Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Gadisku


__ADS_3

Tap-tap-tap...


Suara langkah kaki ditengah-tengah hujan yang masih setia mengguyur bumi.


Tap-tap-tap....


Langkah kaki yang semakin cepat hingga berujung dengan berlari.


"Arghhhh, berat bangat sih ini payung," mengeluhkan payung yang ia pegang tiba-tiba menjadi begitu berat dipegangannya karena hembusan angin.


"Aaaa..., ini payung ngajak berantem apa gimana sih, bukannya mayungin malah nampung air hujan. Basahkan jadinya," berusaha membalikkan posisi payung yang menengadah ke langit.


"Arghhh....Akhirnya!" ucapnya lega.


Tap-tap-tap....


"Aw!" ringis gadis yang sedari tadi memberanikan diri melangkah dan berlari ditengah-tengah hujan. Karena terburu-buru ia tidak melihat ada batu di depannya hingga ia menabraknya. Ia terjatuh dan sendal jepit yang dipakainya pun putus. "Hiks...hiks...hiks... putuskan jadinya," tangis gadis itu. Gadis itu kembali bangkit dan dengan cepat meraih payung yang hampir saja terbang dihembus angin.


Meskipun sudah hampir basah kuyup, ia masih tetap memakai payung, sedangkan sebelah tangannya yang lain memegang sendal jepitnya yang putus.


Tap-tap-tap...


"Akhirnya!" ucapnya lega saat tiba ditujuan.


"Hah...hah...hah...capek, aku haus."


Gadis itu terengah-engah. Menopang tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya diatas lutut. Dengan sedikit tertatih karena terjatuh tadi, ia memasuki lapangan basket mencari keberadaan seseorang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ia berada.


Leon, orang yang ia cari keberadaanya berada ditengah lapangan basket sedang mendribble bola dengan tubuh yang sudah basah kuyup.


"Dasar gila! Apa dia mau mati? Sudah tahu lagi hujan malah masih main basket sendiri. Cuman pakai singlet lagi," gerutu gadis itu.


Gadis itu menatap Leon penuh arti, entah apa yang ia rasakan hingga tanpa terasa ada rasa ngilu dihatinya.


"Kak...." panggilnya.


"Kak Leon?" panggilnya lagi sekuat tenaga.


Dengan sekuat tenaga ia memanggil Leon, namun yang dipanggil tak juga merespon.


"Ck, bahkan aku seperti mendengar suaranya memanggilku saat ini," decak Leon terus memainkan bola di tangannya.


"Kak Leon dengar ngak aku panggil?" teriak gadis itu semakin kuat.


".....?" suaranya bahkan semakin jelas memanggil namaku," ucap Leon masih belum sadar. "Mana mungkin dia......" ucapan Leon terputus saat ia membalikkan tubuhnya. Matanya terpaku melihat orang yang sedang berdiri dan memanggil namanya. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Leon melempar bola ditangannya dan berlari kearah gadis itu.


****


POV (Leon)


Gadis itu begitu manis bahkan semakin manis saat ia tersenyum.


Gadis itu tanpa ia sadari berhasil melebur pintu besi hati pria dingin sepertiku.


Gadis yang ingin selalu kulihat keberadaannya disekitarku.


Wajahnya, senyumannya dan semua yang ada pada dirinya membuatku ingin memilikinya.


Jesselyn Anastasya!


Gadis itu perlahan masuk melalui celah kecil dan berhasil menempati posisi terdalam dihatiku.


Semakin kudorong keluar dari hatiku, semakin ia masuk lebih dalam.


Batas yang kuciptakan sendiri seketika runtuh hanya karena senyum diwajahnya.


Jesselyn Anastasya!


Gadis itu berhasil merebut hatiku. Menghancurkan tembok pertahananku.

__ADS_1


Kukatakan pada hatiku, aku ingin memilikinya. Bukan-bukan, bukan ingin memilikinya, lebih tepatnya lagi 'dia adalah milikku'.


Milikku yang tak ingin kubagi dengan yang lain.


Milikku yang tak ingin kulihat bersama yang lain.


Arghhhh...


Hatiku berhasil dimilikinya tapi bagaimana dengan dia?


Apa aku yang salah mengartikannya?


Apa hanya aku yang merasakannya?


Aku tidak suka pria itu.


Pria itu dengan mudah membuatnya tersenyum bahkan tertawa. Berbanding terbalik saat dia bersamaku.


Aku tak suka pria itu.


Pria yang juga ingin memiliki gadisku.


Leo.


Aku tidak ingin mendengar gadisku menyebut nama itu.


Leo.


Aku tidak ingin dia ada disekitar gadisku.


Leo.


Pria itu selalu berhasil selangkah dariku.


