Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Siasat Stella


__ADS_3

Thoriq duduk di samping jendela kamar Aira. Sudah beberapa hari ini Aira demam sepulang dari Jakarta.


Niatan Thoriq untuk kembali ke Jakarta mendatangi rumah Dhanu mencari Qiara terpaksa ditunda.


Thoriq meraih hape dari sakunya. Ia membuka foto favoritnya saat di pantai bersama Qiara. Senyum ceria Qiara dan pipi yang kemerahan, membuat hati Thoriq menghangat.


Hampir lewat tiga tahun sejak terakhir melihat Qiara. Perasaannya masih sama.


“Qia, kamu baik-baik, kan? Mas berharap suatu saat kita dipertemukan. Semoga kamu bahagia, Sayang. Mas sedih, bukan Mas yang bikin kamu bahagia.”


“Aya, Aya kangen Buna, ya?”


Aira ternyata sudah bangun. Duduk di tempat tidurnya sambil mengucek mata. Thoriq berjalan ke tempat tidur Aira, memegang leher anaknya yang mulai meluar keringat.


“Aira udah bangun, Sayang? Udah turun panasnya, alhamdulillaah.”


“Aya, Aira udah enakan. Pingin makan soto.”


Jika ada hal baik yang terjadi dalam dua tahun kehidupan Thoriq, itu adalah kehadiran Aira. Anak perempuan yang menjadi tanggung jawabnya setelah Hanna menyerahkan hak asuh di sidang perceraian.


Aira menjadi motivasinya untuk sembuh dan bangkit dari keterpurukan. Kini mereka berdua tinggal di sebuah rumah dengan halaman belakang yang luas.


Setelah sembuh, dengan sisa tabungan, Thoriq berinvestasi ke sebidang tanah di lereng gunung Dieng. Ia membangun villa mungil dengan pemandangan menghadap ke perkotaan. Villa bernuansa modern itu ditata menjadi hunian cozy lalu disewakan.


Bangunan yang unik serta pemandangan yang cantik membuatnya trending. Dari hasil sewa, Thoriq membangun villa lain di daerah pegunungan Lawu.


Dua tahun mengenal Qiara membuatnya punya skill untuk menata ruangan dengan apik. Villa itu dilengkapi jacuzzi luar ruang menghadap ke puncak gunung Lawu.


Sepasang honeymooners memviralkan keindahan dan suasana romantis di villa. Sejak itu, villa tidak pernah sepi dari pemesan.


Thoriq terus mengembangkan usahanya hingga kini ia memiliki mini resort. Ia juga membuat home office tempatnya kerja mengendalikan semua villa-villa. Menyewa beberapa orang untuk mengelola secara langsung seluruh propertinya dan secara berkala datang untuk melakukan inspeksi.


Aira selalu ikut saat Thoriq mengunjungi villa-villanya. Bocah cantik itu menikmati suasana pegunungan. Terkadang jika ada satu villa kosong, Thoriq mengajak anaknya bermalam di sana.


Thoriq mempekerjakan sepasang suami istri lanjut usia di rumahnya. Bik Ratmi dan Pak Katmo. Bik Ratmi memasak dan menjaga Aira sementara Pak Katmo membersihkan rumah dan menjadi drivernya.


Nenek berulang kali menyarankan Thoriq untuk menikah lagi. Bahkan mengenalkan beberapa wanita. Hingga akhirnya Thoriq menolak dengan tegas.


“Nek, biarlah Thoriq mencari kebahagiaan sendiri. Sudah lah, tidak usah menjodohkan Thoriq dengan siapa pun.”


“Tapi Aira butuh ibu.”


“Nek, Thoriq mohon. Biar Thoriq menentukan jalan hidup sendiri.”


“Thoriq, jangan begitu. Kamu masih muda, belum banyak pengalaman seperti Kakek dan Nenek,” sahut Kakek.


“Kek, apakah Kakek pernah menikah lagi?”


Tenggorokan Kakek tercekat. Lima puluh tahun hidup bersama istrinya tidak pernah sekali pun dirinya melirik wanita lain.


“Tidak, Thoriq, tapi …”


“Pernahkah Kakek kehilangan Nenek barang sehari saja?”


“Tidak.”

__ADS_1


“Mohon maaf, Kakek, Nenek. Kebahagiaan Thoriq dan Aira adalah tanggung jawabku.”


“Kami hanya ingin membantu kamu supaya bahagia.”


“Biarkanlah Thoriq dan Aira seperti sekarang ini. Kami tenang dan bahagia, Nek. Thoriq akan menikah dengan wanita pilihan sendiri.”


Melihat betapa kerasnya Thoriq menolak, akhirnya Kakek dan Nenek menyerah.


“Aya kok malah ngelamun, Aira laper …”


Thoriq tertawa lalu menggendong anaknya. Duo ayah dan anak itu tertawa bercanda.


***


Stella melempar vas bunga di depannya. Orang suruhan yang dibayarnya baru saja memberikan foto Devan dan Liam bersama Qiara dan Kala. Mereka berempat nampak bersenda gurau di sebuah restauran.


“Brengsek!”


Di foto-foto lain, Liam nampak asyik bermain dengan Kala. Anak laki-laki itu terlihat melindungi dan menggandeng Kala.


