Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Gercep Dong Mas!


__ADS_3

Bola mata mereka saling memandang. Leon semakin mendekatkan wajahnya, deru nafas Leon menyapu wajah sang gadis. Aroma mint itu semakin lama semakin terasa karena wajah mereka yang semakin menempel.


Leon membuka sedikit mulutnya dengan kedua tangannya melingkar dipingang sang gadis.


"Permisi" panggil seseorang dari depan pintu.


Refleks Jesselyn mendorong tubuh Leon hingga membuatnya terjungkal kebelakang.


Arghhhh


Pekik Leon begitu kesal dan memukul permadani berbulu yang ia duduki.


Kalang kabut Jesselyn berlari kearah pintu depan sambil merapikan pakaiannya.


"Pak Asep?" ucap Jesselyn menyebut nama orang yang sedang berdiri tepat di depan pintu.


"Iya, neng. Maaf kalau mengganggu, saya cuman mau antar ini. Lumayan kan buat ganjal perut sebelum sarapan pagi," pak Asep mengangkat dan menunjukkan kotak persegi yang ia bawa dari rumah.


"Ini apa ya, pak?"


"Cuman kue basah, neng. Istri saya yang buat dan tanpa pemanis buatan. Hehehe..."


Gelak tawa pak Asep begitu menggelitik hingga Jesselyn ikut tertawa mendengarnya.


"Hahaha... Makasih ya pak, Asep? Saya suka sama kue basah, titip salam buat istri bapak, ya. Kuenya saya bawa aja ke kampus biar dimakan disana nanti."


"Sama-sama, neng. Kalau ada perlu bantuan jangan sungkan bicara sama saya ya, neng!" ucap pak Asep tulus.


Leon yang masih kesal langsung memakaikan ransel ke punggungnya untuk segera pergi bekerja.


Sebelum beranjak ia masuk ke dalam kamar Jesselyn untuk mencari sesuatu. Matanya langsung tertuju pada tas sandang yang menggantung di dinding, tas yang biasanya Jesselyn bawa ke kampus.


Leon memasukkan tangannya dan merogoh sesuatu dari dalam. Ia mengeluarkan benda itu dan membukanya. Dengan cepat ia juga mengambil dompetnya sendiri dan mengambil lima lembar uang seratus ribu dan memasukkannya ke dalam dompet Jesselyn.


"Buat seminggu," ucap Leon saat memasukkan kembali dompet itu kedalam tas.


Setelah urusannya dikamar selesai ia langsung keluar. Tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata pak Asep yang masih tertawa lepas.


"Ada tamu ya, neng?" tanya pak Asep dengan mata tertuju pada Leon. "Itu siapanya, neng?" tunjuk pak Asep pada pemuda yang baru saja keluar dari kamar Jessselyn.


"Ha?" Jesselyn membulatkan matanya takut pak Asep salah paham. "Oh, eng-enggak, pak. Di-dia...dia.. dia kakak saya, pak."


Jesselyn gelagapan menjawab pertanyaan pak Asep.


"Kakak?"


"I-iya, pak. Dia kakak saya anak tante dan om yang kemarin nganterin saya ke kamari."

__ADS_1


"Oh..." ucap pak Asep membulatkan bibirnya maju kedepan. "Kirain pacarnya si eneng,"


"Memangnya kenapa kalau yang datang pacarnya? Apa masalahnya?" tanya Leon ikut bergabung dengan mereka.


Leon menatap tajam pada pak Asep dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana.


Tak takut pak Asep malah menirukan gaya pemuda yang berdiri di depannya.


"Maaf neng, cuman mau kasih tahu kalau yang namanya cowok atau pacar kagak dibolehin bertamu dan masuk rumah, apalagi sampai nginap!"


"Siapa yang bilang?" tanya Leon kesal hingga mengangkat dagunya keatas. "Sejak kapan ada peraturan seperti untuknya? Kenapa saya tidak tahu? Khusus buat dia bebas kalau pacarnya datang," ucap Leon lagi dengan nada yang semakin tinggi.


"Jangan marah-marah dong, mas."


Berbeda dengan Leon, pak Asep malah berbicara dengan begitu santai.


"Maaf sebelumnya tapi ini sudah jadi keputusan anak yang punya tempat ini loh, mas."


"Maksud pak Asep anak yang mana?" tanya Leon lagi karea ia sama sekali tidak pernah merasa membuat peraturan seperti itu.


Jesselyn panik menyaksikan keduanya seakan saling menyerang lewat tatapan mata.


"Udah dong kak, jangan ribut disini. Lebih baik kakak pergi aja sekarang kerja."


"Kamu juga! Kamu ngusir aku?" bentak Leon pada Jesselyn membuta gadis itu bergidik.


"Siapa yang bilang?" lagi-lagi suara bentakan Leon membuat Jesselyn bergidik ngeri.


