Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Pemberian Lena


__ADS_3

"Cantik banget ma kalungnya, pasti mahal deh," Nadya begitu terpesona melihat kalung yang mamanya pakaikan di leher Jesselyn.


"Ini belum seberapa dibanding punya kamu Nad, kamu cemburu?"


"Ya ngak lah ma, punyaku aja jarang aku pakai. Jes, nanti waktu dikampung seandainya kamu perlu sesuatu dan ngak punya uang, jual aja tu kalung kan lumayan?"


"Hust....kamu jangan ajarin dia yang aneh-aneh," Lena memberikan kode agar Nadya berhenti bicara. "Pokoknya kalung ini jangan sampai dijual dan kalau ada perlu sesuatu selama liburan disana kamu langsung hubungi tante dan om ya sayang?" Lena mengusap kepala Jesselyn pelan dan memegang erat tangannya.


"Makasih banyak tante tapi aku rasa ini sangat berlebihan. Aku lepas aja ya tante?"


"Ngak berlebihan kok sayang, justru kalung ini cocok buat kamu. Iya ngak pa?"


"Iya ma, sangat bagus malah," Bagas menyetujui ucapan istrinya. "Kamu jangan merasa tidak enak hati pada pemberian kami karena itu semua diberikan dengan senang hati. Jadi jangan merasa terbebani ya nak?"


"Baik om, maksih banyak karena sudah anggap Jesselyn seperti anak sendiri."


"Itu apaan lagi ma? buat siapa?" tanya Nadya yang kembali bersuara karena penasaran melihat sebuah kotak cicicin.


"Oh ini, tadi waktu beli kalung mama lihat ada cincin pasangan. Katanya ada potongan harga buat pelanggan yang sering belanja di toko mereka.


Berhubung mama pelanggan VIP jadi mama beli aja, tapi cincinnya kekecilan buat mama dan papa."


"Buat Nadya aja ma" ia mengambil langsung cincin dari kotaknya dan memasukkannya ke jarinya.


"Ngak muat ma, bisanya dikelingking doang?" menunjukkan cincin yang ada dijari kelingkingnya.


"Hahahaa....


Itu artinya bukan buat kamu Nadya," Bagas tertawa melihat posisi cincin yang ada di pertengahan jari kelingking Nadya.

__ADS_1


"Aturan mama tes dulu sebelum beli biar jangan sia-sia jadinya," protes Nadya karena kesal tidak bisa memiliki cincin tersebut.


"Sini, tante cobain ke jari kamu Jes, siapa tahu muat jadi ngak sia-sia nantinya," Lena memakaikan cincin di jari manis Jesselyn dengan lembut.


"Pas banget dijari kamu Jes, kalau gitu kamu aja yang pakai, mau kan sayang?"


"Tapi tante aku sudah pakai kalung ini," menunjukkan kalung yang baru saja menggantung dilehernya.


"Aku ngak enak kalau harus pakai cincin ini juga, ibu pasti marah kalau lihat nanti."


"Ngak bakalan marah, ibu kamu pasti ngerti, percaya sama tante ya?"


Jesselyn merasa berat menerima pemberian Lena namun karena Lena begitu ngotot akhirnya ia menerima dan memakainya.


"Apapun itu akan terlihat indah saat bertemu dengan pemilik yang sesungguhnya, iya kan ma?" Bagas meraih cincin yang satunya lagi dari dalam kotaknya. Ia kemudian menarik tangan Leon yang hanya diam bagai patung sedari tadi. Bagas memakaikan cincin itu di jari manis Leon tanpa sempat Leon berkata apa pun.


"Apaan sih pa?"


"Kenapa? Cincinnya pas dijari kamu jadi kamu aja yang pakai. Kalau dibalikin ke tokonya lagi kan rugi soalnya dipotong 30 persen untuk setiap pengembalian barang yang sudah dipakai."


Entah mengapa Leon yang biasanya anti akan aksesoris menerima saja cincin yang ada dijari manisnya. Bagas dan Lena merasa senang melihat Leon yang tidak membantah seperti biasanya.


Mereka menghabiskan waktu sampai tengah malam dengan berbagai genre cerita. Saat sedang mengobrol sesekali Leon melihat cincin yang ada dijari manis kanannya dan melirik sekilas cincin yang juga ada di jari kanan Jesselyn.


"Jesselyn ke kamar dulu ya tante, masih ada beberapa barang yang belum aku masukin ke koper, takutnya kalau besok pagi jadi kelupaan tante?"


"Ya sudah, kamu langsung istirahat kalau sudah selesai, biar badan kamu fit buat pulang besok. Besok om Bagas yang akan antar kamu ke bandara."


"Baik tante" Jesselyn meninggalkan mereka berempat yang masih asik mengobrol.

__ADS_1


"Apa yang barusan tante berikan dipakai ya sayang jangan malah ditinggal, oke?"


"Iya tante"


"Selamat bobo cantik ya,Jes?" seru Nadya saat Jesselyn menaiki tangga.


"Kakak juga" balas Jesselyn pada Nadya.


Sesampainya dikamar Jesselyn membuka kembali koper yang sudah ia isi kemarin malam dengan barang-barangnya. Ia memasukkan beberapa barang penting lainnya dan tak lupa dress yang dibelikan Lena padanya.


"Apa lagi ya? Oh iya hampir saja lupa, aku belum masukin rapor," ia mengambil rapor yang ada di laci meja belajarnya dan memasukkannya kedalam koper.


Setelah merasa apa yang ia perlu bawa pulang sudah masuk koper, ia menutup dan menggembok kopernya.


"Selesai juga ternyata, sekarang waktunya istirahat."


Saat menarik selimut ia melihat kotak yang ada di atas meja belajarnya, ia menghela napas dan berpikir sejenak.


"Iya, aku tinggal aja. Aku bisa beli pakai uang hasil tabungan walaupun ngak sebagus dan semahal yang kak Leon beli." Jesselyn memutuskan meninggalkan ponsel yang dibelikan Leon padanya. Ia menutup matanya berusaha agar dapat tidur lebih cepat, akan tetapi matanya seolah sulit diajak kompromi karena ia baru bisa tidur setelah satu jam kemudian.


Satu per satu orang yang berada di ruang tamu juga menghilang karena sudah berada dikamarnya untuk masuk ke dalam mimpi masing-masing.


Leon adalah orang terakhir yang meninggalkan ruang tamu, ia lama duduk sendiri dengan matanya terus melihat cincin yang ada dijarinya. Ia meluruskan tubuhnya diatas sofa dan mencoba tidur disana. Baru setelah pukul dua pagi ia pergi ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.


...Terimakasih sudah mampir......


...Like dan komennya dipersilahkan.....


...❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2