
“SAH!”
“SAH!”
“Alhamdulillahirabbil’alamiin.”
Seorang pria menghela napas menghilangkan rasa sakit yang menusuk. Wanita yang dicintai kini sudah sah menjadi milik orang lain.
Tak selang berapa lama, netranya menangkap Qiara yang masuk ke ruangan akad diiringi sahabat-sahabatnya. Qiara menatap suaminya dengan senyum bahagia tersungging di bibir.
Thoriq menatap Qiara yang pagi itu nampak mempesona. Di matanya, Qiara selalu dan akan selalu mempesona.
Ia kembali menghela napas ketika Qiara menghampiri kemudian mencium tangan suaminya, Devan Donavy.
***
Flash Back On.
“Qiara aku melepasmu untuk membangun kembali cinta bersama Thoriq. Kemarin, aku melihat kalian berempat tertawa bahagia. Aku … aku tidak mungkin tega menghancurkan kebahagiaanmu, kebahagiaan Kala.”
Qiara menunduk, matanya terpejam.
“Tapi bukan Mas Thoriq yang aku harapkan menjadi pendampingku …” ucapnya lirih.
“Qia …”
“Aku bahagia karena akhirnya Kala bisa mengenal ayahnya dan Mas Thoriq bisa menerima Kala. Devan, aku tidak ingin membangun lagi cinta dengan Mas Thoriq … Aku ingin … kamu yang jadi pendamping hidupku …”
Flash back off.
***
Devan dan Qiara menyalami para keluarga, sahabat, dan tamu dengan senyuman bahagia. Mereka mengadakan acara kecil namun hangat. Dihadiri orang-orang terdekat. Halaman belakang rumah Dhanu disulap menjadi taman bunga cantik untuk acara syukuran.
“Qia, selamat ya, Mas doakan Qia dan Devan selalu bahagia hingga selamanya.” Suara Thoriq terdengar tercekat.
Perasaan pria itu hancur lebur namun ia berusaha tegar.
“Tante Qia cantik banget, ya, Aya …” ucap Aira yang digendong ayahnya.
Thoriq menatap Qiara lalu mengangguk samar.
“Kamu adalah wanita tercantik bagiku, Qia, selamanya,” batinnya.
“Thoriq, thank you for coming to give us your blessings.” Devan menyalami mantan suami istrinya. Sebetulnya ia tidak ingin Thoriq berlama-lama memandangi istrinya.
“Don’t mention it. Kamu … kamu yakin mau bulan madu sambil membawa Kala dan Liam? Aku … aku akan dengan senang hati menjaga mereka,” balas Thoriq tergagap.
Devan dan Qiara bersitatap. Semenjak insiden penculikan, Qiara enggan berpisah dari anaknya.
“Thank you, Thoriq. Aku juga ajak orang Jack, asistenku. Ini family moon judulnya.” Devan tergelak, diiringi Qiara yang kemudian melingkarkan tangannya ke lengan Devan.
Memutuskan dirinya tidak lagi sanggup melihat kemesraan Qiara dan Devan, Thoriq pamit.
Sebelum meninggalkan rumah Dhanu, ia menoleh ke arah Qiara sekali lagi.
“Selamat tinggal, Cintaku …”
***
Malam itu Thoriq memutuskan kembali ke Solo, karena Devan, Qiara, dan anak-anaknya akan berbulan madu ke Eropa. Thoriq sudah berpesan pada Kala untuk menjaga Bunanya. Anak kecil itu mengacungkan jempol lalu memeluknya erat.
Tiba di Solo ia masuk ke rumah dengan hati hampa. Aira sudah terlelap tidur. Thoriq membaringkan putrinya di kamarnya.
__ADS_1
Setelah membasuh diri, Thoriq melaksanakan sholat. Air mata tak henti mengalir saat memanjatkan doa dan berkeluh kesah pada Sang Pencipta.
“Ya Allah, kuatkan hamba untuk mengubur cinta ini dalam-dalam. Sakit sekali ya Allah, saat melihat Qia bersanding bukan denganku. Diri ini telah kehilangan Qia untuk kedua kalinya. Kuatkan hamba untuk ikhlas melepasnya, ya Allah.”
Suara Thoriq makin bergetar karena emosi.
