
Alex menggandeng Fatimah menuju kamar yang telah disiapkan. Delapan tahun mendekam di penjara tidak lantas membuatnya miskin. Ia memang kehilangan kerajaannya, tapi tidak kekayaan yang disimpannya demikian rapat di bank luar negeri.
Fatimah pasrah mengikuti pria yang sudah resmi jadi suaminya. Alex berulang kali menoleh untuk menatap wajah wanita di belakangnya. Seolah ingin memastikan bahwa Fatimah lah yang mengikutinya. Bukan wanita lain.
“Abang jalannya terlalu cepat, ya? Abang gendong aja.” Tanpa menunggu jawaban istrinya, Alex langsung membopong Fatimah menuju kamar pengantin.
Fatimah merapatkan bibirnya. Sentuhan Alex bagaikan bara api. Wanita itu sungguh membenci pria yang dengan mantap menaiki anak tangga.
Tubuh Fatimah bergetar. Ia tahu Alex akan langsung meminta haknya sebagai suami. Ia tak sanggup menyerahkan diri pada laki-laki selain Kala. Tapi inilah hidupnya.
Seorang pengawal membuka pintu kamar pengantin. Alex memberi perintah, “Aku tidak mau diganggu.”
“Siap, Tuan!” Pengawal menunduk lalu menutup pintu kamar.
Alex merebahkan Fatimah di tempat tidur dengan perlahan.
“Bang …” Fatimah tidak sempat meneruskan kalimat ketika bibir Alex membekapnya dengan rakus. Alex tidak menghentikan walau tahu air mata keluar dari sudut mata istrinya.
Lidahnya terus menerobos lalu menuntut lidah Fatimah untuk membalas serangannya. Tangan kekarnya menopang tengkuk Fatimah sehingga tidak ada jarak antar kedua pasang bibir yang terus bertautan.
Merasakan Fatimah yang belum ikhlas, Alex berhenti.
“Kamu istriku. Layani Abang sebaik mungkin. Abang tidak akan menyakitimu. Abang akan menjadi imam dan suami yang baik untukmu, Fatimah. Ajari Abang untuk jadi ayah sambung untuk Hazel dan Kenzo. Permintaan Abang hanya satu: cintai Abang.”
“Bang … Aku …” Fatimah merasakan punggung jari Alexander mengeringkan air mata di wajahnya.
“Well? Jangan suruh Abang menunggu, karena Abang punya hak penuh atas kamu. Hidup itu pilihan, Fatimah. Kamu mencintaiku dengan ikhlas atau Abang membuatmu terus melayani dengan terpaksa.”
Fatimah menatap mata hitam kelam yang hanya berjarak sekian senti dari wajahnya.
Perlahan ia memilih kata-kata yang akan diucapkan dengan penuh kebencian.
“Aku nggak peduli lagi dengan hidupku. Aku hanya ingin melihat Hazel dan Kenzo tumbuh. Kebencianku pada Abang begitu memuncak hingga aku tak bisa menjanjikan cinta. Aku udah jadi istri Abang. Jangan khawatir, aku tidak ingin kesialanku bertambah dengan dilaknat malaikat karena menolak melayani suami.”
Alex tersenyum. Wajah tampan dengan sorot mata tajam adalah kombinasi mematikan bagi kaum hawa. Tapi tidak untuk wanita keras kepala yang masih dikungkungnya. Fatimah memandangnya dengan penuh kebencian dan hampir muntah karena jijik.
Anehnya bukannya marah, Alex malah makin tergila-gila.
“Pilihanmu. Tapi Abang memang cinta kamu tidak main-main, Fatimah. Bersihkan tubuhmu di kamar mandi. Sudah ada lingerie untuk kamu pakai.”
Fatimah mendorong tubuh tegap di atasnya, membuat Alex terguling ke samping dan terkekeh. Sambil tersenyum Alex memandang istrinya yang masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu.
“Gemesnya … awas kamu Fatimah …”
Alex lalu berjalan menuju kamar sebelah yang tersambung dengan connecting door. Di sana ia membersihkan diri kemudian memakai celana panjang rumah.
Pria berusia empat puluhan itu mematut dirinya yang masih terlihat prima. Otot lengannya masih terbentuk sempurna. Perut bak roti sobek dengan bulu-bulu tipis tubuh yang tumbuh rapi ke dada. Dadanya tegap berotot. Lehernya kokoh.
Alex menyemprotkan eau de toilette ke dada dan leher sampingnya.
“Mulai sekarang, ini semua punya Fatimah Ibrahim.”
