Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Daddy …


__ADS_3

“Daddy?”


Terdengar suara anak kecil memanggil. Devan langsung menoleh. Matanya membulat.


“Li … Liam? Is that you?”


“Yes, Daddy. Why are you with him? Is he your son too? Why you never visited me but you spend time with him?”


Seorang wanita lari dan memeluk anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip dengan Devan.


“Stella …”


“Hi Devan, how are you?”


Seorang wanita berparas menawan, rambutnya coklat, matanya berwarna hazel. Menatap dalam ke netra Devan.


“Kala, come here,” panggil Qiara yang tidak ingin berada di tengah permasalahan keluarga Devan.


“I am much better, now,” jawab Devan tergagap.


“Dev, kami ke sana ya, see you,” cetus Jeremy sambil membawa Qiara dan Kala menjauh.


“Stella …”


“How could you, Dev? Tujuh tahun kamu sama sekali tidak menengok Liam. Ternyata kamu punya waktu untuk bersma anak orang lain. Tega kamu.” Stella berkata sambil menahan marah.


Liam memandang ayahnya dengan berlinang air mata. Bocah tujuh tahun itu hanya melihat ayahnya dari foto-foto yang ditunjukkan ibunya.


Dengan susah payah, Devan berlutut di depan anaknya.


“Liam, I miss you so much.”


“No! You’re lying! Mommy let’s go home. I don’t want to see dad.” Liam kemudian menarik Stella meninggalkan Devan yang masih berlutut.


Devan bergeming. Hatinya diliputi rasa bersalah terhadap Liam. Ratusan kali Qiara memintanya menemui anaknya, namun ia tak sanggup.


Jeremy dan Qiara menoleh ke arah Devan yang kesulitan untuk bangkit. Mereka berjalan mendekati Devan.


“Wait!” Tiba-tiba Qiara merasa tangannya dicengkeram keras.


Stella menatap marah ke Qiara.


“Kamu harus berpikir lagi jika ingin berhubungan dengan Devan.”


“Hey, Miss, please,” seru Jeremy, sementara Kala mulai menangis ketakutan melihat seseorang mengasari ibunya.


“Lepaskan, kamu liat anakku ketakutan.”


Stella melirik ke arah Kala yang memeluk ibunya, lalu wanita itu melepaskan cengkeramannya.


“Aku seorang ibu dan pernah jadi seorang istri. Saya ngerti perasaan kamu. Tolong jangan libatkan saya. Tapi saya mau membantu kamu karena tau rasanya kehilangan orang tua.”


“Bagaimana saya bisa percaya kamu? Aku tidak butuh Devan, tapi anakku yang perlu ayahnya.”


“You still love him, you know you do. Ijinkan aku bicara dengannya, ya.”


“Mommy, let’s go home. I don’t like it here,” ucap Liam sambil menarik baju ibunya.


“Aku akan mengawasimu! Percayalah.” Dengan wajah marah Stella meninggalkan Qiara dan Kala.


Jeremy yang telah berhasil membantu Devan berdiri gegas mendatangi Qiara dan Kala diikuti Devan. Kala masih tersedu -sedu sementara Qiara sedang berusaha menenangkan anaknya.


“Qiara, I’m so sorry.”


Qiara mengangguk dan terus menenangkan Kala.


***


Di kamar hotelnya, Devan merebahkan tubuhnya. Ingatannya kembali pada wajah anaknya yang terlihat sangat kecewa.


Pria itu menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


\~Flash back On\~


Devan dan Stella sedang berkuda di perbukitan. Mereka berdua adalah penunggang kuda yang handal. Kecintaan pada kudalah yang mempertemukan mereka.


Stella adalah cinta pada pandangan pertama bagi Devan. Tidak sekedar cantik, Stella adalah seorang wanita yang pandai. Ia adalah seorang model berbakat namun tetap ingin melanjutkan kuliahnya.


Sebagai model ia selalu berdandan rapi, namun saat tidak bekerja, Stella jarang memakai riasan. Wajahnya cantik natural, rambut berwarna coklat tua, sama dengan warna bola matanya. Sorotnya lembut, membuat hati Devan bergetar setiap menatap manik matanya.


Perfection, itulah Stella bagi Devan.


Tak seperti teman-temannya, Devan tidak ingin berpacaran terlalu lama. Tiga bulan berkencan, ia meminang Stella, lalu menikah dua bulan kemudian.


Devan baru memulai karir sebagai dokter obgyn di rumah sakit milik keluarganya. Stella baru lulus kuliah dan meneruskan pekerjaannya sebagai model.


Pernikahan mereka menjadi perbincangan di seluruh Australia. Devan adalah putra mahkota dari kerajaan bisnis milik Phil Donavy, sedangkan Stella adalah model papan atas yang baru memenangi award internasional.


