
Pukul setengah satu dini hari sepasang anak muda baru saja masuk dalam alam mimpi mereka. Hembusan nafas keduanya saling menyahut teratur. Begitu tenang dan damai.
Hujan lebat sudah berubah menjadi tetesan-tetesan kecil diluar sana, namun udara yang begitu dingin masih saja menusuk hingga ketulang.
Berbagi selimut yang sama dengan membuat jarak bukanlah hal yang gampang. Karena udara yang begitu dingin Leon menarik selimut hingga menutupi lehernya. Ia membalikkan badannya menghadap punggung gadis yang juga tidur begitu lelap disampingnya.
Handuk yang ia lilit kembali saat akan tidur dipinggangnya dilemparkannya kesembarang arah. Seperti sedang tidur dikamarnya, Leon menarik dan memeluk yang ia kira adalah gulingnya. Mendekapnya erat didada.
Gadis yang ia kira adalah guling sama sekali tidak melakukan penolakan.
Jesselyn sedang bermimpi tidur bersama ibunya dikampung. Dalam mimpinya sang ibu tengah memeluknya erat. Memeluknya erat hingga meringsut kedalam selimut bersama ibunya. Hangat dan menenangkan, itulah yang ia rasakan.
Huammm...
Jesselyn terbangun merasa kebelet ingin buang air kecil. Dengan mata yang masih tertutup, ia mengangkat tubuhnya.
"Kenapa berat ya?" pikir Jesselyn setengah sadar. Membuka matanya dengan bersusah payah. "Ini kenapa, haaaaa....," Jesselyn menarik nafas begitu terkejut. Lehernya begitu sulit digerakkan karena ada tangan yang melingkar disana. Kakinya pun seperti terkunci.
Jesselyn membelalakkan matanya melihat dada pemuda di depan matanya. Ia menarik pelan tangannya dari pinggang Leon. Mengangkat tangan kiri Leon yang melingkar di lehernya. Dengan pelan mencoba melepas kakinya dari kuncian kaki Leon.
"Huhhh.., untung tidak bangun." Jesselyn bersyukur karena Leon masih tetap terjaga. "Selamat!" ucap Jesselyn mengelus dadanya merasa lega. "Hampir saja."
Saat mengelus dadanya Jesselyn seakan merasa ada yang aneh. Ia melihat kearah dadanya, "hakhh? a..apa dari semalam penampilanku seperti ini?"
Jesselyn menyilangkan kedua tangannya melihat penampilannya. Ia berlari kedalam kamar mandi.
Lima menit kemudian ia keluar dengan wajah yang sudah dibasuh.
"Astaga!" Jesselyn melonjak kaget melihat Leon berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Cepat minggir," kata Leon membuka suara. Leon menggeser tubuh Jesselyn dan masuk ke dalam kamar mandi.
Leon membasuh wajahnya, melihat penampilannya dicermin. "Yaissss..." gerutu Leon. Menjatuhkan dirinya kelantai sambil mengacak-acak rambutnya. Leon mengingat bagaimana ia memeluk erat tubuh Jesselyn, dan saat akan melepaskannya gadis itu sudah terlebih dahulu bangun. Leon berpura-pura masih tidur agar Jesselyn tidak menyadari hal itu.
"Kak, dompetku mana?" tanya Jesselyn saat Leon keluar dari kamar mandi. Ia sudah bertekad akan mengambil kembali dompetnya dari Leon.
"Nanti uangnya aku ganti setelah tiba dirumah."
"Aku tahu, tapi balikin dompetnya aja dulu kak sekarang," kata Jesselyn yang sudah menarik selimut hingga lehernya.
Saat Leon dikamar mandi Jesselyn melihat jika dompetnya sudah tidak ada lagi dibawah bantal Leon.
"Berisik, nanti aku balikin." Leon kembali membaringkan tubuhnya dan membelakangi Jesselyn.
"Tapi kapan kak? Itu dompetku, kakak ngak ada hak buat nyita bahkan menahannya," Jesselyn mendudukkan tubuhnya dengan selimut putih tak lepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Leon memejamkan matanya mendengar setiap perkataan Jesselyn. Ia malas beradu argumen dengannya.
"Kak, kak Leon?" panggil Jesselyn.
"Ambil!"
"Dimana?" tanya Jesselyn semangat.
"Kantong celana pendek yang aku pakai."
"Kak???"
Jesselyn begitu geram mendengarnya. Mana mungkin ia merogoh kantong celana pendek yang sedang dipakai oleh Leon.
Entah dari mana datang keberaniaanya, Jesselyn mencengkram bahu Leon dengan kedua tangannya.
"Argggghhhh...," Leon mengerang kesakitan. Jesselyn minggigit pundak sebelah kanannya begitu kuat.
Setelah meluapkan rasa kesalnya, Jesselyn melepaskan gigitannya. Namun seolah tidak puas, ia kembali mengigit pundak Leon di dekat yang pertama.