“Berikanlah sebaik-baiknya rumah tangga untuk Devan dan Qia. Jauhkan mereka dari prahara dan cobaan apapun. Jagalah kebahagiaan Qia dan Kala, ya Allah yang Maha Pengasih. Aamiin …”
Thoriq mengusap wajahnya. Ia mengambil hape, membuka foto pernikahannya dulu dengan Qiara.
Seandainya kau tahu,
Aku tak pernah ingin kau pergi,
Aku akan selalu mencintaimu, Qiara
Seandainya …
***
Usai syukuran akad nikah yang berlangsung khidmat, Devan menggandeng Qiara masuk ke kamar pengantin yang sudah disiapkan Marianne dan para sahabat.
Tangannya menggenggam erat jemari wanita yang baru saja dinikahinya.
Di dalam kamar, Devan melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Qiara. Matanya berkaca-kaca menatap wajah istrinya.
“Qia, akhirnya kamu jadi milikku,” bisiknya.
Qiara berdiri di hadapan suaminya dengan pipi merona dan senyum malu-malu. Ini bukan pertama kali baginya tapi tetap saja ia tersipu saat netra Devan menatap lembut.
“Aku boleh buka kerudung kamu, ya?”
Netra Qiara membola, lalu menggoda suaminya, “Boleh nggak ya …”
“Qia …” Devan mendaratkan bibirnya ke bibir Qiara. Sebuah ciuman pertama yang dinantikan sejak lama.
Dengan enggan, Devan melepaskan pagutannya. Tangannya meraih kerudung panjang yang dipakai Qiara, perlahan melepaskannya. Kemudian ia melepas ciput yang membalut rambut, melepas kunciran, dan mengurainya.
Napasnya tertahan, untuk pertama kali melihat Qiara tanpa kerudung. Rambut hitam tebal bergelombang terurai sempurna menutupi bahu.
“Maa syaa Allah, Qia. Aku tahu kamu cantik, tapi tidak pernah menyangka secantik ini …” Batinnya.
Qiara malu-malu menatap Devan. Dengan kedua tangan menghalangi netra sang suami yang memandang lekat. Jantungnya berdegup karena tak pernah berjarak sedekat ini dengan Devan.
“Kenapa aku nggak boleh liatin kamu, Beautiful? Kan udah halal.”
Qiara berjinjit lalu mengecup bibir Devan.
“I love you, Dev …”
“I love you more, Qia. Sayang, aku belajar sunnah-sunnah setelah akad nikah. Salah satunya adalah sholat sunnah dua rakaat. Kita Dzuhur lalu sholat sunnah setelah akad, yuk …”
Menahan haru, Qiara mengangguk. Dirinya tahu Devan bukanlah orang yang terlalu religius. Ia berharap Devan bisa menjadi imam yang memimpin keluarganya di dunia dan akhirat hingga mereka menjadi penghuni-penghuni surga.
Keduanya menjalankan sholat wajib disusul sunnah. Usai sholat, Devan mengulurkan tangannya, Qiara menyambut dan mencium punggung tangan suaminya.
Devan menyentuh lembut wajah Qiara dengan punggung telunjuknya.
“Perfect …” Ujarnya dengan mata berbinar-binar penuh cinta. Ia membantu Qiara berdiri untuk melepas mukena, sementara dirinya melipat sajadah.
“Dev, aku ganti baju rumah dulu, ya.”
Devan yang sudah lebih dulu berganti baju mengangguk.
__ADS_1
“Aku bantu buka zipper belakang, ya …”
Qiara menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk. Dirinya membelakangi, Devan. Sedikit gugup, pria itu menurunkan ritsleting gamis yang dipakai Qiara, menampakkan punggung mulus dan bra berenda berwarna hijau muda.
Devan lalu mengecup pundak belakang istrinya. Qiara terpejam ketika merasakan sentuhan bibir Devan. Suaminya menjatuhkan gamis lalu memutar tubuhnya hingga mereka kembali berhadapan.
Qiara benar-benar tersipu malu karena dirinya kini hanya tertutup pakaian dalam. Ia merapatkan tubuh ke Devan
“Dev …” Bisiknya dengan suara serak.
Devan kemudian membuka atasannya, menampakkan dada bidang dan perut yang sempurna. Ia memeluk Qiara hingga kulit mereka menempel satu sama lain.