"Kata pak Asep anak yang punya tempat ini galak dan suka marah-marah, kak. Aku ngak mau kalau sampai dimarahin karena kak Leon buat ribut disini. Jadi tolong kakak pergi aja, ya?" pinta Jesselyn menggoyang-goyang lengan Leon.


"Iya mas, mending mas-nya pergi aja sebelum anak yang punya tempat ini datang dan ngamuk-ngamuk," ucap pak Asep tersenyum licik.


Pak Asep terlihat begitu santai diluar namun siapa sangka jika di dalam hatinya ia sedang menertawai Leon tak habis-habisnya.


Brakkk


Begitu kuat Leon menendang pintu disebelahnya. Ia sungguh kesal dikerjai oleh pak Asep yang selama ini memang begitu jahil padanya.


"Rusak mas," tegur pak Asep menghadang Leon agar tidak lagi menendang daun pintu yang malang itu karena sudah menjadi pelampiasan kemarahan Leon.


"Ambil tas kamu," perintah Leon pada Jesselyn.


"Buat apa kak?"


"Aku akan antar kamu ke kampus atau kamu mau aku buat ribut lagi dan anak yang punya tempat ini ngusir kamu dari sini?" tanya Leon membuat pilihan.


Secepat mungkin Jesselyn berlari ke kamar dan mengambil tas yang ia gantung di dinding. Sejujurny ia tidak ingin pergi diantar Leon namun ia juga lebih tidak ingin keluar dari tempat tinggalnya sekarang dan berujung kembali kerumah om Bagas.

__ADS_1


Dipintu depan Leon sedang memelototi pak Asep yang tersenyum tanpa rasa bersalah karena sudah mengerjai Leon anak majikannya sekaligus pemegang kontrakan tersebut.


"Maaf ya mas karena saya adegan mesra-mesraannya tadi jadi ambyar. Hahaha...! Padahal tinggal sedikit lagi tadi loh, mas?"


Pak Asep memegangi perutnya menahan tawa agar tidak kebablasan.


Ia mengingat kejadian beberapa menit lalu yang membuatnya berujung mengerjai Leon.


Sebenarnya ia melihat Leon saat turun dari motor hingga masuk kedalam. Kue basah yang dibawanya hanya sebuah alasan untuk bertemu dengan Leon.


Pak Asep melangkahkan kakinya masuk karena berpikir Leon ada di dalam dan tidak mungkin ada apa-apa diantara sepasang pemuda itu. Pak Asep tersenyum meskipun ia juga kaget mendapat pemandangan indah dipagi hari, ia berjalan mundur dan mengerjai Leon dengan tiba-tiba mengatakan 'permisi'."


"Gercep dong mas! Kalau sudah begini sampai ke ubun-ubunkan kesalnya?" goda pak Asep menambah kesal Leon.


"Mulai besok pak Asep kerja di rumah papa aja lagi!" ucap Leon kesal.


"Biar mas Leon bisa bebas keluar masuk tempat ini dan mesra-mesraan sama neng Jesselyn terus kan? Kagak bisa mas, kontrakan ini memang milik pak Bagas dan mas Leon yang megang segala urusannya tapi apapun itu sesuai perintah ibu saya ngak boleh meninggalkan tempat ini. Ini lapak saya mas jadi saya ngak mau pindah."


Pak Asep bersidekap dada sembari menaik turunkan kedua alisnya sedangkan Leon hanya bisa menahan kesal apalagi melihat pak Asep menertawainya.


"Ayo kak," ajak Jesselyn menarik tangan Leon keluar.


Setelah berpamitan dengan pak Asep mereka berjalan menuju tempat motor Leon diparkirkan.


Brummmm


Leon mendadak mengerem motornya agar Jesselyn mau memeluknya dan itu tidak sia-sia.


Ia sengaja melajukan motornya begitu cepat agar sang gadis ketakutan dan semakin mempererat pelukannya namun kali ini gagal karen Jesselyn justru mencubit perut Leon hingga membuatnya tersentak kesakitan.


Leon meringis kesakitan namun dalam pikirannya ia sudah memiliki hukuman yang pas untuk sang gadis.


Kurang dari sepuluh menit mereka sudah tiba di kampus. Dengan gerakan cepat Leon menarik lengan sang gadis hingga dada mereka saling baku hantam.


Jesselyn menarik tubuhnya menjauh karena merasakan sakit pada dadanya namun sigap Leon menarik pinggang gadis itu lagi hingga menempel padanya. Kembali kedua bola mata mereka bertemu dan saling memandang.


Satu menit


Dua menit


Tiga menit


"Haissss... Sakit kak!"


Jangan lupa ninggalin jejak ya dan terimakaih buat support yang kalian semua berikan buat cerita ini🙏🤗


Terimakasih yang sudah nge-vote juga.

__ADS_1


❤️ u all


__ADS_2