
Qiara dan Thoriq masih menikmati kebersamaan mereka hingga di hari terakhir sebelum esok Thoriq akan ke apartemen untuk bersama Hanna selama seminggu.
Malam itu mereka lagi-lagi melakukan percintaan. Setelah beberapa ronde dituntaskan, mereka beristirahat. Qiara merebahkan kepalanya di dada Thoriq, memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sana.
“Qia, makasi ya kamu masih mau terima Mas,” ujar Thoriq sambil memainkan jarinya di bahu polos Qiara.
“Mas, Qia juga makasi Mas nggak ninggalin Qia. Secara Hanna kan jauh lebih muda dan cantik.”
“Jangan ngomongin orang lain. Fokus aja sama kita.”
“Iyalah Mas, Qia takut Mas pergi, apalagi kita belum punya anak.”
“Mas nggak akan tinggalin Qia in syaa Allah. Doa Mas siang malam adalah agar bisa terus sama Qia.”
“Mas, hmmm Mas mulai sayang ya sama Hanna?”
“Jangan ngomongin orang lain, Sayang. Yang jelas, cinta Mas cuma masih utuh buat kamu.”
“Tapi lambat laun pasti Mas akan cinta sama Hanna. Kalian kan sudah melakukan semuanya,” tutur Qiara lirih.
“Qia, terus terang Mas memang sudah ada rasa sama Hanna. Tapi nggak tau kenapa, Mas nggak nunggu-nunggu buat ketemu Hanna. Sementara kalau Mas sama Hanna, Mas bener-bener nunggu hari buat ketemu kamu. Adil secara rasa itu memang sulit.”
Bagai tertusuk belati, Qiara mendengarkan pengakuan Thoriq.
“Berat ya, Mas.”
“Berat, Qia. Makanya benar perintah di Qur’an agar laki-laki menikah dengan satu wanita saja.”
“Mas, Qia mau tanya sesuatu. Bulan ini transfer ke Qia nggak berkurang. Qia pikir penghasilan Mas bakal dibagi ke dua rumah.”
“Oh itu, Mas sekarang ambil proyek lebih banyak. Sama terima konsultansi buat hotel-hotel kecil.”
“Ya Allah, Mas cape banget dong kerjanya.”
“Mau gimana lagi. Hanna ada warisan dari orang tuanya. Nilainya cukup besar. Tapi Mas nggak mau terima atau pakai uang itu.”
“Mas harus kuat ya.”
“Qia, hati kamu tuh terbuat dari apa sih?”
“Dari coklat Monggo, jadi so sweet,” lagi-lagi Qiara menjawab asal sambil memberikan kode love ala artis Korea.
“Ngegemesin banget, sih …”
“Qia jadi pengin coklat Monggo.”
“Malah ngomongin coklat … kamu ya… Mas gigit.”
Qiara dengan gesit mengelak, namun lagi-lagi suaminya yang bertubuh tegap berhasil menangkapnya.
“Mas lepasin Qia. Jangan dikelitikin, geli!”
“Hukuman karena udah godain Mas. Tenang aja Mas punya banyak hukuman buat Qia.”
“Ampun, Mas. Ampun …”
Thoriq mengindahkan permohonan Qiara dan lagi-lagi menyerang istrinya. Mereka bercinta, menikmati malam terakhir bersama.
***
Hanna tak sabar menunggu kedatangan Thoriq. Wanita itu pergi ke lab untuk memastikan kehamilannya.
Malam itu ia akan menyerahkan amplop berisi hasil pemeriksaan lab yang menyatakan dia positif hamil.
Hanna sudah menyiapkan aneka lauk pauk. Rencananya ia ingin merayakan kehamilannya dengan makan makam romantis di apartemen.
Kamar sudah disemprot pewangi. Ia menyalakan lilin untuk membuat suasana lebih romantis.
Malam itu ia mengurai rambutnya yang sebahu, memulas pipi sehingga terlihat segar. Ia memakai rok di atas lutut sengan atasan tank top yang memamerkan kulit mulusnya.
“Assalamualaykum, Hanna.”
“Waalaykumussakan, Mas, apakabar? Hanna kangen.”
Thoriq tersenyum, mengecup kening Hanna.
“Mas kamu bebersih dulu gih, Hanna udah siapin makan nih. Pasti laper.”
__ADS_1
Thoriq melirik aneka bungkusan yang teronggok di pojok meja dapur. Tak berkata apa-apa, ia masuk ke kamar mandi untuk berbersih.
