
PoV Qiara
Meninggalkan Mas Thoriq adalah keputusan berat dan menyakitkan yang pernah kuambil. Agaknya cintaku padanya sama sekali belum pudar.
Aku tidak tahu lagi mana yang lebih kutakutkan, melihat Mas Thoriq tidak lagi mencintaiku, atau membuatnya menjadi suami dzolim dalam perkawinan yang sudah tidak sehat lagi.
Yah, perkawinan yang kami bangun dengan penuh cinta kini sudah hancur. Pernikahan ini akan seterusnya diwarnai luka bagiku dengan kehadiran Hanna. Kupikir Mas Thoriq juga terluka dengan keputusannya, namun agaknya lukanya lebih cepat mengering memberi tempat bagi cinta kepada Hanna tumbuh dan bersemi.
Tapi apa yang bisa kuharapkan dari ini semua? Hanna juga istri Mas Thoriq. Kamilah sebagai istri yang harus ikhlas dan kuat bertahan. Dan akhirnya memilih mundur.
Hadirnya benih Mas Thoriq di rahimku memberi kekuatan. Aku harus egois. Bukan untuk menghukum Mas Thoriq dengan menjauhkan calon buah hatinya, namun untuk menjaga kewarasan dan kebahagiaanku. Ada benih yang harus diperjuangkan di sini.
Aku menerima ide Marianne untuk pergi ribuan kilometer. Bukti bahwa rasa cinta yang masih begitu besar untuk Mas Thoriq.
Aku harus membuka lembaran baru dimana Mas Thoriq tidak ada dalam jangkauanku. Semua darinya masih bisa membuatku luluh dan bertekuk lutut. Ya Allah, begitulah aku mencintai seorang Thoriq Aditya.
Setelah selesai berkemas, aku mengambil buku nikah. Kudekap erat-erat,
kembali merasakan kebahagiaan yang pernah hanya milikku. Kusimpan dengan baik untuk kuserahkan pada Pak Reno, pengacara yang disewa Mas Dhanu untuk mengurus perceraianku.
__ADS_1
Perceraian, tak kusangka akhirnya aku dan Mas Thoriq berakhir di titik ini.
Sebelum pergi aku mengambil kotak beludru berwarna silver, kubuka tutupnya. Seluruh perhiasan dan mas kawin dari Mas Thoriq kusimpan di sana.
Masih terbayang jelas di benakku betapa Mas Thoriq berjuang keras untuk membeli perhiasan-perhiasan itu dengan uangnya sendiri.
Betapa bahagianya aku menerima perhiasan-perhiasan itu. Kupakai pemberian suamiku di semua acara penting dengan penuh kebanggaan.
Perlahan kulepas cincin pernikahan yang sudah melingkar di jari manisku selama dua belas bulan. Cincin yang menjadi tanda cinta dan kesetiaan yang sudah ternoda. Kukecup sebagai tanda perpisahan. Seolah bibir ini mengecup kening Mas Thoriq untuk terakhir kalinya.
Aku menarik kedua koperku ke ruang tamu. Sekali lagi kulayangkan pandangan ke kamar yang mungkin tak akan pernah kutempati lagi. Kamar yang mungkin akan segera ditempati oleh wanita yang telah merebut cintaku.
Kutatap foto pernikahanku dan Mas Thoriq. Kutelusuri wajahnya yang selalu membuatku jatuh cinta.
“Maafkan Qia membawa pergi buah hati kita. Tapi hanya dia yang kumiliki dari Mas. Suatu hari nanti, Qia akan mengenalkan pada Mas. Qia ikhlas Mas bahagia bersama Hanna dan anak kalian.”
Aku menghapus bulir-bulir air mata yang lolos. No more tears!
Setelah taxi online tiba dan koper-koper sudah masuk, aku menutup pintu rumah. Hati ini masih berdenyut, mata ini masih mengembun, dan cinta ini masih ada walau sudah tak utuh lagi.
__ADS_1
Mas Dhanu dan semua sahabatku mengantarkanku ke Bandara.
Sebelum berangkat, kuperiksa hape. Berharap ada pesan dari Mas Thoriq, sekadar menanyakan kabarku. Tidak ada pesan sama sekali.
“Ikhlas, Qiara, dia sudah jadi milik orang lain,” batinku memendam kekecewaan.
Aku menonaktifkan semua akun media sosial dan menyerahkan sim card pada Mas Dhanu. Marianne memberikan simcard Australia miliknya yang masih aktif.
Mas Dhanu masih belum merelakan kepergianku. Adik yang selalu ia lindungi, kini akan pergi ke negeri orang saat berbadan dua. Kakakku ingin ikut, sekadar memastikan semua baik-baik saja. Namun banyak pasien yang menunggunya, banyak nyawa yang harus diselamatkan di meja operasi.
Setelah kami berpelukan erat, akhirnya ia melepasku. Aku melambaikan tangan sekali lagi pada orang-orang yang mendukungku sebelum masuk ke ruang imigrasi.
Di pesawat, pandanganku nanar menatap kota Jakarta yang perlahan tapi pasti kutinggalkan. Luka ini akan mengering, diri ini pasti kuat tanpa Mas Thoriq, dan hati ini harus ikhlas meninggalkan cinta.
Tekadku bulat, menciptakan bahagia yang sudah terenggut, membangun kembali asa yang sudah hancur.
“Kuat, Qiara!”
***
__ADS_1