Lalu, aku?


Mengapa begitu sulit bagiku mengatakan isi hati ini?


Mengapa begitu sulit bagiku untuk mengakui apa yang kurasakan?


Pertunangan antara aku dan Jesselyn yang direncanakan papa dan mama bukanlah tanpa sepengetahuanku.


Aku tahu dan aku setuju karena memang aku menyukai gadis itu.


Aku menguras seluruh isi tabungan dari hasil kerja sampingan yang kulakukan.


Tidak ingin menggunakan uang yang diberikan papa untuk membeli cincin untuk gadisku.


Berharap ia menyukai cincin yang melingkar dijari manis tangan kanannya.


Namun lagi-lagi orang itu.


Leo.


Sungguh aku tidak menyukainya.


Yang aku tahu dia sangat menyukai mawar putih namun senyuman diwajahnya saat menerima mawar merah dari pria itu membuatku ingin meledak.


Mawar putih yang akan kuberikan padanya menjadi pelampiasan amarahku.


Aku merutuki kebodohanku dan egoku. Seandainya aku lebih cepat dari pria itu.


Kurasakan semuanya hampir berakhir bagiku.


Apakah aku tidak berhak meilikinya karena sifatku selama ini?


Tunggu!


Seseorang yang suaranya begitu kukenal berteriak memanggil namaku.


Benar saja! Itu suara dari seseorang yang kuharapkan kehadirannya saat ini.

__ADS_1


Aku berlari padanya. Aku yakin dengan apa yang akan aku lakukan mulai sekarang.


*************


POV (Jesselyn)


Kak Leon selalu membuatku ketakutan meskipun aku merasa tidak melakukan kesalahan.


Kak Leon selalu berhasil membuatku tak berdaya saat akan berargumen dengannya.


Kak Leon, orang yang ingin kucoba kumasuki dunianya.


Sulit!


Aku menyerah!


Apa yang aku ingin dapatkan dari kak Leon malah yang lain memberikannya.


Senyuman dan perhatian begitu tulus kurasakan dari Leo.


Leo.


Dia begitu baik dan perhatian. Sikapnya yang manis membuatku dengan mudah melayang ke awang-awang.


Aku tahu dia memiliki perasaan padaku. Aku mencoba membuka hatiku untuknya tapi sulit bagiku untuk menempatkannya di hatiku.


Aku biarkan hatiku mengalir mengikuti arus.


Namun lagi-lagi kak Leon berhasil mengusik kembali hati dan pikiranku.


Tidak mungkin aku masih menyukainya.


Cara bicaranya saja masih begitu ketus padaku. Dia bahkan melarangku berteman dengan Leo.


Padahal Leo lebih baik dibandingkan dia.


Aku tidak suka kak Leon.


Ciuman kak Leon membuatku seolah akan berhenti bernafas. Membuat tubuhku berdesir tak karuan. Lembut bibirnya begitu terasa meskipun dia menciumku begitu kasar.


Hah!


'Tapi kamu suka kan?' itulah balasan pesan yang kuterima dari Neta, salah satu sahabatku.


Kutundukkan kepalaku dan kupejamkan mataku untuk menjawab pertanyaan Neta.


Sebenarnya aku menyukai kak Leon sejak pertama kali bertemu dulu. Hanya saja kusembunyikan karena takut jika kak Leon mengetahuinya ia akan marah. Aku berhasil melakukannya. Hanya Neta dan Dela yang kuberitahu.


Seperti biasa, mereka menertawakanku karena cinta sepihakku.


Tidak hanya mereka ternyata, karena akupun menertawakan diriku sendiri karena bisa menyukai kak Leon.


Ada rasa senang dihatiku saat tahu akan dijodohkan dan bertunangan dengan kak Leon. Tapi aku juga tahu kalau kak Leon sebenarnya tidak menginginkannya.


Kak Leon tidak menyukaiku!


Seperti mengikuti arus yang mengalir, akhirnya kami pun bertunangan. Aku siap dengan segala yang akan terjadi, bahkan jika berpisah sekalipun.


Aku tahu kak Leon tidak menyukaiku.


Tapi melihat dia yang tak kunjung pulang apalagi saat ini sedang turun hujan membuatku begitu khawatir.


Bayangan saat bersama kak Leon dirumah sakit membuatku melonjak. Cincin dijari maniskupun seolah menambah keyakinanku.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan kak Leon saat ini. Aku juga tidak tahu ada apa dengan kak Leon saat ini. Yang aku tahu, aku masih menyukai kak Leon.


...'jari+pikiran+hati+rambut' keriting sudah hari ini demi up bab ini. Aku sudah mabok kata-kata!...


...like+coment+vote+fave teman-teman!...


...terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2