting kan udah diangkat. So, ready for baby number seven?”
“Dev …” Qiara tidak bisa terlalu manyun karena dalam hitungan menit Devan telah membawanya menikmati surga dunia.
***
Malam itu suasana di rumah Thoriq sangat meriah dan hangat. Mereka akan makan malam di bawah langit yang cerah bertabur bintang. Siang tadi, Kala dan Liam dibantu tangan-tangan kecil Azka, Barran, dan Hayyan, memindahkan meja makan ke halaman belakang.
Aira menata nasi liwet sepanjang meja.
“Biar bule-bule Inggris itu tahu rasanya makan kembulan pake tangan, Ay.”
“Sediakan sendok garpu dan piring juga buat triplets, bisa-bisa mereka cuci muka pake arehnya liwet.”
Aira tergelak membayangkan wajah Azka, Barran, dan Hayyan yang selalu super heboh dalam segala hal. Mereka bertiga bagai angin ****** beliung.
“Kok Aya bisa sih terima anak-anak Tante Qia sama Uncle Devan?”
Sambil meletakkan teh poci lengkap dengan gula batu di beberapa tempat, Thoriq menjawab, “Nggak tau ya, Aya udah anggap mereka seperti anak sendiri. Eh tapi jangan sampai Uncle Devan dengar, dia bakal ngajak Aya berantem.”
“Aira senang kita semua bisa berteman, bahkan rasa saudara.”
Thoriq tersenyum. Jika ia bisa mengulang dan memperbaiki semuanya tentu tidak ingin Qiara hanya sebagai ibu dari anaknya. Ia ingin Qiara menjadi istri dan mereka hidup bahagia bersama Kala dan Aira.
Mati kutu, Thoriq menjebik ke Aira. Ia mengambil tempat nasi lalu menyendokkan nasi dan meletakkan di di atas daun pisang yang digelar sepanjang meja.
Liam memasang lampu-lampu yang digantung dari pohon ke pohon. Diam-diam ia menyelipkan kartu berbentuk hati di kursi yang nanti diduduki Aira.
Sambil bekerja ia bolak-balik melirik Aira yang malam itu memakai gamis bermotif batik truntum berwarna hijau muda cerah. Kala memakai motif yang sama hanya warnanya coklat tua.
Aira tersenyum padanya membuat Liam hampir tersungkur ketika memasang lampu gantung. Thoriq tak sengaja melihat interaksi muda-mudi hanya menggelengkan kepala. Sejauh ini Liam sangat menghormati harkat Aira sebagai wanita. Tidak sedikit pun ia berani menyentuh atau berduaan di satu tempat padahal mereka mempunyai banyak kesempatan.
Kala tertawa geli melihat polah kakaknya. Remaja yang masih polos itu menyangka Liam sedang melucu. Ia pun mulai bertingkah konyol membuat ayah dan saudara-saudaranya tertawa geli.
Aira sedang menata gelas-gelas ketika melihat kartu berbentuk hati terselip di bawah daun pisang.
Diam-diam diambilnya. Ada namanya dan ia mengenali itu tulisan Liam. Dengan hati berbunga-bunga Aira melesat ke kamarnya. Liam mengawasi gerak-gerik Aira dari sudut matanya.
Di kamar Aira menempelkan kartu dari Liam ke dadanya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Wajahnya berseri-seri layaknya orang terkena panah cinta untuk pertama kali.
Ia mencari posisi yang enak. Duduk di pinggir tempat tidur, pindah ke meja belajar, bergeser ke sofa, hingga akhirnya ia duduk di tempat duduk di tepi jendela.
Ia mengambil napas sambil memejamkan mata ketika membuka kartu.
Bismillaahirrahmanirrahiim.
Assalamualaykum,
Aira, jika saatnya tiba dan kita berjodoh, aku akan memintamu ke Uncle. Belajar yang rajin, persiapkan dirimu untuk jadi istri dan ibu anak-anakku. Seperti aku juga akan mempersiapkan diri jadi imam bagimu dan anak-anak kita.
\~Liam Patrick Donavy\~
Di halaman belakang, Thoriq, Kala, dan Liam masih sibuk menata untuk jamuan. Liam bolak-balik melirik ke jendela Aira. Ia tahu gadis itu sedang membaca pesannya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan melengking.
“Aira!”
Thoriq, Kala, dan Liam langsung lari ke kamar satu-satunya makhluk Hawa di rumah itu.
“Liam jangan masuk, biar Uncle dan Kala,” titah Thoriq.
Aira terlentang di atas karpet, matanya menatap ke atas, tangannya di dada, senyumnya lebar dengan wajah berseri-seri.
Kala menepuk-nepuk pipi adiknya.
__ADS_1
“Ay, ini kesurupan kali, ya?” Anak itu langsung membaca ayat kursi keras-keras di telinga adiknya.
Thoriq melihat kartu berbentuk hati tergeletak di lantai. Perlahan ia membaca.
Ia tersenyum tertahan.
“Dasar Love Guru.” Ia mengantongi kartu itu lalu menoleh ke arah Kala yang sekarang membaca surat-surat trikul.
“Bangun, Aira, atau jika saatnya tiba, Aya akan tolak.”
Tak sampai sedetik Aira sudah berdiri di atas kedua kakinya lalu menghambur ke ayahnya.
