
Liam menggandeng ayahnya. Matanya takut-takut ketika Devan mengetuk pintu sebuah apartemen.
Devan melirik anaknya sambil tersenyum.
Tak lama pintu terbuka. Wajah Devan pias melihat seorang laki-laki tampan yang tidak dikenalnya membuka pintu.
“Hi mate, we’re looking for Qiara …”
“Aaah Qiara, she isn’t living here anymore. I heard lives in her old apartement. Next building.”
Alis Devan berkerut. Ia tahu persis alasan Qiara pindah dari apartemen lamanya. Wajah pria itu berubah muram. Liam mengeratkan pegangan tangannya.
“Oh I see. Well, thanks and have a nice day.”
“No worries, mate.”
Devan dan Liam berjalan ke gedung apartemen lain, tak jauh dari sana. Liam melihat wajah ayahnya berubah sedih.
“Dad, what’s wrong?” Kalau Daddy nggak mau ketemu Kala kita pulang aja.”
Devan menoel pipi Liam dengan gemas, ia tahu anaknya merasa bersalah pada Kala dan takut Kala marah padanya sehingga berkata ayahnyalah yang enggan bertemu Kala.
“Liam gimana, kalau Liam berani, Daddy juga berani ketemu Kala,” balas Devan dengan sungguh-sungguh. Pria itu merangkul pundak anaknya.
“Aku … aku berani, Dad,” ucap Liam walau ada keraguan.
“Good …. Here we are.”
Devan mengetuk pintu beberapa kali dan tidak ada yang membuka. Ia heran biasanya Qiara dan Kala tidak pergi ke mana-mana di Minggu siang. Rest day sebelum masuk ke pekan m yang sibuk, begitu kata Qiara.
“Dad, nggak ada orang.”
Devan kecewa, ia sangat ingin bertemu dengan Qiara. Sambil menghela napas, ia menggandeng Liam kembali ke mobil.
Di luar gedung ia melihat sebuah kafe yang siang itu ramai pengunjung. Udara memang sedang sejuk hingga meja-meja di luar kafe penuh.
Devan mengernyit dari kejauhan dilihatnya sosok berkerudung biru muda dengan sigap dan ceria melayani para tamu.
“Qiara?” Gumamnya heran.
“Daddy …” Liam menggoyang-goyang tangan ayahnya.
“Kamu mau brownies? Kafe di sana punya brownies enak banget.”
“Boleh sama milk shake?” Mata Liam berbinar.
“Nah! Mereka juga punya milk shake strawberry enak banget, yuk.”
“Yay!”
Liam berjalan melompat-lompat dengan riangdi samping ayahnya. Lupa ketakutannya bertemu Kala. Sementara itu, Devan terus mengamati Qiara yang masih melayani tamu-tamu.
Qiara sangat ramah, tamu-tamu tidak hanya memesan tapi juga mengobrol dan bercanda dengan Qiara. Tawa Qiara terdengar renyah hingga akhirnya para tamu ikut tertawa bersamanya.
Langkah Devan terhenti melihat Jeremy keluar dari kafe lalu ikut bergabung dalam obrolan Qiara dan tamu-tamunya.
“Excuse me, may we have table for two?” Liam yang sudah lebih sampai menyapa Jeremy dan Qiara. Anak kecil itu tidak mengenali mereka.
Jeremy dan Qiara tertegun. Qiara mendongak dan melihat Devan berdiri di belakang Liam.
Melihat Qiara tidak bergeming dan terus bersitatap dengan Devan, Jeremy gegas mempersilakan mereka masuk karena meja-meja di luar sudah terisi. Liam berjalan mendului.
Devan tetap berdiri di luar. Menunggu Qiara selesai menerima pesanan. Liam yang sudah masuk tiba-tiba berlari keluar, menarik tangan Devan lalu berbisik di telinganya.
“Dad, ada Kala, aku takut.” Dengan mata membulat ia menatap Devan minta perlindungan. Devan geli melihat anaknya yang berusia tujuh tahun takut pada Kala yang baru mau tiga tahun.
