Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Kenapa Kesini?


__ADS_3

"Iya-iya, sabar bro. Gue telpon sekarang," Adit mencabut ponselnya dari kabel pengisi daya dan menghubungi Sinta.


"Hai sayang?" sapa Adit saat panggilan telpon sudah tersambung.


Sekitar dua menit keduanya saling meluapkan rasa rindu dan sayang melalui sambungan telepon membuat Leon yang tak sabar langsung merebut ponsel Adit.


"Tanyain ke pacar lo dimana Jesselyn sekarang atau ucapin selamat tinggal buat ponsel baru lo ini," ancam Leon.


"Sa-santai bro, lo kira itu belinya pakai daun?" tak rela ponselnya menjadi sasaran kekesalan Leon.


"Makanya cepat!" hardik Leon.


Leon menyerahkan kembali ponsel Adit dan terus mengawasinya. Adit wanti-wanti kalau saja Leon kembali merebut ponselnya hingga ia sedikit menjauh dari Leon.


Tidak ada yang bisa didengar Leon dari percakapan keduanya apalagi sambungan teleponnya tidak dalam mode speaker. Hanya wajah kaget Adit yang dapat dilihat Leon. Tak lama kemudian setelah sambungan telepon berakhir Adit menghampiri Leon dengan wajah yang tidak bisa diartikan.


Adit tahu setelah ia mengatakan apa yang sebenarnya maka macan di depannya pasti akan segera bangun.


"Pacar lo bilang apa? Mereka dimana?"


"Yon, emm... gini Yon,"


"Apaan sih lo, yang bener dan jelas kalau ngomong."


"Lo tahu Rainbow Cafe kan, Yon?"


"Iya, memang kenapa? Apa mereka disana sekarang?" tanya Leon memastikan.


"Iya bro. Mending lo kesana aja deh biar lo yang lihat sendiri."


Adit tak mau memberitahu jika Jesselyn berada di Rainbow Cafe dan bekerja sebagai seorang pelayan disana.


"Ya udah, gue pergi sekarang."


****


Hari ini Rainbow Cafe begitu ramai dikunjungi para tamu. Semua pelayan sibuk dengan tugas masing-masing tak terkecuali dengan Jesselyn. Bolak-balik ia menghampiri para pelanggan yang silih berganti membuatnya harus menahan lelah apalagi ia juga belum sempat makan siang dan makan malam.


Sambil mengantar pesanan tamu Jesselyn melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Itu artinya ada satu jam kerja lagi.


"Jes, minta tolong anterin pesanan ini ke meja tujuh, ya?" pinta salah seorang pelayan lainnya. "Aku kebelet banget nih!"


Mau tidak mau Jesselyn menggantikannya dan mengambil nampan dari tangannya.


Liurnya hampir menetes saat melihat pesanan dalam nampan. Es krim kesukaannya terpampang jelas dihadapannya.

__ADS_1


Dengan wajah tersenyum Jesselyn meletakkan satu persatu isi nampan diatas meja tamu.


"Selamat malam kak, pesannya sudah datang!" sapa Jesselyn ramah-tamah.


"Kamu kerja disini?" ucap pria yang duduk disampingnya.


"Kak Denis?"


Pria yang disebutkan namanya tersenyum, ia senang karena gadis yang ia jumpai ternyata mengenalinya.


"Iya, ini aku. Kamu ternyata kerja disini ya?"


"Hehe..iya kak tapi baru seminggu sih," jawab Jesselyn.


"Sepertinya aku bakalan sering-sering mampir kesini nih."


"Boleh kak, silahkan aja. Kalau gitu aku permisi dulu ya kak, lagi pada sibuk semua soalnya."


Denis menganggukkan kepalanya meskipun sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan gadis itu. Denis tersenyum melihat punggung gadis itu yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Cute" ucap Denis tersenyum.


Leon yang sedari tadi sudah tiba di Rainbow Cafe melihat semua apa yang dikerjakan Jesselyn. Ia sengaja tidak langsung masuk kedalam karena ingin tahu apa yang sebenarnya gadis itu lakukan hingga harus selalu pulang larut malam.


Mengetahui jika Jesselyn bekerja sebagai pelayan membuat Leon begitu tak suka terlebih saat ia berbicara pada Denis dengan senyum mengembang diwajahnya.


Pukul sepuluh malam Jesselyn akhirnya keluar dari dalam cafe. Hari ini rencanaya ia akan naik ojek online karena hari ini giliran bagi Sinta yang libur jadi dia tidak masuk kerja.


