Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Serangan Hama Wereng


__ADS_3

Sembilan bulan berlalu, Hanna dengan perut besarnya sudah mengambil cuti dari pesantren. Ia menitip pembangunan Rumah Sa’adah kepada tim yang dipimpin Ella.


Tubuhnya menggemuk seiring kehamilannya. Sering kali wanita itu merasa insecure namun suaminya malah semakin bernapsu padanya. Terlebih lagi masa ngidam yang menakutkan itu berakhir.


Di awal kehamilan, Hanna sama sekali tidak bisa berdekatan dengan Dicky. Bahkan baru mendengar bunyi motornya saja dia sudah muntah-muntah.


Dicky hanya bisa masuk rumah setelah Hanna masuk kamar. Pernah sekali waktu, ia memaksa masuk dan Hanna muntah-muntah hebat hingga harus dirawat di rumah sakit.


Selama tiga bulan, Dicky hanya bisa guling-guling sambil gigit jari. Seluruh sel dalam tubuhnya menginginkan Hanna, namun istrinya malah kelihatan cerah ceria jika tidak ada dirinya.


Sering Dicky menggelar tikar di depan kamar Hanna hanya untuk merasa dekat dengan istrinya yang sudah lelap di balik pintu.


Begitu masuk trimester kedua, keadaan berbalik. Hanna menjadi luar biasa manja. Di pesantren ia bisa menitikkan air mata jika Dicky sedang di ruang operasi dan tidak bisa mengangkat telepon.


Satu hal yang menyenangkan adalah gairah Hanna benar-benar meningkat. Tiap malam Hanna selalu minta jatah, bahkan tidak segan menjadi pemimpin dalam permainan ranjang.


Dicky benar-benar menikmati masa-masa itu. Ia juga tidak mau kalah dan mengimbangi segala gaya yang dipraktekkan istrinya. Setiap malam, keduanya tenggelam dalam kenikmatan surga dunia yang membuat mereka saling memuja dan membutuhkan.


Trimester ke tiga, gairah Hanna tidak lagi menggelora. Perut yang mulai membesar, membuatnya mulai malas bergerak. Dicky lah yang menuntun Hanna karena sejatinya ia tidak bisa melewatkan malam tanpa mereguk manisnya percintaan.


Aira, Latifah, dan Fatimah tidak sabar menunggu kelahiran adek bayi. Posisi bayi yang malang melintang dan genital yang tertutup membuat dokter sulit menentukan jenis kelaminnya. Hanna dan Dicky harus ke kota untuk mendapat USG empat dimensi.


Walau kini kondisi finansial mereka sudah lebih stabil dengan Dicky mulai ikut salam prosedur operasi, namun akhirnya mereka memutuskan untuk tidak mencari tahu jenis kelamin bayi mereka.


Aira, Latifah, dan Fatimah menginginkan bayi perempuan. Kala yang merasa adik Aira adalah adiknya juga mendoakan semoga anak Hanna adalah laki-laki.


Seperti kakaknya, Aira pun sangat gembira dengan kelahiran si Bungsu Zahra yang dipanggil Zee oleh kakak-kakaknya. Abby sering mengirimkan foto kepada Aira.


Hanna sedang menyiapkan tas bersalin ketika pintu diketuk dengan keras. Dari jendela ia melihat Eliza dengan wajah songong di depan pintu.


“Assalamualaykum, Tante.”


“Mana Dicky?”


“Mas Dicky ke apotek beli pampers untuk persiapan kelahiran.”


“Hmm. Bilang padanya aku membutuhkan dia untuk memeriksa Karenina.”


“Nanti saya sampaikan.”


“Suruh dia datang ke rumahku. Karenina tidak mau ke rumah sakit atau klinik. Mukanya rusak karena terlalu sering mencoba make-up.”


Hanna menghela napas menahan sabar. Terus beristighfar menghadapi hama wereng di depannya.


“Tante, Mas Dicky sekarang lebih banyak pegang bidang bedah daripada kulit. Dan saat ini karena ia sedang memperdalam bidang bedah onkologi, jadwal Mas Dicky sangat padat. Apakah nggak lebih baik Karenina dicarikan dokter kulit di dekat rumahnya?”


“Ck, sudah kerjakan saja perintahku. Dasar istri sok tau!” Bentak Eliza.


“Tante! Saya hanya mengatakan untuk kebaikan Karenina,” jawab Hanna berusaha menekan nada bicaranya. Dirinya sedang hamil, ia harus bisa menjaga emosi agar tidak berpengaruh ke bayi. Begitu ia baca di salah satu buku tentang kehamilan.


“Banyak bicara, sudah ambilkan minum,” balas Eliza dengan ketus.


Hanna beranjak ke dapur, baru berapa langkah ia merasa tubuhnya oleng dan menubruk pinggiran meja makan.


