
Menggunakan sepeda motornya, Ilham mengantar Nadya pulang ke rumah opa yang berjarak sekitar sepuluh menit. Mungkin karena akhir pekan maka suasana jalanan masih begitu sepi. Tiba di depan pintu, Ilham langsung mengetuk dan masuk setelah dipersilahkan.
"Kalian berdua kenapa datang bersamaan?" tanya oma heran melihat keduanya. "Lalu kenapa datangnya pagi-pagi sekali?" lanjut oma bertanya.
"Saya bisa bicara sebentar, oma?"
Tatapan serius Ilham seolah menghipnotis oma yang masih dalam kebingungannya. Tanpa mengatakan apapun oma menuntun Ilham keruang tamu dimana ada suami, anak dan menantunya sedang bersantai sambil minum teh. Nadya yang tidak tahu tujuan dari perkataan Ilham hanya mengekori langkah oma dan pria itu dari belakang.
"Nak Ilham, tumben pagi-pagi sekali datang kesini, ada apa ya nak?" tanya Lena namun pandangannya tertuju pada Nadya yang berdiri dibelakang Ilham.
"Silahkan duduk, nak. Ada yang perlu?" giliran opa yang bertanya sedangkan Bagas hanya diam memandangi ilham dan Nadya.
"Maaf sebelumnya membuat semua keluarga disini kaget. Saya hanya mau mengantar Nadya pulang karena semalam dia menginap ditempat saya."
"Apa?" pekik Bagas tak percaya anak gadisnya bermalam di tepat seorang pria yang hanya tinggal sendiri.
"Kenapa bisa?" Lena melotot tak percaya.
Ilham melirik Nadya yang duduk disebelahnya tersenyum licik.
"Papa dan mama jangan mikir yang aneh-aneh dulu, aku memang nginap ditempatnya dokter Ilham tapi aku tidur dikamarnya kok."
"Apa?"
Bagas kaget sampai-sampai ia berdiri. Ia menyalah artikan ucapan Nadya sedangkan Ilham seolah mendapat celah untuk melanjutkan niatnya.
Lena mendekati suaminya, mengusap-usap lengannya agar tenang dan menuntunnya untuk kembali duduk.
"Selama ini Nadya selalu ngejar-ngejar saya dan meminta saya untuk bersamanya sama seperti keinginan keluarga ini tapi semalam saya malah melihat dia bersama dengan seorang pria dimalam hari."
Semua mata tertuju pada Nadya, menatapnya tajam seolah ia telah melakukan sebuah kesalahan besar.
"Pria itu sepertinya seumuran Nadya, saat akan pulang saya lihat mereka dalam satu mobil jadi saya berinisiatif untuk mengantarnya pulang namun karena sudah larut dan cuaca yang mulai gerimis saya terpaksa membawa dia ketempat saya dan menginap disana."
"Makasih, nak. Maaf jadi merepotkan kamu," ucap Lena berterimakasih.
"Bukan gitu ceritanya, ma!" sanggah Nadya ingin menjelaskan namun langsung dipotong oleh Ilham, seolah tak ingin memberi Nadya kesempatan untuk berbicara.
"Maaf kalau saya harus mengatakan ini tapi semalam Nadya bilang dia akan tetap bersama pria itu kalau saya tidak menerimanya sedangkan dari yang saya lihat laki-laki itu sepertinya anak nakal."
"Pak dokter?" teriak Nadya tak percaya dengan ucapan Ilham.
"Buktinya semalam saya yang obatin bekas luka ditangan, kaki, dan wajahnya, iyakan?" ucap Ilham menatap Nadya dengan seringainya.
"Kamu jangan...."
"Nadya, stop!"
Bagas lemas mendengar apa yang disampaikan Ilham dan memijit pelipisnya.
"Tapi masih ada kesempatan untuk Nadya kan pak dokter?" tanya oma khawatir.
"Em...gimana ya oma," ucap Ilham seolah berpikir keras.
"Nadya ngak mau lagi oma, Nadya akan lupain dia dan Nadya ngak..."
"Menikah!"
Ilham mengucapkan satu kata yang membuat semuanya tercengang.
"Kalau masih ingin diberi kesempatan maka Nadya harus menikah dengan saya langsung. Saya tidak suka wanita yang mendekati saja keluyuran dan bermain-main diluar sana dengan laki-laki lain."
"Kenapa harus dengan cara menikah?" tanya Nadya sinis.
"Supaya saya bisa menghandle kamu sepenuhnya dari laki-laki yang ngak jelas."
"Tapi kamu ngak suka sama aku!"
"Seperti yang oma pernah katakan, kita ngak akan pernah tahu kalau kita tidak mencobanya, iyakan oma?"
"Be-benar. Menikah saja..menikah..menikah..." sahut oma.
