Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
EP 4: Cinta yang Tak Utuh


__ADS_3

“Tuan Kala, ada Nyonya Fatimah dan Tuan Alex di depan.”


“Bunda? Ada Bunda?” Tanya dua anak yang langsung terbelalak.


Hazel dan Kenzo tidak menunggu jawaban dan langsung lari menuju pintu utama mansion Donavy.


“Bunda! Bunda!”


“Assalamualaykum anak-anak Bunda!”


“Waalaykumussalam. Bunda!” Hazel dan Kenzo langsung menghambur ke pelukan Bundanya. Saling melepas rindu setelah sekian lama hanya berjumpa lewat video call.


Dengan bangga Kenzo menunjuk hidung lalu berkata, “Enzo udah nda pake selang agi. Udah mamam ewat ulut.”


“Hazel udah bisa suapin Adek, terus tadi Adek …” Hazel tidak meneruskan kalimatnya karena baru menyadari sosok yang berdiri di belakang ibunya.


“Adek, ati-ati, ada Oom Jahat, nanti kamu dibawa.” Hazel membentangkan tangan melindungi adiknya. Matanya menantang Alex.


“Anak kamu banget ya, Fatimah,” gumam Alex mencoba tersenyum ramah namun malah jadi seperti serigala menyeringai. Hazel makin melotot karena menyangka Alex menantangnya.


Fatimah mengacak kepala Hazel yang langsung memeluk erat ibunya, matanya masih menatap tajam ke arah Alex.


“Fatimah,” terdengar suara yang masih dirindukan oleh Fatimah.


“Mas … apakabar?”


“Alhamdulillah. Kamu sendiri?”


Fatimah membalas dengan senyum.


Dari belakang Kala muncul Qiara dan Thoriq.


“Fatimah, maa syaa Allah. Buna tadi hampir nggak percaya kamu datang. Apakabar anak Buna?”


Fatimah mencium takzim mantan ibu mertuanya lalu mereka berpelukan. Delapan tahun menikah dengan Kala, hubungan Fatimah dan mantan mertuanya sudah seperti ibu dan anak.


“Fatimah kok kurus banget, Sayang?” Tanpa menunggu jawaban, Qiara menatap tajam ke Alexander yang tiba-tiba berharap ditelan bumi.


“Kamu!”


Alex menelan salivanya. Di usianya yang melewati enam puluh tahun, keberanian Qiara tidak menciut. Tak peduli Alexander Mahendara pernah menduduki posisi tertinggi di dunia hitam, tetap saja amarahnya menggelegak melihat Fatimah terlihat lelah dan menderita.


“Kalian menikah hampir setahun, liat, apa istri kamu kelihatan bahagia? Kamu itu suami atau tembok, bisanya nggak peka.”


Thoriq merangkul Qiara, berjaga-jaga jika saja Alexander tidak terima atas perlakuan dan perkataan istrinya.


“Maaf Buna!” Suara Alex bergetar, di masa mudanya, ia biasa mendapat bentakan atau pukulan jika berbuat salah. Namun Qiara bukan sekedar murka. Alex justru merasakan sayang wanita paruh baya itu pada istrinya.


“Jangan panggil saya Buna. Kamu sudah bikin anak saya Kalandra menderita, cucu-cucu saya jauh dari ibunya, di saat mereka butuh kasih sayang seorang ibu. Setelah itu ternyata kamu nggak becus jadi suami.”


Kala merangkul Qiara.


“Buna, jangan marah-marah. Nanti darah tinggi. Fatimah, Alex, kita ke ruang keluarga, yuk. Hazel, minta pelayan siapkan minuman dan makanan untuk Bunda dan Oom Alexander.“


Kenzo masih terus menggelayut manja pada ibunya.


“Kenzo, sini sama Ayah. Bunda cape abis naik pesawat.”


“Nggak apa, Mas.” Fatimah tak henti menciumi pipi, hidung, leher Si Bungsu hingga kegelian.


“Enzo mau ama Bunda. Angen.” Kenzo sudah berumur hampir lima tahun namun mengalami speech delay sehingga ia masih sering menghilangkan huruf depan dari kata-kata yang diucapkan.