“Innaalillaahi!” Hanna berusaha menahan namun perutnya keburu terantuk sudut meja. Hanna meringis kesakitan.


Eliza bukannya menolong malah mencibir lalu pergi meninggalkan Hanna yang merasa sakit hingga ke ubun-ubun.


“Tolong … tolong … rintihnya.”


Bulir-bulir keringat dingin membasahi tubuhnya karena menahan sakit. Buku-buku jarinya memutih karena menahan sakit di bagian perut.


“Laa ilaaha illallah,” hatinya terus menyebut kalimat tahlil. Ia berpikir mungkin beginilah rasa jika ajal menjemput.


Hanna merebahkan kepalanya ke lantai. Rasa sakit terus mendera tanpa henti. Ia sudah memasrahkan nasibnya. Air mata mengalir, terbayang wajah Dicky dan Aira. Tangannya meraba perut dan mengelus seakan menguatkan si bayi agar terus bertahan.


Banyak mimpi yang belum nyata, tak terhitung asa yang masih belum tergapai untuk membangun keluarga bahagia.


Di titik ia sudah tak sanggup lagi menahan sakit yang begitu hebat, ia mendengar sayup-sayup namanya dipanggil. Lalu semuanya gelap.


Hanna terbangun di sebuah ruangan. Matanya mengerjap melawan sinar lampu. Aira menatapnya dengan cemas. Latifah dan Fatimah berdiri di samping Aira. Mereka bertiga melafazkan doa-doa. Di kursi tempat tidurnya ada Ella yang juga membaca ayat-ayat Al Qur’an.


“Ma,” ucap Aira lembut.


“Ai, ini dimana?”


“Rumah sakit, Ma.” Aira menciumi pipi ibunya. Sementara Latifah dan Fatimah memeluk Ella sembari menatap Hanna yang masih nampak pucat.


“Kenapa kakiku ba’al?” Tanya Hanna, lalu tangannya meraba perut yang sudah rata.

__ADS_1


“Bayi?”


***


Dicky duduk di depan seorang polisi yang sedang mengambil keterangan. Dengan mata merah ia menjawab pertanyaan-pertanyaan diajukan.


“Kapan terakhir melihat bayi Bapak?”


“Setelah dibawa keluar dari ruang operasi. Saya mengikutinya ke NICU karena bayi lahir prematur. Sesampai di NICU, seorang perawat mengabari kalau Hanna drop dan perlu transfusi sehingga saya kembali ke ruang operasi. Itulah terakhir saya melihat anak saya, ketika masuk ke ruang NICU.”


Beberapa perawat juga diinterogasi. Dari CCTV mereka melihat seseorang berbaju perawat dan memakai masker medis mengeluarkan bayi tersebut dari inkubator. Perawat itu meletakkan di box kaca lalu dibawa keluar.


Dari CCTV perawat berjalan menunduk sehingga tidak bisa dikenali wajahnya. Apalagi masker dipakai hingga setengah wajah tertutup.


“Mas,” ucap Hanna dari kursi roda. Dicky langsung menoleh dan langsung menghambur ke Hanna.


“Maaf, Hanna, aku nggak bisa jagain anak kita.”


Hanna mengelus rambut lebat di pangkuannya. Dicky menangis tergugu. Hati Hanna pun terasa sakit setelah Ella menceritakan bahwa rumah sakit sedang panik dengan hilangnya bayi Dicky dan Hanna.


“Boleh Hanna liat CCTV dimana bayi kita terlihat terakhir kali di NICU?”


Polisi membuka tablet lalu memutar video rekaman.


Dengan air mata berlinang, Hanna menyaksikan bayi mungil perempuan sedang tidur nyenyak di inkubator ketika seorang perawat memindahkannya.


Kedua tangannya menutup mulut. Bayinya lahir di usia tiga puluh minggu. Berisiko jika dipindahkan dari inkubator. Aira memeluk Latifah dan Fatimah. Ella tercenung melihat kejadian itu.


Video terus berjalan dimana perawat menyusuri koridor lalu hilang di gudang belakang. Dari sana CCTV kehilangan jejak.


“Bisa diputar lagi, Pak,” pinta Hanna.


“Hanna, jangan. Kamu harus sehat betul.”


“Mas, anak kita perlu bantuan semua orang untuk menemukannya. Aku tidak mau hanya menangis di kamar. In syaa Allah, Hanna … Hanna kuat.”


Air mata mengalir di pipi Dicky dan Hanna, namun mereka berdua akan kuat demi menemukan anak mereka. Dicky mengangguk pada polisi untuk memutar lagi video tadi.


Mereka memperhatikan dengan seksama, tetap saja suster tersebut tidak mereka kenali gerak-geriknya.