Alex kembali ke kamar pengantin. Alih-alih memakai lingerie, Fatimah menunggunya dengan mukena. Dua sajadah tergelar.
Melihat suaminya bertelanjang dada, Fatimah menunjuk salah satu lemari. Ekspresinya dingin.
“Lemari Abang yang itu.” Alex tergagap karena tak siap menghadapi Fatimah yang tak peduli pada tubuh kekarnya.
Fatimah membuka lalu mencari baju koko dan sarung. Sudah diduga ia tidak menemukan. Fatimah kemudian mengambil kemeja lengan pendek yang senada dengan celana panjang yang dikenakan Alexander.
“Sholat isya lalu sholat sunnah dulu,” ujarnya tegas.
Alex menelan salivanya. Mungkin terakhir kali sholat saat masih di kelas lima SD.
“Katanya janji jadi imam …” Fatimah menatap Alex dengan sinis. Menduga Alex sudah lama meninggalkan kewajiban sholat.
“Sebentar, beri aku waktu.”
Alex mengeluarkan hape lalu browsing bacaan sholat. Sementara itu Fatimah menatap makhluk di depannya yang kini sibuk menghafal bacaan sholat.
Matanya meredup teringat kebiasaannya dengan Kala berjamaah di sholat malam. Kala dengan bacaan yang mendayu sering membuatnya larut dalam rasa khusyuk dan syukur.
“Bang, perlu bantuan?”
“Abang bisa, kok.” Alex bersyukur ia dikarunia photographic memory sehingga dengan sekali baca ia bisa hafal.
“Udah, yuk,” ucap Alex berusaha terdengar yakin.
“Artinya udah paham?”
“Huh?”
__ADS_1
“Abang, orang Islam itu sangat dipegang ucapannya. Abang menikahi aku tadi hanya dengan ijab kabul kan? Kita harus memaknai apa yang diucapkan. Jangan cuma asal njeplak.”
Alex tertegun. Tanpa banyak bicara langsung duduk membuka hape dan mempelajari lagi makna bacaan sholat. Sambil menunggu, Fatimah melafadzkan ayat-ayat suci yang dihapalnya di luar kepala.
Fatimah memohon penjagaan dari Allah untuk dirinya, Hazel, Kenzo, juga Kalandra. Napasnya tercekat ketika melihat Alex sedang bersungguh-sungguh menghafalkan makna bacaan sholat.
“Ya Allah, rencanamu adalah yang terbaik. Kuatkan hamba untuk menjalani ketetapanMu, ya Rabbi.”
Alex mengangkat wajahnya. Dilihatnya Fatimah sedang berdoa. Pria itu beringsut lalu duduk di samping istrinya.
“Abang udah selesai, yuk sholat.”
“Tunggu. Abang, boleh nggak aku cek hafalan. Kan nggak lucu macet di tengah sholat.”
“Siapa takut?” Dengan tenang Alex melafazkan bacaan-bacaan. Sesekali Fatimah membetulkan sambil menanyakan arti. Alex mengikuti koreksi yang diberikan Fatimah hingga selesai.
Dua puluh tahun menjadi raja dunia hitam, tidak seorang pun berani memerintah Alex. Kini Fatimah dengan tegas mengaturnya.
“Sholat yuk, Bang.”
Alex menatap wanita yang sudah berdiri dan berjalan menuju sajadahnya.
“Abang nggak ingat punya sajadah. Kamu dapat dari mana?”
“Aku suruh orang yang di depan buat cari,” jawab Fatimah enteng.
Alex tertegun. Damian, yang ia tempatkan untuk menjaga di depan pintu kamar bukanlah orang main-main. Ia tangan kanan setelah Alvin.
“Kok Damian mau disuruh sama kamu?”
“Kayak dia punya pilihan aja. Ayo, Bang udah jauh dari waktu adzan nih.”
Alex terbengong menatap istrinya yang sudah siap memulai sholat. Gugup, Alex berdiri di atas sajadahnya lalu mulai memimpin sholat.
Empat rakaat isya dan dua rakaat sholat sunnah diselesaikan dengan lancar. Selesai salam, Fatimah menggamit tangan Alex lalu menciumnya. Wanita galak itu siap melepaskan tangannya ketika Alex menariknya ke dalam pelukannya.
“Kenapa kamu mendadak lembut?”
