Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Pinjam Uang Kamu


__ADS_3

Hari semakin malam, hujan yang sedari tadi mengguyur belum menampakkan tanda-tanda akan berakhirnya ia akan turun.


Dilihatnya lagi benda yang melingkar dipergelangan tangannya, menunjukkan sudah hampir pukul delapan malam. Ditatapnya penginapan dari tempat ia berdiri, kemudian sepeda motor yang ada disampingnya.


Gadis yang bersamanya berjongkok dibelakangnya, mengusap-usap kedua tangannya dan menempelkannya di kedua pipi.


Di dalam hatinya saat ini sedang mengutuki pria yang berdiri di depannya. Seandainya saja mereka menggunakan mobil maka kejadian seperti ini tidak perlu mereka alami. Setidaknya mereka bisa menepi dan tetap tinggal di dalam mobil menunggu hujan reda tanpa harus kedinginan akibat terpaan hujan dan angin.


Mengutukinya juga karena menarik paksa agar keluar dari warung tempat mereka berteduh tadi. Teh jahe hangatnya yang masih tersisa setengah pun sangat disayangkannya.


Dert... Dert...


Ponsel milik Leon bergetar. Dirogohnya dari kantong celananya, dilihatnya nama kontak sipenelpon.


"Mama?" ucap Leon yang juga didengar Jesselyn. Gadis itu berdiri dan mendekat pada Leon dengan kedua tangannya memeluk tubuhnya.


"Halo, ma?" menjawab panggilan telepon mamanya. Jesselyn mencoba menguping pembicaraan mereka karena tidak dalam mode speaker. Menyadari hal itu Leon sedikit menjauh dari Jesselyn. Tidak ada yang bisa di dengar, kecuali kata 'iya, ma' yang diucapkan Leon.


Setelah sambungan telepon putus, Leon melihat gadis yang sedari tadi bersamanya sudah berjongkok kembali sambil mengusap-usap kedua lengannya.


"Ayo!" ajak Leon pada Jesselyn. Berlari kedalam penginapan dan diikuti Jesselyn dari belakang.


"Malam, mas?" sapa seorang pria yang merupakan resepsionis penginapan tersebut.


"Masih ada yang kosong kan, mas?" tanya Leon ke resepsionis. Gadis disampingnya hanya mendengar tanpa berkomentar. Mungkin tadi tante menyuruh agar menginap saja karena situasi yang tidak memungkinkan untuk mereka melanjutkan perjalanan, pikirnya dalam hati.


"Ada mas, tapi...." resepsionis itu menggantung kalimatnya melihat Leon yang juga bersama seorang gadis. Membuat Leon sedikit risih mendapat tatapan seperti menyelidik.


"Kenapa mas? Masih ada yang kosong kan?" tanya Leon lagi.


"Ada mas, tapi hanya sisa satu. Karena cuaca jadi banyak pengendara yang menginap," memberitahu Leon jika hanya tersisa satu kamar kosong.


Leon melirik gadis disampingnya, memikirkan sesuatu dengan jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja resepsionis. Leon memijat keningnya yang tidak sakit.


"Sekitar sepuluh menit dari sini juga ada penginapan, mas. Kebetulan teman saya kerja disana. Tadi sempat nelpon dan katanya masih ada beberapa kamar kosong disana. Gimana mas?" resepsionis itu memberi tahu untuk membuat pilihan.

__ADS_1


"Kuncinya mas!" kata Leon tanpa berpikir lagi.


Resepsionis itu mengambil kunci yang memang tersisa satu dirak. "Ini, mas." Menyerahkan kunci kamar yang dipesan Leon diiringi senyum tipis dibibirnya.


Leon membuka dompetnya dan mengambil sebuah kartu dan memberikannya kepada pria dihadapannya itu.


"Maaf, tapi kita menerima pembayaran cash, mas."


"Berapa mas?" tanya Leon menanyakan harga kamar yang dipesannya.


"450.000 ribu mas."


Leon membuka dompetnya kembali untuk mengambil uang cash yang ia punya.


