Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Tinggalkan Ragu


__ADS_3

Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tinggalkanlah yang meragukanmu lalu ambillah yang tidak meragukanmu.’” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih) [HR. Tirmidzi, no. 2518; An-Nasa’i, no. 5714. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih]


***


POV Thoriq


Aku ingin merasa sedih, kecewa, marah dengan keputusan Qiara yang membatalkan rencana pernikahannya denganku. Namun kenyataannya, aku bahagia melihat senyum lepas Qiara ketika berbincang dengan para sahabat yang datang jauh dari Indonesia.


Qiara meminta maaf pada semua terkait perubahan hati. Denganku entah sudah berapa kali ia minta maaf.


Bagi teman Devan yang tidak terlalu mengetahui kisah kami, mereka memberikan simpati padaku walau mereka juga mengapresiasi kesetiaan Qiara pada Devan.


Dhanu meminta maaf, Hanna juga sedih melihat aku dan Qiara tidak jadi bersatu. Begitu juga Kala dan Aira yang menyembunyikan kekecewaan mereka.


“Ay, Aira sedih … Aira ingin melihat Aya bahagia.” Begitu cetus putriku.


“Di masa lalu, Aya menyakiti Qiara dan Hanna. Meskipun demikian, Aya masih banyak dapat kebahagiaan dengan kehadiran kamu dan Kala. Aya juga masih berteman sama Buna. Hubungan dengan Hanna dan keluarganya juga baik. Banyak yang masih harus Aya syukuri. Jika rejeki Aya adalah menjadi sahabat buat Buna, maka Aya akan jadi yang terbaik.”


“Aya, sabar yang ya …” Aira memeluk Thoriq dengan erat.


“In syaa Allah. Maaf padahal kamu jauh-jauh ke sini.”


“Nggak apa, sekalian ajak Malika dan Rafathar jalan-jalan. Zee juga seneng ketemu Malika.”


Aku dan Aira kemudian bergabung dengan para tamu. Pesta tetap kami buat meriah untuk merayakan silaturahim dengan para sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.


Qiara mendekatiku.


“Mas, maaf …”


“Mas sedih, tapi nggak marah. Justru Mas nggak mau kalau pernikahan kita jadi beban buat Qia. Yuk kita ke tempat geng kamu. Mas juga udah lama nggak ketemu mereka.”


Qia sudah mengganti baju pengantin dengan pakaian pesta yang tidak menyolok namun tetap membuatnya memesona.


Aaah… tapi Qiara akan selalu memesona buatku. Wajahnya masih secantik saat pertama kami bertemu. Senyumnya masih membuat jantungku berdegup lebih cepat. Sorot matanya yang lembut menghanyutkan kalbuku.


Sembari menemaninya bertemu para kerabat, batinku meyakini, “Mas akan selalu cinta kamu, Qiara Anjani.”


End of POV


***


Qiara kembali ke mansion setelah pesta . Sesudah membersihkan make-up, memulas pipinya dengan skin care andalan yang membuat kulitnya terlihat muda, wanita itu kembali ke lantai bawah.


Semua anaknya kecuali Liam sedang berkumpul di ruang keluarga. Cukup lama juga mereka tidak berada dalam satu ruangan, penuh canda ria.


Ingatan Qiara melayang pada tahun-tahun mereka masih tinggal bersama. Jika anak remaja lain suka menyendiri si kamar masing-masing. Tidak dengan anak-anak Qiara dan Devan. Setiap malam, setelah mengerjakan tugas mereka akan turun dan berkumpul.


Sekadar menonton film bersama atau bertukar cerita. Tak jarang menyelesaikan konflik yang terjadi. Ruang keluarga ini menjadi saksi kehangatan keluarga Devan Donavy.


“Buna, sini. Abby tadi bikin fruit soda enak banget. Zee bikin cheese stick.” Hayyan bangkit lalu menggandeng ibunya.


“Duduk samping Hayyan. Kangen.”


Anggota militer negara asalnya yang bertubuh tinggi besar itu berubah aleman begitu dekat ibunya.


