Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Cinta yang Tak Utuh


__ADS_3

Thoriq langsung menghubungi Qiara begitu mobilnya keluar dari parkiran basement. Walau kini hatinya sudah mulai menerima Hanna namun Qiaralah satu-satunya pemilik cinta sejati.


“Assalamualaykum Qia!” Sapa Thoriq bersemangat begitu Qiara mengangkat teleponnya.


“Waalaykumussalam Mas, alhamdulillah udah di Jakarta.” Qiara berharap suaranya tidak terdengar bergetar menahan emosi.


“Udah, Mas jemput kamu di rumah ya.”


“Qia udah berangkat sama Mas Dhanu.”


“Oh… kalau nanti siang Qia sibuk nggak? Mas pengin makan siang bareng.” Thoriq kecewa karena ia berangkat pagi-pagi sekali untuk bisa menjemput Qiara. Ia merutuki semalam tidak memberi kabar karena tergoda rayuan Hanna.


“Boleh, aku di Mall Casablanca tapinya. Karena ada meeting.”


“In syaa Allah Mas ke sana. Qia, bagaimana kabar kamu?”


“Still alive.”


Thoriq menahan napas, begitulah ia selalu menjawab kakek untuk menutupi rasa sakitnya. Pria itu menelan ludah membayangkan perasaan istrinya sementara ia asik meniduri Hanna. Walaupun halal baginya namun ia sadar hal itu menyakitkan bagi Qiara. Terlebih kini ia mulai memiliki perasaan terhadap Hanna.


“Qia, Mas tetap cinta sama kamu. Walau apapun juga.”


“Qia juga…Mas, Qia udah sampai. Nanti jam 11 di D’Maestro ya.”


“In syaa Allah, Mas nggak sabar ketemu Qia.”


***


Pukul sebelas Thoriq sudah tiba di Mall Casablanca. Sengaja ia majukan meeting agar bisa lebih cepat sampai. Dirinya yakin Qiara pasti sedang mengerjakan interior desain untuk salah satu tenant di sana. Thoriq ingin mencuri pandang istri pertamanya.


Benar saja, di lantai dua, Thoriq melihat istri pertamanya masuk ke salah satu tenant. Ia mengintip melalui pintu yang tidak tertutup rapat. Qiara sedang mengukur sambil memakai topi proyek.


“Ya Allah Qiara, cuma kamu yang bisa bikin Mas kayak gini.”


Bagaikan orang kasmaran Thoriq memandangi istrinya dari celah pintu. Ketika seorang pekerja keluar dan lupa menutup pintu, Thoriq semakin jelas melihat Qiara.


Istrinya terlihat cantik dan menggemaskan. Memakai jumpsuit warna tumeric dan sepatu kets biru membuat wanita berusia dua puluh enam tahun itu seperti anak remaja tujuh belas tahun.


Alis Thoriq mengernyit melihat salah satu klien diam-diam mencuri pandang ke arah Qiara. Bukan salah satu, malah dua-duanya. Pria-pria muda bertubuh jangkung berwajah ala ala artis K-Pop.


Pura-pura menelepon sambil berjalan, Thoriq memalingkan wajah ketika salah seorang dari pria itu berjalan ke arahnya dan menutup pintu.


Sambil berjalan mengitari mall, Thoriq kembali ke tempat Qiara sedang bekerja bersama klien. Hatinya bersorak karena pintu kembali terbuka. Thoriq masuk ke toko seberang pura-pura melihat barang.


“Cuma kamu Qia, yang bikin Mas salting,” batinnya.


Qiara masih berada di space yang entah akan dijadikan restoran atau toko. Ia mulai mengambar sesuatu di tablet sambil menerangkan. Dua pria tadi mendengarkan dengan seksama.


Dengan penuh selidik Thoriq mengamati bagaimana interaksi Qiara dengan kliennya. Hatinya bersorak karena Qiara tetap bersikap profesional. Thoriq mendengus kesal melihat dua pria tadi nampak jelas berusaha menarik perhatian Qiara.


“Kamu memang istri Mas yang luar biasa, Sayang,” gumam Thoriq sambil tersenyum.


