Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Terus Melangkah


__ADS_3

Pagi-pagi Devan sudah membuka matanya. Lahir dan dibesarkan di Australia membuat dirinya bukan orang yang religius, tapi beberapa hari ini, ia tergerak untuk melaksanakan sholat.


Dini hari, dibantu Jack, asisten merangkap pelayan, Devan mengambil air wudhu lalu menjalankan kewajibannya.


Jack menatap takjub ke arah tuannya yang kini sedang bermunajat pada Allah.


Ingatannya kembali kepada kejadian nahas hampir empat tahun silam. Devan dan Stella istrinya sedang berkuda ketika tiba-tiba muncul seekor ular di depan kuda yang ditunggangi Devan. Kuda jantan itu kaget membuat Devan terpelanting jatuh.


Laki-laki tegap itu tak sadarkan diri untuk beberapa hari. Ketika terbangun, kedua kakinya lumpuh. Keluarganya sudah membawa Devan ke berbagai ahli. Ia menjalani beberapa kali operasi, namun tidak ada hasil.


Devan terpuruk. Sikapnya berubah drastis. Dari seorang yang hangat dan perhatian, menjadi seorang yang kasar dan pemarah.


Setiap hari ia marah menyalahkan takdir. Merenggutnya dari karir yang sudah dibangun. Dirinya sedang meniti karir sebagai ahli bedah ketika kecelakaan itu terjadi.


Devan menolak bicara dengan siapa saja, termasuk istrinya. Ia tidak mau berdekatan dengan anaknya.


Suatu malam ia mengamuk, melempar semua barang-barang yang bisa diraihnya. Stella yang awalnya sabar dan selalu setia merawat Devan terlepas makian yang ia terima akhirnya menyerah. Malam itu ia membawa Liam anak mereka yang baru berumur sembilan bulan.


Sebulan kemudian, Devan menerima surat perceraian. Devan semakin terpuruk. Hanya ayah, ibu, dan adiknya Jessica yang masih mau sesekali menjenguknya.


Ayah Devan adalah seorang pengusaha sukses di berbagai bidang industri. Salah satunya di bidang perhotelan. MJ Interior Design sudah beberapa kali mengerjakan hotel-hotel yang mereka miliki.


Ketika Devan berniat mengubah interior rumah, ayahnya, Phil, langsung menyambut. Berharap ini adalah awal perubahan positif untuk Devan. Phil menghubungi Mario, namun tidak ada seorang designer yang sanggup bekerja untuk Devan.


Sampai Qiara hadir dan berani mengemukakan pendapatnya di hadapan Devan. Sebuah tindakan heroik menurut Jack. Dan sebuah keajaiban karena Devan ingin Qiara mengerjakan rumahnya.


Semenjak bertemu Qiara, Devan seperti memiliki semangat. Entah itu semangat hidup atau semangat bertempur melawan interior designer yang perutnya mulai membuncit.


Tidak ada hari tanpa pertengkaran ketika kedua manusia itu bertemu. Walau lebih sering Qiara menang telak.


Jack mengagumi kecerdasan dan ketenangan Qiara. Apapun usulan yang diajukan Devan akan dipikirkan terlebih dulu. Jika baik, maka akan dibilang baik. Jika buruk maka wanita itu tidak segan mengungkapkan secara blak-blakan. Walau itu akan memulai argumentasi sengit karena Devan tidak suka dibantah.


Devan yang sudah selesai mengerjakan sholat memanggil asistennya, “Jack, cepat bantu aku ke kamar mandi. Aku kemarin minta fisioterapis datang jam tujuh pagi.”


Jack terbelalak tak mempercayai pendengarannya. Selama ini, Devan harus dipaksa untuk latihan. Jack segera membantu Devan ke kamar mandi yang sudah dirombak agar menyesuaikan dengan kondisi Devan.


“Tuan, saya akan siapkan sarapan. Semua baju sudah saya siapkan.”


“Baik, terima kasih.”


Jack hampir menangis terharu ketika Devan mengucapkan terima kasih. Laki-laki galak itu mulai menunjukkan sifat lembutnya.


