
Perlahan Jesselyn mengangkat tubuhnya yang terasa begitu remuk akibat ulah pria yang masih nyenyak disebelahnya. Ia tersenyum mengelus pipi Leon, memandangi wajahnya yang sudah dua hari ini selalu ia lihat saat bangun tidur. Dikecupnya kening Leon dan mengedarkan pandangannya kelantai pun dengan tersenyum.
Dengan sedikit tertatih Jesselyn menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setidaknya mandi air dingin di pagi hari akan membuat tubuhnya terasa segar. Usai membersihkan tubuhnya ia menyiapkan sarapan sederhana untuk mereka berdua namun sebelumnya ia terlebih dahulu merapikan pakaian yang berserakan dilantai.
Hanya ada nasi putih, telor dadar dan tumis sayuran yang dihidangkan Jesselyn diatas meja sebagai menu sarapan pagi mereka.
"Kamu ngapain, hem?"
Leon yang tiba-tiba muncul di dapur mengagetkan Jesselyn yang sedang menuang air ke dalam gelas.
"Kamu kaget lihat suami kamu yang ganteng ini," bangga Leon pada dirinya.
Leon mendudukkan tubuhnya diatas kursi dan menarik tangan Jesselyn duduk kepangkuannya.
"Enghhh... Aku sayang kamu," Leon melingkarkan tangannya diperut Jesselyn dan menghirup aroma tubuhnya yang selalu membuatnya merasa begitu tenang.
"Jesselyn juga sayang sama kak Leon," ucap Jesselyn membalas kalimat suaminya. "Oh iya, bukannya kak Leon itu sudah harus kerja?"
"Enggak, memangnya kenapa?"
"Kenapa enggak, terus kak Leon mau kasih istri kakak ini makan apa kalau belum kerja? Jangan bilang pakai uangnya papa Bagas?"
"Hei... Suami kamu ini bukan pemalas, bukannya kamu sudah pernah lihat isi ATM kak Leon?"
"Iya sih tapi itukan dari papa Bagas," sanggah Jesselyn.
"Aku jarang kok pakai uang yang dikasih papa, sewaktu masih kuliah, aku punya kerja sampingan mendesign beberapa bangunan dan hasilnya aku tabung."
"Hehehe...ternyata aku punya suami yang luar biasa," Jesselyn tersenyum mengalungkan tangannya pada leher Leon dan mengusap kepalanya lembut.
"Terus kakak kapan mulai kerja lagi?"
"Mungkin mulai minggu depan. Papa kasih aku libur beberap hari lagi."
"Papa? Apa hubungannya sama papa?" tanya Jesselyn sedikit bingung mendengar ucapan Leon.
Leon sedikit mendorong tubuh Jesselyn membuat jarak antara keduanya. Ia membelai rambut basah yang tergerai dihadapannya.
"Demi kita bisa nikah dan seperti sekarang ini, papa membuat satu persyaratan dan itu aku harus mau kerja di perusahaan papa setelah kita nikah."
"Kakak setuju?" tanya Jesselyn melongo. "Aw! Sakit kak."
Leon menyentil pelan kening Jesselyn.
"Kalau aku tidak menuruti keinginan papa mungkin kita belum menikah dan melakukannya semalam."
Leon tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya membuat Jesselyn dihadapannya tersipu malu.
"Makasih ya, kak. Jesselyn juga sebenarnya takut kalau sampai oma nikahin kak Leon sama gadis lain."
"Dan aku lebih takut lagi kalau ngak bisa buat kamu jadi milik aku selamanya."
"Ya sudah, kita sarapan yok kak," Jesselyn menarik tubuhnya dan duduk dikursi sebelah Leon.
__ADS_1
Untuk pertamakali keduanya sarapan pagi bersama dan hanya berdua dengan status suami istri. Leon tersenyum sambil mengunyah sarapan yang disajikan Jesselyn dan kembali mengingat bagaimana ia berusaha meyakinkan papanya untuk menikahi Jesselyn.