Qiara mengacak rambut Hayyan. Lalu duduk di samping putranya yang akan dikirim tugas ke daerah konflik.


“Hayyan, Buna deg-degan nih kamu mau dikirim.”


“Doakan Hayyan, ya, Buna, kakak-kakak dan Zee.”


“In syaa Allah,” jawab Azka dan Barran serempak. Berat buat mereka melepas Hayyan karena meski tinggal di benua yang berbeda, ikatan batin kembar tiga begitu erat.


“Mas Hayyan harus pulang selamat. Terus nggak boleh kerja jadi tentara lagi. Kerja aja di perusahaan Oom Mario,” titah Zee tegas.


“Oh gitu ya, Dek.”


Zee mengangguk, matanya menatap tajam kakaknya. “Zee akan bicara sama atasan Mas.” Terlihat kesungguhan di setiap kata yang diucapkan Zee. Hayyan dan yang lain terkekeh


“Buna setuju, Hayyan. Keahlian kamu pasti banyak terpakai di perusahaan Oom Mario.”


“Supaya Buna bisa nitipin Hayyan ke Oom Mario, kan?” Hayyan mengedipkan mata menggoda ibunya.


“Apa kedip-kedip.”


“Kirain Buna nggak mau sama Uncle Thoriq karena suka sama Oom Mario.” Hayyan menggoda Bunanya.


“Ya Allah … enggak. Jangan mengalihkan pembicaraan. Ya memang Buna bisa nitip ke Oom Mario. Btw jangan salah, memang kamu pikir Buna nggak bisa ikutin kamu ke daerah konflik?”


“Buna!” Ke enam anak Qiara langsung berteriak. Mereka paham betul jika ibunya sudah memiliki kehendak, pasti terwujud.


“Ada batasan usia supaya bisa ke sana.” Nada suara Azka terdengar khawatir.

__ADS_1


“Daddy dan Buna adalah donatur untuk misi kemanusiaan membangun saluran air dan sekolah di banyak negara dunia ke tiga …” Abby berkata lirih.


Qiara mengangguk sambil tersenyum penuh kemenangan.


“Buna tinggal telepon kenalan Buna di pusat komando militer, tanya kamu dimana. Cuz, Buna bisa minta kunjungan. Kalau perlu Yayasan Donavy buka cabang di sana.”


Hayyan bersimpuh di hadapan Bunanya.


“Please, Buna, jangan. Nggak ada tentara yang ibunya ikut ke tempat tugas. Please Buna …”


“Zee juga ikut Buna?”


“What?” Qiara terkesiap. Hayyan diam-diam mengedip ke arah Zee.


“Kenapa Mas Hayyan? Pokoknya Mas Hayyan harus pulang selamat lalu kerja sama Oom Mario. Buna kalau mau kunjungan ke daerah konflik, Zee ikut. Titik!” Zee Si Bungsu unjuk taring.


Qiara mengelus kepala Zee dan Hayyan yang duduk mengapitnya. Dalam benaknya berpikir bagaimana memastikan keselamatan anaknya.


Satu orang yang tidak bersuara malam itu adalah Kala. Dokter anak itu hanya tersenyum melihat interaksi adik-adik dan ibunya. Tak lama dia pamit ke kamar.


Setelah puas mengobrol, anak-anak Qiara masuk ke kamar masing-masing. Mereka punya waktu seminggu untuk bersama sebelum triplets kembali ke negara masing-masing.


Sebelum masuk ke kamarnya, Qiara mengetuk kamar Kala.


“Kalandra, kamu udah tidur? Buna boleh masuk?”


Tidak ada jawaban. Beberapa langkah Qiara menjauh, pintu kamar Kala terbuka. Ternyata baru selesai sholat.


“Buna boleh masuk?”


Kala mengangguk dan melebarkan pintu untuk Buna.


Kamar yang banyak dihiasi figurin super hero dari kecil hingga yang setara benda koleksi tetap terasa nyaman. Suasana maskulin dengan warna abu-abu dan biru tua berpadu serasi dengan lantai kayu mahogani yang hangat.


