Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Ini Aku


__ADS_3

Menggunakan sisa-sisa kekuatannya, Jesselyn terus meronta, berontak menepis tangan kotor dan kasar yang ingin menempel dan mengelus kulitnya. Seringai wajah di depannya begitu mengaduk perutnya ingin muntah.


Sijabrik tertawa puas menyaksikan ketakutan gadis itu, bahkan terlihat begitu menikmati pemanndangn di depannya.


Seluruh tubuh Jesselyn melemas. Ia semakin erat memeluk lututnya, menenggelamkan kepalanya diatas lutut yang bergetar, berusaha menyembunyikan wajahnya menghindari tatapan dan tangan berdosa sigempal.


"Sikat" ucap si jabrik memberi aba-aba pada si gempal. "Kemarin gue yang deluan itu berarti malam ini giliran lo yang deluan," lanjutnya menyeringai dengan wajah menjijikkan. Sijabrik tersenyum puas dengan dua tangannya membuka isi dompet Jesselyn.


"Jangan...tolong lepasin saya, hiks...hiks...hiks... Kak Leon dimana, kak? Aku takut, kak."


Greppp


"Aaaa...lepas, lepas aku bilang."


Gadis itu menangis sejadi-jadinya saat lagi-lagi lengan kecilnya dipegang dan ditarik tangan yang penuh akan dosa.


"Kak Leon tolongin aku, kak. Aku takut kak, kakak dimana?"


Lelah. Jesselyn sudah begitu lelah dan merasa tak berdaya lagi. Tidak ingin menyerah dan pasrah namun ia sadar jika dirinya tidak akan sanggup melawan kedua pria laknat dan menjijikkan tersebut.


Sesegukannya semakin pelan dan tanpa henti memanggil-manggil nama seseorang yang ia harapkan kedatangannya namun mustahil ia rasa.


"Kak Leon, maafin aku karena ngak bisa jaga diri aku buat kak Leon. Maafin Jesselyn kak tapi Jesselyn sudah ngak punya kekuatan lagi melawan mereka. Maaf kak, maafin Jesselyn," lirih gadis itu di dalam hati yang justru semakin membuat hatinya terasa sakit.


Jesselyn menutup mata, ia tidak mau tahu lagi apa yang akan terjadi selanjutnya.


Ptak...


Bugg...


Bugg...


Sebuah helm menghantam kepala sigempal, diikuti pukulan-pukulan kuat pada perut dan wajahnya. Sigempal tersungkur namun itu belum juga cukup.


Plak...


Plak...


Bug...


"Akh....ampun...ampun..." Sijabrik berteriak kesakitan memohon ampunan pada orang yang secara membabi buta memukulnya sedangkan sigempal yang sudah kesetanan tidak menyadari perkelahian dibelakangnya. Ia hanya fokus pada tujuannya saat ini, ingin memuaskan birahi iblisnya pada gadis yang begitu ketakutan.


Sigempal mendekatkan wajahnya pada Jesselyn, memaksa gadis itu mengangkat kepalanya agar ia dapat mencium bibir gadis yang sudah tampak pucat pasi.


"Jangan... Kak Leon... Kak Leon...tolongin Jesselyn, kak."


Sama seperti sigempal gadis itu pun tidak menyadari jika ada seseorang yang datang dan sudah menghajar sijabrik hingga kini si kerempeng itu terbujur kaku dirumput yang ada dipingir jalan.


Kini sorot mata pria yang sudah membuat sijabrik tak berdaya berjalan dengan penuh emosi melihat sigempal yang begitu kasar mencoba mengangkat kepala sigadis.


Diraihnya kembali helm yang ia gunakan memukul kepala sijabrik tadi.

__ADS_1


Ia mutar-mutar lehernya yang sudah begitu tegang dan mengeratkan giginya.


Hufff...


Dihembuskannya begitu berat nafasnya dan


Ptak...


Ptak...


Dua kali helm itu dilayangkan pada kepala sigempal yang dapat dipastikan otaknya hanya berisi hal-hal jahat dan menjijikkan. Dilemparnya helm ditangannya untuk menarik kerah baju sigempal yang juga sudah ambruk dipinggir jalan. Satu tangan lagi tanpa henti meninju wajah dan perut yang bergelambir itu.


Bening-bening air mengalir dari pelupuk matanya saat melayangkan pukulan-pukulannya pada sigempal.


Diarahkannya kedua telapak tangannya pada leher yang berlipat itu dan mencekiknya sekuat tenaga.


Matanya sudah menganak sungai namun sulutan emosi masih terlihat jelas pada kedua netranya. Rahangnya mengeras diikuti cekikan yang semakin kuat.


"Ma-maaf mas, anak saya masih kecil mas. Tolong jangan bunuh saya, mas. Kasihan anak saya, mas."


Dengan suara yang tercekat sigempal memohon ampun agar dilepaskan. Ia merasa jika hidupnya sudah berada diujung tanduk.