Mereka memasuki ruang keluarga. Fatimah ingat dulu dirinya selalu bercengkerama dengan Kala dan anak-anak di ruangan ini. Senyumnya mengembang ketika gelombang kenangan indah menerobos benaknya. Wanita itu tak sadar saat Alex menatapnya dengan sendu.


***


Cuaca siang itu cerah. Fatimah bermain bersama Hazel dan Kenzo di gazebo. Kala menyusul membawa obat untuk Kenzo.


“Hai, Mas.”


Kala tersenyum. “Kenzo, minum obat sama Bunda.”


“Ay ay, Captain!” Seru Kenzo bersemangat.


Setelah selesai, Fatimah duduk di bangku. Kala memandang jauh ke balik bukit di belakang mansion mereka.


“Mas masih merindukan kamu, Fatimah …”


“Aku juga, Mas,” jawab Fatimah lirih sambil memerhatikan Hazel dan Kenzo main kejar-kejaran.


Kala tersenyum. Netranya masih menerawang jauh.


“Takdir kita lucu, ya. Dulu Mas mati-matian menyelamatkan kamu dari Alex. Bertahun-tahun kemudian, ternyata dia berperan menyelamatkan nyawa anak kita.”


Fatimah menghela napas, matanya menatap jauh.


“Mas, Alex menanyakan apakah kita masih bisa kembali bersama.”


“Dia yang menanyakan itu?”


***


Dari dalam ruang keluarga, Alex memandang dua orang yang sedang bercakap di gazebo. Berulang kali menghela napas berat.


“Kamu sangat mencintai Fatimah?” Thoriq sudah berdiri di belakangnya.


“Lebih dari hidup saya, Pak. Di meja operasi, saya rela memberikan seluruh organ hati jika itu membuat Kenzo sembuh dan Fatimah tidak sedih lagi.”


“Alex, kamu sudah menyebabkan perceraian. Itu adalah pekerjaan setan,” ucap Qiara tanpa tedeng aling-aling.


Suami Fatimah lagi-lagi menghela napas.


“Tidak akan lama, mereka akan kembali bersama,” batinnya miris. Kala dan Fatimah kini berbicara akrab, sesekali tertawa melihat kelakuan anak-anak mereka.


Alex bicara perlahan, “Saya menginginkan apa yang Kala dan Fatimah miliki. Cinta dan keluarga. Saya tidak pernah lagi memiliki keduanya semenjak ibu meninggal. Saya lupa rasanya memiliki keluarga. Fatimah saya paksa untuk melupakan keluarganya dan mencintai saya.”


Dari jauh Alex mengamati betapa baru sekejab, namun pertemuan dengan Kala dan anak-anak membuat wajah istrinya berseri-seri.


“Fatimah adalah satu-satunya wanita yang membuat saya ingin menjadi baik.”


***


Kala, Fatimah, dan anak-anak masuk ke mansion ketika udara di luar berubah dingin dan berangin. Mereka berempat tertawa bahagia. Hazel berjalan dengan gaya konyol persis seperti Kala waktu masih kecil.


Tulang-tulang Alex seperti meluruh mengingat pada akhirnya akan kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


Masuk ke dalam mansion, Hazel dan Kenzo menyerbu coklat panas yang sudah disiapkan pelayan. Tak lupa Hazel menyempatkan diri melempar tatapan setajam silet ke arah Alex.


“Bang, kita ke hotel dulu. Besok kita jalan sama anak-anak.”


“Kita?”


“Abang mau jalan berdua Hazel?”

__ADS_1


“Sama kamu,” cicit Alex. Nyali sebagai penjahat kelas kakap menguap di depan anak umur delapan tahun yang masih terus menatapnya dengan pandangan curiga.


“Kami pamit dulu kalau begitu.” Fatimah mencium takzim Qiara dan Thoriq, memeluk anak-anaknya lalu mengangguk kepada Kala.


Malam itu Alex lebih banyak diam. Fatimah sibuk karena Hazel dan Kenzo bolak-balik menghubunginya. Mereka bersemangat dengan acara besok.


Dari tempat tidur, Alex tersenyum seperti merasakan kebahagiaan Fatimah. Tak berapa lama istrinya selesai bicara dengan anak-anak, wanita yang sudah memakai baju dinas malam naik ke tempat tidur.