Qiara sudah selesai menyelesaikan pesanan lalu berjalan mendekati mereka. Tidak sengaja mendengar ucapan Liam yang terakhir.
“Hi, kamu Liam, kan? Aku Qiara. Masuk yuk, nanti aku buatin milk shake.”
Liam akhirnya mengenali Qiara sebagai ibunda Kala. Awalnya ia bersembunyi di belakang tubuh Devan namun sorot mata Qiara yang lembut, nada bicara yang ramah membuat Liam pun berani.
“Aku mau milk shake strawberry …” ucapnya malu-malu.
“Got it! Aku buat kan, ya … Dan kamu? Mau masuk atau berdiri di sini?” Ucapnya ke Devan.
Laki-laki itu tergagap, lalu menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Masuk …” Balasnya sambil tersenyum lebar membuat wajahnya sangat mirip Liam.
“Kala, look who’s here,” panggil Qiara pada Kala yang duduk sambil mewarnai di bangku tinggi meja counter.
Melihat Liam masuk, Kala lompat turun lalu memeluk ibunya.
“Buna …” Kala takut-takut melihat Liam dan Devan lalu membenamkan kepalanya di pelukan Qiara.
“Kala, aku Liam. Aku ke sini mau minta maaf.” Liam yang sudah berlatih langsung mengulurkan tangannya ke Kala.
Kala mendongak, menatap netra Bunanya dengan alis terangkat. Qiara mengangguk dan mengelus kepala Kala.
Masih takut-takut tapi Kala mulai menoleh ke arah Liam. Ia melihat tangan anak laki yang lebih besar terulur ke arahnya. Kala melihat bahwa Liam pun memandangnya dengan takut-takut.
__ADS_1
Kala lalu menerima uluran tangan Liam sambil mengangguk.
“Kamu mau duduk di situ? Aku lagi mewarnai buku Thor.”
Liam berbinar mendengar action hero idolanya disebut.
“Kamu suka Thor? Aku juga. Aku punya figurin di rumah, kita bisa main bareng.”
Kala menarik Liam dan menyuruhnya duduk di bangku sampingnya. Dua anak laki itu langsung asik membicarakan tokoh perkasa idola mereka.
Devan dan Qiara kembali bersitatap.
“Kamu juga mau mewarnai bareng mereka?” Qiara bertanya dengan nada bercanda.
Devan tersenyum.
“Enggak, aku mau ngobrol aja sama ibunya.”
“Aku kerja, nggak bisa ngobrol. Kamu duduk di sini. Last table. Kami penuh hari ini.”
“Oh, okay.”
Dari kejauhan Jeremy diam-diam memperhatikan Qiara dan Devan. Sudah sebulan Qiara bekerja di kafenya sambil mengerjakan proyek-proyek kecil rumahan. Dua minggu yang sangat membahagiakan karena tiap hari ia bisa bertemu Qiara.
Jeremy cemburu melihat binar di mata Qiara setiap melihat Devan. Begitu pun Devan yang mencuri-curi pandang ke arah Qiara.
Devan menunggu Qiara agar bisa bicara dengannya. Sebagai orang tua Liam, ia pun merasa bertanggung jawab atas perilaku kasar anaknya waktu itu. Namun Devan merasa Qiara menghindarinya.
Jeremy mendatangi Devan lalu menerima pesanan.
“Hi, mate, how are ya’?” Sapa Jeremy dengan ramah.
“Good, you?”
“Oh happy, as always,” balas Jeremy sambil tertawa jahil.
“Qiara kerja di sini sekarang? Kenapa?”
“Yup. Alasannya karena ada orang bodoh yang berbuat tidak adil. Anyway, kamu mau pesan apa? Kami punya kopi paling pahit di sini. Mau satu tanpa gula?” Jeremy bertanya sambil menatap Devan dengan tatapan sok polos tapi menyindir.
Devan mendengus, lalu melihat buku menu. Sengaja membolak-balik berkali-kali.
Jeremy sadar Devan sedang mengerjainya.
