Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Tunangan?


__ADS_3

"Kamu cantik sekali, ayo sini duduk." Puji Lena dan menggandeng tangan Jesselyn menuju sofa.


"Makasih tante. Tante juga cantik!" puji Jesselyn balik melihat penampilan tantenya yang tak kalah anggun darinya.


"Tapi kenapa ngak pakai dress pilihan tante?"


"Em... itu tante, em..." Jesselyn tidak tahu alasan apa yang akan ia katakan. Tidak mungkin ia mengatakan karena ada bekas gigitan anak wanita paruh baya itu.


"Dia cantik memakai itu, jadi apa yang perlu dipermasalahkan?" sahut oma yang baru keluar dari kamarnya.


"Hem..., ya sudah. Kalau begitu kita mulai saja." Melihat satu per satu orang yang ada di ruang tamu, kecuali Leon yang belum muncul juga.


"Tapi tamunya kan belum datang loh, tante? Memang kita boleh makan deluan?" tanya Jesselyn membuat semuanya saling bertukar pandang.


Lena meraih sebelah tangan Jesselyn dan meletakkannya diatas telapak tangan kirinya, sedangkan sebelahnya lagi mengelus-elus punggung tangan Jesselyn.


Jesselyn merasa ada yang aneh karena semua mata mengarah padanya.


"Ada apa ya, tante? Kenapa semuanya jadi serius begini?"


"Tante bisa minta sesuatu sayang?" mengelus kepala Jesselyn lembut. "Cukup dengarkan saja dulu dan jangan memotong perkataan om Bagas samapi selesai bicara nanti, bolehkan?" pinta Lena.


"Ada apaan sih tante?" tidak mengerti dengan situasi yang membuatnya tegang dan bertanya-tanya ada apa.


"Jesselyn," suara Barito Bagas memecahkan ketegangan diruang tamu.


"Iya, om?"


"Om Bagas dan tante Lena sangat sayang pada kamu. Opa dan oma juga begitu," melihat kearah sepasang suami istri yang sudah berumur itu. "Hem...." Bagas menarik nafas dalam-dalam. Ia melipat kedua tangannya dan sedikit memajukan tubuhnya kedepan.


"A..ada masalah apa, om? Jesselyn buat masalah ya?"


"Kamu ngak buat salah, justru kami senang kamu ada dalam keluarga ini. Om dan tante sudah memutuskan akan jodohin kamu."


Jesselyn terperangah mendengar perkataan Bagas, mencoba mencerna setiap kata yang didengarnya.


"Ibu kamu dikampung juga sudah setuju dengan kami."


Semakin Jesselyn terperangah mendengar ibunya juga ikut dalam pembahasan ini.


"Tapi om, Jesselyn ngak mau dijodohin?" tolak Jesselyn.


"Ma," panggil Bagas pada istrinya. Seolah sudah mengerti apa yang diinginkan suaminya, Lena langsung memperlihatkan sambungan video call yang sedari tadi sudah aktif sehingga dapat dipastikan bahwa ibunya Jesselyn mendengar semua apa yang mereka bahas.


"Ibu?" sapa gadis itu yang sudah berbulan-bulan ditinggalkannya.


"Halo, nak? Ibu baik-baik saja, kamu jangan nangis seperti itu, " kata ibunya Jesselyn melihat putri kesayangannya itu menitikkan air mata."Ibu baik-baik saja, dan akan semakin baik jika kamu mendengar apa yang dikatakan om kamu."

__ADS_1


"Tapi, bu?" sanggah Jesselyn.


"Maaf nak, ibu lagi ada tamu buat jahit baju. Kamu baik-baik ya, jangan nyusahin om dan tante kamu ya, nak? Besok kita teleponan lagi. Ingat, apa yang kami lakukan adalah untuk kebahagian dan masa depan kamu, nak. Jadi, menurutkan apa kata om dan tentemu." Ibu Jesselyn langsung memutuskan sambungan video call.


Jesselyn sedih karena ibunya sudah memutus sambungan video call sebelum ia sempat mengatakan sesuatu.


Masih tidak percaya jika ibunya pun menyetujui apa yang direncanakan om Bagas.


"Tante, aku..."


Lena menggenggam eret tangan Jesselyn, menggelengkan kepalanya meminta gadis yang duduk disebelahnya itu untuk tenang dan tidak mengatakan apapun dulu.


"Apa kamu keberatan dengan yang kami lakukan?" kembali Bagas bersuara.


"Bukan begitu, om." Jesselyn menggelengkan kepalanya.


"Baguslah kalau begitu, jadi tidak ada masalah lagi jika acara pertunangan kalian dilakukan sekarang."


Duar....


"Tunangan? sekarang?" teriak Jesselyn dalam hatinya. "Apa mereka semua sudah merencanakan ini sebelumnya?" masih berkata dalam hatinya.


Seseorang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat mereka. Menyandarkan punggungnya kebelakang dengan kepala menunduk. Mendengar semua pembicaraan diruang tamu.


"Kemari nak," panggil Lena menganggukkan kepalanya pada Leon.


"Duduk disebelah mama," saat Leon berjalan kearah mereka. Leon menurut perkataan mamanya.