“Kemungkinan besar ini adalah sindikat penculik bayi-bayi baru lahir,” ucap polisi membuat hati Hanna dan Dicky mencelos.


“Mama, telepon dari Tante Qiara.”


“Assalamualaykum Mbak Qia. Hanna minta ampun. Minta ampun sekali. Semua yang Hanna lakukan ke Mbak Qia sekarang Hanna alami. Hanna melahirkan prematur karena jatuh, lalu sekarang bayi Hanna hilang. Hanna sungguh-sungguh minta ampun Mbak. Rasanya seperti nyawa tercabut.”


Hanna langsung menyerocos. Semua yang dialaminya sekarang adalah penderitaan yang dulu pernah ditanggung Qiara.


“Waalaykumussalam Hanna. Sudah, sudah, semua sudah berlalu. Seperti Mbak Qia bilang, semua sudah dimaafkan. Sekarang ada kabar apa?”


“Hanna baru liat kamera CCTV, Hanna tidak kenalin siapa perawat … perawat yang ambil anak Hanna.”


“Dalam hal ini kamu harus mencurigai semua orang. Siapa orang terakhir yang kamu temui, atau adalah kalian memiliki seseorang yang tidak menyukai kalian.”


Dicky dan Hanna langsung bersitatap.


“Eliza!” Jawab mereka serempak.


“Mas, Hanna ingat, sebelum pingsan, Tante Eliza datang minta tolong kamu untuk periksa Karenina. Astaghfirullah. Apa mungkin dia yang mendorong Hanna. Rasanya seperti mau mati… “


Mata Hanna menatap Qiara dengan ngeri. “Mbak, seperti itukah rasanya waktu Mas Thoriq mendorong Mbak gara-gara Hanna. Ya Allah, astaghfirullah, astaghfirullah.”


“Hanna, Hanna … Fokus. Mbak Qia tau kamu sedang kalut. Sekarang fokus pada satu orang Eliza itu. Bukan asal tuduh, tapi cari dan tempel terus orang yang kamu curigai. Mbak Qia dan Devan doakan dari sini.”


“Terima kasih, Mbak.”


Setelah mengucapkan salam, keduanya menyudahi pembicaraan dan Hanna kembali ke Dicky.


“Mas …”


“Aku sudah sampaikan mengenai Eliza. Polisi akan menanyainya bekerja sama dengan kepolisian tempat Eliza dan anaknya tinggal.”


***


Di sebuah rumah, seorang bayi terus menangis. Wanita setengah baya bertubuh gempal mulai bingung karena seseorang yang menyuruhnya untuk menunggu di rumah itu tak kunjung datang.


Ia sangat iba pada bayi yang sepertinya belum cukup umur untuk dilahirkan. Tak mengenal siapa orang tuanya, ia nekat mengambil bayi itu dari rumah sakit. Bayaran yang ditawarkan akan dipakai untuk membayar uang sekolah ke tiga anaknya.


Suaminya meninggal karena kecelakaan saat bekerja. Saat itu ia baru hamil muda anak ke tiga. Hanya bermodal ijazah SD, Lastri hanya bisa jadi pekerja kasar. Mulai dari penjaga toko di pasar, cleaning service cadangan, buruh cuci, bahkan ia sering menarik ojek online.

__ADS_1


Tapi sekarang sudah hampir gelap dan orang itu tidak juga datang. Lastri bimbang apakah ia sebaiknya terus menunggu sementara anak-anaknya sendirian di rumah atau pulang dengan membawa bayi.


“Sssh, diam sayang, maaf Ibu nggak siapin susu buat kamu.” Lastri terus berusaha menenangkan si bayi. Pikirannya kalut, jika orang itu tidak datang, apa yang harus dilakukan pada si bayi.


Tak mungkin membawanya pulang. Memberi makan anak-anaknya saja ia sudah kualahan apalagi menghidupi satu bayi yang masih perlu susu, popok, dan lain-lain.


Sedangkan untuk mengembalikan, pasti tidak mudah karena dirinya yakin orang akan mengenali dari bentuk tubuhnya. Ia tidak bisa tertangkap karena anak-anaknya akan hidup terlunta-lunta.


Hingga gelap tidak ada tanda-tanda dari orang itu. Uang pun belum diterima. Dengan berat hati, Lastri meletakkan bayi di keranjang yang dibawanya, menyelimuti lalu keluar dari rumah itu.


Rumah kosong itu terletak agak jauh dari penduduk. Hingga akses keluar masuk aman dalam artian tidak ada yang melihat atau memerhatikan.


Lastri menguatkan hati untuk meninggalkan bayi merah cantik di rumah kosong itu. Seketika langkahnya terhenti karena suara tangisan memecah malam.