Fatimah bersiap menerima serangan dari Alex, namun tertegun melihat suaminya hanya memandangnya.


“Fatimah, kita tidur aja yuk, kamu pasti capek banget.”


Tak percaya netra Fatimah membola.


“Abang nggak akan hukum kamu. Abang cuma pengin kamu istirahat, tidur yang enak.” Alex mengusap pucuk kepala istrinya.


“Mm … makasi. Abang juga tidur, ya. Fatimah nggak kemana-mana, kok.”


Alex mengecup kening Fatimah.


“Tapi pelukan, ya. Boleh?”


Fatimah tersenyum. “Boleh.”


Kemudian ia merebahkan kepala, menelusup ke dada suaminya. Dalam hitungan detik, terdengar dengkuran halus.


Alex sekali lagi mengecup kening Fatimah kemudian menggumam, “Pertama kalinya kamu tersenyum tanpa kusuruh, Fatimah. Terima kasih.”


Seperti malam lainnya, Alex tidak ingin tidur. Ia menciumi lembut wajah Fatimah yang lelap dalam tidurnya. Air mata mengalir di wajah pria bengis yang sedang dilanda cinta.


“Pastinya sudah terlambat, tapi kamu harus kembali bahagia sama Kala dan anak-anak. Besok aku akan menalak kamu.”


Alex mengeratkan pelukannya. Menikmati setiap detik dari malam yang mungkin menjadi malam terakhirnya bersama Fatimah.


***


“Fatimah, udah Subuh, Sayang.”


Fatimah mengerjap, “Aku mandi dulu.”


“Nggak usah, Sayang. Semalam kita nggak ngapa-ngapain, kok.”


“Serius?”


“Kamu nggak mungkin tidur lelap kalau aku menyerangmu. Aku udah wudhu, mukena sama sajadah juga sudah Abang siapin,” jawab Alex sambil terkekeh.


Fatimah hampir tidak memercayai ucapan suami sampai melihat sajadah yang sudah digelar dan mukena terlipat rapi di atasnya.


“Aku wudhu dulu, ya, Bang.”


Alex menjadi imam sholat dengan penuh kesungguhan. Beberapa kali suaranya bergetar. Begitu mengucapkan salam laki-laki itu langsung menghapus air mata yang mengembang.


“Abang kenapa?”


“Sayang, makasi ya. Setahun ini adalah waktu yang sangat membahagiakan buat Abang. Kehadiran kamu membuat Abang bisa mencintai seseorang. Sejak kamu di sisi Abang, keinginan menumpuk harta dan tahta hilang dari benak Abang. Dan hanya kamu wanita yang Abang inginkan. Kamu membuat Abang ingat nikmatnya jadi orang baik. Walau ternyata Abang malah jahat sama kamu.”


Alex mengelus lembut wajah Fatimah.


“Abang minta maaf sudah egois menghancurkan kebahagiaan keluarga kamu. Lalu Abang tidak memperlakukan kamu dengan baik. Maafin Abang, ya.”


Fatimah bergeming menatap lurus ke manik legam Alexander.


“Abang … Abang siap untuk berpisah. Kamu harus kembali bahagia sama Kala dan anak-anak.” Nada suara Alex bergetar menahan kesedihan yang luar biasa.


“Bang, kenapa sih Abang nggak pernah nanya apa mau aku? Abang, aku itu bukan robot yang cuma disuruh-suruh. Ya memang sebagai istri aku harus patuh sama Abang. Tapi sebagai suami, bukankah Abang bertanggung jawab atasku? Termasuk juga atas kebahagiaanku?”


“Abang nggak terbiasa …”


“Biasakan, Bang. Suami istri itu harus berkomunikasi dua arah bukan cuma searah dari Abang.”


“In syaa Allah, Abang akan … tunggu. Fatimah. Apa … apa maksudnya Abang harus biasakan?” Alex menelan saliva matanya terbelalak penuh harap.


Fatimah menggigit bibirnya.


“Saat Abang memintaku kembali ke Mas Kala … mungkin saat itu untuk pertama kali aku mulai mencintai Abang. Perkawinan bukan hal main-main. Kita tidak bisa asal coba lalu berputus asa terhadapnya. Jika Abang masih berkenan, aku ingin kita mencoba lagi. Fatimah sudah menyampaikan keinginan bahkan keberatan dalam hubungan kita. Jadi bagaimana, apakah Abang mau?”


