
Sejak kembali dari pantai hubungan Leon dan Jesselyn semakin dekat. Setiap harinya mereka akan selalu berangkat bersama ke kampus bahkan jika Leon tidak sedang ada mata kuliah dia juga akan mengantar dan menjemput Jesselyn saat pulang. Menghujaninya dengan hadiah-hadiah yang membuat Jesselyn selalu menghela nafas.
Jika ada waktu luang Leon akan mengajak gadisnya itu keluar walaupun hanya untuk sekedar berjalan-jalan di taman. Sifat Leon berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Belum lagi sifat over protective dan posesif yang ditunjukkan Leon.
Jesselyn merasa jika ruang geraknya semakin sempit saja apalagi jika ia sedang bersama Leon. Tentu saja Leon tidak menunjukkannya saat ada mama dan papanya berada dirumah. Berbeda halnya jika diluar, seperti saat berada dikampus misalnya dan saat hanya berdua dirumah.
Jika urusannya susah selesai dikampus Leon akan pergi menunggui Jesselyn di depan ruangannya. Ia tidak ingin memberikan sedikit kesempatan bagi mahasiswa manapun yang ingin mendekati gadisnya itu dan termasuk Leo.
****
Saat ini keduanya sedang berada dimeja makan untuk menikmati makan siang mereka. Sebenarnya sebelum pulang tadi Leon menawari untuk makan dikantin kampus namun Jesselyn menolaknya dengan alasan ingin langsung pulang dan istirahat karena banyak tugas yang diberikan dosen.
Jesselyn mendengus kesal saat Leon menduduki kursi di sebelahnya. Gadis itu sudah tahu apa yang akan terjadi jika mereka hanya makan berdua dan bersebelahan.
Jesselyn mengambil dua piring dari rak dan meletakkannya satu dihadapan Leon dan satunya lagi dihadapannya sendiri. Leon terlihat begitu santai dengan jarinya yang sibuk memainkan game di ponselnya.
Setelah mengisi piring Leon dengan nasi beserta antek-anteknya ia mulai akan mengisi piringnya sendiri.
Trangg...
Leon meletakkan piringnya diatas piring milik Jesselyn yang masih kosong. Leon menyeringai melihat Jesselyn yang sedang memegang sendok nasi yang berisi. Jesselyn sungguh paham maksud dari seringaiannya Leon.
Jesselyn meletakkan kembali sendok ditangannya dan menghela nafas panjang. Meneguk habis isi gelas miliknya. Setelah membaca doa ia mulai menyendok makanan dan menyodorkannya pada Leon terlebih dahulu. Leon merapatkan kursinya pada kursi Jesselyn dan semakin duduk mendempet.
Jesselyn sudah merasa bagaikan seorang ibu yang sedang menyuapi bayinya makan. Bagaimana tidak, setiap kali setelah menerima suapan darinya, Leon langsung meletakkan kepala diatas pundak Jesselyn sambil terus memainkan ponselnya.
"Kamu ngak makan?" tanya Leon disela-sela mengunyah isi mulutnya. Sejak kejadian dirumah oma, Leon mulai belajar untuk memakan sayuran walaupun masih hanya sedikit dan tidak setiap hari.
Jesselyn tidak menjawab pertanyaan Leon, matanya melirik sekilas wajah pemuda itu.
"Kamu ngak lapar, hem?" tanya Leon lagi.
"Nanti aku makan tapi setelah selesai nyuapin bayi besar dulu," jawab Jesselyn malas.
Hehehe...
Leon terkekeh mendengar perkataan Jesselyn dan membenarkan posisi duduknya. Ia meraih sendok yang sudah berisi makanan dari tangan Jesselyn.
"Sama. Aku juga punya bayi besar sekarang." Mengarahkan sendok kemulut Jesselyn.
"Mana bayi...ap"
__ADS_1
Isi sendok langsung masuk ke dalam mulutnya.
Leon meletakkan sendok dan kembali menjatuhkan kepalanya diatas pundak sang gadis. Leon kembali menerima suapan dari Jesselyn. Tidak ingin dikatai bayi Jesselyn akhirnya menyendok sendiri makanan kemulutnya.
Uhuk-uhuk
Leon tersedak makanan dan dengan sigap Jesselyn memberinya minum.
"Makanya kalau makan duduknya yang bagus," cerocos Jesselyn menepuk-nepuk punggung Leon. "Makannya masih mau dilanjuti lagi ngak?"
Leon menggelengkan kepala, meneguk habis isi gelasnya.