Ada dapur kecil dalam kamar Kala.


“Buna mau hot choco pakai marshmallow?” Kala menawarkan minuman favoritnya dan Qiara sewaktu masih kecil dan tinggal di Australia. Jauh sebelum Qiara menikah dengan Devan.


“Boleh. Minuman kita, ya, Kal.”


“U-hm.” Kala kemudian meracik coklat panas. Menaburi sejumput garam untuk menonjolkan rasa dan meletakkan beberapa marshmellow di atasnya.


“Merek dark chocolate-nya sama kayak waktu Kala masih kecil. Nitip sama Hayyan.”


Qiara terharu. “Kala masih ingat?”


“Walau Kala belum kenal Aya?” Tanya Qiara sambil mengangkat alis.


Kala mengangguk. Dengan sendoknya mengambil marshmellow berbentuk bintang lalu mengunyahnya.


“Bahkan kamu beli marshmellow jaman kita dulu. Buna nggak sangka mereka masih produksi.”


Kala tersenyum.


“Kala, kamu ingin Buna dan Aya menikah, ya?”


“Kalau Buna tanya gitu, Kala jadi berasa kayak anak kecil. Harusnya seumur Kala udah nggak ngaruh kali, ya …” Ujarnya dengan nada menggantung.


“Maafin Buna.”


“Don’t. Buna jangan minta maaf. Bukan salah Buna karena cinta yang begitu dalam ke Daddy. Suatu saat jika Kala punya istri juga pengin yang kayak Buna. Bucin.” Kala tertawa lebar.


“Asal kamu juga Bucin … kalau cuma dia yang bucin namanya bullshit.”


“Buna! You talk dirty!” Kala pura-pura mendelik ke Bunanya. Keduanya lalu tertawa bersama seperti dulu.


“Kala sempat berharap punya orang tua yang lengkap,” ucapnya sambil memainkan marshmellow di minumannya dengan sendok.


“Culun ya, Kala kan udah dewasa,” imbuhnya lagi.


Qiara mengelus rambut ikal anaknya.


“Maafin Buna, Kal.”


“It wasn’t meant to be, Buna. I will live. Qadarullah …”


Mereka berdua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing sambil sesekali menyeruput hot chocolate.


“In syaa Allah, Kala akan tepati janji untuk selalu jagain Buna.”


“Makasi, Sayang. Cepet nikah, jadi makin banyak yang jagain Buna.”


“Waaaah, jodoh Kala belum nampak hilalnya.”

__ADS_1


“Kala belum pernah naksir-naksir cewek gitu? Sesama dokter, misalnya?”


“Pernah naksir cewek tapi males. Jauh dan jauuuh.” Kala terkekeh.


“Belum serius, sih. Cuma pas ketemu, Kala suka. Tapi nggak sempat omongin,” sambungnya lagi.


“Jauh? Orang Indonesia? Siapa temen SMA?”


“Enggak. Ah udah. Orang Kala juga cuma suka aja. Nggak sampai kepikiran yang gimana.”


“Siapa sih, Kala? Keponakannya Oom Dicky, Fatimah? Yang pilot itu? Pasti dia kan?”


“Waaaak? Gampang banget Buna nebak.”


“Maa syaa Allah, Kala. Yuk ke Indonesia, kita ta’aruf. Buna seneng banget sama dia.”


“Eh tunggu, Kala belum mau nikah.”


“Berisik! Besok Buna telepon Tante Hanna.”


“Buna ya, Allah. Jangan. Nanti Kala yang maju sendiri.”


“Pret!” Qiara meraih hapenya.


“Buna please … Kala belum yakin, Kala belum bisa ngelupain … eh maap itu Buna ya yang kayak gitu.”


“Kalandra Akira Putra Thoriq! Berani kamu ngeledek Buna, ya.” Qiara meletakkan mug lalu memukul anaknya dengan bantal.


“Buna, ini hot choco. Kalau kena anaknya gimana?”