Gegas ia membalikkan badan dan kembali ke rumah itu. Diambilnya bayi dari keranjang dan dibawanya pulang tak peduli apa yang terjadi esok.


“Ibu nggak tau bagaimana akan menghidupi kamu, tapi ibu nggak tega meninggalkan kamu sendirian. Maafkan, Ibu.”


Lastri, wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu terus melangkah membawa bayi yang kini tenang di pelukannya. Dia mampir ke warung untuk membeli susu seadanya, botol dot, dan kain popok eceran.


Uang terakhir yang dimiliki untuk seminggu itu habis sudah. Uang yang diperoleh dari hasil bekerja serabutan. Ia bekerja di rumah sakit sebagai pengganti untuk cleaning service yang absen. Itulah sebabnya ia tahu seluk beluk rumah sakit.


Sambil melangkah pulang ia teringat pertemuannya dengan orang yang menyuruhnya mengambil bayi ini. Perintahnya jelas, pilih bayi dari Dicky Pahrevi dan Hanna Adinda. Ia akan mendapat uang dua puluh juta jika membawa ke rumah kosong tadi.


Entah dari mana orang itu punya ide untuk mendekatinya karena sepertinya ia bukanlah anggota sindikat. Laki-laki itu seperti kebingungan dan ragu saat memberikan perintah namun setelah membaca pesan dari hape ia mantap pada perintahnya.


Mendekati rumahnya yang berada di area kontrakan padat penduduk, Lastri berjalan lebih dekat. Beruntung si bayi tidur lelap.


Sampai di rumah, anak-anaknya sedang berbagi nasi bungkus seharga lima belas ribuan.


“Ibu! Ayo makan, Kakak sudah bilang adek-adek untuk nggak dimakan semuanya biar ibu bisa makan.”


Lastri terharu. Sulungnya, Mikala yang baru berumur dua belas tahun sudah paham kesulitan yang setiap hari mereka selalu hadapi.


Maira anaknya yang kedua melihat ibunya menggendong sesuatu.


“Ibu bawa apa?”


“Loh itu adek bayi, Bu?” Seru Mikala.


Tiga kakak beradik itu langsung mengerubungi ibu mereka.


“Yay! Mirza punya adik, Mirza punya adik.”


Seru Si Bungsu sambil melonjak-lonjak.


Maira tak kalah senang apalagi melihat adik bayinya cantik.


“Siapa namanya, Bu?”


“Ibu belum tau, gimana kalau … Malika?”


“Aku suka! Aku suka!“ Sorak Maira dan Mirza. Sementara alis Mikala berkerut heran.


“Tadi Ibu jalan di depan rumah tua lalu mendengar bayi menangis, karena tidak ada siapa-siapa, maka Ibu ambil,” Lastri berbohong karena tak sanggup mengakui perbuatannya.


Malika menangis keras. Bayi merah itu kehausan. Lastri menyerahkan ke Mikala untuk digendong agar bisa membuat susu. Mikala yang awalnya ragu akhirnya luluh melihat wajah bayi Malika yang memang sudah terlihat garis cantik.


Kulitnya putih bersih seperti Hanna. Bentuk wajahnya mengambil dari ayahnya, tapi mata, hidung, bibir mengikuti Hanna. Mikala seketika langsung luluh.


Mirza ikut menghibur Malika agar diam sementara Maira membantu ibunya membuat susu. Walau masih berusia delapan tahun tapi Maira sudah pandai melakukan pekerjaan dapur. Cita-citanya tidak muluk, menjadi ART di rumah mewah.


Setelah susu dimasukkan ke dalam dot, memberikan kepada Malika. Dulu waktu Mirza lahir, ayahnya sudah meninggal. Ibunya harus bekerja hingga walau dulu masih berumur enam tahun, Maira sudah mengasuh Mirza.


Malika minum dengan lahap digendongan Mikala. Sementara Mirza mengelus alis bayi itu supaya nyaman. Seperti Lastri suka melakukan padanya agar cepat tidur.


Malika sepertinya merasa nyaman dan langsung memejamkan mata. Dengan hati-hati Mikala meletakkan di atas satu-satunya kasur di rumah itu.


“Ibu makan dulu, biar aku dan adik-adik yang jaga Malika.”


“Kalian habiskan saja, tadi ada yang bagi Ibu roti di kantor,” lagi-lagi Lastri berbohong.


“Ya udah, Mirza dan Maira, habiskan aja.”


“Makasih Mas Mika.” Mirza dan Maira langsung kembali melahap nasi sayur dan tahu goreng yang hampir habis.


Pintu diketuk. Wajah Lastri menegang. Ibu RT melongok masuk setelah Mirza membuka pintu.


“Assalamualaykum Mbak Lastri, aku denger ada bayi nangis. Bayi siapakah?”

__ADS_1


***


__ADS_2