Dengan penuh semangat, Jack yang sudah bekerja cukup lama di keluarga ayah Devan segera menyiapkan sarapan.


Fisioterapi dikerjakan Devan dengan penuh semangat.


Pukul sembilan tepat, Devan telah duduk rapi di teras depan mansion. Mengenakan polo biru muda dan celana khaki, Devan sibuk memerintahkan tukang kebun menukar tanaman. Hanya Jack yang tahu bahwa sebenernya pria itu tidak sabar menunggu kedatangan Qiara.


Dua puluh lima menit kemudian, mobil yang membawa Qiara masuk ke pekarangan mansion. Jack mendengus karena ia melihat mobil itu sudah tiba sejak pukul sembilan pagi dan berhenti di ujung jalan. Qiara bahkan sempat berjalan-jalan di sekitar mobil menikmati hawa luar kota yang segar.


Devan memasang wajah bersungut. Qiara dengan senyum penuh arti turun dan menyapa Devan.


“Pagi Dokter Devan, Anda terlihat sangat bersemangat,” sapanya dengan suara renyah seperti biasa.


“Harus banget ya nunggu dua puluh lima menit di mobil baru mau masuk ke mansion?” Tanya Devan dengan nada bersungut.


“Yup, tadinya saya berpikir Anda akan bergabung daripada sibuk mengintip dari jendela kamar. Baiklah saya briefing pekerja dulu, ya. Hari ini ruang baca sudah selesai seratus persen sesuai jadwal.”


Devan terbelalak, tak menyangka aksi intip mengintipnya ketahuan. Jack susah payah menahan tawa yang hampir meledak.


Dengan langkah ringan Qiara menuju samping mansion tempat para pekerjanya menunggu. Sepuluh menit wanita itu bicara pada mandor dan pekerja sebelum masuk menemui Devan.


“Okay, harusnya Anda tidak sabar menunggu hasil re-design untuk ruang baca. Tapi jangan sekarang, nanti saja kita buat launching kecil-kecilan karena ini adalah ruang pertama yang selesai.”


Devan hendak membantah namun urung menatap wajah Qiara yang berseri-seri.


“Anda akan menyukainya, bersabarlah, tinggal sedikit finishing touch. Sekarang kita ke ruang makan, saya ingin menunjukkan rancangan yang sudah dipersiapkan.”


Qiara berjalan mendahului Devan dan Jack.

__ADS_1


“Saya selalu kagum dengan pemandangan dari ruang makan ini. Jadi, ini adalah usulan saya. Meja makan tetap pada tempatnya. Posisinya sudah tepat. Untuk dapur bersih saya akan ubah sedikit menjadi lebih modern. Saya tahu beberapa keramik ornamen adalah barang koleksi jadi saya tetap mempertahankannya. Saya akan tambahkan meja minum teh di samping pantri. Nah, saya akan menambahkan patio di luar ruang makan. Di sana akan saya tempatkan meja makan untuk empat orang. Alangkah nikmatnya menikmati sarapan di udara segar dengan pemandangan danau.”


Jack mengangguk setuju. Ruang makan yang awalnya terkesan dingin nampak hangat di tangan Qiara. Tapi bukan Devan namanya kalau langsung setuju.


“Untuk apa menaruh meja minum teh. Toh ada meja makan di situ.”


“Dokter Devan, meja makan ini untuk delapan orang. Apakah Anda tidak merasa kesepian duduk sendiri di ujing meja? Saya menempatkan meja minum teh di samping pantri, pemandangannya menghadap ke taman bunga dan perbukitan di belakangnya.”


Devan mendengus, “Saya tidak peduli dengan rasa sepi. Buang saja ide meja minum teh itu. Buang-buang uang.”


“Saya yakin Anda memang tidak keberatan untuk sendiri …” Qiara menjeda kalimatnya. Jack tersentak sementara Devan langsung menoleh ke arah Qiara.


“Tapi bayangkan, jika Anda menikmati kesendirian sambil menikmati bunga beraneka warna. Di musim panas, pasti banyak kupu-kupu yang singgah. Jadi Anda tetap menikmati sepi dengan pemandangan yang berbeda.” Qiara menjelaskan dengan tangan yang bergerak kian kemari.


