
...🎶........................🎶......................🎶...
...Bilakah dia tahu...
...Apa yang tlah terjadi...
...Semenjak hari itu...
...Hati ini miliknya...
...Mungkinkah dia jatuh hati...
...Seperti apa yang kurasa...
...Mungkinkah dia jatuh cinta...
...Seperti apa yang ku damba...
...Bilakah dia mengerti...
...Apa yang tlah terjadi...
...Hasratku tak tertahan...
...Tuk dapatkan dirinya...
...Mungkinkah dia jatuh hati...
...Seperti apa yang kurasa...
...Mungkinkah dia jatuh cinta...
...Seperti apa yang ku damba...
...Tuhan yakinkah dia...
...Tuk jatuh cinta...
...Hanya untukku...
...Andai dia tahu...
...🎶........................🎶......................🎶...
Sebuah lagu yang begitu indah mengiringi perjalanan sepasang anak manusia ditengah kemacetan lalu lintas.
Sudah hampir dua puluh menit keduanya terjebak dalam macet. Bunyi klakson dari para pengendara saling sahut menyahut memekakkan telinga.
Leon menjatuhkan kepalanya diatas setir mobil sambil kedua telunjuknya memukul-mukul kecil setir didepannya. Andai dia tidak mendengar perkataan mamanya supaya memakai mobil mungkin mereka tidak akan terjebak macet saat ini.
Tinnnnnnn....
Karena kesal Leon menekan klakson begitu lama hingga semua pengendara disekitarnya menoleh kearah mobil mereka. Ia menurunkan kaca mobil disebelahnya dan mencondongkan kepala keluar.
Tinnnnnnn....
Lagi-lagi Leon menekan klakson mobil seperti semula.
"Berisik woy..." teriak pengemudi di depan. "Ngak lihat kalau gue juga kagak bisa gerak dari tadi?" protes sipengemudi lanjut.
"Sabar, mas!" ucap seorang pengendara dari sisi kanan mobil.
__ADS_1
Leon membanting setir mobil kesal dan menyandarkan tubuhnya kebelakang. Sangkin kesalnya karena macet Leon tidak sadar jika sedari tadi gadis disampingnya itu masih menutup telinga dari bisingnya klakson mobil yang begitu lama di tekan Leon.
"Sabar kak," ucap Jesselyn pelan. Jesselyn yang sedari tadi menikmati aluna musik menjadi terganggu akibat ulah Leon.
Leon menjadi salah tingkah saat Jesselyn membuka suara. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya karena setiap kali ia bersama Jesselyn, ia ingin selalu bersikap sopan dan tenang. Ia juga ingin menunjukkan image yang baik dan manis dihadapan gadisnya itu namun selalu saja tidak bisa ia lakukan.
Leon kembali menaikkan kaca jendela mobil disampingnya. Mengecilkan volume lagu yang sedang diputar dan kembali pada situasi canggung keduanya.
Setelah hampir enam puluh menit akhirnya mereka tiba ditujuan.
Tepat saat Leon akan membuka pintu untuk Jesselyn, gadis itu sudah terlebih dahulu membukanya.
Hemmmm...
Leon mendengus kesal dan menutup pintu mobil dengan kuat.
Jesselyn mengerutkan keningnya tidak percaya jika Leon membawanya ketempat saat ini mereka berada.
Tubuhnya berdesir kedinginan. Hembusan angin menyeruak menerpa tubuhnya saat baru keluar dari dalam mobil.
"Kita ngapain kesini, kak?" tanya Jesselyn penasaran.
Alih-alih menjawab pertanyaan Jesselyn, Leon malah berjalan mendahuluinya. Jesselyn mencebikkan bibirnya keatas merasa dicuekin.
"Ayo cepat!" ucap Leon tanpa menoleh pada Jesselyn.
Untung saja tadi sebelum berangkat gadis itu mengganti sepatu heelsnya dengan sepatu kets, kalau tidak mungkin ia hanya butuh bibit jagung saat ini.
Ya! Leon ternyata membawa gadis itu ke pantai.
Mungkin karena malam suasana pantai yang biasanya ramai berubah menjadi sepi. Hanya ada beberapa orang yang asik berjalan-jalan dipinggir pantai dan sebahagian lagi terlihat asik bercengkrama.
"Kepantai malam-malam begini mau ngapain sih, kak?" sungut Jesselyn karena sedari tadi bulu romanya berdesir kedinginan.
"Kamu ngak suka?"
"Bukan gitu kak, aku suka pantai tapi ya ngak malam juga perginya."
Jesselyn merapikan rambutnya yang berterbangan karena angin sambil sesekali mengelus-elus lengannya yang kedinginan.
"Kamu suka sama pantai. Kalau gitu kamu ngak suka karena perginya sama aku?" tanya Leon dengan wajah masam dan penuh selidik, mendekatkan wajahnya pada Jesselyn.