Alexander Mahendra terhenyak. Beban berat yang menghimpit dadanya seakan terangkat.


“Fatimah beneran nggak mau ninggalin Abang?”


Untuk pertama kali, Fatimah menyentuh wajah suaminya tanpa perintah kemudian mengangguk.


“Apakah … apakah ini karena Kalandra sedang berta’aruf dengan seorang wanita?”


“Bukan. Mas Kala dan aku akan selalu mencintai, namun tidak lagi sebagai suami istri.”


Alex mengecup tangan Fatimah yang masih menyentuh wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Abang dari tadi nangis terus, deh,” ucap Fatimah sambil tersenyum jahil.


Alex terkesiap, ini kedua kalinya Fatimah tersenyum padanya.


“Abang mau sujud syukur dulu.”


Pria itu gegas bersujud hingga menangis tergugu. Setelah puas ia berbalik dan memeluk Fatimah.


“Ajari … ajari Abang menjadi imam yang baik buat kamu. Abang nggak mau kehilangan kamu, Sayang.”


“Kita belajar sama-sama, ya, Abang. Dan satu lagi. Karena Kenzo sudah sehat, anak-anak ingin tinggal dengan kita.”


Alex tersenyum namun kemudian senyuman itu hilang.


“Haz … Hazel juga?”


“Dia yang minta. Katanya mau jagain Bundanya dari Oom Jahat.”


Alex mengangguk-angguk. Satu tangannya mengepal dan memukul telapak tangan satunya.


“Okay, challenge accepted. Aku akan menjadi suami dan ayah terbaik.”


“Bang, ngeri, ah, kayak lagi ditantangin berantem.”


“Maaf, kebiasaan lama susah hilang. Fatimah, mungkin hanya sepuluh tahun pertama dalam hidup, aku jadi orang baik. Ayahku meninggal sebelum aku lahir, ibu menikah lagi dengan seorang preman. Ketika ibu meninggal, pria brengsek itu menjualku.”


Alex termenung mengingat kenangan pahit.


“Abang dijadikan pengemis jalanan. Jika setoranku kurang sudah pasti hukuman yang Abang terima. Abang bertahan sampai salah seorang penjaga ingin melecehkan Abang.”


Fatimah mendengar sambil dengan mata terbelalak. Alex tidak nyaman bercerita tentang masa lalunya dan Fatimah juga enggan bertanya.


“Abang mengambil kayu kemudian memukul kepalanya. Setelah itu melarikan diri. Abang nggak tau apakah bedebah itu hidup atau mati. Abang kemudian jadi anak jalanan. Apa saja Abang lakukan untuk bertahan hidup. Mencuri, mencopet. Setelah lebih besar Abang bergabung dengan kelompok mafia. Beruntung bos mafia saat itu menganggap Abang sebagai anak. Abang bisa sekolah bahkan kuliah di luar negeri sebelum akhirnya bisa jadi pemimpin.”


Alex menutupi wajahnya.

__ADS_1


“Pertama kali bertemu kamu, Abang menjadi penumpang pesawat yang kamu bawa. Ke Amsterdam kalau nggak salah. Kamu keluar dari kokpit untuk menyelesaikan masalah penumpang di kabin. Sejak itu Abang selalu mengikuti kamu. Fatimah, dalam diri kamu, Abang melihat harapan untuk kembali baik. Tapi Abang nggak tau caranya. Ajari Abang.”


“In syaa Allah, Abang. Alhamdulillah Abang sekarang sholatnya udah rajin. Terus pertahankan ya. Kedua, bersihkan harta haram.”


“Semuanya dong,” ujar Alex sambil tersenyum kecut.


“Ya. Semuanya.”


“Bagaimana Abang bisa membiayai kamu dan anak-anak?”


“Rejeki datang dari Allah. Anak-anakku memang biasa hidup berkecukupan, tapi mereka bukan orang sombong. Abang tahu aku dulu pernah amat sangat miskin saat tinggal bersama Oom Dicky? Terkadang kami harus belajar dengan memakai lilin karena gaji Oom Dicky tidak cukup untuk membeli pulsa listrik.”


