
“Aira, jadi Aya bagusnya pakai yang mana? Khaki sama bomber jacket coklat atau jeans hitam dan sweater?”
“Katanya cuma ketemu sahabat, kok nelepon sampai dua belas kali nanyain baju?” Aira meledek ayahnya.
Thoriq memandang Aira dengan tatapan memohon. Kamar suite nya sudah seperti kapal pecah. Pakaian dan jaket bertebaran di sana-sini.
“Ai, please …”
Aira tergelak melihat air muka ayahnya.
“Pakai celana dan turtle neck hitam lalu long coat yang abu-abu. Cakep!”
“Ini Ai? Nggak bapak-bapak banget gitu?”
“Lha kan Aya emang bapak-bapak atau Aya sebenernya ibu-ibu?” Aira tidak tahan untuk tidak menggoda ayahnya.
Thoriq sudah pasrah. “Aya coba bentar, jangan diputus.”
Thoriq lari ke kamar mandi lalu keluar dengan pakaian yang tadi disebutkan Aira.
“Perfecto!” Cetus Aira sambil mengacung dia jempol. Ayahnya masih paripurna di usianya yang lebih dari setengah abad. Bahkan uban di rambutnya membuat Thoriq nampak berwibawa.
“Ay …”
“I know, I know jangan terlalu berharap agar tidak terhempas. Aya sama Buna cuma sahabatan kok.”
“Ay, I miss you, I miss us …”
“I miss you, too. Ya udah Aya mau siap-siap, salam buat Liam. Assalamualaykum, bye!” Thoriq langsung memutus sambungan video call.
Ia sudah menyewa mobil yang akan mengantar jemput ke mansion. Pukul 18.30 driver menelepon. Thoriq membawa buket bunga berwarna segar.
Ketika ia melintas lobby hotel, tak sedikit kaum hawa yang memanjakan mata mereka dengan tubuh atletis dan wajah yang rupawan. Sebuket bunga menjadi senjata pamungkas yang menandai Thoriq sebagai pria romantis dan penuh perhatian.
Beberapa dari wanita-wanita itu mencoba menyapa namun Thoriq hanya tersenyum dan terus melangkah ke luar hotel mencari driver yang menjemputnya.
“Mr Thoriq Aditya? Alamat yang Anda tuju adalah kediaman Keluarga Donavy?”
“Betul. Apakah jauh?”
“Saya akan pilihkan jalan yang tidak padat. Silakan, rental ini kebetulan dari Group Perusahaan Donavy.” Driver senior yang rambutnya memutih itu dengan ramah menjelaskan.
“Oh ya? Luar biasa.”
“Ya benar, baru digabungkan dengan group pariwisata yang dipegang Nona Abigail. Beliau mewarisi sifat kakeknya. Anda teman Nyonya Qiara?”
“Kami berkawan sejak lama. Devan almarhum adalah sahabat saya.”
“Aaah Tuan Devan. Nyonya Qiara sangat bersedih ketika Tuan Devan meninggal. Kata driver yang bekerja di sana, selama enam tahun setelah mengantarkan Nona Zee ke sekolah, maka Nyonya Qiara akan duduk berjam-jam di depan makam Tuan Devan.”
“Selama enam tahun?”
“Ya. Setiap hari kecuali Sabtu atau Minggu karena Nona Zee libur. Kadang malah driver harus mengingatkan Nyonya Qiara jika sudah terlalu lama. Udara London kadang tidak bersahabat.”
Thoriq mengigit bibirnya. Sebegitu dalam cinta Qiara pada Devan.
“Agak berkurang frekuensi ke makam setelah Tuan Liam menikah. Sepertinya Nyonya Qiara berusaha untuk move on. Kami semua mendoakan Nyonya Qiara. Menurut cerita para driver yang pernah bekerja di mansion, Nyonya Qiara sangatlah baik dan perhatian.”
Driver itu terus menceritakan tentang kebaikan Qiara.