Arghhhh...


Terpaksa cekikan itu ia lepas kerena mendengar kata 'anak kecil' yang diucapkan sigempal.


Ia mengangkat tubuhnya, air matanya kembali keluar melihat gadis yang masih tertunduk takut memeluk lututnya.


Baru dua langkah ia berjalan ia kembali memutar tubuhnya dan meraih tangan sigempal.


Aaaaaaa


Teriakan sigempal berhasil membuat sijabrik membuka matanya namun tak mampu untuk bangkit. Dirasanya tangannya patah.


Aaaaaa


Sigempal kembali berteriak saat telapak tangannya diinjak dan ditekan pada aspal kasar.


"Ini untuk tangan yang sudah berani menyentuh milikku."


Hufff...


Dan lagi ia menghembuskan nafasnya berat. Mata yang begitu marah dan emosi kini berubah menjadi tatapan yang penuh iba saat melihat gadis yang meringkuk dipinggir jalan.


Perlahan ia berjalan mendekati Jesselyn sambil mengusap air matanya.


"Hiks...hiks...hiks... Tolong jangan sentuh saya."


Pria yang kini berada dihadapan Jesselyn tak lain adalah Leon yang kehadirannya begitu dinanti sang gadis.


Leon memegang pundak Jesselyn dan mengusapnya lembut. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk saat ini. Ia tahu gadis itu pasti syok dengan kejadian malam ini.

__ADS_1


"Hiks...hiks...hiks... tolong... Kak Leon," lirih Jesselyn.


Hatinya begitu sedih mendengar tangisan yang begitu lirih namun disisi lain ia merasa hatinya menghangat tatkala gadis itu menyebut namanya.


"Iya, ini kak Leon, kakak ada disini," ucap Leon dengan suara yang begitu lembut.


Sayup-sayup Jesselyn mendengar suara yang mengaku jika ia adalah Leon. Jesselyn mengangkat kepalanya yang terasa berat sedikit demi sedikit. Saat ia mendongak menatap wajah di depannya, tangisnya pecah tak tertahan. Baru saja Leon akan membawa gadisnya itu kedalam pelukannya namun gadis itu sudah terlebih dahulu menghambur kedalam pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Leon.


Leon mengerutkan wajahnya dan memejamkan mata karena sakit pada sikunya menahan tubuhnya yang hampir terjungkal kebelakang saat Jesselyn menghambur padanya.


Akhirnya Leon mendaratkan bokongnya dipinggir jalan, memeluk erat tubuh gadisnya yang masih terus terisak.


"Maaf"


Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Leon. Kata yang belakangan ini sering ia ucapkan pada sang gadis. Dengan lembut Leon mengelus mulai pucuk kepala hingga pundak Jesselyn, berusaha menenangkannya.


Butuh waktu lama hingga tangis Jesselyn reda. Setelah dirasa cukup tenang, Leon menarik sedikit tubuhnya. Dilihatnya wajah Jesselyn sudah sembab. Leon menangkup wajah Jesselyn dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Jesselyn mengerucutkan bibirnya diikuti air mata yang mengalir saat bertatapan dengan Leon.


"Kak Leon," panggil Jesselyn dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Leon.


Cup


Leon mengecup pucuk kepala Jesselyn.


"Sudah, ayo kita pulang."


Leon membantu Jesselyn berdiri. Dikumpulkannya barang-barang milik Jesselyn yang berserakan. Tak sedetikpun Jesselyn melepas tangannya pada lengan Leon.


Leon mengamati semua barang-barang tersebut. Hanya binder, kartu identitas beberapa kartu penting lainnya dan ponsel yang ia ambil, selebihnya ia masukkan kedalam tas Jesselyn.


Pakk...


Pakk...


Aaaa...


Satu persatu begal itu kembali dihantam Leon menggunakan tas sandang tersebut.


Jesselyn bergidik ngeri melihat keadaan kedua begal tersebut. Wajah yang babak belur, darah pada sudut bibir dan ringis kesakitan meminta tolong.


"Ayo" ajak Leon setelah melempar tas ditangannya pada wajah sigempal.


Sepanjang jalan Jesselyn memeluk erat tubuh Leon dan menjatuhkan kepalanya di pundaknya.


Awalnya Leon akan membawa Jesselyn pulang kerumah namun melihat keadaan gadis itu dan sudah membayangkan bagaimana reaksi mamanya nanti, ia memutuskan membawanya pulang ke kontrakan.


"Makasih kak," ucap Jesselyn pelan tak berdaya. Jesselyn semakin mengeratkan pelukannya pada perut Leon.


Setibanya di kontrakan, Leon membuka pintu dengan kunci serap yang ada padanya.

__ADS_1


"Kak Leon mau kemana?" tanya Jesselyn saat Leon berjalan menuju motornya kembali.


Leon berbalik, dilihatnya gadis itu kembali menangis sambil berjongkok memeluk tubuhnya sendiri mendongak padanya.


__ADS_2