
Qiara dan Kala menjejakkan kaki di bumi Indonesia. Qiara menghirup udara di negara yang selama tiga tahun dia tinggalkan.
Jantungnya berdegup.
“Buna, come on,” seru Kala sambil menarik tangan Qiara. Bocah itu tak sabar untuk mengeksplorasi kota yang akan jadi tempat tinggalnya.
Kala berlari di sepanjang koridor bandara. Tingkahnya lucu, membuat banyak penumpang yang ikut tertawa.
“Kalandra Akira Putra Thoriq. Jalan di samping Buna ya, Sayang. Nanti kamu kesruduk orang.”
“Ay, ay, Buna.” Jawabnya bergaya pelaut lalu lari zigzag ke bunanya.
“Ganteng banget putranya, Bu,” sapa seorang penumpang. Kala yang belum paham Bahasa Indonesia menatap bunanya dengan pandangan bertanya.
“This lovely lady said you’re handsome.” Qiara tersenyum.
Kala tertawa senang lalu menjawab dengan terbata, “Te-rima kesih, Ibyu.”
“Buna, look, Uncle Dhanu and Auntie Anne. Kak Rama, wait for me!” Kala blingsatan menarik-narik bunanya.
“Ambil bagasi dulu, Sayang. Kala duduk di trolley yuk. Sebentar lagi bagasinya keluar.”
Qiara susah payah menahan Qala supaya mau bersabar menunggu barang-barangnya. Setelah semua beres, mereka berdua keluar dan disambut oleh pasukan bestie.
“What? Aku nggak percaya! Ini kan hari kerja. Ah sudahlah. Aku kangen kalian!” Qiara dan kelima sahabatnya berpelukan, sementara Dhanu menggendong Kala dan menciumi pipi gembilnya dengan gemas.
Kala merosot dari gendongan Dhanu dan memeluk Rama. Dua anak laki itu langsung berlarian ke sana kemari.
Qiara mendatangi Dhanu. Kakak beradik itu saling bertatapan lalu berpelukan erat.
“Qia kangen, Mas Dhanu.”
“Dek, jangan pergi lagi, ya.”
“Qia pulang, Mas…” Mereka berpelukan melepas rindu sampai teringat bahwa Kala belum menyapa para sahabat.
“Kala, udah salam sama tante semua di sini?”
Anak kecil yang rambutnya sudah basah keringat itu mendatangi para sahabat ibunya. Dia mencium takzim satu persatu lalu berdiri di samping Qiara.
Dhanu menggandeng Kala dan mereka semua menuju parkiran. Rama mendorong trolley sambil bercanda dengan bocah kecil di sampingnya.
Alya berbisik, “Qi, itu Kala …”
“Iya, gue tau, jiplakan bapaknya, kan?” Balas Qiara lirih.
“Qi, lu tiap hari liat muka Thoriq. Aih mati dah.” Cherish tidak bisa menahan diri.
“Menurut ngana? Aing mah udah mati bolak-balik, Cher. Gaya tidurnya aja sama banget kayak Mas Thoriq.”
“Lu rencana kenalin Kala ke Thoriq?”
“Qia … Qia belum siap, Mbak.”
“Tenangin diri, one step at a time.”
“In syaa Allah.”
***
“Daddy, aku mau main sama Kala, kapan kita bisa undang dia ke mansion?”
“Hmm, mungkin weekend?”
“Yay, aku mau telepon Kala.”
“Besok aja, udah malam. Sekarang kamu harus tidur, jangan mainan Thor terus dong.”
Devan menyingkirkan figurin Thor dan musuh-musuhnya.
__ADS_1
“Daddy suka sama Qiara, ya?”
“What? Tau apa kamu bocil?” Devan terkekeh salting.
“Aku liat ekspresi Daddy sama seperti ekspresi temenku Ron setiap lihat Hailey, taksirannya.”
“Excuse me? Kamu masih umur tujuh tahun kan? Kenapa punya temen udah naksir-naksir?” Devan mengelitiki anaknya bertubi-tubi. Liam terpekik kegelian hingga minta ampun.
“Ampun, Daddy. Jangan kelitikin lagi…”
Devan mencium gemas pipi anaknya.
“Tapi bener, kan? Daddy suka sama mamanya Kala?”
“Daddy … iya Daddy suka,” jawabnya ragu takut menyakiti hati Liam.
“Qiara juga suka kok. Ekspresinya seperti Valerie yang cemberut setiap Ron melihat Hailey.”
Lagi-lagi Devan tertegun.