“Nyonya hafal hari ulang tahun para driver, istri, dan anak-anaknya. Sekali waktu, ada driver yang meninggal. Nyonya dan anak-anaknya yang kembar tiga datang melayat. Nyonya kemudian membiayai sekolah anak-anak driver hingga selesai SMA.”
Di lampu merah, driver melihat Thoriq dari kaca spion.
“Bahagiakan, Nyonya, ya.”
“What? Oh no, no. Kami hanya bersahabat.”
“Penampilan, gaya, dan bunga di tanganmu tidak menunjukkan kamu hanya sekadar teman,” laki-laki berambut silver itu tersenyum ramah.
Mereka sudah memasuki mansion. Pintu gerbang terbuka setelah driver memberikan identitasnya.
“Saya akan di sini sampai Anda selesai.”
“Terima kasih, Bapak …”
“Frankie. Silakan tuan.” Frankie gegas membukakan pintu mobil dan mempersilakan Thoriq menuju pintu utama. Seorang butler telah menunggu di sana.
“Aya …”
Kala membuka pintu dan dengan tawa lebar langsung memeluk ayahnya.
“Apakabar anak Aya? Nggak ada operasi?”
“Terjadwal nggak ada, tapi nggak tau kalau emergency. Masuk yuk. Buna nggak kasih ijin aku buat makan perkedel. Kita langsung makan aja, ya.”
“Kalandra.” Terdengar suara wanita yang dari tadi dinantikan oleh Thoriq.
“Hehehe, abis Buna pelit.” Kalandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Thoriq tidak berkedip menatap Qiara yang berjalan mendekatinya. Ia mengenakan celana palazzo creme dan blus panjang berwarna biru muda. Kerudung biru tua dengan bunga-bunga pink nampak serasi.
“Assalamualaykum, Mas.”
“Wa .. wabilahi taufiq eh .. wa’alaykumussalam Qia.” Thoriq terbata.
“Hai Uncle, ini bunganya buat Buna atau buat Abby?” Goda Abigail sambil menyeringai jahil.
“Buat Qiara, ini buat kamu, Qia.”
“Maa syaa Allah, cantik banget.” Qiara menerima bunga lalu mengajak semuanya ke ruang makan. Di sana ia mengambil vas lalu meletakkan rangkaian bunga tersebut di vas. Membuat suasana ruang makan lebih semarak.
“Maa syaa Allah, soto. Mas kangen soto buatan kamu.”
“Kala juga kangen soto buatan Buna.” Kala menyindir Thoriq yang terus berdiri tidak kejelasan. Abby menyikut kakaknya lalu mengedipkan mata.
Nampak sekali Thoriq masih memiliki banyak cinta untuk Qiara.
“Duduk, Mas. Langsung dicobain aja. Kala, ambilin ayahnya.”
Dengan sigap Kala langsung mengambil mangkok di depan Thoriq, meracik ayam suwir, telur, sedikit soun, daun bawang, kuah soto yang segar. Terakhir menaburkan koya. Abby membantu mengambilkan nasi putih hangat yang masih mengepul.
Thoriq menyeruput kuah soto perlahan. Menikmati setiap suap yang masuk. Sudah ribuan purnama ia merindukan masakan Qiara. Entah sudah berapa perkedel yang diambilnya. Kala melirik ayahnya karena jarang sekali ia melihat ayahnya bolak-balik nambah.
__ADS_1
Selain soto, Qiara menambahkan gado-gado yang juga makanan favorit Thoriq dan anak-anaknya.
“Eh iya, Zee mana, Qia?”
“Hari ini nginep rumah sahabatnya Anisha.”
“Anisha? Orang Indonesia?”
“Anaknya dubes. Mereka kebetulan satu sekolah dari dua tahun lalu. Terus Anisha tiga bulan lagi mau pulang ke Indonesia.”
“Buna, triplets request video call nih, Mbak Aira juga.” Abby pindah ke samping ibunya diikuti Kala.
“Hai, hai … apakabar semua?”
“Baik, Buna.”
Thoriq canggung untuk bergabung hingga Qiara memanggil.
“Mas, sini ada Aira sama Liam.”
Thoriq lalu mendekat, anak-anak Qiara pun mengucapkan salam.