Leon mendorong kepala gadis itu berusaha melepaskan pundaknya dari sang pemangsa. Jesselyn begitu kuat menahan tubuh dan kepalanya. Kedua tangannya semakin kuat mencengkram bahu Leon.
"Argggghhhh...," erang Leon sekali lagi menahan rasa sakit dipundaknya.
"Hei.., lepas?" teriak Leon mendorong kepala Jesselyn dengan tangan kirinya.
"Aku bilang balikin kak?" ucap Jesselyn seteleh melepas kembali gigitannya namun kedua tangannya masih berada di bahu Leon.
"Aw...."
Pekik Jesselyn gantian. Setelah terlepas dari gigitan gadis yang sudah seperti pemangsa kelaparan, Leon langsung mendorongnya kuat hingga jatuh terlentang.
"Kamu kenapa? Sudah gila ya? Kamu pikir gigitan kamu tidak sakit, hah?" Leon menekan kedua lengan gadis itu dengan kedua tangannya sehingga membuat Jessselyn berada dibawah kungkungan Leon.
Mata mereka bertemu saling menatap tajam. Dada Jesselyn naik-turun bernafas. Ia tidak menyangka akan seperti ini.
"Balikin dompetku," kata Jesselyn kembali pada Leon. Berontak berusaha melepaskan dirinya.
"Apa dengan mengembalikan dompet jelek itu bisa mengobati luka dan rasa sakit bekas gigitanmu, hah?"
"Terus kakak mau apa? Salah sendiri merampas dan tidak mengembalikan dompetku. Kak Leon ngak punya hak melakukan itu." Jesselyn semakin berani berargumen melawan Leon.
"Bisa diam ngak?" bentak Leon menahan marahnya. "Atau aku..."
"Atau apa?" tanya Jesselyn memotong kalimat Leon.
__ADS_1
"Atau aku gigit kamu!" ucap Leon menciutkan nyali gadis yang berada di bawah kungkungannya itu.
"Gigit aja, gigit kalau berani?" tantang Jesselyn menampilkan wajah berani.
"Kamu pikir aku ngak barani?"
Leon menarik tangannya melepas bahu Jesselyn. Ia menjatuhkan tubuhnya disamping gadis itu.
Jesselyn bernafas lega setelah Leon melepaskannya. Menertawakan Leon dalam hatinya.
"Ngak berani juga kan? Coba aja kalau berani, aku aduin ke tante. Eh, bukan tapi ke om Bagas aja." Gumam Jesselyn hendak duduk.
"Bukan aku, tapi kamu yang nantangin."
Leon bangkit dan kembali menjatuhkan tubuh Jesselyn. Menahannya dengan kedua tangannya.
"Kakak mau apa? Kak? Kak Leon?" tanya Jesselyn ketakutan melihat wajah Leon tepat diwajahnya. Nafas Leon memburu dan semakin tak beraturan.
"Ahhhh...., sakit kak." Jesselyn membuka mulutnya mengerang kesakitan, ia berontak melawan Leon. "Kak Leon, berhenti kak, sakit. Aku minta maaf kak, maafin Jesselyn?"
Leon sama sekali tidak memperdulikan ucapan dan permintaan maaf Jesselyn.
Leon menggigit bahu Jesselyn dengan setengah tenaganya. Mengunci tubuh Jesselyn agar tidak terlepas. Dia sudah terlanjur kesal dan mengenai papanya, ia sudah siap dengan konsekuensinya jika seandainya diadukan oleh Jesselyn.
Jangankan dimarahi, ditampar pun sudah ia terima dari papanya sejak gadis itu masuk dalam rumah mereka.
Yang dia tahu, dia harus memberi sedikit pelajaran pada gadis itu.
"Hah..." Leon melepas gigitannya dan melihat bekas gigitan itu.
Mata gadis itu pun sama, melihat bahunya sedikit memerah.
"Lepas kak, aku aduin sama om Bagas kalau enggak?"
"Sekali lagi," ucap Leon kembali melanjutkan aksinya. Leon kembali menggigit bahu Jesselyn untuk kedua kalinya. Sama banyaknya seperti yang dilakukan Jesselyn padanya, seolah ingin balas dendam. Namun kali ini gigitan itu berubah menjadi sesapan.
"Kak Leon!" Jesselyn sontak kaget merasakan bibir dan lidah Leon menempel dikulitnya.
Setelah beberapa saat Leon melepas sesapannya di bahu gadis itu. Ia tersenyum tipis melihat bahwa ia berhasil meninggalkan bekas yang ia ciptakan sendiri.
"Cepat pakai bajumu, kita berangkat sekarang kerumah oma!" menarik tubuhnya dari hadapan Jesselyn.
Leon berjalan memungut pakaiannya yang berserakan.
Jesselyn masih mengumpulkan kesadarannya dari rasa gelanyar aneh yang baru saja dirasakannya.
__ADS_1