“Maaf, Bapak bilang apa barusan?” Tanya penjaga tiba-tiba. Thoriq tergagap karena tanpa sadar penjaga toko mendengarnya.


“Permisi saya cuma liat-liat aja.” Sambil cepat-cepat berlalu Thoriq melihat Qiara dan dua pria tadi keluar area proyek. Buru-buru Thoriq berdiri di balik pilar sambil mengintip. Tingkahnya sudah seperti stalker.


Qiara nampak bercakap sambil tertawa pada pria-pria K-Pop lalu ia mengatupkan tangan di dada mengucapkan salam dan berjalan ke arah escalator. Istrinya langsung sibuk dengan hape sementara dua pria tadi mengamati dari jauh.


“Oh Qiaraku, walaupun aku sudah menduakan kamu, ternyata kamu masih menjaga martabat sebagai istri sholihah,” gumam Thoriq dengan perasaan yang carut marut.


Thoriq bergegas menuju restoran D’Maestro. Qiara masih terlihat menuruni escalator ke lantai berikutnya. Thoriq berjalan menuju restoran.


Setelah duduk, ia memesan minuman kesukaan istrinya, Ice Lychee Tea dan minumannya Avogatto. Sekaligus makan pembuka kesukaannya mereka berdua, calamari dan tahu goreng cabai garam.


Thoriq melihat jam tangan. Sudah pukul 12.15. Qiara belum nampak.


Sebuah pesan masuk dari Qiara, buru-buru dibacanya. Ia takut Qiara mengurungkan niat.


“Assalamualaykum Mas, maaf Qia telat, tadi nanggung adzan, jadi Dzuhur dulu. Sekarang Qia sudah menuju resto. Mas dimana?”


Thoriq tersenyum bahagia. “Istri sholihahnya Mas …”


Enggan mengirim pesan, ia langsung menelepon, hitung-hitung mencicil mendengar suara renyah istrinya.


“Assalamualaykum Qia, Mas udah di resto.”


“Waalaykumussalam. Oh udah. Oke oke, Qia ke sana. Maafin ya Qia telat.”


“Nggak dimaafin, nanti malam harus dihukum.”


“Ih Mas ah, ya udah Qia jalan.”


“Sambil teleponan emang nggak bisa?”

__ADS_1


“Musholanya cuma satu level di bawah resto. Qia cepet kok jalannya.”


“Nggak mau, Mas pengin dengerin suara Qia.”


“Ya udah, ya udah,” Qia tergelak dengan menggemaskan.


“Qia udah Mas pesenin ice lychee tea.”


“Makasi Mas. Pas banget Qia haus. Mas di situ kan ada bakpao telur asin, mau dong Mas. Kok Qia tiba-tiba pengin.”


“Okay Mas pesenin. Terus Qia mau apa lagi?”


“Mau Mas.” Qiara yang diam-diam sudah berdiri di samping Thoriq mencium pipi suaminya.


Thoriq terkesiap melihat wajah Qiara yang kemerahan karena berjalan cepat dari musholla ke resto.


“Qiara, Mas kangen.” Thoriq berdiri dan langsung memeluk erat istrinya. Dibenamkan dalam-dalam wajahnya ke ceruk leher Qiara.


Qiara membalas pelukan Thoriq sama eratnya. Mengibas semua rasa sakit dengan rasa bahagia karena Thoriq sudah bersamanya.


“Qia kangen Mas.”


“Mas apalagi, Sayang.”


Sadar mereka menjadi tontonan, akhirnya keduanya melepas pelukan. Qiara tersenyum malu, pipinya makin merona merah.


“Qia, kita pindah tempat yuk. Mas pengin makan yang lain.”


“Yah kenapa? Kan udah dipesan. Apa Qia minta bungkus?”


“Kamu tahu nggak Mas mau pindah ke mana?”


“Mas pengin makan apa emang?”


“Mas mau pindah ke hotel seberang. Pengin makan kamu,” bisik Thoriq menggoda di telinga Qiara.


“Mas!” Dengan gemas Qiara mencubit lengan suaminya.


“Qia udah serius nanggepin.”


“Mas juga serius, Qia. Mas nggak kuat nunggu sampai nanti malam.”