Hanna tidak terpikir menyiapkan handuk atau pakaian buat suami. Berbeda dengan Qiara yang sudah menyiapkan segala sesuatu sebelum Thoriq masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, Thoriq keluar kamar. Hanna menggandengnya ke meja makan.
Di atas piring Thoriq, Hanna meletakkan surat.
“Apa ini Hanna?”
“Baca aja.”
Dengan keheranan Thoriq membuka amplop. Matanya terbelalak.
“Ya Allah, kamu hamil?”
Hanna mengangguk dengan semangat.
“Alhamdulillah ya Allah.”
“Mas seneng?”
“Seneng dong, ya Allah, Mas mau punya anak!” Seru Thoriq dengan mata berkaca-kaca. Walau ia belum sepenuhnya memiliki perasaan pada Hanna tapi kehadiran janin di perut istrinya mengubah semuanya. Hanna akan menjadi ibu dari anaknya.
Thoriq menghampiri Hanna, dikecupnya perut yang berisi benihnya itu.
“Hallo anak ayah, sehat-sehat di dalam sana yaaa, sampai kita ketemu.”
Mata Hanna berkaca-kaca. Tak menyangka reaksi suaminya akan seperti ini.
“Besok Mas antar kamu ke dokter ya. Kamu harus minum vitamin dan asam folat.”
“Hanna udah bikin janji jam 10 pagi, Mas bisa anterin kan?”
“Nanti Mas ijin masuknya terlambat ke atasan. Ya Allah Hanna seneng banget.”
“Telepon Kakek Nenek yuk, Mas.”
“Yuk …”
Wanita bernama Hanna itu merasakan kebahagiaan teramat sangat. Thoriq mencurahkan perhatian. Menyuapinya dengan hati-hati. Bahkan malam itu mereka bercinta dengan lembut.
Ketika Thoriq tertidur diam-diam Hanna membuka hape suaminya untuk mencatat nomor Qiara.
“Cis, namanya Si Cinta. Kita lihat Qiara setelah ini siapa yang lebih dicintai Mas Thoriq.”
***
“Mbak Anne, jadi kita berangkat ke Australia?”
“Jadi minggu depan ya, tiket udah siap. Visa kerja udah beres. Eh by the way, kamu beruntung loh, dapet visa kerjanya lama.”
“Loh emang aku lama stay di sana?”
“Cuma seminggu, tapi kamu dapat visa kerja setahun. Mbak sampe telepon sendiri ke kedutaan. Mbak oke oke aja, toh kamu nggak akan setahun anyway di sana. Kecuali kamu kesambit cowok di sana dan mau tinggal seterusnya,” Marianne menggoda Qiara yang dibalas dengan cibiran.
“Qiara nggak mau lama-lama, di sana nggak ada seblak.”
“Ha iya, enel uga. Jadi pengin,” bales Marianne sambil terkekeh.
“Eh kok aku juga ya. Nanti siang makan di kedai depan yuk.”
“Siaap Qi, buat kamu apa sih yang enggak.”
“Nah mumpung semua boleh, aku minta coklatnya dua, ya, Mbak.” Qiara mengambil dua butir coklat dari meja Marianne lalu kembali ke cubicle sambil cengengesan. Marianne hanya geleng-geleng melihat tingkah polah anak buahnya.
“Qi, numben craving seblak sama coklat. Jangan-jangan kamu hamil,” gumam Marianne.
***
Thoriq dan Hanna sangat bahagia melihat kantung kehamilan di perut Hanna.
“Kehamilannya masih sangat muda, baru sekitar dua minggu. Jadi harus hati-hati. Kurangi dulu hubungan suami-istri karena di usia ini masih rentan. Kalau pun melakukan yang halus-halus saja,” jelas dr Harumi, obgyn yang memeriksa Hanna.
“Baik, Dokter.” Hanna menjawab, tangannya meraih tangan suaminya.
“Ada vitamin penguat, asam folat, calcium. Semua harus diminum. Ini juga ada beberapa tes untuk melihat apakah ada risiko virus di tubuh Ibu.”
__ADS_1
Hanna dan Thoriq mengangguk sambil terus tekun menyimak. Mereka akan berjuang agar kehamilan Hanna sehat dan menyenangkan.
Setelah berpamitan keduanya berjalan bergandengan. Tak sadar sepasang mata menatap mereka penuh amarah.
“Dasar pria brengsek. Sekarang istri keduamu hamil dan pasti Qiara makin sakit,” batin Dhanu.
***
“Mas, apakah Mbak Qiara perlu diberi tahu? Ini kan anak Mas, harusnya Mba Qiara ikut bahagia.”