“Jer, aku mau milk shake strawberry satu untuk anakku. Sebentar, Kala, kamu mau milk shake nggak?”
Kala menoleh ke arah Devan lalu melirik ke arah Liam. Ia masih takut menyapa Devan karena khawatir Liam marah lagi.
“It’s okay… mau ya, kamu sukanya milk shake coklat kan?”
“No, thank you, Uncle. I’m fine.”
Devan mengangguk, sedikit kecewa. Dulu ia sering membelikan milk shake coklat.
Jeremy berdehem. Devan melirik sekilas lalu lagi-lagi membolak-balik lembaran menu.
“Aku senang dengan kafemu. Pemiliknya sabar,” sindir Devan. Jeremy hampir mencekik pria yang masih tekun membaca menu.
“You know, kalau hurufnya kekecilan, kami punya lembar menu khusus untuk orang tua dengan tulisan lebih besar,” sindir Jeremy yang delapan tahun lebih muda dari Devan.
Pria yang disindir mendengus kesal.
“Okay, saya mau burger. Dagingnya tolong tingkat kematangannya medium well. Selada jangan lebih dari tiga lembar, beri tomat, tolong pilih potongan tengah. Mayonaise tipis saja, mustard banyakin. Minuman saya mau ice tea, gula pisah. Lalu kentang goreng untuk Liam dan Kala. Tolong gorengnya sampai benar-benar golden brown, biar cantik kalau difoto.”
Paham Devan sedang mengerjainya, Jeremy hanya tertawa kecut lalu berlalu. Di depan jendela dapur ia sengaja membacakan pesanan Devan keras-keras pada chef. Membuat semua tamu terkekeh mendengarnya.
Setelah itu ia sengaja menatap Devan dengan penuh kemenangan. Devan menutup matanya sambil menggeleng melihat kelakuan Jeremy.
Diam-diam Devan mengikuti Qiara dari sudut matanya. Wanita itu masih melayani tamu-tamu atau membawakan pesanan mereka. Devan masih bertanya-tanya alasan Qiara kerja di kafe. Terlebih ini kafenya Jeremy. Mendadak hatinya merasa sedih.
“Qi, kapan kamu longgar, aku ingin bicara.” Devan berdiri menahan Qiara yang melewati mejanya.
“Dev, shiftku sampai jam sembilan malam, jadi kita nggak akan punya waktu ngobrol,” jawab Qiara tegas lalu pergi berjalan ke arah dapur.
“Sebentar saja. Aku ingin minta maaf Liam mendorong Kala waktu itu.”
“All good now, look at them. Dev, aku harus kerja, maaf.”
Devan mengangguk lalu membiarkan Qiara pergi.
Di dapur, Qiara mengambil segelas air. Ia menyesap perlahan. Mengambil napas dalam untuk meredakan degup jantungnya.
Dirinya sudah sedemikian tidak berhubungan dengan Devan karena tidak ingin menjadi penganggu. Kini pria itu ada di kafenya. Tampan seperti biasa, dengan tatapan mata teduh. Wajah blasteran Australia - Indonesia membuat garis-garis wajahnya terbentuk sempurna.
Qiara menggelengkan kepala.
“Cut it Qiara! Kamu nggak akan jadi seperti Hanna.”
Qiara menghabiskan air putihnya lalu menguatkan diri sebelum mengantarkan pesanan yang sudah siap. Tingkah lakunya tidak luput dari pengamatan Jeremy yang sedang mengambil sesuatu di sudut dapur.
Setelah beberapa jam, Devan mengajak Liam untuk pulang. Malam itu dengan pesawat pribadi, Devan akan mengantarkan Liam kembali ke Stella di Wollonggong.
__ADS_1
Mereka berpamitan dengan Kala dan Qiara.
“Kala, kapan-kapan main ya pas aku nginep mansion Daddy. Ajak papamu juga jadi kita berempat bisa main bola.”
Kala hanya diam menatap anak yang lebih besar. Qiara mengelus pucuk kepala anaknya.
Liam tertegun karena tidak ada respon dari Kala. Dengan polos ia menatap ayahnya.