Tangannya mencubit dagu istrinya dan sekali lagi mendaratkan ciuman lembut. Ciuman yang lama kelamaan dipenuhi hasrat untuk saling memberi kebahagiaan.
Devan menuntun Qiara ke tempat tidur. Tak ingin buru-buru, mereka berbaring berhadapan saling menatap. Devan menarik selimut untuk menutup tubuh mereka berdua.
“Qia, aku boleh mulai?”
Qia tidak menjawab namun merapatkan tubuhnya ke Devan sambil menyentuh wajah suaminya.
“Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa,” lafaz Devan dan Qiara.
Keduanya saling menikmati sentuhan yang membuat tubuh mereka menggelenyar. Devan dan Qiara bagaikan melakukan buka puasa setelah bertahun-tahun menahan hasrat.
Ketika penyatuan itu akhirnya terjadi, keduanya menikmati surga dunia yang menjadi bagian dari ibadah suami-istri. Devan melakukannya dengan lembut, gerakannya perlahan membuat Qiara berkali-kali mendesah panjang.
Keduanya mencapai puncak di saat yang bersamaan. Devan berhenti untuk melihat wajah Qiara yang menatapnya dengan penuh kebahagiaan. Dirinya kini sepenuhnya milik Devan.
Suami yang sedang bahagia itu mengecupi wajah Qiara, sebelum menarik dirinya. Tak ingin kenikmatannya berakhir, Qiara menahan punggung Devan dengan kedua tangannya.
“I’m not going anywhere, darling …” bisik Devan dengan suara serak. Qiara tersenyum dan mengangguk.
Setelah selesai, Devan merengkuh tubuh Qiara ke dalam pelukannya. Mereka bergelung di bawah selimut. Kaki-kaki mereka saling bertautan. Degup jantung masih tidak beraturan.
Qiara mencium dada Devan, menghirup aroma musk tubuh suaminya. Aroma maskulin yang membuatnya makin merapatkan diri.
Devan sendiri asik menyentuh aset-aset milik Qiara. Memainkannya hingga kadang membuat Qiara terpekik. Tak mau kalah memberi kebahagiaan, Qiara menciumi tubuh Devan hingga keduanya kembali mememulai percintaan. Setiap kali mereka merasakan kebahagiaan bersama.
Pasangan pengantin baru itu akhirnya jatuh tertidur ketika tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
“Buna, Kala mau sama Buna … buka pintunya Buna …” Terdengar suara lirih bernada memelas.
Devan yang terlebih dulu terbangun tersenyum. Ia berbisik di telinga Qiara, “Sayang, pakai baju dulu, dicari sama Kala tuh …”
Devan mengambilkan baju rumah milik Qiara yang sudah disiapkan. Kembali terdengar pintu diketuk. Kini terdengar suara Liam menenangkan Kala.
“Kala, kita main lagi yuk, mungkin Daddy dan Buna masih tidur kecapean.”
Devan dan Qiara bersitatap.
“Aku harus ngomong sama Liam, itu anak kenapa bisa tau-tauan kita lagi cape,” ucapnya sambil menggelengkan kepala karena kelakuan anaknya.
Setelah keduanya rapi, Devan membuka pintu. Kala langsung menghambur ke Bunanya.
“Buna kenapa boboknya lama. Ini hari Minggu, Kala mau bobok siang sama Buna.” Tanpa bertanya anak itu langsung naik ke ranjang membaringkan diri dan menarik selimut.
Liam mengikuti dari belakang sambil mengedip ke arah ayahnya.
Dengan gemas Devan menangkap lalu memeluk anaknya, “Apa kamu kedip-kedip, huh?”
“Nothing … nothing … I just winked …”
“You …” Devan menghujani Liam dengan kelitikan hingga anak itu terpekik-pekik. Qiara tersenyum geli melihat kelakuan bapak dan anak. Sementara Kala langsung tertidur begitu tangan ibunya menepuk-nepuk bokong bulatnya.
__ADS_1
Liam berhasil meloloskan diri lalu lari ke ranjang dan tiduran di samping Kala. Devan ikut berbaring di sampingnya. Qiara dan Devan bersitatap, sorot bahagia terpancar dari netra mereka. Tak berapa lama keluarga baru itu sudah tertidur pulas.
***