
Kehidupan pernikahan Jesselyn dan Leon sudah memasuki bulan keempat. Tak banyak perubahan dari keseharian keduanya, hanya saja Jesselyn mengalah untuk tidak berkerja lagi di Rainbow Cafe seperti sebelum ia menikah. Pun ia mengingat pesan ibunya agar memprioritaskan keluarganya, terutama Leon suaminya.
Sama seperti sebelumnya, setiap pagi ia membantu mertuanya di dapur dan setelahnya mempersiapkan keperluan Leon untuk bekerja dan barulah ia bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Semenjak Leon bekerja dan mengambil alih perusahaan, papanya hanya beberapa kali berkunjung ke kantor untuk memonitor cara kerja Leon dan karyawan. Kini kedua orang tuanya lebih sering menghabiskan waktunya di Bogor bersama opa dan oma.
Seolah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Nadya juga kerap kali menghabiskan akhir pekannya di Bogor. Tak patah semangat ia tetap pada pendiriannya ingin merebut hati Ilham hingga suatu saat dokter luluh dan akan menerimanya.
Setiap kali ke Bogor Nadya akan mengunjungi Ilham di puskesmas tempat ia bekerja dan membawa makanan yang berbeda-beda namun tak satupun yang disentuh olehnya. Demi mendapatkan perhatian dari Ilham ia rela bolak-balik Jakarta-Bogor setiap minggunya, membawakan makanan yang mungkin saja Ilham sukai, mengekorinyaa saat Ilham kerumah-rumah penduduk yang membutuhkan perawatan dan meletakkan satu botol jus mangga di atas meja kerja pria itu sebelum ia pulang.
Semua yang dilakukan Nadya seakan tidak ada artinya karena Ilham sama sekali tidak pernah menaruh perhatian akan apa yang dilakukan Nadya padanya.
Sebulan lalu saat kunjungan terakhir Nadya ke Bogor Ilham dengan tegas mengatakan jika dirinya tidak akan pernah menyukai dan memberikan Nadya kesempatan.
"Baik, kalau kamu kamu memang beneran suka sama aku, aku kasih waktu satu bulan untuk kamu buat aku suka sama kamu. Kalau dalam satu bulan aku ngak ngerasain apapun sama kamu, aku minta kamu berhenti ngejar-ngejar aku dan jangan pernah muncul dihadapan aku lagi."
"Tapi aku beneran suka sama kamu. Oma juga sudah ngomong dengan papa kamu, dan papa kamu setuju kalau kita jalin hubungan."
"Omongan papa aku, bukan aku!"
"Tapi aku suka sama kamu," bujuk Nadya meyakinkan Ilham.
"Tapi aku ngak!"
Meski berat dan tak seperti yang diharapkan Nadya, ia tetap optimis bahwa ia pasti dapat meyakinkan dan merebut hati Ilham dan menjadikannya miliknya.
Sudah tiga Minggu sejak pertemuan terakhir mereka Nadya sama sekali tidak pernah ke Bogor karena ia sibuk dengan jadwal kuliah dan persiapan ujian semester, terlebih lagi tidak akan lama lagi ia akan melakukan praktek lapangan yang tentunya akan menyita waktunya lebih dari sebelumnya.
Sore hari setelah menyelesaikan urusannya di kampus Nadya yang memang sudah rindu dengan kota Bogor terlebih dengan Ilham langsung memesan taksi untuk mengantarkannya kesana.
Sekitar pukul sepuluh malam saat taksi yang membawa nadya hampir tiba di rumah opa, seorang pemuda terbaring di tengah jalan dengan sebuah sepeda motor disampingnya dalam keadaaan terluka. Tanpa pikir panjang Nadya minta supir taksi membawa pria tersebut ke puskesmas untuk mendapat pertolongan.
"Sabar ya, kita bentar lagi nyampe puskesmas, tempatnya ngak jauh dari sini," ucap Nadya menahan tubuh sipemuda.