“Kala, kapan-kapan main ke mansion, ya,” ucap Devan memecah kecanggungan.
“Thank you for coming, Devan, Liam. Lain kali datang lagi,” balas Qiara sambil menggandeng Kala.
Devan dan Liam berjalan menuju parkiran mobil.
“Dad, Kala seperti aku dulu, ya? Nggak punya ayah?”
Devan tersentak.
“Maafkan, Daddy. Ya, Kala seperti kamu, dia belum pernah bertemu daddy-nya.”
Liam berhenti lalu berlari kembali ke arah kafe.
Di sana Kala sedang berusaha tidak menangis di pelukan ibunya. Anak kecil itu tidak mau menangis dan membuat ibunya sedih.
“Kala, I’m sorry, I didn’t know …” Ucap Liam sambil terengah-engah. Devan mengejar di belakangnya.
“Aku tau rasanya. Kamu harus kuat ya, berdoa suatu saat bertemu ayahmu.” Liam mengucapkan dengan tulus. Ia paham betul rasanya tidak bisa bertemu ayah.
Air mata Kala tumpah. Liam maju lalu memegang pundak anak kecil itu.
“Come here,” ucapnya sambil memeluk Kala yang menangis tersedu-sedu. Tangannya menepuk-nepuk pundak Kala.
Beberapa pengunjung ikut terharu melihat dua orang anak kecil yang saling berpelukan.
***
Beberapa minggu berlalu. Selama itu Devan berusaha menghubungi Qiara lewat telepon maupun pesan. Tidak mendapat balasan satu pun.
Stella dan kedua orang tuanya terus merongrongnya agar segera menikah. Terlebih setelah Stella tahu kunjungan Devan dan Liam ke kafe Qiara bekerja.
Setiap hari Stella makin menempel padanya. Walau Devan masih tidak ingin berhubungan lebih jauh dari sekadar pertemuan maupun makan bersama.
Siang itu Stella sedang ada pekerjaan modelling. Devan berniat memakai waktu makan siangnya untuk mengunjungi kantor Qiara.
“Hi, I would like to meet Qiara,” katanya kepada resepsionis.
“Qiara? She does not work here anymore.”
Devan terkejut mendengar jawaban resepsionis.
“Sejak kapan? Dan dimana dia bekerja sekarang?”
“Sudah beberapa bulan. Mohon maaf kami tidak bisa memberi tahu dimana Qiara bekerja sekarang.”
“Baik, terima kasih,” sahut Devan setelah berpikir sejenak. Ia segera kembali ke mobil lalu mengarahkannya ke kafe milik Jeremy.
Dari jendela, ia melihat Qiara sedang membersihkan meja-meja, lalu membawa peralatan makan kotor ke dapur.
Devan memarkir mobilnya lalu mendatangi kafe tersebut.
“Qiara.”
“Oh, hi, Dev. Silakan masuk, mau meja dekat jendela?”
Devan meraih tangan Qiara.
“Just hold on for a minute, please.”
Qiara melepaskan tangannya dari Devan.
“Qiara, please. I want to talk, please. Aku yang akan minta ijin ke Jeremy.”
Qiara menggigit bibirnya. Ragu-ragu untuk memenuhi permintaan Devan.
“Nggak ada yang perlu dibicarakan, Dev.”
“Kamu masih marah karena aku nggak membalas pesanmu sepulang kita dari Sidney?”
Alis Qiara berkerut. “Aku malah lupa.”
Devan menatap Qiara dengan pandangan kecewa, apalagi ketika wanita itu hanya menatap datar.
“Aku tadi ke MJ, kenapa kamu nggak kerja di sana lagi.”
Dada Qiara terasa sesak.
“Perubahan karir. Dengar, Dev. Aku harus kembali kerja, salam buat Liam, ya. Kamu yang baik-baik. Have a good day.”
Qiara buru-buru masuk ke dapur. Di sana bendungan air matanya tumpah.
Tiba-tiba ia merasa lelah lahir batin.
__ADS_1
***