“Halah dari tadi juga kamu udah srupat sruput. Mau ngelawan?” Qiara memukuli anaknya dengan bantal.


Kegaduhan ibu dan anak itu membuat adik-adik Kala yang belum tidur langsung menyerbu kamar kakaknya.


Melihat ibunya sedang memburu kakak mereka, Triplets langsung mengambil bantal masing-masing dan ikut mengeroyok Kalandra dengan bantal.


Zee dan Abby tertawa-tawa.


“Abby, telepon Aira, bilang Kalandra mau ta’aruf sama Fatimah,” titah Qiara.


“Seriusan?” Abby mendelik, alisnya terangkat.


“Enggaaaak! Oy ini triplets ngapain ikutan sih?” Kala yang tadinya hanya menghindar serangan ibunya kini berbalik mengambil bantal guling untuk melawan triplets.


“Buna, awas, biar aku libas tiga kutu ini.”


Zee tertawa-tawa. Abby sudah menggosip dengan Aira mengenai Kala yang diam-diam menaruh hati pada Fatimah.


“Zee, sayang Mas Kala, kan, tolong bungkam Mpok Abby. Itu kenapa dia bisa cerita panjang kali lebar tentang Mas Kala dan Fatimah.”


“Nggak mau! Ayo Mas Azka serang terus. Zee bantu kelitikin.”


Qiara menatap geli Kala yang mulai kewalahan sambil sesekali menatap pasrah ke arah Abby yang sudah duduk di sofa. Entah gosip apa saja yang mengalir antara dia dan Aira. Tanpa


memedulikan para laki-laki yang sedang bergelut dan Zee berada di tengah mereka, beribu skenario mengenai Kala dan Fatimah mengalir deras dalam pembicaraan dua wanita yang hampir sebaya.


Sebuah pesan masuk.


“Qia, kita beneran mau mantu?”


Tak sampai semenit, Qiara langsung menelepon Thoriq melaporkan perkembangan menakjubkan terkait anak mereka. Meninggalkan kamar Kala yang sudah seperti medan tempur.


“Ya udah, nanti coba Mas telepon Dicky. Tanya apakah Fatimah masih available atau sudah ada calon. Kalau menurut Aira sih belum ada yang diseriusin. Btw dia sekarang pegang pesawat jet, loh.”


“Maa syaa Allah. Sudah cantik, berprestasi pula. Mas, inget nggak sih Kala pernah bilang mau sama cewek yang kayak Captain Marvel. Duh moga-moga Fatimah naksir juga sama Kala, ya.”


“Mas sambil WA Dicky nih. Mereka lagi heboh. Katanya, sempat ada yang minta taaruf sama Fatimah tapi ditolak. Fatimah itu hafidzah loh, hafal 30 juz. Dan dia sekarang udah pilot senior.” Thoriq membacakan pesan dari Dicky.


“Mas, ada pesan dari Hanna nih. Yes, dia juga setuju kalau sama Kala. Tinggal tanya Fatimah dan Kala aja. Btw kita nggak apa ya jodoh-jodohin Kala?”


“Semuanya tergantung Kala dan Fatimah. Kalau mereka mau kita lanjutkan kalau tidak ya ndak apa. Tidak ada tekanan.”


“Qia excited, Mas. Moga kita jadi mantu ya. Pabaliyeut nggak sih silsilah kita?”


Thoriq terkekeh. “Awal mula masalah dari Mas ya, yang bikin ribet. Yah begini lah Qia, membuat hidup lebih hidup …”


Dia sahabat itu terkekeh lalu larut dalam obrolan hingga dini hari. Anak-anak Qiara sudah jatuh tertidur bergeletakan di kamar Kala.


***


Maaf ya terlambat. Qadarullah keluarga thor lagi pada sakit jadi harus jadi perawat dulu nih.


Jumat kemarin Thor ke IGD, ya Allah semua bed penuh. Berarti lagi musim sakit kan. Bisa jadi krn cuaca nggak menentu.

__ADS_1


Sehat-sehat semuanya ..


***


__ADS_2