Stella murka karena jelas-jelas Liam tidak menuruti perintahnya untuk menjauhi Qiara dan Kala.


“Anda perlu tahu siapa Qiara,” laki-laki bernama Tom yang disewa Stella.


Stella mendongak ke laki-laki tinggi besar yang memilih untuk tetap berdiri.


“Bicara…”


Semua informasi mengenai Qiara dan Kala mengalir lancar dari mulut Tom. Tidak ada yang tertinggal. Termasuk menurut pengamatannya, wanita itu masih mencintai Thoriq.


“You know, dia meninggalkan Indonesia tanpa memberitahukan kehamilannya pada Thoriq. Kalau Anda bisa membuat Thoriq menemui Qiara, mungkin mereka bisa rujuk. Atau bahkan jika Anda bisa membuat athoriq mengajukan hak asuh, Qiara akan dipusingkan dengan masalah itu. Anda bisa mendekati Devan, tentunya jangan terlalu polos. I’m sure you know what to do.”


Sambil tersenyum sinis, Stella kembali melihat foto Thoriq sedang memeluk Qiara saat pesta pernikahan mereka.


“Dasar laki-laki tolol. Tapi kamu akan berguna bagiku untuk memisahkan Qiara dan Devan.”


***


“Hidden Paradise” begitulah Thoriq menamai villa di lereng Gunung Lawu. Hari ini ada penyewa yang akan masuk, Thoriq melakukan pemeriksaan akhir sebelum penyewa datang.


Sebuah mobil mendekat. Aira berlari-lari dari dalam villa dan langsung minta digendong ayahnya.


Stella menatap keduanya dari dalam mobil. Senyum sinis langsung berganti dengan senyum ramah ketika keluar dari mobil.


Aira terpana melihat kecantikan Stella, sementara Thoriq mengangguk lalu menundukkan pandangannya.


“You must be Thoriq, we chat earlier via app.”


“Yes, nice to meet you. Kami sudah menyiapkan segala sesuatunya. Silakan jika Anda ingin melihat-lihat.”


Stella masuk lalu pemandangan ke arah gunung. Ia memandang berkeliling ke villa yang sederhana dibanding villa-villa yang biasa ia kunjungi di Switzerland atau Canada.


Tapi ia memuji penataan ruang yang nyaman dan menyenangkan.


“Mam, jika semua sudah beres, selamat menikmati kunjungan Anda. Saya pamit. Terima kasih.”

__ADS_1


“Wait…”


“Ada apa? Apakah ada yang kurang?”


Stella duduk di sofa.


“Tidakkah kamu ingin tahu tentang seorang anak bernama Kalandra Akira Putra Thoriq?”


Jantung Thoriq seperti berhenti berdetak.


Napasnya tersentak, matanya terbelalak.”


Dengan tenang Stella melempar ke atad meja makan foto-foto Qiara dan Kala dari semasa di Australia hingga saat setelah mereka kembali ke Jakarta.


Thoriq mendekati. Duduk di kursi makan sambil mengamati semua foto-foto yang disebar Stella. Tangannya gemetar. Mengambil dan mengamati satu per satu.


Ada foto Qiara sedang menggendong Kala saat masih bayi. Foto Kala di ulang tahun pertama.


“Qia …” ucapnya lirih.


“Kakak yang di rumah sakit,” ucap Aira sambil menunjuk Kala.


Kala sedang menyeringai lebar, matanya jenaka dan berbinar-binar.


Thoriq menatap heran putrinya, “Aira liat anak ini?”


“Aira liat kakak sakit.”


Hati Thoriq mencelos.


Kemudian ada foto Kala sedang berdiri mengamati sesuatu, Thoriq seperti melihat foto dirinya semasa kecil. Ada foto Qiara sedang memangku Kala yang tertidur lelap.


Mata Thoriq menghangat. Aira memerhatikan ayahnya.


“Aya … Aya …”


Thoriq mengelus kepala Aira lalu memeluknya erat. Tanpa disadari, ia telah memiliki dua anak.


“Kala lahir sebulan sebelum mantan istrimu melahirkan. Istri keduamu melahirkan dengan segala kemewahan, sementara Qiara melahirkan di lantai kamar anakku oleh seorang dokter lumpuh.”


“Qia …” Thoriq hanya mampu menyebut nama mantan istri yang masih sangat dicintainya.


“Mereka ada di Indonesia, tinggal di paviliun rumah Dhanu. Qiara … Qiara masih sangat mencintaimu,” ucap Stella dengan tenang.


“Look, aku sudah booked villa mu ini seminggu, tapi …” Stella memandang berkeliling.


“Tapi aku tidak akan menempatinya. You can keep the money. Nasihatku buatmu adalah temui Qiara dan anakmu. Sebagai ayah, kamu berhak menemuinya terlebih Qiara tidak punya hak menyembunyikannya darimu.”


“Siapa Anda? Dan kenapa Anda memberitahu ini pada saya?”


“Let’s just say … aku seorang wanita yang mengharap keluarganya utuh lagi.”


Stella kemudian berdiri lalu berbicara pelan.


“Segera, atau kamu kehilangan mereka untuk kedua kalinya.”

__ADS_1


Ia menoel pipi Aira sebelum keluar dan pergi meninggalkan Thoriq yang termangu menatap foto-foto yang berserakan.


***


__ADS_2