Tak lama mereka pun tiba ditempat tujuan. Beruntung puskesmas tersebut dalam keadaan terbuka karena sedang ada persiapan penyuluhan untuk esok hari bagi para warga.
"Tolong mba, ada yang terluka di dalam mobil," panggil Nadya saat melihat seorang wanita berpakaian seragam kesehatan.
"Dibawa kedalam aja dulu mba biar langsung ditangani, mumpung dokternya juga masih ada di dalam."
Dibantu oleh supir taksi, Nadya memapah pria yang terluka itu masuk kedalam dan meletakkannya diatas tempat tidur.
"Makasih. By the way namaku Reno, sepertinya kita seumuran jadi panggil nama aja."
"Aku Nadya. Kamu jatuh dari motor pasti karena ngebut dan ugal-ugalan, iyakan?"
"Hahaha... Ngak kok, tadi aku niatnya mau ngehindarin anak kucing, eh ngak taunya malah apes begini."
Asik bercerita seorang dokter laki-laki menghampiri keduanya dengan peralatan medis ditangannya.
"Kamu ngapain malam-malam disini?" tanya dokter itu melihat Nadya dan Reno bergantian penuh selidik.
"Ilham?? Ma-maksud aku pak dokter masih kerja malam-malam begini?" tanya Nadya balik.
"Beberapa minggu ngak kelihatan dan tiba-tiba muncul di malam hari dengan laki-laki."
__ADS_1
Ilham membuka kotak ditangannya dan mulai membersihkan luka Reno.
"Pacar kamu?"
"Bukan!" jawab Nadya pasti.
"Calon dok," celetuk Reno mengedipkan sebelah matanya pada Nadya dan hal itu dilihat langsung oleh Ilham.
"Arghhhh.... Pelan dikit, dok. Sakit kalau ditekan kuat."
Usai mengobati luka Reno, Ilham langsung meninggalkan keduanya dan memperbolehkan mereka untuk langsung pulang.
"Oh iya mas, tadi saya sudah bawa motornya mas kerumah warga di dekat jatuh tadi, besok bisa ambil motornya."
"Makasih pak, villa tempat keluarga saya nginap ngak jauh kok dari sini."
"Kalau gitu kamu ikut naik taksi ini aja biar sekalian dianterin, kan motor kamu ngak ada disini, gimana?" tawar Nadya pada Rono.
"Boleh deh, asal ngak ngerepotin."
"Ya enggaklah, paling kamu yang bayar ongkos taksinya. Hahaha... Becanda kok."
"Kalau itu gampang kok. Balik sekarang?"
"Oke!"
Baru saja supir akan melajukan taksinya, Ilham menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru.
Tok-tok-tok...
Tok-tok-tok...
"Cepat keluar," perintah Ilham.
Nadya menurunkan jendela mobil disampingnya dan dengan cepat Ilham memasukkan tangannya membuka pintu mobil dari dalam.
"Aku yang antar kamu pulang!"
Ilham menarik tangan Nadya keluar dari mobil dan membawanya menjauh dari sana.
Hahaha...
Reno tertawa menyaksikan apa yang baru saja ia lihat, menggeleng-gelengkan kepalanya saat keduanya semakin menjauh dari pandangannya.
"Jalan, pak. Ongkos taksinya nanti saya yang bayar."
****
"Ayo cepat jalan."
Bak seekor anak ayam, Nadya mengekori langkah cepat Ilham di depannya dan sesekali kepalanya menabrak punggung Ilham.
Dipertengahan jalan Ilham menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Nadya. Jalanan sepi dan gelap membuat suasana jalanan desa begitu hening ditambah lagi udara dingin yang menusuk hingga ketulang.
"Kenapa berhenti, dok?"
__ADS_1
"Sebenarnya mau kamu itu apa sih, ha?"
"Maksud pak dokter?"
"Bukannya beberapa bulan ini kamu itu ngejar-ngejar aku? Bukannya kamu itu suka sama aku? Kamu bahkan keluarga kamu maksa biar aku mau dan terima kamu tapi kamu malah sama laki-laki lain malam-malam begini. Kamu mau mainin saya, ha?"
