Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Lahar Panas


__ADS_3

...Hai semuanya, terimakasih banyak ya sudah meluangkan waktunya buat baca cerita ini. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya kakak-kakak yang cantik......


...Like dan koment yang membangun akan sangat membantu untuk membuat cerita ini lebih bagus dan menarik lagi....


...❤️❤️❤️❤️❤️ buat kalian semua...


Di depan sebuah bioskop, terlihat tiga pasangan pemuda yang tengah menunggu untuk masuk. Bukan pasangan kekasih, hanya saja terlihat seperti itu karena ada tiga pemuda dan tiga gadis.


Sewaktu pergi ke perpustakaan kemarin, Sinta akhirnya berhasil mengajak Jesselyn dan Leon untuk nonton di bioskop. Mereka memilih akhir pekan berikutnya. Jesselyn menyetujui ajakan Sinta dengan syarat akan mengajak Nadya.


Saat akan berangkat, Adit yang sedang berkunjung karena tugas kuliah sangat berminat untuk bergabung bersama mereka. Alhasil Adit memaksa Leon untuk menunda tugas mereka sore itu.


Bukan hanya itu, Adit juga memaksa Leon untuk ikut.


Berkali-kali Leon menolaknya. Tapi bukan Adit namanya jika tidak bisa menjinakkan sahabatnya itu.


Ya, Leon akhinya memutuskan untuk ikut bergabung hanya karena satu kalimat yang dibisikkan Adit ke telinganya.


Jesselyn sangat senang saat Leon menolak ajakan Adit. Akan tetapi rasa senangnya berubah seketika kala Leon yang begitu tidak berminat tiba-tiba mengiyakan ajakan Adit.


Pukul lima sore mereka yang sudah berjanji bertemu di depan bioskop akhirnya berkumpul.


Melihat keberadaan Leon yang ikut serta membuat Leo menatap malas.


"Maaf ya Sin, Le? Aku juga ngak tahu bakalan jadi rame begini," melihat kearah Leon dan Adit.


Sinta menggaruk keningnya yang tidak gatal sambil tersenyum. "Mau gimana lagi, anggap aja mereka bodyguard yang ngak kelihatan wujudnya," Nadya tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan teman Jesselyn tersebut.


"Ehem... Hati-hati loh, yang punya kakak juga ikutan." Sinta sontak kaget tak menyadari hal itu. Namun rasa khawatirnya berlalu tatkala Nadya langsung mencairkan suasana.


"Hahaha...santai aja kali sama aku."


"Hehehe...maaf ya kak, aku ngak maksud?"


"Sudah, ayo kita masuk aja. Bentar lagi filmnya mulai. Oh iya, filmnya aku yang milih ya? Aku yakin kalian berdua juga pasti suka. Oke? Oke kalau gitu aku beli tiketnya dulu."

__ADS_1


Jesselyn dan Sinta saling memandang. Belum sempat memutuskan apa yang akan mereka tonton, Nadya sudah berlari membeli tiket film yang mereka tidak tahu itu apa.


Jesselyn mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti.


Tidak lama kemudian Nadya datang dengan membawa enam tiket film ditangannya.


"Bentar." Leo berlari kecil dan tak butuh waktu lama ia sudah kembali dengan beberapa minuman soda dan popcorn. Ia terlihat kewalahan, sampai-sampai memeluk apa yang ia bawa karena banyaknya.


Melihat itu Jesselyn langsung membantunya dan menyerahkan masing-masing satu minuman.


Bruk...


"Maaf ya, maaf aku ngak sengaja," seseorang menyenggol lengan Jesselyn sehingga menumpahkan minuman miliknya mengenai pakaiannya. Cairan berwarna coklat itu begitu mencolok pada kaos putih yang dikenakannya.


"Iya, ngak papa," sahut Jesselyn. Ia bukan tipe orang yang akan memperpanjang masalah sepele. Begitu juga dengan apa yang baru saja terjadi.


"Gimana dong Jes? Kamu nyaman dengan pakaian itu?" Sinta menunjuk koas yang terkena tumpahan minuman tersebut.