Alex mendengar dengan seksama. Bukannya ia tidak tahu, tapi ini pertama kalinya Fatimah bercerita.


“Untuk masa depan, aku punya cukup tabungan buat modal. Jika perlu, aku pun masih bisa mengajar di sekolah pilot, hanya perlu ujian ulang saja.”


“Kamu jaga anak-anak aja. Abang akan berusaha. Fatimah, terima kasih.”


“Jangan nangis lagi, Bang,” jawab Fatimah sambil terkekeh.


Alex merengkuh istrinya yang masih berbalut mukena. Mengecupi pucuk kepalanya. Alex mendongakkan wajah Fatimah, menatapnya dengan lembut.


“Abang bener-bener cinta kamu, Sayang.”


“Buat Fatimah jatuh cinta sama Abang dengan cara yang lembut.”


“In syaa Allah …”


***


“Barakallahu fii umrik Kenzo!” Semua berseru. Kenzo tertawa bahagia.


Mereka semua berkumpul di halaman belakang rumah Alex dan Fatimah. Tidak semegah dan seluas istana Alex sebelumnya, namun nyaman dan asri.


Semua keluarga Thoriq dan Qiara, dan seluruh anggota keluarga Dicky dan Hanna berkumpul.


“Maaf rumahnya sesak, ya,” ujar Alex dengan gugup. Fatimah memeluk suaminya. Perutnya membuncit karena kehamilannya masuk ke trimester kedua. Alex tersenyum. Fatimah selalu bisa memberikan ketenangan.


“Bukan rumahnya yang sesak. Orangnya yang emang kebanyakan,” celetuk Dicky sambil menyenggol Thoriq yang mesam-mesem.


Alex menyerahkan seluruh kekuasaannya pada Alvin yang kini menguasai dunia hitam. Godaan untuk kembali ke sana terus berdatangan, namun Fatimah terlebih lagi Hazel selalu menguatkannya.


Kala datang menggandeng Alana, istrinya yang juga sedang hamil muda.


“Kenzo seneng banget. Makasi, ya Lex.” Kala menjabat tangan Alex dengan erat, senyumnya hangat.


“Sama-sama,” balas Alex kini terkekeh melihat kedua anak sambungnya bertingkah konyol di hadapan sepupu-sepupunya.


“Kalau udah gitu mereka kamu banget deh, Mas,” ucap Alana dengan logat asing yang masih kental.


“Mas itu orangnya serius, Al.”


Semua yang mendengar langsung menidakkan. Kala terkekeh sambil mengusap perut istrinya.


“Ayah, ayah, Papa Alex kasih aku buku dan alat-alat percobaan science. Nanti kita cobain ya,” Kenzo mendekat sambil membawa kotak besar. Ia memang suka segala sesuatu berbau science.


“Hazel aja dikasih buku cerita petualangan Detektif Hiro, padahal nggak ulang tahun. Eh apa jangan-jangan Papa Alex lupa kapan ulang tahunku?” Hazel melirik tajam ke arah Alex.


“Inget, kamu 7 Oktober, kan?” Mata Alex mengerling ke arah Fatimah.


“Enam Oktober. Tuh kan lupa. Enam Oktober.” Hazel bersungut, tangannya melipat di depan dada. Bibirnya manyum dua centi.


“Cari masalah kamu, Bang,” ujar Fatimah sambil mengelus dada Hazel yang naik turun menahan emosi.


Alex lalu berjongkok di atas lutut, menyamakan tinggi dengan Hazel.


“Mas Hazel lahir dari perut Bunda pada 6 Oktober jam 12.30. Berat kamu 3,9 kg dan panjang 52 cm. Ayah Kala dan Bunda Fatimah memberi nama kamu Hazel Thoriq Putra Kalandra karena bola mata kamu berwarna coklat. Kamu menyandang dua nama besar, Kakek Thoriq dan Ayah Kala. Mas Hazel adalah anak sholeh yang pemberani.”


Hazel tersenyum senang. Dia lalu berbisik ke Qiara yang duduk di dekatnya, “Papa Alex sudah kudidik, Gemma.”