“We have a good news. Ai tunjukin, Sayang,” ucap Liam dengan sorot mesra ke arah Aira.
Aira berseri-seri menunjukkan test pack dengan dua garis biru.
Semua langsung mengucapkan hamdallah. Thoriq tidak mampu berkata-kata. Ia akan segera jadi kakek.
“Aira ada rasa mual-mual nggak?” Thoriq tiba-tiba khawatir.
“Yang mual-mual Liam, Ay. Kasian banget. Aira memang udah terlambat tapi baru seminggu, terus udah dari beberapa hari Liam kayak mual terus gitu.”
Aira mengusap wajah suaminya dengan penuh kasih sayang.
“Maaf ya, aku yang hamil kamu yang ngidam.”
Liam lalu menyuruh Aira berpindah ke pangkuannya lalu menghirup aroma tubuh Aira dari arah punggung.
“Nah sama ini Ay, kerjaannya ngendusin aku. Masak lagi di bank tiba-tiba tangan Aira diambil lalu diendusin. Kan malu.” Aira pura-pura merajuk.
“Namanya juga bawa’an bayi,” sahut Liam manja. Sementara dunia serasa milik Liam dan Aira, maka Kala dan Triplets susah payah menahan tawa melihat kelakuan Liam yang ternyata bucin habis.
“Kala, jangan ketawa terus, cari istri sana.”
“Abby duluan aja, kan udah addd …”
“Mas Kala!” Abby memukul pelan tubuh kakaknya.
“Kok Buna nggak tau? Siapa, Abby?”
“Bentar lagi ada yang mau ta’aruf tuh,” ledek Kala lagi.
“Mas, sini kamu!” Abby langsung bergerak untuk menyerang kakaknya yang dengan gesit lari keliling meja.
“Ya gini lah, Mas. Anak banyak konyol semua,” cetus Qiara melihat tingkah polah anak-anaknya yang kejar-kejaran keliling meja makan. Thoriq tersenyum merasakan kehangatan di tengah keluarga Qiara.
Liam menjawab, “Abby, aku spill ya. Namanya Mohammad Fauzan. Orang Malaysia yang lama tinggal di London.”
“Putranya Datuk Khalid Mohammad? Ibunya Siti Nur Aziza?”
“Wah, in syaa Allah deh. Buna kenal baik keluarganya. Mereka taat semua.”
Kala dan Abby masih kejar-kejaran keliling rumah.
“Astaghfirullah ini anak dua,” keluh Qiara.
Thoriq berdiri lalu memanggil anaknya.
“Kalandra, ayo stop,”
“Kalau ketangkep bakal kena pukul, Ay. Nih liat.” Kala berhenti dan benar saja, Abby langsung memukuli dan mencubiti kakaknya yang terkekeh-kekeh.
“Ajak adiknya duduk dekat Buna.”
“Ay ay!” Dengan sigap Kala berbalik lalu memanggul adiknya seperti karung beras kembali ke ruang makan. Membuat Abby makin murka.
“Ya ampun, Kalandra.” Qiara prihatin melihat kelakuan anak-anaknya yang jauh dari kelemahlembutan.
“Ada tamu …”
“Aya kan … udah biasa kan, Ay? Jawab Kala lalu iseng menoel pipi Abby.
“Udah biarin kakaknya. Now tell me everything.” Qiara memegangi Abby
“Buna, tapi Abby nggak pacaran. Beneran deh. Kalau pergi aja pasti ada Mas Kala.”
“Udah lama, Abby kenal sama Muhammad?”
“Enam bulan, Muhammad sih yang ngejarin Abby. Awalnya, anaknya Buna ini kabur-kaburan. Tapi Muhammad gigih.” Kala menjelaskan dengan santai.
“Gigih ngasih Mas Kala sogokan.”
“Abby adikku yang sangat kusayangi, aku tidak akan sedikit pun menerima sogokan Muhammad kalau dia cowok brengsek. Sama juga kayak Liam pas PDKT ke Aira kan juga terus aku pantau,” jawab Kala tenang.