“That’s it! Aku mau pindahin sekolah kamu.” Liam tergelak.
“Aku sering kasih akal ke Ron supaya bisa dapat Hailey dan Valerie.”
“Liam Patrick Donovy!”
Devan menggeleng mendengar perkataan anaknya. Liam tergelak sekali lagi sebelum berkata, “But seriously, Dad, you should tell Qiara how you feel.”
Devan termangu.
“Daddy takut Qiara gak suka. Kan malu. Qiara masih cinta sama mantan suaminya.” Devan tergagap menyadari dirinya baru saja curhat ke anak umur tujuh tahun.
Liam mendengarkan ayahnya dengan seksama.
“Sama seperti yang aku katakan ke Ron, go for it. Kamu nggak akan tau kalau nggak ngomongin perasaan.” Liam mengangguk tegas, puas dengan saran yang pernah diberikan ke temannya.
“Did … eehm Did Ron tell Hailey and Valerie?”
“How did it go?”
“Ternyata Hailey nggak suka sama Ron, dan Valerie malah marah karena Ron bilang suka ke Hailey duluan. Jadi Ron nggak dapat siapa-siapa. Zonk,” jawab Liam terkekeh.
Devan mencelos.
“Terima kasih buat semangatnya, loh,” sindirnya.
“Tapi kan Daddy bukan Ron. Daddy ada Qiara dan ada Mommy. Kalau dari analisa aku, Daddy harus pilih mau ngomong sama siapa duluan.”
Devan mengacak-acak rambutnya, pusing mendengar nasihat tidak karuan dari anaknya.
“Dad, aku serius. Aku cuma pengin daddy happy. You don’t look happy with Mommy.”
Devan lagi-lagi tertegun.
“Bukankah … bukankah kamu ingin Daddy menikah dengan Mommy?”
“Yup. Very much. Tapi aku punya teman yang orang tuanya berantem terus karena saling membenci. Menurutku, loh, ya. Aku nggak mau Daddy dan Mommy berantem. Kalau aku besar nanti, aku hanya mau menikah dengan perempuan yang aku cintai dan mencintaiku, Dad,” jawab Liam mantap sambil mengacungkan jempol.
Devan tersenyum lebar mendengar celoteh panjang lebar itu. “Sini, Daddy mau peluk.”
“Nooo! Apa sih Daddy peluk-peluk … aku udah besar, Daddy …”
Devan merengkuh tubuh anaknya dan memeluknya erat. Liam akhirnya pasrah membiarkan Devan memeluknya erat.
***
“Hi Babe,” sapa Stella pada Devan ketika mereka berjumpa setelah seminggu ia berada di Brisbane.
“How are you, Stell? How was work?” Devan menunduk ketika Stella hendak mengecup bibirnya. Dia mencium sekilas pipi Stella.
__ADS_1
“Missing you so much. Teman-teman menanyakan kenapa kamu nggak nemenin aku.”
Devan tidak menanggapi. Ia masuk ke apartemen Stella lalu duduk di sofa.
“Kenapa kamu tegang, Babe? Sini aku pijat. Dulu kamu selalu relaks setelah kupijat.”
Stella bangkit untuk memijat pundak Devan.
“Stell, duduklah. Ada yang ingin kusampaikan.”
“No! Whatever it is, it can wait. Malam ini aku akan buat kamu ingat masa-masa indah kita, Dev.”
“Please duduklah, Stell.” Devan meraih tangan Stella dan mengajaknya duduk di sofa.
“Aku hanya mau mendengar pinangan darimu. Lain itu aku tidak mau mendengar.”
Devan tidak memedulikan perkataan Stella.
“Stella, kamu harus mendengar dan mengerti. Ketika kamu pergi, mengatakan pernikahan kita adalah kesalahan, aku begitu terpuruk. Pernikahanmu dengan Nick membuatku sadar bahwa tidak ada jalan lain kecuali melupakanmu dan cinta kita. Aku berhasil Stell, hingga akhirnya aku mendapatkan hidupku lagi.”
“Please, ijinkan aku menebus kesalahanku, Dev. Ternyata pernikahan kita adalah hal terindah dan terbaik. Nick meninggalkanku demi seorang model yang lebih muda.”
Devan tersenyum, “Aku sudah melupakanmu, melepaskan cinta kita. Saat kita bertemu lagi, kupikir masih ada sisa rasa. Aku tidak merasakannya, Stell. Aku tidak merindukanmu, aku tidak cemburu saat kau berdekatan dengan orang lain. Sama sekali.”