Thoriq terdiam, sebetulnya ia bukannya tidak memikirkan perasaan Qiara sejak ia tahu Hanna hamil. Namun euphoria kehamilan Hanna benar-benar membuatnya lupa sejenak akan istri pertamanya.
“Nanti, Mas aja yang kasih tahu,” jawab Thoriq sambil menghela napas.
Hanna memalingkan muka. “Selalu aja begitu kalau tentang Qiara. Sok melindungi. Padahal kan seru kalau datang berdua dan kasih tau kalau aku hamil anak Mas Thoriq,” batinnya.
“Mikir apa? Kamu jangan banyak khawatir, nanti dede bayinya ikutan khawatir.”
“Iya Mas. Dedek bayi akan baik-baik saja karena punya ayah yang baik dan tampan serta ibu yang cantik dan pintar.”
“Mas nggak pintar?”
“Ya pokoknya alhamdulillah kita paket lengkap lah.”
Thoriq terkekeh sambil mengusap pucuk kepala Hanna yang berbunga-bunga. Benar-benar kehamilannya ini membuat Thoriq menunjukkan rasa sayang padanya.
“Hanna, Mas antar kamu ke apartemen terus Mas ke kantor ya.”
“Nggak mau nemenin dedek bayi?” Tanya Hanna dengan suara bayi.
Thoriq memegang perut Hanna
“Dedek yang sehat, ayah kerja dulu buat bunda dan dedek..”
“Ih nggak mau dipanggil bunda. Tua banget. Aku mau dipanggil Mama.”
Iya deh. Dedek yang sehat, ayah kerja dilu buat bunda dan dedek…”
“Mas old fashion banget deh. Papa dong.”
Thoriq tersenyum melirik Hanna. Tak bisa dipungkiri kehamilan Hanna membuat rasa sayang semakin bertumbuh. Thoriq bertekad menjaga Hanna dan janin di perutnya agar selalu sehat.
“Udah sampai, Mama, hati-hati sama Debay ya…”
“Assalamualaykum Papa”
“Waalaykumussalam Mama.”
Setelah memastikan Hanna masuk ke lobby, Thoriq berangkat ke kantor. Harinya berbunga-bunga. Kabar kehamilan memang kabar yang sangat menggembirakan.
Wajahnya tak henti tersenyum, membayangkan menggendong bayi lalu kelak mengajaknya bermain di taman. Semua hal yang menyenangkan.
Thoriq belum mau memikirkan bagaimana cara memberitahu Qiara, toh masih minggu depan ia bertemu istri pertamanya. Biarlah dirinya menikmati berita gembira ini. Baru kali ini semenjak pernikahannya dengan Hanna ia merasa bahagia.
Cinta? Belum, Thoriq belum mencintai Hanna namun ia telah jatuh cinta pada janin yang di perut istrinya. Melihat kantung kehamilan yang masih sebesar kacang membuatnya berkaca-kaca di depan dokter.
“Papa nggak sabar ketemu kamu, Nak …”
***
Di apartemen Hanna sedang merancang bagaimana cara yang paling keji untuk memberitahu kehamilannya pada Qiara.
Apakah mengirim foto alat kehamilan yang menunjukkan dua garis? Apakah dengan mengirimkan hasil pemeriksaan lab? Atau foto kantung kehamilan?
“Selama ini aku tahu Mas Thoriq lebih memilih kamu Mbak. Tapi liat saja, aku akan buat Mas Thoriq benar-benar meninggalkanmu.”
Hanna tersenyum mengingat betapa lembut dan penuh kasih sayang Thoriq memperlakukannya. Walau ia belum mendengar kata cinta, tapi itu Hanna yakin hanya sekedar waktu.
Apalagi saat bayi ini lahir, dipastikan Thoriq akan menempel padanya. Ia tidak mau lagi berbagi suami karena tidak mungkin mengurus bayi sendiri. Dia pun yakin Thoriq akan enggan meninggalkan istri yang baru melahirkan dan bayinya.
Sambil tersenyum Hanna mengelus perutnya. “Kita berjuang memperebutkan papamu ya, Sayang. Bantu Mama.”
Hanna memutuskan untuk menikmati kegembiraannya dan menunda saat menyakiti Qiara dengan kabar kehamilannya.
Ia berjalan ke dapur membuat susu kehamilan yang sudah dibelinya sejak ia tahu dirinya hamil. Hatinya menghangat mengingat bagaimana semalam ia pura-pura tak mau minum susu dan dengan telaten Thoriq membujuknya.
***
__ADS_1