Abby tersenyum senang. “Makasi, Mas.”
“Jangan lama-lama. Segera halalin,” cetus Liam.
“Loh kok aku? Kan harusnya dari pihak cowok.”
“Ck, Muhammad sama Bapaknya itu udah bolak-balik minta datang ke sini untuk ta’aruf. Kamu aja yang bebal.”
“Iiiih Mas Kala.” Abby bergaya ngambek tapi sebetulnya senang.
“Memang Mbak Abby ada keraguan sama Muhammad?” Tanya Hayyan penuh perhatian.
“Enggak, tapi Abby juga masih asik begini. Apalagi sekarang Abby pegang lini perhotelan dan car rental. Masih seru …”
“Muhammad bolehin kamu kerja?” Tanya Thoriq.
“Dia mah dukung apa aja yang aku mau. Cuma aku kalau udah nikah pengin kayak Buna, Uncle. She’s my role model as a wife to my Daddy and as a mom for all of us.”
Qiara terharu mendengar ucapan anaknya.
__ADS_1
“Sayang, undang aja orang tua Muhammad ke sini. Atau kita ketemuan di salah satu restoran kamu. Ngobrol aja.”
“Yah repot lagi dong aku.” Mata Kala berkilat jenaka. Kini ia adalah yang tertua dan pasti harus menggantikan posisi Liam.
“Ck, Mas Kala ini awas!” Abby siap memburu kakaknya.
“Abby, udah duduk tenang di sini.”
Qiara langsung mencekal tangan Abby. Gadis itu menurut tapi matanya melirik tajam ke arah kakaknya yang malah makin tertawa keras.
“Maaf ya, Mas. Kalau Kala ini lawan isengnya Abby. Barran lawan isengnya Hayyan. Itu kalau mereka udah berantem-beranteman, malesin deh. Cuma Azka sama Zee aja yang sayang-sayangan.”
Liam dan Aira menonton keseruan sedari tadi. Pria bucin yang terkena kehamilan simpatik itu menempelkan hidungnya di belakang pundak Aira.
Istrinya hanya berpasrah saja. Setidaknya dengan begitu Liam tidak mual.
Azka juga ternyata sudah memiliki calon. Seorang putri ulama di kotanya. Nasib Azka lebih baik karena gadisnya yang bernama Zaenab adalah anak sulung. Azka diperkenankan untuk bertemu Zaenab hanya di rumahnya saat kedua orang tua gadis itu ada di rumah.
“Dijaga akhlak ya, Az. Kamu hidup di Amerika, budaya di sana lebih bebas. Jangan terbawa. Kalau aku bilang, mana yang lebih siap segera saja halalkan.” Nasihat Liam pada adik-adiknya.
“Jadi PR Buna tinggal Kalandra, Barran, dan Hayyan.”
“Kalandra masih santuy, Barran dan Hayyan dulu aja Buna. Kasian kayaknya mereka udah pengin.”
Barran dan Hayyan senyum-senyum.
“Barran udah ada taksiran, tapi nanti aja lah. Mau selesaikan studi dulu baru mikir ke arah sana.”
“Orang Arab?”
“Indonesia … mahasiswa juga dikirim dari universitasnya.” Barran kemudian menampilkan foto wanita berkerudung dengan cadar. Walaupun sebagian wajahnya tertutup namun matanya yang bening dan bulat sangat enak untuk dipandang.
“Kamu udah kenal orang tuanya?” Thoriq bertanya.
“Mmm waktu Liam nikah, aku kan sempet pergi sebentar. Aku ketemu sama ibu dan pamannya. Pamannya salah satu kyai di Gontor.”
Qiara bertanya dengan lembut, “Mereka gimana ke kamu?”
“Farah ini kan yatim dan anak tunggal. Ibunya juga kerja di Gontor. Ibunya aja yang kelihatan sedih karena aku bilang kalau berjodoh sama Farah pengin tinggal di Eropa untuk syi’ar agama.”
“Yah itu memang perlu dipikirkan sih. Sekarang aja ibunya pasti kangen banget. Kayak Buna selalu kangen sama kalian semua.”