Satu, dua, tiga. Hanya ada tiga lembar uang kertas di dalamnya. Satu lembar uang seratus ribu dan dua lembar uang lima puluh ribu.


Leon menutup matanya kesal karena belum sempat menarik uang cash saat akan pergi tadi.


"Ada ATM disekitar sini ngak, mas?" tanya Leon karena uang di dompetnya tidak cukup.


"Pinjam uang kamu," kata Leon tiba-tiba pada Jesselyn.


"Ngak, ngak punya uang!" jawab Jesselyn membuang pandangannya.


"250 ribu! Ayo, sini?" pinta Leon menekan ucapannya.


"Ngak punya. Cuman ada 50 ribu dikantong aku, itu pun sudah lembab."


Jesselyn menarik selembar uang kertas nominal lima puluh ribu dari kantong celananya.


Leon mengusap tengkuknya, memikirkan sesuatu. Mengingat penginapan yang dikatakan resepsionis tempat mereka berada saat ini.


Tanpa sengaja ekor matanya melihat seringai kecil diwajah Jesselyn.


"Ck," berdecak seperti menemukan sebuah jawaban.

__ADS_1


"Sebentar mas." Meninggalkan meja resepsionis. Menarik tangan Jesselyn dan membawanya keluar, kesamping penginapan.


"Sini!" kata Leon memberikan telapak tangannya meminta pada Jesselyn.


".....?" tidak mengerti maksud Leon.


"250 ribu. Nanti aku balikin. Aku balikin dua kali lipat." Paksa Leon yang yakin jika sebenarnya Jesselyn memiliki uang lebih dari yang ia tunjukkan tadi.


"Aku bilang ngak punya, kak?"


Jesselyn tetap mengelak jika memilikinya. Karena tidak sabar lagi Leon mengunci tubuh Jesselyn hingga menempel di tetembok.


Sekuat tenaga Jesselyn mendorong tubuh Leon karena melihat tangan Leon akan menarik sesuatu miliknya. Akan tetapi karena tenaga yang dimiliki Leon lebih besar, akhirnya ia berhasil menarik paksa tas sandang yang sedari tadi dipeluk Jesselyn.


"Kak?" bentak Jesselyn mencoba merebut kembali tasnya.


"Diam!" kata Leon menempelkan jari telunjuk dibibirnya sendiri. Dengan cepat Leon membuka tas tersebut dan ia berhasil menemukan apa yang ia cari. " Ini dia," kata Leon yang sudah memegang dompet milik Jesselyn. Memberikan tas yang tadi ia rebut paksa dan membuka dompet tersebut. "Hmmmm," Leon menghela napasnya melihat isi dompet itu.


"Ini apa? Daun?" menunjukkan isi dompet kepada pemiliknya. Leon memang tidak menghitungnya tapi ia tahu jika isi dompet itu cukup untuk menyewa penginapan tadi selama lima hari.


Leon berlari kembali kedalam penginapan meninggalkan Jesselyn yang masih cemberut.


Bukannya tidak ingin memberikan uangnya, hanya saja ia melakukannya agar mereka pindah kepenginapan yang direkomendasikan resepsionis tempat mereka sekarang berada. Disana masih ada beberapa kamar kosong, di tempat mereka sekarang hanya tersisa satu kamar. Sedangkan mereka ada dua orang. Jesselyn berjalan malas menyusul Leon.


"Ini, mas." Leon menyerahkan empat lembar uang seratus ribu dan satu lembar uang lima puluh ribu sebagai bayaran kamar untuk mereka menginap yang semuanya diambil dari dompet Jesselyn.


Leon menutup dompet tersebut dan memasukkannya kedalam saku celananya alih-alih mengembalikannya kepada pemiliknya.


Resepsionis itu berjalan di depan mengantarkan mereke menuju tempat mereka akan beristirahat malam ini.


...Terimakasih tetap setia mengikuti cerita ini ya teman-teman......


...Jangan lupa like dan komennya....


...❤️❤️lah pokoknya buat kalian semua!!!...

__ADS_1


__ADS_2