“Abang, aku tidak lembut. Yang aku lakukan adalah menjaga marwah sebagai istri dan muslimah. Istri adalah leher buat suami. Aku harus membuat Abang berpaling pada hal baik. Cium tangan adalah bentuk rasa hormat kepada suami, walau aku sangat membenci Abang. Sebagai muslimah aku wajib sholat. Sesederhana itu. Jadi nggak usah berharap banyak.”
“Dasar perempuan keras kepala. Cepet lepas mukena, Abang nggak sabar liat kamu pakai lingerie.”
Sambil menggeleng, Alex melepas kemejanya memamerkan dada bidang yang diyakini akan meruntuhkan pertahanan Fatimah. Dilihatnya Fatimah mulai melepas mukena.
Alex siap memanjakan matanya langsung terbelalak.
“Fatimah, itu baju Abang …” ucapnya lirih menahan kecewa melihat Fatimah memakai boxer dan kaos oblong panjang yang ia simpan di laci kamar mandi. Tidak ada kesan seksi sama sekali. Belum lagi Fatimah masih memakai ciput untuk menutup rambutnya.
“Astaghfirullah, Fatimah lupa sholat sunnah.” Fatimah beralasan.
Dengan segera Fatimah memasang lagi mukena dan buru-buru memulai sholat sebelum Alex sempat berkata apa-apa.
Suami tak sabaran itu menunggui hingga selesai. Lagi-lagi pria itu tertegun karena Fatimah kembali berdiri untuk memulai sholat.
Dengan kasar Alex menggosok wajah. Ia menyadari Fatimah mengulur waktu.
Usai sholat yang ke sekian rakaat, Fatimah menengadahkan tangannya untuk memohon kekuatan. Ia tak sanggup membayangkan Alemenyentuh tubuhnya. Mengingat ciuman panas yang diberikan Alex saja sudah cukup membuat perutnya mual.
Selesai berdoa ia hendak sholat lagi ketika merasa tubuhnya terangkat dan direbahkan di atas petiduran.
“Ya Allah …” ucapnya saat melihat mata tajam Alex menusuk kalbunya. Tubuhnya merinding.
“Cukup sholatnya.”
Alex tidak memberi kesempatan Fatimah untuk bergerak. Satu tangannya menekan kedua tangan Fatimah di atas kepala. Satu tangan lainnya melepas semua kain yang menempel di tubuh istrinya.
Tak sampai semenit, Fatimah merasakan tubuhnya sudah polos.
“Buka matamu. Abang nggak mau kamu membayangkan orang lain.”
Alex sengaja tidak mematikan lampu kamar. Ia bukan anak kemarin sore dalam urusan ranjang. Dengan lampu terang benderang, mereka akan saling melihat tubuh satu sama lain.
Mata Alex mulai berkabut melihat tubuh mulus yang berbaring pasrah. Sambil menyeringai ia mendekatkan wajahnya ke wajah Fatimah.
“Jangan ditahan, ya, Sayang. Kamu nggak akan sanggup.”
Fatimah menatap suaminya dengan jijik. Ia berusaha membebaskan tangannya.
“Tau nggak, semakin kamu melawan, semakin aku ingin melahapmu. Ingat, jangan menutup mata atau kamu akan menerima hukuman.”
Alex mendaratkan bibirnya ke ceruk leher Fatimah. Bermain-main di sana meninggalkan banyak kiss mark. Fatimah merintih, mend esah karena di saat bersamaan tangan Alex sudah bermain di area intinya.
__ADS_1
“Buka matamu Fatimah,” titah Alex sebelum menghukum dengan satu gerakan jari jemari yang membuat istrinya memekik.
Puas bermain di area leher, Alex kini bermain di bukit kembar. Dengan tangan masih ditekan di atas kepala, Fatimah menggeliat. Berusaha mengibas perpaduan rasa yang bertolak belakang, jijik tapi nikmat.
Fatimah memekik ketika tanpa sadar matanya kembali terpejam. Alex menatap tajam.
“Abang … sakit …” rintih Fatimah. Air mata mengalir dari sudut mata.
“Tahan.”
Fatimah menggigit bibir, Alex menyeringai. Satu tangan mencubit dagu Fatimah lalu kembali melahap habis bibir mungil berwarna merah alami.
Napas Alex memburu. Hasratnya sudah siap di ujung, namun ia masih ingin berlama-lama bermain dengan tubuh di bawahnya. Alex ingin menundukkan Fatimah. Menunjukkan siapa yang berkuasa.
Entah sudah berapa lama Alex mengerjai Fatimah. Tak terhitung cap kepemilikan yang tersebar di kulit mulus. Alex tahu bahwa tubuh Fatimah siap menerimanya. Seberapa kuat Fatimah menahan, tetap saja reaksi fisik tidak bisa berbohong.