“Enggak mau. Qia mau makan dulu. Nanti Qia pingsan loh.”


“Eh jangan, iya deh, iya deh. Tapi siap-siap buat nanti malam, ya. Kamu nggak lagi mens kan?”


Qia mengambil piring untuk Thoriq, lalu mengambilkan calamari, tahu, dan bakpao sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.


Thoriq tersenyum melihat bagaimana dengan gesit Qiara melayaninya seperti biasa. Ada ketakutan Qiara tidak mau menemuinya bahkan sudah meninggalkannya. Entah terbuat dari apa hati wanita ini mau saja menerima suami yang baru pulang bulan madu.


Diamatinya wajah Qiara, ada guratan sedih yang berusaha ditutupi. Dengan lembut Thoriq menggenggam tangan Qiara. Satu tangan lainnya memasukkan anak rambut yang keluar dari kerudung istrinya.


“Istri Mas cantik banget.” Netra Thoriq menatap lekat wajah Qiara. Dengan gayanya yang imut Qiara mengangkat alis. Tangan yang masih bebas menyendok aneka hidangan ke piringnya.


“Mas makan,” ujarnya sambil menyuapkan calamari kecil untuk Thoriq.


“Ya Allah, kenapa tega aku menyakiti wanita sebaik, sesholihah, dan secantik ini?”


Thoriq membuka mulut, menerima suapan Qiara. Baru kemudian Qiara menyantap menu-menu yang dipesan.


Diam-diam Qiara mengamati perubahan pada Thoriq. Wanita itu yakin suaminya telah membuka hati dan perasaannya untuk Hanna. Qiara menghela napas untuk mengusir sakit hati.


Thoriq pun diam-diam memerhatikan Qiara. Berulang kali istrinya menghela napas pelan. Di satu sisi ia merasa bersalah. Di lain pihak ia sedikit bahagia karena artinya masih ada rasa cemburu di hati Qiara.


“Ya Allah, jagalah cinta Qiara untukku. Biarlah sekali ini aku egois.”


Enggan membahas kabar Thoriq, Qiara menanyakan bagaimana proyek-proyek yang ditangani suaminya. Demikian pula Thoriq menanyakan pekerjaan Qiara. Pria itu bangga karena istrinya banyak mendapatkan klien baru.


“Followers instagram aku juga nambah, Mas. Kemarin aku juga dapat endorsan dari beberapa online shop untuk perangkat dapur. Belum dibayar tapi lumayan dapat panci dan penggorengan lucu-lucu.”


Thoriq memperhatikan Qiara. Sungguh menggemaskan cara istrinya bercerita. Matanya berbinar-binar, bibirnya selalu tersenyum, belum lagi tawanya yang renyah.


Mereka bertukar cerita sambil menghabiskan menu utama yang dipesan. Qiara memesan tuna sandwich sedangkan Thoriq memilih spagheti aglio olio. Untuk sesaat mereka melupakan beban pernikahan mereka.


“Sayang, nanti Mas jemput dimana?”


“Aku nggak ke kantor, aku mau nengok proyek Kahyangan yang di depan HI itu, Mas.”


“Okay Mas jemput di situ. Agak telat nggak apa-apa ya, Mas ada ketemu orang di kantor jam 3 sampai jam 5.”


“Qia bisa naik MRT ke Senayan. Nanti Qia jalan ke kantor Mas. Kan udah deket.”


“Nggak apa-apa Mas jemput.”

__ADS_1


“Macet kan, three-in-one.”


“Mas bisa potong jalan kecil. Kira-kira jam 6 mas sampai di Kahyangan. Kita maghrib deket situ baru pulang. Nggak apa kena macet dikit. Mas kangen berduaan di mobil sama Qi.”


Lagi-lagi Qiara mencubit lengan suaminya.


“Nanti malem Qia bakal abis Mas cubitin lho.”


Qiara menggigit bibir bawahnya, niatan mencubit diurungkan. Sementara Thoriq menahan napas melihat betapa lucunya ekspresi Qiara.


Waktu juga yang harus memisahkan mereka. Thoriq harus kembali ke kantor sedangkan Qiara dijemput Marianne untuk ke proyek yang ia tangani.