"Mau gimana lagi, ya kali aku pulang dulu buat ganti. Yang ada aku balik kesini filmnya sudah kelar," menipiskan bibirnya namun masih berusaha melap kaosnya dengan tisu.


Leo membuka kemeja panjang tangan yang dipakainya dan memakaikannya langsung pada Jesselyn. "Pakai ini aja."


Jesselyn tersenyum, ia selalu merasa bagaikan tuan putri atas setiap perlakuan Leo.


Ada yang mau jadi pahlawan kesiangan rupanya. Seorang pemuda yang berada di depan pintu masuk bioskop sedang bergumam dengan sorot mata yang yang begitu tajam.


Leo membalas senyuman itu, senyuman yang begitu manis dan selalu ingin dilihatnya.


"Habis ini kamu pasti mau bilang makasih, iya kan?" Leo mengacak rambut Jesselyn dan berjalan menuju tempat mereka akan nonton.


"Siapa bilang? Ngak kok" merapikan rambutnya yang tidak begitu acak-acakan.


Jesselyn mengekorinya dari belakang, mengikuti Sinta dan Nadya yang juga sudah terlebih dahulu berjalan di depannya.


"Leo?" Menyamakan posisi mereka berjalan. "Makasih ya?"

__ADS_1


Leo menoleh kesampingnnya menganggukkan kepalanya. Memberikan minuman miliknya pada gadis itu.


"Yon, lo baik-baik aja kan? Lo ngak lagi kesal kan? Kalau iya, mending tahan dulu. Oke?" mengelus dada Leon dengan lembut. "Habis ini kita main basket selama yang lo mau. Atau sekalian sampai ada yang pingsan antara kita berdua. Jadi tolong tahan, jangan lo lepas di sini, bro."


Adit melihat tatapan mata Leon yang begitu horor. Minuman ditangannya pun sudah tak tersisa.


Adit menarik pelan tangan Leon yang sedari tadi menggigit ujung sedotan minumannya, mengajaknya masuk ke dalam sambil mulutnya komat-kamit memanjatkan doa agar sahabatnya itu tidak mengeluarkan lahar panas yang sudah memuncak didadanya.


Mereka berenam sudah duduk sambil mengunyah popcorn dan menyedot minuman mereka.


Nadya, Sinta, Jesselyn, Leo, Adit dan Leon. Begitulah urutan duduk mereka.


Adit sengaja duduk ditengah memberi sekat antara Leo dan Leon.


Film yang dinantikan pun dimulai, Nadya tertawa kecil melihat pembukaan film tersebut. Sinta kaget namun tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggoyang-goyangkan tangan Jesselyn yang duduk disampingnya.


Jesselyn membelalakkan matanya, ia mengalihkan pandangannya pada Sinta.


"Kenapa kita nonton film ini?" berbisik di telinga Sinta.


"Aku juga ngak tahu, itukan yang pilih kak Nadya. Kalau cuman kita bertiga sih ngak masalah, ini ada Leo, kak Adit dan Leon lagi?"


"Jadi gimana? Pulang aja yok?" pinta Jesselyn pada Sinta. Sedangkan Nadya senyum-senyum melihat kearah mereka berdua.


Berbeda dengan ketiga lelaki tersebut, mereka masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing sehingga belum fokus pada layar besar di depan mereka.


"Kenapa pilih yang ini kak?" akhirnya Sinta berani bertanya pada Nadya.


Tanpa selesai menonton pun, ia sudah tahu bagaimana isi dari film tersebut. Sebelumnya ia sudah pernah melihat thrillernya di YouTube.


"Emangnya kenapa?" tanya Nadya dengan mata fokus ke layar di depan.


Sinta melihat Jesselyn lagi yang sudah dengan raut wajah cemas.


"Terserah deh, bodoh amat. Bukan aku yang pilih juga." Sinta menyandarkan tubuhnya dikursi berharap tubuhnya dengan ajaib dapat menciut sekecil-kecilnya.

__ADS_1


Ya, film romantis asal negeri ginseng menjadi pilihan yang dibuat oleh Nadya.


...Terimakasih untuk tetap setia mengikuti perjalan cerita ini. ...


__ADS_2