Sekali lagi Jack harus menggigit bibir agar tidak kelepasan tertawa. Devan menelan ludah sambil membayangkan menelan Qiara bulat-bulat. Mulutnya siap membantah tapi ia tidak mau kalah lagi dalam berargumen dengan Qiara. Jadi Devan memilih bungkam.


“Bagaimana Dokter? Kita sependapat?”


“Ya.”


“Nah gitu dong. Terima kasih. Anda tidak akan menyesali jika semua sudah jadi. Oya warna ruangan ini akan saya ganti jadi kuning muda. Warna coklat tua kurang pas dengan ruang makan masa kini. Mungkin warna ini trending di jaman kolonial.” Qiara bicara sambil melangkah keluar ruang makan menuju ke perpustakaan.


Mata Devan hampir copot karena melotot. Dia sendirilah yang memilih cat coklat tua untuk menonjolkan meja makan yang dibuat dari kayu mahogani asli dan pantri yang bernuansa coklat muda.


***


Sore hari diantarkan mobil yang disewa kantornya, Qiara tiba di apartemen. Tubuhnya terasa penat. Ia segera mandi air panas dan membuat teh hangat.


Kakinya diselonjorkan di sofa, tangannya menggosok-gosok pinggangnya yang pegal.


“Ouch … sayang, kamu lagi seneng nendang-nendang, ya?” Qiara menggosok perutnya sambil tersenyum. Bayinya sudah sering menendang. Dirinya takjub betapa si bayi tenang saat ia bekerja namun mulai lincah di malam hari.


“Terima kasih tidak rewel saat Buna kerja. Buna senang kalau malam kamu lincah. Jadi Buna tidak merasa sendirian.”


Qiara menyalakan murottal di hapenya. Matanya terpejam, tangannya menggosok-gosok punggung yang kini terasa panas.


\~Flash back on\~


“Hmm, Qia pingin anak-anak kita semua pakai awalan K. Nah kalau untuk anak perempuan, Qia pingin namanya Kamelia.”


“Cantik namanya. Mas yang masih nama tengah ya. Gimana kalau Aira? Jadi Kamelia Aira Putri Thoriq.”


“Iiih Mas, kan putri Qia juga.” Qiara pura-pura merajuk.


“Pasti dong, Sayang. Mas hanya akan punya anak dari kamu.”


“Awas kamu, Mas …” Ancam Qiara tak menduga enam bulan kemudian suaminya menikahi Hanna dan akhirnya menantikan anak dari wanita lain selain dirinya.


Thoriq menatap wajah Qiara lalu berkata, “Kalau anak laki-laki, Mas yang kasih nama depan, Qia yang kasih nama tengah. Kalau anak laki nama depannya Kalandra, ya.”


“Lucu banget, Mas. Kalandra … Kalandra Akira Putra Thoriq?” Qiara menatap Thoriq dengan mata bulatnya.


Thoriq mencubit gemas hidung istrinya lalu menjawab, “Aya setuju, Buna …”


“Makasi Aya, Buna cinta sama Aya …” balas Qiara manja.


\~Flash back off\~


Qiara mengusap air mata yang lolos di pipinya mengingat kenangan indah bersama Thoriq.


“Kalandra, kita akan saling sayang dan saling jaga, ya… Hanya kamu yang Buna punya dari Aya,” ucap Qiara pada anak di dalam perutnya.


“Ya Allah, pegel banget pinggang ini …”


Setelah membuat susu untuk kehamilan, Qiara memutuskan tidur lebih awal.


***


“Mas, gosokin pinggang Hanna. Pegel banget.”

__ADS_1


“Ya Allah, Hanna, Mas baru aja masuk rumah. Assalamualaykum.”


“Waalaykumussalam, ayolah Mas, yuk gosokin Hanna,” wanita hamil itu menarik tangan suaminya ke dalam kamar. Ia memberikan minyak esensial kepada suaminya tanpa memperhatikan ekspresi lelah Thoriq. Ia sendiri berbaring miring menunggu suaminya swgera mengerjakan apa yg diminta.