Netra legam Alex bersitatap dengan Fatimah. Dengan sekali gerakan, Alex memasuki Fatimah. Tanpa ampun langsung bergerak cepat.
Fatimah tidak bisa melawan, pasrah atas segala perlakuan dan perintah suaminya. Lengannya sudah mati rasa.
Lirih ia memohon pada Alex, “Bang, lepasin tangan Fatimah …”
Alex yang sedang menikmati surga dunia, menghiraukan rintihan istrinya. Satu tangan terus menekan kedua lengan Fatimah. Air mata makin deras mengalir. Tubuh Fatimah terasa hampir mau patah ketika tiba-tiba Alex menarik dirinya.
Tangannya melepas kedua tangan Fatimah. Tak berani memejamkan mata, perlahan Fatimah menurunkan tangannya yang terasa kaku.
Tak sampai sedetik, Alex menyeringai lalu kembali mengangkat tangan Fatimah, menekannya ke posisi semula. Sementara itu tanpa aba-aba pusakanya memasuki istrinya. Tak dihiraukan ratapan dan rintihan Fatimah.
Alex terus bergerak, sesekali menghukum istrinya apabila tak sengaja memejamkan mata. Fatimah terus memanggil nama suaminya, meminta ampun. Tubuhnya seperti mau patah sekarang.
Tak bergeming, Alex terus melampiaskan hasratnya. Melakukan apa yang ia mau pada Fatimah. Hingga akhirnya hasrat puncak tak lagi bisa dibendung.
Fatimah menjerit. Alex tersenyum puas. Mangsa yang diincarnya selama bertahun-tahun kini tak berdaya di bawah tubuhnya.
Setelah menyelesaikan semua, Alex menarik diri lalu menggulir di samping tubuh Fatimah. Perlahan sambil menahan nyeri, Fatimah menyeret tubuh polosnya ke kamar mandi.
Di kaca besar ia melihat begitu banyak tanda kepemilikan di sekujur badan. Menghela napas ia tertatih menyalakan shower untuk membersihkan tubuh.
Belum sempat keluar dari shower box, ia merasa seseorang merangkul belakang.
“Cantik, mandi bareng.”
Fatimah benar-benar tak sanggup jika Alex menginginkannya lagi. Seperti bisa membaca pikiran, Alex mendorong Fatimah ke dinding, kemudian memasukinya istrinya.
Di bawah pancuran air, Fatimah pasrah saat Alex kembali melepas hasratnya. Air mata bercampur dengan air dari shower.
Tangan Alex bermain liar di seluruh bagian tubuh Fatimah. Sekali lagi, Alex menuntaskan napsunya lalu langsung membalik tubuh Fatimah.
“Abang mandiin kamu, ya Sayang.”
Fatimah yang sedang tak berdaya hanya mengangguk lemah. Alex tersenyum puas. Tak ada lagi sorot mata keras kepala dan menantang.
Alex mengambil sabun lalu mengusapkan ke seluruh tubuh istrinya. Menuangkan sampoo lalu dengan telaten memijat lembut kepala Fatimah.
Fatimah menurut saja karena ia sudah tidak mampu bergerak. Alex mengambil handuk lebar lalu menutup tubuh istrinya.
“Abang keringin rambut kamu, ya …”
“Aku cape banget, Bang.”
“Sebentar aja kok, nanti kamu masuk angin.”
Setelah kering, Alex membopong Fatimah yang langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.
Alex melepas handuk yang melilit tubuh istrinya. Matanya nanar.
“Besok, Lex, biarkan dia istirahat,” ucap Alex pada dirinya sendiri ketika merasakan hasratnya naik melihat tubuh polos.
Alex kemudian membersihkan diri lalu menyusul Fatimah. Ia berbaring sambil menatap wajah cantik yang sedang tidur terlelap.
Alis mata bak semut berbaris, bulu mata tebal alami, hidung mancung, bibir mungil. Berjam-jam Alex tidak bosan memandangi wajah Fatimah. Sesekali mengecupi wajahnya.
Fatimah bergerak sambil mengerjapkan mata. Alex tersenyum.
“Maling!” Teriak Fatimah yang sepertinya lupa jika ia sudah menikah dengan Alex. Ia melompat turun dari tempat tidur bersiap kabur namun rasa sakit di area inti membuatnya jatuh.
Alex menggelengkan kepala.
“PRmu masih banyak Lex …” batinnya miris.
***
__ADS_1