Thoriq memahami euforia yang dirasakan remaja putri berumur empat belas tahun yang baru pertama kali mendapat ungkapan cinta. Ayah dua anak itu mendekap erat putri satu-satunya.
“Seneng, ya, Ai?”
“Banget-bangetan. Ini ya rasanya jatuh cinta.”
“Hush! Adek ngomong apa? Aya, sini biar Kala ruqyah, kemaren liat di youtube.” Kala mendekati Aira lalu menyelipkan tangannya ke keningnya.
“Kala, Aya ngomong bentar sama Aira boleh?”
“Are you sure? She doesn’t seem normal.” Cetusnya tak yakin.
“She’s okay.”
Kala melangkah keluar. Di sana Liam menunggu dengan cemas.
“Aira kenapa?”
“Kesurupan kayaknya. Tapi dia bilang jatuh cinta. Sama siapa? Sama kodok? Kita ke bawah Liam, menurut aku baiknya Aira mau diruqyah sama Aya,” cetus Kala menghidupkan imajinasinya.
“Aku jaga-jaga di sini. Kamu beberes di bawah takut Buna dan yang lain datang.”
Kala mengendikkan bahu lalu menuju ke bawah.
Sementara itu di dalam kamar Thoriq menyuruh Aira duduk.
“Ai, Aya nggak melarang kamu suka sama Liam. Hanya kamu kan baru empat belas tahun. Raih cita-cita dulu. Fokus sama sekolah.”
Aira yang masih di awang-awang hanya mengangguk.
“Ck, percuma ini diomongin.” Thoriq mengecup kening anaknya lalu keluar. Bertemu dengan Liam yang duduk tak jauh dari kamar Aira.
“Uncle …”
Thoriq menepuk pundak Liam lalu berkata, “Pantaskan dirimu dulu menjadi imam baru nanti kita bicara.”
Mata Liam berbinar-binar. “In syaa Allah, Uncle. Jaga Aira untukku, ya”
Thoriq hanya tertawa lalu merangkul pundak Liam dan mengajaknya ke bawah.
***
Makan malam berlangsung dengan hangat. Walau ada dua makhluk remaja yang saling mencuri pandang, namun mereka tidak berani bersitatap terlalu lama.
Devan bolak balik menendang kaki Liam di bawah meja menyebabkan anak itu mengaduh beberapa kali. Ia tahu sulungnya kesengsem berat dengan putrinya Thoriq.
Qiara tidak terlalu memperhatikan karena repot dengan si triplet yang terlalu semangat menikmati pengalaman baru makan tanpa piring langsung dengan tangan. Kebiasaan langka yang tidak pernah dijumpai di Inggris maupun Australia.
Mereka berusaha mengambil makanan dengan ujung jari, namun gagal memasukkan ke mulut. Mereka keukeuh tidak mau pakai sendok dan garpu. Akhirnya Qiara menyuapi ketiganya bergantian dengan tangan.
Thoriq pun diam-diam mencuri pandang ke Qiara lalu mengaduh karena Devan menendang kakinya dengan mata melotot.
Aira melihat kelakuan Thoriq dan Devan hanya bisa mengurut dada, namun ia pun mengagumi sosok Qiara yang dengan tenang menyuapi tiga heboh.
“Pantas saja Aya nggak bisa move-on, Tante Qiara selain cantik, anggun, pintar, gesit, hatinya baik. Tidak seperti Mama,” batin Aira lalu tertawa karena Hayyan lagi-lagi menumpahkan makanan ke bajunya.
Abby terus menempel pada Kala. Ia senang karena kakaknya akan pulang dan mereka bisa bermain selepas pulang sekolah. Ia juga banyak bertanya tentang kehidupan pesantren ke Aira serta berencana untuk mengambil program pesantren kilat di bulan Ramadhan jika bertepatan dengan libur sekolahnya.
Kala sedikit pendiam malam itu. Ia memikirkan rencananya untuk tinggal bersama ayahnya di Indonesia, namun takut untuk membicarakan dengan Buna dan Daddy.
Selesai makan, Thoriq, Devan, dan Qiara duduk di teras sambil minum kopi dan cemilan ringan. Anak-anak sibuk main atau foto-foto.
Kala datang lalu duduk di samping Bunanya. Rambutnya basah keringat karena habis sibuk mengejar Abby dan Aira.
“Kala minum teh sereh ya, enak, seger.” Qiara menuangkan ke gelas dan langsung diteguk habis oleh anak itu.
Qiara melihat Kala semakin dewasa setelah dua bulan tidak bertemu. Tingkahnya masih konyol tapi kini lebih tenang. Wajah dan gayanya jangan ditanya, karena makin mirip Thoriq.
Kala berdehem.
“Buna, Daddy, Aya … Kala mau ngomong sesuatu.”
Tangan yang satu meremas tangan yang lain. Qiara khawatir trauma anaknya muncul lagi.
“Kala kenapa, ada mimpi buruk?”
__ADS_1
“Enggak Buna. Sejak bicara langsung sama Tante Hanna, Kala udah nggak pernah mimpi lagi. Hanya … hanya aja Kala lagi berpikir, emmmm mungkin nggak kalau Kala tinggal di Indonesia nemenin Aya?”
***