Thoriq menggosok pinggang Hanna. Tubuhnya sendiri lelah karena baru tiba dari meninjau proyek di Tanjung Lesung.


“Mas, Hanna udah investasi uang Hanna ke perumahan. Diajakin temen Hanna.”


“Perumahan apa?”


“Ada kayak cluster townhouse gitu di Bekasi. Temen Hanna udah ikutan investasi dan untungnya gede banget di cluster pertama.”


“Siapa pengembangnya?”


“Nggak tahu, tapi Hanna percaya aja sama temen Hanna itu. Tadi sudah Hanna transfer lima belas milyar.”


“Ya Allah Hanna, itu langsung segitu?”


“Emang gitu, nanti profitnya sekitar tiga puluh persen.”


“Itu uang warisan dari orang tua kamu loh.”


“Hanna tau. Oiya sebenernya nggak cuma segitu. Hanna nemu ATM di laci lemarinya Mas. Ada nomor rekening dan pin. Ada sekitar lima ratus juta, Hanna sisain seratus juta.”


“ATM yang mana?” Thoriq berhenti menggosok.


“ATM Bank PB yang ada di laci lemari kamar Mas.”


“Kamu bongkar-bongkar kamar Mas?”


“Emang kenapa? Kamar suami sendiri. Lagian aneh, suami istri nggak sekamar.”


Thoriq menghela napas beberapa kali meredam amarahnya.


“Hanna, ada uang Mbak Qiara di sana. Kamu harusnya nanya dulu sama Mas. Kalau uang kamu, itu terserah. Tapi kalau punya Mas tanya dulu!”


“Eh Mas, uang suami itu milik istrinya juga.”


“Iya tapi kan Mas pernah menikah dengan Mbak Qiara, ada uang Mbak Qiara di situ.”


“Lagian Mas aneh, kenapa juga nggak dibalikin aja. Udah cerai masih aja simpen uang mantan. Paling berapa sih uang Mbak Qiara? Nanti kalau udah ada profit Hanna balikin,” jawab Hanna ketus.


Thoriq menutup botol minyak esensial.


“Mas kok berhenti, Hanna masih pegel. Ayolah.”


“Mas capek, Hanna, nyetir dari Tanjung Lesung. Mau mandi terus istirahat.”


“Mau aja lagian. Coba kalau Mas jadi direktur, nggak perlu lagi ngerjain kerjaan mandor. Suami temen-temen Hanna semuanya direktur. Kemana-mana pakai supir, nggak kayak Mas nyetir sendiri. Tiap bulan ke luar negeri, sering juga ajak istri,” celoteh Hanna memanas-manasi suaminya.


“Kamu tau luarnya aja Hanna,” jawab Thoriq ketus.


“Hanna kan cuma kasih motivasi biar Mas semangat! Mas bisa kerja di perusahaan Kakek, langsung jadi direktur, gaji juga lebih besar. Gaji Mas sekarang buat beli tas aja nggak cukup tau! Semua dari uang Hanna.”


Thoriq memijat keningnya yang berdenyut.


“Kalau buat hidup, cukup nggak?”


“Cukup kalau mau hidup biasa aja!”


“Hiduplah biasa aja kalau gitu.” Thoriq meninggalkan Hanna untuk kembali ke kamarnya.


Di sana ia merebahkan diri. Tak lupa mengunci pintu karena tak ingin Hanna tiba-tiba masuk untuk melanjutkan perdebatan.


Thoriq mengambil bantal, menutup matanya yang lelah. Kepalanya pening.


Ia teringat gaji pertama yang diserahkan pada Qiara. Mungkin jumlahnya hanya sepersepuluh dari gajinya sekarang. Tapi mereka berdua bersyukur dan mengatur keuangan agar senantiasa cukup.


Sadar waktu maghrib hampir habis, Thoriq bangun sambil terhuyung, menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Ia memegangi kepalanya yang terus berdenyut.

__ADS_1


***


__ADS_2