"Mau aku antar pulang?"


"Kak Denis? Kakak belum pulang?" tanya Jesselyn saat mobil yang dikendarai pria itu berhenti tepat dihadapannya.


"Ngak usah kak," tolak Jesselyn langsung. "Ojek pesanan Jesselyn juga sebentar lagi datang kak," kilahnya padahal ia baru saja akan memesan ojek online.


"Yakin?"


"Yakin kak!"


"Kalau gitu aku balik deluan ya," tak ingin memaksa Jesselyn.


Setelah mobil Denis pergi Jesselyn kembali akan memesan ojek online namun yang terjadi ia malah terkejut seperti sedang melihat sesuatu yang menyeramkan.


Tangannya bergetar saat melihat pria yang seminggu ini tidak ia lihat berjalan mendekatinya dengan tatapan elangnya.


"Kak Leon," ucap Jesselyn katakutan.

__ADS_1


Dilihatnya sesekiling tak ada seorangpun lagi dan cafe tempat ia bekerja pun sudah ditutup.


Belum sempat ia menyapa, Leon sudah terlebih dahulu menarik tangannya dengan kasar. Meski rasanya sakit Jesselyn tidak berani protes. Ia mengikut kemana Leon pergi.


"Naik!"


Jesselyn menurut dan langsung naik keboncengan Leon. Dinginnya udara malam dan laju motor yang begitu kencang menambah rasa takut gadis yang saat ini tertunduk menutup mata. Leon membawa motornya bak seorang pembalap diarena pertandingan.


"Turun!"


Dengan sigap Jesselyn turun dari motor. Matanya menyipit mendapati dimana mereka berada. Sejak naik motor tadi ia menutup matanya dan tidak tahu kemana Leon membawanya. Baru saat akan turun ia membuka kedua matanya.


"Ki-kita kenapa kesini kak?" dengan degup jantung yang tak beraturan Jesselyn memberanikan diri untuk bertanya.


Rasa takutnya semakin menjadi-jadi tatkala Leon kembali menarik kasar tangannya memasuki tempat mereka berdiri.


"Selamat malam, mas?" ucap seorang pria berpakaian rapi dilengkapi dengan name tag didadanya.


"Malam mas, tadi saya sudah pesan atas nama Leon christian."


"Sebentar mas, saya cek dulu ya."


Tak perlu menunggu lama setelah mengecek pemesanan yang masuk, si pria itu memberikan kunci pada Leon.


Laju jantung Jesselyn semakin berpacu, ia memegang lengan Leon dengan tatapan penuh tanya.


"Kita kenapa kesini kak?" pertanyaan yang sama kembali dilontarkan Jesselyn pada Leon. "Kita pulang yok, kak?" pinta Jesselyn menggoyang-goyang lengan Leon.


Leon sama sekali tidak menghiraukan setiap apa yang dikatakan gadis itu. Leon masih dipenuhi rasa marah sedangkan Jesselyn diliputi rasa takut dan khawatir.


"Ayo!" kembali Leon menarik tangan Jesselyn tanpa sedikitpun melihatnya.


"Enggak kak, kita pulang aja. Antar aku pulang ke kontrakan kalau ngak kita pulang kerumah, ayo kak? Ini udah malam kak, kita ngapain disini?"


Leon menutup kedua matanya menahan sesuatu dalam dadanya yang ingin meletus.


Leon menggenggam kuat lengan kecil Jesselyn dan menariknya. Mereka masuk kedalam lift, dilihatnya telunjuk Leon menekan angka tiga. Sebelah tangan gadis itu dengan cepat meraih ponsel dari dalam tasnya.


Tante Lena. Itulah orang yang terbersit dibenaknya saat itu juga. Gerakan tangan Leon begitu cepat, ia merampas ponsel milik Jesselyn, melepas baterainya dan memasukkannya dalam saku celana yang ia pakai.


Ting


Pintu lift terbuka, dengan masih menggenggam kuat pergelangan tangan Jesselyn Leon mencari nomor yang sama pada kunci yang ia pegang.


Leon mencebikkan bibirnya setelah menemukan apa yang ia cari. Dibukanya pintu dihadapannya dan mendorong tubuh Jesselyn agar masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kak???" lirih Jesselyn menatap wajah pria yang sudah berdiri di depannya.


Brukk...


__ADS_2