“Aaaw Buna ….” Seru anak-anak Qiara. Paling berat melihat Buna kesayangan mereka bersedih. Kala langsung memeluk Qiara dari belakang sementara Abby merangkul dari samping.
“Makanya Buna harus cari …” ucap Hayyan iseng. “Tuh ada duda ganteng di belakang Buna,” sambungnya lagi.
Untuk sepersekian detik, anak-anak Qiara bisa melihat Buna mereka berseri-seri. Sepersekian detik karena setelah itu sorot mata Qiara kembali sendu.
“Buna sama Uncle Thoriq sahabatan aja, kok. Buna belum kepikir menikah lagi.”
Thoriq yang sudah mempersiapkan mental dengan jawaban Qiara menatap mantan istrinya dengan lembut lalu mengangguk.
“Geng sulit move-on.”
“Kala, nggak boleh gitu sama Buna. Sulit tau melupakan orang yang kita cintai,” tegur Thoriq pada anaknya.
“Maaf Buna,” ucap Kala dengan menyesal lalu menyium pipi Bunanya.
“Buna liat kalian semua akrab dan bahagia udah seneng banget. Okay, enough with the teary moment. Kala, sampaikan kalau Buna mengundang Datuk Khalid dan Nyonya Aziz makan siang. Azka dan Barran, jika kamu sudah serius, Buna dan Kala akan datang menemui orang tua Zaenab dan Farah. Jadi yang perlu dicarikan adalah Hayyan dan Kala.”
“Zee?” Kala tetap dengan seringai jahil menggoda Buna tersayangnya.
Kakak beradik itu tertawa mengingat Si Bungsu masih sangat kanak-kanak. Tidur saja maunya sama Buna.
“Buna, Hayyan bulan depan tugas ke Timur Tengah, doakan, ya.”
Mereka semua langsung terdiam.
“Pertama kali Hayyan ditugaskan ke sana. Jangan cemas, satuan Hayyan nanti akan bergabung dengan yang lain kok,” ucapnya menenangkan ibu dan saudara-saudaranya.
Mata Qiara tidak bisa menyembunyikan rasa cemas.
“Nggak bisa bawa pengawal, apa?” Usaha terakhir seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.
“Buna, jangan kirim anak buahnya Uncle Mario ya buat jagain Hayyan, I got this, in syaa Allah.”
“Hayyan … kamu kapan libur, Buna ke Australia sampai kamu berangkat, ya?”
Hayyan menatap putus asa pada kakak-kakaknya, terutama ke Kalandra.
“Hiish,” desis Kala pelan.
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu bertanya, “Aya, kapan sih ke Scotland sama Itali!? Aku jadi mau ikut. Buna, kita liburan aja yuk.”
Thoriq mendelik ke arah anaknya.
“Atau Abby bisa temenin, kan Mas Kala harus rawat pasien. Kalau Abby bisa kerja dari mana aja. Abby belum pernah ke Scotland, terus kata Uncle mau ke Tuscany, kan? Buna juga ada niatan ke sana. Kita bisa sewa villa. Sini Abby cariin.”
“Qia, kamu mau?”
“Qia sama Abby ganggu Mas nggak?”
“In syaa Allah enggak.”
“Uncle ikut tour atau mandiri ke Scotland?”
“Mandiri.”
“Okay, Abby udah request anak perusahaan di sana untuk atur semuanya buat kita. Fix, kita jalan-jalan Buna.”
Hayyan berterima kasih ada Abby melalui pandangan matanya.
Qiara masih ragu-ragu.
“Ayo Buna, Daddy kan juga semua yang spontan.”
“Berarti ketemu sama Datuk dan Nyonya Azizah harus disegerakan kalau bisa besok?” Kata Qiara sambil berpikir.
“Mas masih open ticket kok, bisa nunggu biar bisa berangkat bareng.”
“Kalau ternyata lama gimana? Kaan jadi bikin repot. Udah nggak usah deh.”
“Nggak apa, Qia. Paling Mas nanti gangguin Kalandra kerja.”
__ADS_1
***