Leon merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia membukanya dan mengeluarkan isinya. Semua mata tertuju pada benda itu.


"Kenapa kak Leon bawa cincin? Untuk siapa? Pakaiannya juga rapi sekali, dan tunggu..aroma parfum yang dipakai kak Leon sama seperti aroma parfum orang yang ada di mimpiku dulu. Walaupun sudah lama, tapi aku masih ingat aroma itu dengan jelas," gumamnya dalam hati.


"Ayo, kapan kita akan mulai acara pertunangannya?" celetuk oma yang sudah tidak sabar.


"Baiklah, mari kita mulai!" Lena berdiri dan duduk disamping suaminya. Posisi mereka berhadapan dengan Jesselyn dan Leon. Opa dan oma duduk di sofa sebelah mereka.


Oma melihat posisi duduk Leon dan Jesselyn begitu berjarak.


"Apa kalian sedang bermusuhan? Ayo duduk yang dekat!" perintah oma.


"Belum lagi tunangan kalian sudah jauh-jauhan. Bagaimana setelah kalian tunangan? Apa kalian akan cakar-cakaran dan saling gigit?"


"Maksud oma apa? Aku tunangan dengan siapa?" tanya Jesselyn tidak mengerti maksud perkataan oma.


"Kamu pikir dengan siapa lagi? Ya kamu tunangan dengan Leonlah, cucu kesayangannya oma."


"Jesselyn ngak mau oma!"

__ADS_1


Jedar...


Semuanya terdiam mematung mendengar pengakuan Jesselyn. Mata Leon bertemu dengan mata Jesselyn, menatap tajam seolah akan saling mengeluarkan taringnya.


Opa yang hendak menyeruput teh racikan istrinya mengurungkan niatnya, meletakkan kembali cangkir yang ia pegang dan justru menelan salivanya.


"Aduh-aduh, jantung mama kenapa sakit sekali ya, pa?" ucap Lena tiba-tiba sambil memegang dadanya.


"Ma-mama kenapa?" tanya Bagas khawatir.


"Mama kenapa? Kita ke dokter aja, pa." Leon langsung menghampiri mamanya dan memegang erat lengannya. Leon tak kalah khawatir dari papanya.


Jesselyn meremas kedua tangannya karena panik dengan keadaan di depan matanya. Ingatannya kembali saat ibunya mengatakan jika jantung yang ada pada Lena merupakan hasil dari transplantasi. Karena tidak tahu harus apa, ia berlari ke dapur dan membawa segelas air ditangannya.


"Ini om," kata Jesselyn menyerahkan gelas ditangannya agar diberi pada tantenya.


"Makasih, nak."


Setelah minum Lena menyandarkan tubuhnya ke sofa. Leon memegang kedua tangan mamanya, tidak mengira jika jantung mamanya akan kambuh kembali.


"Apa kau tidak suka dijodohkan dengan cucu ganteng oma?" ucap oma memecahkan keheningan.


"Bagaimana mungkin kami tunangan oma, selama ini aja kak Leon selalu bersikap dingin dan cuek sama Jesselyn. Aku yakin kak Leon juga tidak setuju dengan perjodohan ini. Apalagi harus tunangan sekarang," ujar Jesselyn mengingat sikap Leon padanya selama ini.


"Leon itu anak baik, kamu saja yang belum menyadarinya. Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar makanya menolak perjodohan ini? Tadi oma lihat ponsel kamu terus bergetar dikamar karena ditelepon sama yang namanya Leo."


Leon mengalihkan pandangannya pada Jesselyn, begitu juga yang lainnya.


"Bukan oma, bukan! Leo itu teman baik Jessselyn."


"Kalau begitu tidak ada masalah kalau tunangan dengan cucu oma. Bagaimana? Apa kamu tidak kasihan melihat tante kamu seperti itu?" menunjuk orang yang dimaksud dengan dagunya.


"Kamu sudah buat dia sedih dengan menolak permintaanya."


"Tante, maafin Jesselyn. Aku tidak menyangka akan seperti ini, maafin Jesselyn. " Jesselyn merasa bersalah, ia tidak enak hati melihat keadaan Lena yang begitu lemah. Dia juga tidak mungkin langsung mengiyakan permintaan tantenya itu, sungguh membuat dirinya dalam dilema.


"Tidak apa-apa, tante yang salah karena permintaan tante yang berlebihan ini. Tante hanya ingin Leon bersama gadis yang baik, dan itu adalah kamu. Tante juga yakin kalau Leon adalah orang yang tepat buat kamu. Tapi ternyata tante terlalu berharap lebih."


Lena sangat merasa sedih, cairan bening keluar dari matanya.


Melihat itu Jesselyn menjadi semakin tidak enak, memutar otaknya memikirkan sesuatu.


"Baiklah tante, Jesselyn mau!"


Semua termangu mendengar apa yang dikatakan Jesselyn. Ingin mendengar sekali lagi apa yang ia ucapkan barusan untuk meyakinkan mereka.


...Jangan lupa kasih jempolnya ya.......

__ADS_1


...Mudah-mudahan bisa up satu part lagi hari ini....


...Have a nice weekend all❤️❤️❤️...


__ADS_2