"Kak" teriak Jesselyn tepat dihadapan wajah Leon. Jesselyn merasa geram mendengar pertanyaan Leon.
Wajah masam Leon seketika berubah menjadi tersenyum. "Ayo!" pinta Leon memberikan telapak tangannya agar disambut Jesselyn.
Dengan menundukkan kepala dan malu-malu Jesselyn meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Leon. Wajahnya semakin bersemu saat tangannya digenggam erat oleh Leon. Ia memalingkan wajahnya mencoba menstabilkan perasaan yang membuncah dihatinya.
Leon mengajak Jesselyn berjalan-jalan ditepi pantai. Sesekali ia melirik pada gadis disampingnya.
Hembusan semilir angin dan deburan ombak bagaikan saksi kesunyian diantara keduanya.
"Maaf" ucap Leon saat gemuruh debur ombak.
"Kenapa kak?" tanya Jesselyn samar mendengar perkataan Leon.
Leon menggaruk lehernya yang tak gatal karena harus mengulang kembali ucapannya. Ia menghentikan langkahnya dan menundukkan kepala.
"Maaf" ucap Leon kembali.
Jesselyn termangu mendengar kata yang diucapkan pemuda dihadapannya.
__ADS_1
Kata yang belum pernah di dengarnya terucap dari mulut Leon. Ingin rasanya Jesselyn tertawa namun ia takut jika Leon marah.
"Maaf. Aku minta maaf!"
"Buat apa? Memangnya kakak salah apa?"
"Buat semua kesalahan yang aku buat selama ini. Terutama buat air mata kamu yang terjatuh karena aku."
Jesselyn tersenyum geli mendengarnya.
"Jesselyn ngak marah kok sama kak Leon. Aku cuman kesal aja sama sifat dingin dan ketus kakak. Kakak itu suka marah-marah ngak jelas. Tatapan horor kakak juga sering buat aku merinding apalagi waktu pertama kali ketemu dulu." Jesselyn mengingat saat pertemuan pertama mereka di meja makan dulu.
Leon menutup matanya mendengar semua yang diucapkan Jesselyn. Ia merasa bagai pesakitan yang sedang dibacakan dakwaannya.
"Jesselyn maafin buat semua foto yang kakak coret di kamar Jesselyn di kampung. Buat foto yang kakak buang di penginapan saat mau kerumah oma. Buat..."
"Cukup!" ucap Leon menghentikan bicara Jesselyn. Leon tidak tahan lagi jika mendengar semua yang akan dikatakan gadis itu. "Intinya kamu maafin atau tidak?" tanya Leon serius.
Jesselyn menganggukkan kepalanya tersenyum melihat wajah tegang Leon.
"Iya kak. Jesselyn maafin," ucap Jesselyn pada akhirnya.
Leon spontan memeluk Jesselyn karena girang dihatinya.
"Lepas kak, kalau enggak aku batalin lagi maafnya." Jesselyn mendorong kuat tubuh Leon agar menjauh darinya.
Refleks Leon mundur menarik tubuhnya menjauh dari Jesselyn dan mengangkat kedua tangannya keatas.
satu detik
dua detik
tiga detik
Hahaha...
Keduanya tertawa memecah malam indah bertabur bintang.
Leon kembali mendekat dan meraih kedua tangan Jesselyn.
"Aku sayang sama kamu."
"Aku juga." Jesselyn malu-malu menyatakannya.
"Juga apa?" Leon membungkuk melihat wajah Jesselyn yang tertunduk. "Juga apa, hem?" suara Leon begitu lembut ditelinga Jesselyn.
"Sayang. Aku juga sayang sama kak Leon."
Hufff...
Leon akhirnya bisa bernafas lega. Rasa senangnya tak bisa ia gambarkan dengan kata, yang dia tahu bahwa gadisnya juga memiliki rasa yang sama dengannya dan apa yang ia takuti tidak terjadi.
Leon mengeluarkan kalung dari dalam koasnya dan melepas dari lehernya. Ia mengeluarkan benda kecil berbentuk lingkaran dari rantai putih tempatnya menggantung lebih dari setahun ini.
"Itu bukannya...."
"Iya" ucap Leon memotong kalimat Jesselyn. "Yang ini juga jangan dilepas, ya?" Leon menyematkan cincin dijari manis tangan kiri Jesselyn. Cincin yang dulu dipakai Jesselyn selama semalam.
"Tapi bukannya cincin ini..."
Ssstttt...
__ADS_1
"No question" ucap Leon menempelkan telunjuknya dibibir Jesselyn. Diusapnya pelan lembut rambut Jesselyn, mengecup puncak kepala gadisnya itu dan meraihnya kedalam pelukan.
...Terimakasih masih menantikan kelanjutan cerita ini. Terimakasih 🙏🙏🙏...