Nadya mundur selangkah demi selangkah karena Ilham yang memojokkannya.
"Terus laki-laki tadi siapa?"
Suara Ilham pelan namun begitu mengintimidasi hingga membuat Nadya merinding.
"Tapi baguslah setidaknya aku ngak bakalan digangguin sama kamu lagi setiap akhir pekan. Perempuan seperti kamu memang tipe yang tidak bisa bertahan pada satu orang."
Nadya sudah tidak dapat lagi menahan setiap kali Ilham mengucapkan kalimat yang menyakiti hatinya. Nadya mulai menitikkan air mata yang selama ini ia tahan setiap kali Ilham mengeluarkan kalimat-kalimat penolakan akan dirinya.
"Iya aku suka. Aku suka sama kamu tapi bukan berarti aku gadis bodoh yang akan selalu sabar sama semua ucapan kamu."
"Kamu baru tahu kalau kamu bodoh?"
"Iya, aku bodoh dan amat bodoh bisa suka sama kamu. Kalau kamu ngak suka setidaknya kamu ngak perlu nyakitin hati aku dengan ucapan kamu."
"Terus gimana, kamu mau nyerah?"
"Iya. Aku nyerah sama kamu. Aku berhenti sampai sini. Aku salah berpikir dengan tidak ketemu selama beberapa minggu kamu bakalan nyariin aku tapi ternyata aku salah. Kamu tenang aja, aku ngak bakalan gangguin kamu lagi, ngak akan muncul dihadapan kamu lagi dan akan lupain kamu."
Nadya sesenggukan mengeluarkan semua yang dihatinya. Meski hati dan ucapannya bertolak belakang namun ia merasa sudah cukup baginya untuk menahan semuanya.
Melihat Nadya sesenggukan Ilham menjadi bingung dan merasa bersalah. Ia tidak tahu harus melakukan apa selain terdiam mendengar semua yang dikatakan Nadya. Bahkan ada rasa kesal dan tak suka dirasa Ilham saat mendengar Nadya mengatakan akan berhenti menemuinya dan akan melupakannya.
"Jadi kamu mau lupain aku begitu aja sekarang, iya? Kamu mau lupain aku hanya karena laki-laki yang sama kamu di puskesmas tadi?"
"Aku ngak kenal sama dia. Aku baru ketemu dijalan tadi tapi aku yakin sepertinya dia lebih baik dari kamu."
"Kamu yakin mau ngelupain aku?" tanya Ilham dengan tatapan yang begitu tajam dan meremas kuat lengan Nadya.
"Iya! Aku akan lupain kamu, aku ngak akan pernah suka sama kamu lagi."
Nadya semakin meninggikan suaranya sangkin tak dapat menahan emosinya sedangkan Ilham mengedarkan pandangannya ke sekeliling takut ada yang melihat pertengkaran mereka dan mengganggu warga.
"Ikut aku!"
Ilham menarik paksa Nadya dan membawanya berbalik arah. Nadya meronta dan memukul-mukul tangan Ilham berusaha melepaskan tangannya.
Ilham membawa Nadya ke kontrakan tempat ia tinggal dan langsung mengunci pintu.
"Kamu bilang mau lupain aku kan?"
Tanpa permisi Ilham langsung mengecup bibir Nadya sekilas hingga membuatnya spontan mendorong tubuh Ilham dan saat ia mengangkat tangannya hendak menampar, Ilham sudah terlebih dahulu menahan tangan Nadya dan kembali mencium bibirnya cukup lama.
"Coba saja kalau bisa," ucap Ilham saat mengakhiri ciumannya.
"Masuk ke kamar dan tidur, besok pagi aku antar pulang."
Nadya berjalan masuk ke kamar dengan tatapan kosong sambil jarinya menyentuh bibir yang baru saja dicium Ilham. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dan mengapa Ilham sampai melakukan hal itu padanya.
__ADS_1