
Seminggu sudah Leon dan Adit berada diluar kota untuk urusan pekerjaan. Hari ini mereka akhirnya kembali ke Jakarta. Hari ini di jumat pagi mereka kembali dengan penerbangan pertama karena harus terlebih dahulu ke kantor untuk memberi laporan atas apa yang mereka kerjakan selama seminggu ini.
Sekitar pukul sepuluh pagi pesawat yang ditumpangi keduanya baru mendarat dikarena cuaca buruk hingga penerbangan mereka sempat dialihkan.
Dengan gaya yang begitu cool dan style anak muda zaman sekarang keduanya berjalan membelah hiruk-pikuknya bandara.
Leon menarik kopernya dengan tangan kiri sedangkan Adit menggunakan sebelah kanannya. Jangan lupakan ransel yang menggelantung di pundak keduanya dan kacamata hitam melekat pada netra mereka.
Meskipun demikian raut wajah keduanya terlihat begitu kontras. Jika Adit melangkah dengan senyum lebar diwajahnya justru sebaliknya dengan Leon yang terus menekuk wajahnya.
"Senyum dong, Yon! Lo mau nunjukin kesemua orang yang ada di bandara ini kalau lo lagi gegana dan meriang?"
"Gue bukan penjinak bom dan ngak lagi sakit apalagi meriang," ketus Leon.
"Percuma lo keren tapi ngak gaul. Gegana maksudnya gelisah, galau dan merana. Meriang itu merindukan kasih sayang. Paham?"
"Maksud lo?"
"Hadeh....intinya lo hampir gila gara-gara doi."
"Diem lo!"
Adit tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Tak pernah ia bayangkan jika sahabatnya itu bisa seperti sekarang ini hanya karena seorang gadis.
"Cowok cuek, dingin, ketus dan ego tinggi ternyata sebelas dua belas seperti orang gila kalau sudah jatuh cinta. Kasihan gue lihat Lo, Yon."
Bug
"Ough...sakit , Yon. Demen amat sih lo ninju perut gue, kalau sampai gue keguguran gimana? Mau lo tanggung jawab?"
"Bisa diem ngak lo?"
"Iya, gue diem. Hahaha..."
Keduanya meluncur ke kantor dengan menaiki taksi dan tak ada pembicaraan diantara keduanya lagi.
Tak lama setelah tiba di kantor mereka langsung menyerahkan laporan mengenai pembanguna wahana hiburan yang mereka kerjakan. Pujian dan selamat tak berhenti diterima keduanya karena rancangan mereka akhirnya memenangkan tender dan sesuai dengan keinginan si pemilik wahana.
Pukul lima sore Leon akhirnya bernafas lega karena semua urusan pekejaannya selesai. Buru-buru ia mengambil ranselnya dan langung menaiki taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Adit yang juga sudah selesai pekerjaannya mengikuti Leon dan duduk disampingnya.
"Sekalian bro!" ucap Adit nyengir.
"Terserah yang penting Lo diam."
Sesampainya dirumah tanpa melepaskan ranselnya Leon berlari menuju salah satu kamar dilantai dua disebelah kamarnya.
Gelap. Itulah keadaan yang pertama kali terlihat saat pintu kamar dibuka dan artinya siempunya sedang tidak berada di dalamnya.
Leon menghampiri mamanya yang sedang sibuk di dapur. Setelah menyapa mamanya tanpa basa-basi ia langsung menanyakan keberadaan Jesselyn yang seharusnya sudah berada dirumah saat ini.
__ADS_1
"Dia kemana, ma?"
"Jesselyn?"
"I-iya, ma. Jesselyn kenapa ngak ada dirumah?" jawab Leon sedikit gagap karena ia memang sangat jarang menyebut nama si gadis.
"Oh, tadi Jesselyn telpon mama katanya minggu ini dia ngak bisa pulang karena banyak tugas kampus dan tugas kelompok yang harus ia dan teman-temannya kerjakan."
"Terus mama kasih izin?"
"Iya. Masalah sekolah itu nomor satu, iyakan?"
"Ma??? Kenapa sih mama dan papa ngak pernah tanyain pendapat Leon dulu? Bukannya kemarin Leon bilang tanyain dan kasih tahu ke aku kalau ada yang berhubungan dengan dia," sungut Leon merasa diabaikan selaku tunangan sigadis.
"Ya mama kira kamu ngak akan keberatan mengenai yang satu ini sayang," ucap Lena mengharap pengertian putranya.
"Ma???"
"Ya udah kalau gitu mama minta maaf ya sayang, lain kali mama akan kabarin kamu kalau ada apa-apa mengenai dia. Oke?"
Meskipun kesal namun Leon tidak mungkin marah pada mamanya. Ia tahu sejak kecil mamanya akan selalu menomor satukan yang namanya sekolah dan pendidikan anak-anaknya sehingga ia langsung memberikan izin pada Jesselyn saat mendengar tugas kampuslah yang menjadi alasan gadis itu tidak bisa pulang minggu ini.