Qiara tertawa geli melihat kesamaan Hazel dan Kala di masa kecil. Fatimah menutup bibir anaknya yang memang suka losblong kalau bicara.


Alex tertawa senang. Ia berdiri lalu mempersilakan semuanya untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.


***


Thoriq, Qiara, Dicky, dan Hanna duduk di teras. Memandang ke dalam melihat keluarga besar mereka bercanda dan tertawa bersama.


Thoriq dan Dicky merangkul istri masing-masing. Senyum bahagia mengembang di wajah keempatnya.


“Hanna nggak menyangka perjalanan hidup kita bisa sampai di sini, Mbak. Alhamdulillah ya Allah. Hanna nggak berhenti bersyukur.”


“Betul, semua yang menjadi suratan takdir memang yang terbaik. Tidak mudah saat menjalaninya namun setelah selesai semua terasa indah.”


“Alex memakai semua asetnya untuk membangun mesjid dan menyantuni anak yatim. Di saat yang bersamaan dia mulai membuka kedai kecil-kecilan Ayam Panggang Berkah. Makanan kesukaannya waktu kecil. Dia sering bantuin ibunya masak. Alhamdulillah sekarang sudah buka cabang ke tiga.” Dicky menjelaskan.


Hanna menyambung, “Fatimah bersama teman-teman di pesantren juga membuka kelas online tahsin dan hafalan Qur’an untuk ibu-ibu. Dengar-dengar muridnya sudah seribu dari seluruh Indonesia. Kadang-kadang dia jadi penguji simulasi untuk calon pilot jet pribadi.”


“Alhamdulillah, kami ikut bahagia. Mas Thoriq berencana memasukkan Ayam Panggang Berkah ke dalam menu restorannya,” sambung Qiara.


Thoriq mengangguk, lalu tertawa melihat Kala mengisengi Barran.


“Anak kita nggak habis isengnya. Cocok banget sama Alana.”


“Aku dengar Alana itu dokter dari Suriah yang berhasil mengungsi?” Hanna bertanya sembari menatap wajah cantik khas Timur Tengah.


“Dokter militer. Seluruh keluarganya terbunuh saat daerah rumahnya diserang bom. Termasuk suaminya yang juga tentara dan anaknya yang masih bayi. Alana selamat karena sedang bertugas di rumah sakit. Dia bertemu Kala setelah berhasil kerja di rumah sakit di Manchester, lalu mereka berta’aruf.”


“Maa syaa Allah. Hanna seneng Kalandra terlihat bahagia.”


Thoriq dan Qiara mengiyakan. Thoriq mengelus pundak istrinya yang masih bersandar padanya. Kemudian mengecup sisi kening Qiara.


Kisah keluarga besar mereka bermula dengan cinta yang tak lagi utuh. Manis pahitnya perjalanan hidup mereka jalani dengan terus berkeyakinan bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik.


Takdir memang tidak selalu memberikan apa yang mereka harapkan. Perpisahan dan kematian pernah menghampiri seperti halnya kebahagiaan dan kesenangan. Karena begitulah hidup yang berputar seperti roda.


“Semoga Allah selalu ridho dengan kebahagiaan keluarga kita,” ucap Thoriq penuh harap.


“Aamiin ya Allah.”


Keempatnya terus memandang ke dalam dengan penuh kebahagiaan. Menyandarkan harapan pada sebaik-baiknya sandaran, Allah SWT.


\~Beneran Tamat\~


Halo semuanya … makasih sudah join lagi di extra part. Bagian ini aku tulis karena terinspirasi kisah seseorang yang sebelumnya penguasa dunia kriminal lalu berhijrah dan menjadi seseorang yang taat.


Habis ini, Thor akan istirahat sepuluh hari (semoga Noveltoon ikhlas ya). Ada proyek buku solo non fiksi yang harus selesai dalam sepuluh hari ke depan. Doakan diterima penerbit hehehe.


Pssst. Aku juga lagi siapkan novel berikutnya: Dendam Si Kembar. Masih work in progress. In syaa Allah, rilis 16 November 2022 di Noveltoon.


Sehat dan … selalu bahagia semuanya! Freya Alana pamit dulu, ya … sampai jumpa.


\~Freya Alana\~

__ADS_1


__ADS_2