“How could you, Dev? Setidaknya buat Liam kita harus mencoba sekali lagi.”
“Aku akan selalu mencintai Liam. Selamanya menjadi ayahnya. Kamu tahu co-parenting, kita bisa bersama membesarkan Liam tanpa harus menikah. Tidak ideal tapi ini adalah risiko dari keputusan kita dulu. Kita harus bisa memberikan pengertian pada Liam.”
“Dev, please, satu kali saja. Akan kubuktikan bahwa aku sungguh mencintaimu.”
“Cukup, Stella! Keputusanku sudah final.” Devan berkata keras, membuat Stella terlonjak.
“You know what? Kamu bilang akan mengurus hak asuh atas Liam. Jangan mimpi. Kamu tidak akan bertemu lagi dengan Liam. Nikmati keputusan konyolmu itu.”
“Try me, Stella. Try me.”
Stella tergagap, ia tahu Devan sangat bisa menyewa pengacara tertangguh dari seluruh penjuru Benua Australia.
“Kalau kamu menggunakan Liam untuk memerasku. Melibatkannya dalam sidang hak asuh, kupastikan seluruh dunia tahu aib yang kamu tutupi. Aib yang diam-diam kamu tuduhkan padaku. Selain itu aku akan membuka obsesimu kembali padaku telah membuat seorang ibu tunggal kehilangan pekerjaan!”
“Oooh, jadi ini karena wanita rendahan itu? Dengar, ya, sampai kapan pun, aku nggak akan rela Liam mempunyai ibu tiri seperti Qiara. Orang udik. Come on, Devan, kamu bisa mendapat wanita mana pun yang jauh lebih cantik.”
“Jangan coba salahkan Qiara. Semua berasal dari kamu Stell, kamu lah yang tidak memberikan cintamu secara utuh saat kita masih menikah. Kamu yang mengatakan pernikahan kita adalah kesalahan. Lalu kamu bertingkah seolah-olah kamu korbannya.”
Devan tak lagi bisa menahan marah. “Qiara penyebabnya kamu bilang? Kamu tahu, dia sedikit pun tidak pernah menghubungiku semenjak kamu dan Liam masuk lagi ke dalam kehidupanku. Kenapa? Karena ia ingin Liam punya orang tua yang utuh. Sedang kamu? Apa yang kamu lakukan selain merengek dan merajuk? Tujuh tahun lalu aku menganggapmu menggemaskan dengan tingkah manjamu, sekarang aku muak, Stella!”
Stella menatap Devan dengan mata nyalang. Ia kehabisan kata karena semua yang dikatakan Devan memang benar adanya. Dialah yang menyebabkan rumah tangga mereka hancur. Dialah yang membagi cinta dan memutuskan pergi.
Stella menggunakan senjata yang dulu ampuh, air mata.
“Dev, sekali saja, kumohon.”
“Tidak. Lebih baik kita berpikir bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk Liam tanpa harus menikah. Co-parenting. Aku sudah banyak belajar dari psikolog di rumah sakitku. Jika kamu mau, silakan bikin janji.”
Devan berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Kita mungkin sudah tidak punya peluang untuk bersama, tapi peluang menjadi orang tua bagi anak kita masih sangat besar. Jangan rusak itu dengan ambisimu yang tidak karuan.”
Stella menyadari senjata pamungkasnya tidak lagi ampuh. Dalam hitungan detik wanita cantik itu lepas kendali. Ia berlari mengambil pisau buah di atas meja makan.
“Aku akan bunuh diri, Dev. Kamu penyebab anakmu tidak memiliki ibu.”
“No, Stella, KAMU penyebabnya. Btw, menyayat nadi masih ada kemungkinan hidup. Lalu kamu akan punya bekas luka di tangan. Bukankah itu akan mengurangi tarif modellingmu? Seberapa pun kamu mengeluarkan uang untuk operasi. Dan juga, mana ada klien yang mau menyewa model psiko.”
Devan berjalan keluar. Ia telah mengantisipasi tindakan ekstrim yang mungkin dilakukan Stella. Orang-orangnya telah siap di apartemen sebelah.
Begitu pintu ditutup, Devan mendengar barang-barang dibanting dan teriakan Stella.
“Kalau kamu tahu, sakitku lebih dari apa yang kamu rasakan.”
__ADS_1
Devan berjalan ke lift, lalu masuk begitu pintu terbuka. Tak menghiraukan apa yang terjadi di apartemen Stella.
***