Saat itu keadaan tangan Leon yang masih diperban karena sayatan yang ia lakukan menemui papa dan mamanya dan memohon agar pernikahannya dengan Jesselyn dilakukan sesuai seperti yang telah direncanakan. Awalnya Bagas menolak karena kondisi tangan Leon yang belum pulih namun melihat Leon yang begitu keras kepala Bagas menyetujui keinginan putranya itu dengan syarat Leon harus bekerja di perusahaannya.
Leon terpaksa menuruti ayahnya, ia tidak ingin lagi jauh dari Jesselyn apalagi berpisah. Jika Leon sedikit terpaksa menuruti syarat dari papanya maka Bagas begitu senang karena Leon akhirnya bekerja di perusahaan yang diwariskan papanya padanya dan kini akan ia wariskan juga pada Leon. Tidak hanya itu, Bagas dan Lena pun begitu bahagia karena pernikahan Leon dan Jesselyn dapat dilakukan sesuai rencana.
"Em... Jesselyn boleh nanya ngak kak, tapi janji jangan marah ya?"
"Kamu bebas mau tanya dan ngomong apapun mulai sekarang," ucap Leon lalu meneguk habis air putih dihadapannya.
"Jesselyn sempat lihat kak Leon ketemuan dan telponan dengan kak Bela waktu itu, malah beberapa kali aku lihat kalian...."
Cup
Leon mengecup bibir Jesselyn bertujuan agar tidak melanjut ucapannya.
"Kamu ngintilin kak Leon?"
"I-iya tapi maksud aku bukan gitu kak, aku...aku..."
"Bela minta aku buat design rumah baru yang akan dia tempati bersama suaminya. Jadi kalau ketemu dan teleponan sama dia ya hanya buat bahas itu aja. Kamu pasti mikir yang aneh-aneh selama ini, iya kan?" jelas Leon.
Jesselyn menundukkan kepala, ternyata apa yang ia takutkan selama ini tidaklah benar. Ia kembali menatap Leon, memandangi wajahnya yang tak akan pernah bosan untuk ia pandangi dan memeluknya erat.
****
Ilham seorang dokter muda yang ditempatkan di sebuah desa di kota Bogor tepatnya di desa tempat omanya Leon tinggal menjalani pekerjaannya sebagai dokter di puskesmas desa dengan baik dan lancar.
Sudah sekitar tiga bulan Ilham bekerja di puskesmas desa tersebut, tak ada kesulitan yang berarti ia jalani meskipun ia datang dari ibu kota.
Sore tadi papanya Ilham menghubunginya dan menyuruhnya untuk menghadiri makan malam sahabat kakeknya. Awalnya tidak ada yang aneh dengan permintaan papanya namun setelah mendengar permintaan kedua papanya membuatnya enggan untuk menghadiri makan malam tersebut.
Ilham mengacak rambutnya mengingat pesan yang dikatakan oleh papanya, ' bersikap baiklah pada cucu perempuan mereka yang bernama Nadya', itulah pesan yang katakan papanya sebelum memutus sambungan telepon.
Dalam keadaan terpaksa Ilham akhirnya menghadiri makan malam tersebut. Kalau bukan karena cerita papanya yang mengatakan jika opanya Leon yang dulu juga membantu keuangan keluarganya tidak mungkin ia mau memenuhi permintaan papanya.
"Makan yang banyak nak," ucap Lena memecah suasana canggung dimeja makan.
"Makasih, bu. Ini sudah cukup buat saya."
"Sudah punya pacar?"
Pertanyaan oma yang tiba-tiba membuat semua yang ada dimeja makan terperangah, menatap oma tak percaya menanyakan hal seperti itu.
Uhuk...uhuk....