"Sakit" ucap Leon menepuk-nepuk dadanya. Diraihnya kepala Jesselyn agar semakin mendekat dan menempelkannya pada dada bidang miliknya.
Cup
Leon menahan dan mengecup pucuk kepala gadisnya.
"Ih..kak Leon!" membulatkan matanya melihat Leon. Ia menarik kepalanya dan menjauhinya.
Jesselyn merapikan bekas makannya dan Leon sebelum meninggalkan meja makan. Setelah dirasa selesai, Leon menarik tangan Jesselyn menuju sofa ruang tamu.
Sudah tidak tahu berapa kali Jesselyn mengumpati Leon dalam hatinya. Ia berharap om dan tantenya yang sedang dalam perjalanan dari Bogor lekas tiba di rumah.
Leon menekan kedua bahu Jesselyn dan mendudukkannya di sofa. Dengan sigap Leon langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa dan meletakkan kepalanya diatas pangkuan Jesselyn. Lagi-lagi Jesselyn menghela nafasnya namun lagi-lagi pemuda dipangkuannya hanya tersenyum memperlihatkan deretan putih rapi giginya.
Jesselyn melihat jam di dinding, masih pukul tiga sore.
Leon meraih tangan kiri Jesselyn dan menaruh diatas kepalanya sedangkan tangan sebelah kanan Jesselyn digenggam oleh Leon.
Merasakan tidak ada pergerakan dari tangan Jessselyn Leon mendongakkan kepalanya melihat sang gadis.
Tak perlu waktu lama, Jesselyn mengerti yang di inginkan Leon.
Dengan lembut Jesselyn mulai mengusap-usap rambut hitam pekat milik Leon. Ingin rasanya ia menjambak rambut itu namun tentu saja tidak akan ia lakukan.
Muach...muach...muach
Berkali-kali Leon menciumi punggung tangan Jesselyn dan membawa tangannya itu keatas dada bidangnya. Menutup matanya merasakan belaian tangan gadis itu di kepalanya.
Dert...
__ADS_1
Dert...
Dert...
Getar ponsel Jesselyn. Leon membulatkan matanya, dengan sigap mengangkat tubuhnya meraih ponsel yang sedang bergetar itu.
"Kak Leon apa-apaan sih?" ucap Jesselyn tatkala Leon menyambar ponsel di tangannya. "Balikin ngak?" sungut Jesselyn meminta agar ponselnya dikembalikan.
"Dia lagi?" ucap Leon melihat wajah Jesselyn.
Tut...Tut...Tut...
Leon langsung menolak panggilan tersebut.
"Kenapa dia hubungin kamu?"
"Aku mana tahu kak, telponnya kan sudah kakak matiin, gimana caranya aku tanya Leo."
"Kamu ngak bilang kalau kita sudah..."
"Buat apa sih kak?" memotong ucapan Leon. "Leo itu teman aku dan dia juga baik."
Leon mengacak-acak frustasi rambutnya. Ia tak menyangkan jika Leo masih berusaha mendekati gadisnya.
"Kenapa? Kakak cemburu sama Leo?" tanya Jesselyn mengulum senyuman. Sudah seperti anak kecil, Leon memunggungi Jesselyn karena kesal.
Jesselyn tak habis pikir dengan setiap perubahan yang ditunjukkan oleh Leon. Meskipun sedikit menjengkelkan namun jujur saja itu membuat Jesselyn merasa lucu dan gemas. Ingin sekali rasanya mencubit kedua pipi Leon. Jesselyn tidak bisa membayangkan bagaimana respon Bagas dan Lena jika melihat sisi anak mereka yang seperti itu.
"Aku istirahat ke kamar dulu ya kak."
Sebelum ke kamar, Jesselyn terlebih dahulu ke dapur untuk mengambil minum karena haus.
Gluk...Gluk...Gluk
Segelas air putih tandas olehnya.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan cowok lain apalagi dia," ucap Leon memeluk Jesselyn dari belakang. "Hanya ada aku disini!" menempelkan telapak tangannya pada dada gadis itu. "Tidak ada yang lain dan itu harus!"
Jesselyn merasa risih dan geli sendiri. Pria cuek, dingin dan ketus padanya selama ini menjadi sangat berbeda hanya karena yang namanya cinta.
Cup
__ADS_1
Sebuah ciuman meluncur dipipi kanan Jesselyn. "You are mine" ucap Leon disela-sela menghirup aroma parfum di curuk leher Jesselyn.
...Terimakasih ðð masih mengikuti cerita ini. Maaf jika sedikit Gaje dan tidak sesuai harapan para pembaca!ðĪŠð...