Thoriq mengantarkan Qiara sampai lobby. Marianne sudah menunggu di sana.


“Qia pergi dulu ya, sampai nanti sore.” Qiara menyium punggung tangan suaminya.


“Semoga Mas selalu diberkahi, sehat, dan dalam lindungan Allah. Assalamualaykum, Mas.”


Thoriq mengecup kening istrinya. Bersama Qiara ia menemukan ketenangan dan kebahagiaan sert rasa nyaman yang tidak ia dapati saat bersama Hanna.


Marianne menyapa Thoriq sekadarnya. Hal yang sudah biasa dihadapi Thoriq jika bertemu teman Qiara. Laki-laki itu tidak beranjak hingga Qiara masuk ke dalam mobil dan berlalu.


“Kamu selalu dalam doa Mas, Sayangku.”


Thoriq beranjak menuju musholla untuk menunaikan kewajiban siang.


***


Seminggu berlalu, Thoriq bersama Qiara. Seolah tidak ada Hanna di antara mereka. Hanya sesekali saja Thoriq menerima telepon ateu menanyakan kabar Hanna.


Makin mengerti tabiat istri keduanya, Thoriq kini lebih bersikap tegas jika Hanna ingin berlama-lama. Walaupun bersungut, namun Hanna kini lebih menurut.


Hanna menerima pekerjaan untuk mengelola bisnis orang tuanya. Karena ia malas keluar rumah, Hanna memilih pekerjaan yang bisa dikerjakan secara offline. Hari-harinya tidak terlalu gabut. Ia pun merasa suaminya kini lebih hangat.


Malam itu Thoriq dan Qiara sedang asyik menonton Netflix. Mereka duduk di sofa nyaman di ruang TV. Seperti biasa Qiara bersandar ke dada Thoriq.


Thoriq asik memainkan rambut istrinya, menciumi pucuk kepala yang wanginya selalu menjadi candu.


“Qia, waktu Mas pergi, kamu ngapain?”


“Clubbing sama temen-temen,” jawab Qia enteng.


“Bohong, yang bener kamu.” Tubuh Thoriq menegang. Ia menegakkan tubuh Qiara dan menatap netra istrinya dalam-dalam.


Qiara melebarkan matanya menantang tatapan Thoriq.


“Qia! Kamu berani bohongin Mas, ya!”


Qiara tergelak. Ia berdiri lalu berlari. Sayang suami tinggi besarnya berhasil menangkap tubuh mungilnya, memanggilnya ke pundak bagai karung beras sementara Qiara tergelak-gelak sambil memukuli punggung suaminya.


Dengan hati-hati dan perlahan, Thoriq membaringkan Qiara.


“Ke club mana?”


“Club renang!” Jawab Qiara asal.


Thoriq mendaratkan ciuman ke bibir Qiara. ********** tanpa ampun. Tangannya sibuk meraba-raba semua bagian sensitif istrinya.


“Mas, Qia nggak bisa napas …” ucap istrinya terengah-engah.


“Biarin! Masih berani bilang kamu oergi clubbing.”


Sambil menyeringai Qia menjawab, “Masih. Qia ke club sandwich.”


“Ya Allah Qia!”


Kembali Thoriq menghujani istrinya dengan ciuman hingga dirinya lepas kendali. Dilepaskan pakaian rumah yang dikenakan istrinya dan tanpa ampun menuntut kenikmatan dari Qiara.


***


Di apartemennya Hanna menunggu dengan waswas hasil yang tertera di benda pipih.


Sudah sebulan lebih sejak pertama Thoriq menyentuhnya dan dia belum mendapatkan haid.


Tak sabar ia menunggu hasil sambil mondar mandir.


Akhirnya muncul.


“Alhamdulillaah ya Allah. Mas Thoriq, you are all mine now!”


Hanna bersujud syukur setelah melihat dua garis di alat tes kehamilannya.


Ia segera menyusun rencana. Ditahannya berita baik ini hingga giliran Thoriq bersamanya minggu depan.

__ADS_1


“Puas-puasin kamu Qiara, setelah itu bye-bye!”


***


__ADS_2