"Maaf, ma. Leon ngak seharusnya maksain kehendak Leon sendiri."
"Ngak pa-pa sayang."
"Kalau gitu Leon keluar dulu, ma. Leon ada urusan yang belum selesai di kantor soalnya."
"Ngak pa-pa, ma. Leon pamit ya, ma."
Masih dengan ransel dipunggung Leon mengambil kunci motornya dan langung pergi kesuatu tempat.
Tidak butuh waktu lama untuknya sampai ditujuan namun lagi-lagi yang ia dapati hanyalah kontrakan kosong dan gelap. Ia semakin bingung karena gadis itu tidak berada di kontrakannya sedangkan hari sudah mulai gelap.
Pak Asep yang kebetulan baru selesai memperbaiki keran air salah satu penghuni kontrakan menghampiri Leon yang duduk di depan pintu kontrakan Jesselyn.
"Ngapain mas? Nungguin neng Jesselyn ya?"
"Bukan. Nungguin kunti."
"Hati-hati loh mas, nanti beneran nongol baru tahu rasa."
"Lagian pak Asep pakai nanya segala, udah tahu kesini buat siapa masih ditanyain."
"Ngak salah dong mas, siapa tahu mau nyariin pak Asep yang rupawan ini, iyakan?" gurau pak Asep.
"Rupawan? Kalau dilihat dari lobang sedotan susu kotak mungkin sih," cibir Leon karena pak Asep yang begitu pede pada wajah dan penampilannya.
"Ngomong-ngomong nih ya mas, belakangan ini si neng Jesselyn pulangnya selalu malam-malam banget. Biasanya dia pulang sekitar jam setengah sebelas malam, mas. Tiap kali pak Asep tanyain dia bilangnya lagi ada tugas kelompok dan ngerjainnya dirumah temannya."
__ADS_1
Penuturan pak Asep membuat Leon bingung karena setahunya Jesselyn bukanlah tipe perempuan yang suka berada lama diluar pada malam hari sekalipun untuk mengerjakan tugas kelompok.
"Pulangnya dia naik apa, pak?"
"Kalau pulangnya dia selalu dianterin sama temennya, mas."
Deg
Pikiran Leon berlayar entah kemana-mana. Ia sudah membayangkan siapa orang tersebut.
"Kalau ngak salah namanya..." pak Asep menjeda kalimatnya mengingat nama yang pernah diperkenalkan Jesselyn padanya. "Waduh..., siapa ya kemarin namanya?" pak Asep mengetok-ngetok keningnya agar ia ingat nama yang selalu mengantar Jesselyn pulang seminggu ini."
"Leo"
Tak sabar menanti pak Asep berpikir Leon langsung menyebutkan nama yang ada dipikirannya. Seseorang yang kemungkinan besar mengantar gadisnya pulang.
"Bukan mas. Ya kali nama si neng itu Leo."
"Maksud pak Asep bukan cowok orangnya?" tanya Leon penuh harapan.
"Bukanlah mas, kalau cowok sudah pak Asep sikat habis. Gini-gini pak Asep orangnya pengertian loh sama mas Leon," bangga pak Asep membusungkan dadanya dan menepuk-nepuknya pelan.
Api di dada Leon yang tadinya begitu marak seketika padam karena apa yang ia pikirkan tidaklah benar.
"Sin-Sinta. Iya, namanya Sinta."
Pak Asep yang sudah mengingat nama gadis itu langsung menyebutkannya.
"Sinta?"
"Iya, mas. Namanya Sinta tapi mohon maaf nih ya mas, pak Asep balik dulu soalnya panggilan alam sudah kagak bisa ditahan lagi," ucap pak Asep yang ternyata sudah mengepitkan kedua kakinya menahan panggilan alam yang ia maksud.
Pak Asep yang sudah tidak tahan lagi langsung ngacir masuk ke dalam rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari tempat Jesselyn tinggal.
Tanpa menunggu lama Leon langsung menggas motornya ke rumah Adit.
Ting-Nong...
Asisten rumah tangga Adit langsung membuka pintu dan mempersilahkan Leon masuk.
"Tumben lo kerumah gue malam-malam begini, ada apa bro?" tanya Adit menghampiri Leon.
"Gue minta lo telpon Sinta, pacar Lo sekarang," titah Leon langsung mengatakan keinginannya.
"Buat apa?"
"Mending lo telpon dulu sekarang, gue juga mau tahu ada apa atau kasih gue nomornya biar gue yang telpon," pinta Leon tak sabar.
"Iya-iya, sabar bro. Gue telpon sekarang," Adit mencabut ponselnya dari kabel pengisi daya dan menghubungi Sinta.
__ADS_1
"Hai sayang?" sapa Adit saat panggilan telpon sudah tersambung.