Ilham terbatuk mendengar pertanyaan oma sedangkan Nadya begitu sigap menyodorkan gelas berisi air padanya namun Ilham menolaknya dengan mengisi gelas kosang lain dan meminumnya.
Nadya sedikit tersinggung mendapat penolakan dari Ilham, akan tetapi ia malah tersenyum pada Ilham.
"Kamu suka perempuan yang seperti apa?" tanya oma lagi saat pertanyaan pertamanya belum dijawab.
"Saya suka perempuan mandiri, sudah bekerja dan pastinya tidak ganggu, oma."
__ADS_1
Ilham mengatakannya dengan pasti namun lagi-lagi Nadya yang duduk disebelahnya merasa jika tubuhnya semakin mengecil mendengar apa yang dikatakan Ilham.
"Meskipun Nadya cucuku belum sepenuhnya dapat mandir tapi setidaknya dia sudah belajar dengan ngekos ditempat kecil dan sempit. Setelah lulus kuliah dia juga pasti akan bekerja dan oma yakin dia pasti menuruti apa maumu kalau kalian bersama."
"Maaf oma tapi saya tidak suka dengan cucu oma."
Nadya meletakkan sendok berisi makanan ditangannya. Kembali ia mendengar langsung penolakan akan dirinya oleh Ilham.
"Awalnya. Kamu kan belum tahu kedepannya bagaimana."
Tak satupun lagi yang berbicara, membuat suasana makan malam terasa begitu canggung hingga selesai.
Dengan alasan ada warga yang sedang sakit dan membutuhkan pertolongan darinya, Ilham berpamitan dan tak lupa mengucapkan terimakasih atas jamuannya.
Oma mengedipkan matanya pada Nadya memberi kode agar mengantar Ilham ke depan dan langsung dituruti oleh Nadya.
"Jadi, kita bisa mencobanya kan pak dokter?" tanya Nadya penuh harap.
"Apa kalian sekeluarga keturunan pemaksa yang harus saya turuti apa yang kalian mau?"
Ilham melangkah keluar, meninggalkan Nadya mematung karena apa yang Ilham ucapkan benar-benar diluar pemikiran Nadya.
****
Seorang pemuda memandangi foto yang tersimpan di galeri ponselnya sambil menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawanya ke luar negeri.
Ia menatap foto di ponselnya dengan tatapan sendu namun tatapan itu seketika berubah saat pandangannya teralihkan pada sosok gadis remaja yang baru duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama.
Sorot matanya berubah bagaikan seekor elang yang siap menerkam dan mencabik mangsanya.
Leo mematikan ponselnya dan dengan malas berjalan menghampiri sepasang suami istri yang tidak lain adalah pelayan keluarganya dan gadis remaja tersebut.
"Kalian urus sendiri dan jangan pernah melaporkan apapun tentangnya padaku. Aku tidak peduli bagaimana kalian mengurusnya, hanya ingat jangan sampai dia meninggalkan rumah sebelum aku kembali."
Tepat setelah mengucapkan kalimatnya, pemberitahuan keberangkatan peasawat yang akan membawa Leo pun terdengar.
"Baik, tuan. Kami akan melakukan seperti yang anda minta," ucap si wanita yang sudah berumur lima puluh tahun itu.
"Saya pergi sekarang."
Leo menarik kopernya dan berjalan membelakangi ketiganya.
"Tunggu!"
Gadis remaja yang sedari tadi hanya diam saja pun membuka suaranya.
"Maaf tapi aku hanya mau tanya bagimana aku harus memanggilmu? Kakak atau om?"
"Aku bukan kakak apalagi om kamu."
Leo melanjutkan kembali jalannya dan tak butuh lama pesawat yang bawanya pun terbang ketempat tujuannya.
"Maaf tuan," ucapnya pelan mengikuti panggilan yang diucapkan oleh kedua pelayan disampingnya.
__ADS_1
Gadis remaja itu mengangkat kepalanya melihat pesawat yang membawa Leo pergi.