Setahun menikah, lahirlah Liam. Mereka pindah ke mansion karena ingin Liam tumbuh mengenal alam.


Orang-orang melihat mereka adalah pasangan sempurna. Memang sempurna menurut Devan, hingga suatu hari hal yang tidak diduga terjadi.


Keduanya sedang menikmati pemandangan di atas bukit. Devan mengelus kudanya yang terengah-engah dengan lembut.


“Dev, aku ingin kita bercerai,” ucap Stella lirih namun mengandung ketegasan.


Bagai disambar geledeg di siang bolong, Devan menatap tajam istrinya.


“Stella, jangan bercanda.”


“Aku serius, Dev. Maaf, tapi aku ingin berpisah.”


Suara Devan bergetar, jantungnya berdegup kencang.


“Mengapa Stella, kamu tidak bisa mengajak bercerai begitu saja. Aku mencintaimu … Kita sudah punya anak!”


“Aku … aku tidak mencintaimu. Setuju menikah denganmu adalah kesalahanku. Aku menyesal telah mengecewakanmu. Aku .. aku bertemu dengan cinta lama … dan kami, kami akan hidup bersama, Dev.”


“Stella …”


Stella memandang jauh ke seberang bukit, sementara Devan menatapnya dengan pandangan kecewa bercampur dengan tidak percaya.


“Stella, dengan kamu menyatakan bahwa pernikahan kita adalah sebuah kesalahan, itu sudah sebuah pengkhianatan. Siapa laki-laki itu Stella?” Suara Devan bergetar menahan marah.


“Bukan urusanmu, Devan. Aku tidak minta apa-apa darimu. Kamu masih bisa jadi ayah untuk Liam.”


“Tidak Stella! Kamu dan Liam adalah milikku. Aku sungguh mencintai kalian. Sampai kapan pun aku tidak akan berpisah denganmu dan Liam!”


Devan memutar dan memacu kudanya menuruni bukit. Stella mengejarnya.


Melihat Stella tepat di belakang, Devan memacu kudanya lebih cepat. Hatinya terlalu sakit, ia butuh waktu sendiri.


Devan masih memacu kudanya, pikirannya melayang, harapannya hancur. Tiba-tiba kudanya berhenti dan melompat hingga dirinya terlempar jatuh.


Melihat Devan jatuh dan tidak bergerak, Stella panik.


“Devan … Devan ..”


Kuda Stella ikut berhenti dan meringkik keras, menolak untuk bergerak maju dan berputar-putar ketakutan. Stella melihat sesuatu merayap dan menjauh. Seekor ular telah mengejutkan kuda yang ditunggangi Devan.


Stella segera menelpon ke mansion untuk meminta bantuan. Ia menunggui Devan yang tak sadarkan diri.


Evakuasi cukup sulit karena mereka di kawasan perbukitan yang sebagian areanya tertutup pohon. Helikopter ambulance membawa Devan ke rumah sakit milik keluarganya.


Stella menemani Devan dengan penuh rasa bersalah. Selama dua hari Devan tak sadarkan diri, terjadi pendarahan dan dokter harus melakukan operasi.


Kedua orang tua Devan terus berada di rumah sakit bersama Stella. Ketika Devan akhirnya sadar, ia tidak bisa menggerakkan kakinya sama sekali.


Begitu melihat Stella, ia teringat kejadian terakhir sebelum jatuh dari kuda. Devan mengamuk hingga dokter harus menyuntikkan obat tenang.


Dokter melakukan operasi syaraf di tulang punggung, namun upaya itu tidak berhasil mengembalikan kemampuan Devan untuk berjalan. Ia kembali ke mansion dalam keadaan lumpuh dan depresi.


Devan tidak menceritakan pada siapapun mengenai permintaan Stella untuk berpisah.

__ADS_1


Istrinya yang merasa bersalah mencoba untuk bertahan, merawat, dan menemani Devan. Kekecewaan Devan terlalu besar hingga ia menjadi seseorang yang pemarah.


Suatu malam tanpa sengaja, Devan mendengar Stella sedang menerima telepon.


“Nick, I can’t leave him now. Devan sedang terpuruk. Bisakah kau bersabar? Hanya kamu yang aku cinta, Nick, percayalah.”


Perasaan Devan semakin remuk, ia masuk ke ruang baca tempat Stella diam-diam menerima telepon. Ia menatap tajam ke netra Stella.


“Katakan, apa salahku padamu? Aku sungguh mencintaimu dan Liam.”


Stella terkejut, lalu menutup telepon dari Nick.


“Devan, please, don’t do this. Kamu nggak bisa mengatur kapan dan kepada siapa cinta akan datang.” Stella berkata sambil berlutut di samping kursi roda Devan.


“Benar, Stella, tapi kita bisa mengatur apa yang akan seharusnya dilakukan lakukan. Kamu bisa menghentikan perasaanmu pada Nick karena sudah menikah denganku, Stella.”


Pria itu benar-benar merasa tidak berguna. Dirinya tidak mampu membuat Stella mencintainya. Di tengah kekecewaannya ia tidak lagi bisa berjalan. Apa yang diharapkan dari masa depannya?


“Aku akan bertahan bersamamu jika memang itu yang kauinginkan, tapi ketahuilah, ada orang lain di dalam hatiku,” ucap Stella lirih sambil menatap wajah pria yang masih menjadi suaminya.


“Pernahkah kamu mencintaiku, Stella?”


Stella mengelus tangan Devan, air matanya berlinang.


“Aku mencintaimu Dev, tapi Nick tidak pernah pergi dari hatiku. Aku mencintaimu karena kamu memberikan kenyamanan, kamu menjadikanku permaisuri, dan kamu adalah ayah dari Liam.”


“Tapi … tapi kamu juga mencintai laki-laki bernama Nick.”


Stella menatap netra Devan. Dirinya pernah jatuh cinta pada Devan, namun pertemuannya dengan Nick tanpa sengaja berlanjut dengan pertemuan-pertemuan lain membuatnya yakin bahwa Nick adalah cinta sejatinya.


Walau salah telah membuka hati untuk pria lain, Stella tidak ingin berselingkuh. Ia memilih bercerai membawa anaknya dan hidup bersama Nick.


Devan mengenggam tangan Stella.


“Stella, aku tahu saat ini diriku adalah beban, tapi bertahanlah. Kita bisa atasi ini bersama.”


Sambil melepaskan tangan dan membelai lembut wajah suaminya, Stella berkata, “Jika cintaku utuh untukmu, dalam kondisi apapun, kamu bukanlah beban. Aku meninggalkanmu bukan karena kondisimu tapi aku tidak bisa membohongi diriku lagi. Aku .. tersiksa, Dev.”


Mata Devan merah karena marah. Ia menepis tangan Stella.


“Pergi! Pergi! Tinggalkan aku dan Liam!”


“No! I will bring Liam with me.”


“Stella! Just go! Kamu mau menikah dengan Nick, aku nggak peduli lagi. Tapi jangan kau bawa Liam.”


“Sorry Dev, Liam masih kecil, dia butuh ibunya. Kamu bisa menemuinya kapan saja, aku sudah bicarakan dengan Nick.”


“Kamu wanita kejam, Stella!”


Devan mengambil vas bunga lalu membantingnya. Kecewa, marah, sakit hati, putus asa, sedih bercampur aduk. Stella ketakutan lalu berdiri dan mundur beberapa langkah.


“Pergi Stella! Aku nggak mau liat kamu lagi. Bawa Liam! Aku sudah tidak peduli!”


Mata Devan nyalang menatap Stella yang semakin ketakutan. Devan melempar buku yang bisa diraihnya ke arah Stella. Membuat Stella berlari menghindar.


Jack datang untuk melihat apa yang terjadi. Devan terus melempari Stella dengan barang apapun yang bisa diraihnya.


Dengan tubuhnya, Jack melindungi Stella dari amukan Devan. Stella lari ke kamar Liam, mengambil perlengkapan anaknya lalu bergegas pergi dari mansion.


Malam itu Devan hancur. Ia tak lagi memiliki masa depan. Istri dan anak yang sangat ia cintai pergi menjauh, dengan kaki lumpuh tak mungkin ia bisa melanjutkan karirnya sebagai dokter.


Tak berapa lama setelah kepergian Stella dan Liam, Devan menerima surat perceraian. Tak peduli lagi, ia langsung menandatangani.


Beberapa kali ia terpikir untuk bunuh diri. Orang tuanya dan Jack yang selalu menyemangati, menjauhkan semua benda tajam dan obat-obatan dari Devan.


Seseorang yang hangat dan ramah berubah menjadi pria pemarah. Hari-hari Devan mengurung diri di mansion. Ia tidak mau lagi tidur di kamarnya karena mengingatkan pada Stella. Ia menutup kamar Liam dan tak mau membukanya.


Melalui orang suruhannya ia mengetahui Stella akhirnya menikahi Nick. Devan pun memutuskan untuk memantau Stella dan Liam dari jauh.


Berkali-kali Stella mengundang Devan untuk datang di acara ulang tahun atau sekolah Liam. Devan tidak pernah sekali pun datang. Rasa sakit masih dirasakan walau mereka telah berpisah bertahun-tahun.

__ADS_1


***


__ADS_2