"Papa juga setuju," ucap Bagas mantap.
"Pa????"
****
Tak ada yang dapat membantah apa yang sudah diputkan oleh Bagas.
__ADS_1
"Tapi kamu ngak suka sama aku," ucap Nadya saat mengantar Ilham keteras rumah.
"Apa yang semalam itu masih kurang?"
"Yang mana?" tanya Nadya tak mengerti.
Celingak-celinguk Ilham melihat sekitar dan saat yakin tak ada seorang pun dengan gerak cepat ia mengecup bibir Nadya.
Cup
" Gimana, kamu masih mau lupain aku dan ngak mau nikah?"
Nadya terdiam dan kembali memegang bibirnya yang untuk kedua kalinya dicium Ilham.
"Satu,
Dua,
Ti,
"Aku mau!" seru Nadya membalikkan tubuhnya, membelakangi Ilham. Ia menyembunyikan wajahnya karena tidak ingin pria itu melihat raut wajahnya yang bersemu sangkin senangnya.
Ilham berjalan mengitari Nadya dan berdiri tepat dihadapan gadis itu dan mengangkat dagunya dengan telunjuk.
"Kamu yakin sudah siap menikah dengan aku?"
Nadya menganggukkan kepalanya tersenyum.
"Istirahatlah dan persiapkan dirimu," ucap Ilham mengacak-acak rambut Nadya dan berlalu meninggalkan rumah opa.
****
Dikamarnya, Jesselyn sedang membantu Leon bersiap karena sore ini mereka akan menghadiri acara pertunangan sahabatnya, Adit dengan Sinta yang tak lain juga adalah sahabat istrinya.
Semakin hari Leon semakin bertingkah manja jika hanya berdua dengan Jesselyn dan entah mengapa sikap jahil pun semakin terlihat dari Leon. Mulai dari tiba-tiba mengagetkan Jesselyn, tak ingin melepas pelukan saat tidur, dan seperti saat ini.
Bolak-balik Jesselyn memasang dasi Leon namun berkali-kali juga suaminya itu merusaknya.
"Ini yang terakhir kali, oke?" ucap Jesselyn mencubit gemas pipi Leon.
"Tapi cium dulu disini," pinta Leon memajukan bibirnya.
"Ngak! Yang ada kita ngak jadi ke acara tunangannya kak Adit dan Sinta."
****
Tiba ditempat pertuangan Adit, keduanya disambut dengan gelak tawa dari pasangan yang akan melangsungkan pertunangan.
Tidak banyak yang hadir, hanya keluarga inti, kerabat dekat, sahabat dan teman-teman keduanya.
Usai acara pertunangan, Leon menemui teman-temannya semasa kuliah dulu dan mengobrol bersama. Karena memang tidak terbiasa di tempat keramaian, Jesselyn mulai merasa bosan dan juga merasa sudah ada sekitar dua jam disana terlebih lagi acara pertunangan pun sudah selesai.
"Pulang yok kak," bisik Jesselyn pelan ditelinga Leon.
"Bentar lagi ya, lima belas menit lagi," jawab Leon sekilas.
Dengan sabar Jesselyn menunggu Leon namun bukannya menepati janjinya Leon malah molor waktu hingga lebih dari satu jam.
"Maaf ya, pinjam kak leonnya dulu sebentar."
Jesselyn menarik tangan Leon dan membawanya kesudut ruangan yang tidak ada seorangpun disana.
"Kita pulang yok kak," pinta Jesselyn lagi.
"Lima belas menit lagi ya?"
Jesselyn menyudutkan Leon dan menyentuh lehernya. Perlahan ia menggelitik leher Leon dengan jemarinya dan mengelus-elus dadanya dari luar jas yang Leon kenakan.
"Kamu kenapa?" tanya Leon sedikit tertawa.
"Jesselyn ngak tahu kak, yang penting kita pulang sekarang yok kak?" mohon Jesselyn dengan wajah cemberut.
"Kamu tunggu disini, aku pamit ke Adit dan teman-teman dulu."
Sepanjang jalan Jesselyn menjatuhkan kepalanya pada pundak Leon. Wajahnya terlihat memerah dan duduk bagai cacing kepanasan.
"Kamu kenapa sayang, ngak biasanya kamu seperti ini?"
"Aku juga ngak tahu."
__ADS_1
"Kamu sakit atau butuh sesuatu?"
"Aku ngak butuh, aku ngak tahu kak, aku juga ngak ngerti. Aku... Aku..."
"Kamu mau ngapain?" sontak Leon bertanya saat Jesselyn menggigit bibirnya sendiri dan sebelah tangannya mengusap-usap paha Leon.
"Kamu jangan mancing-mancing dong sayang, ini di mobil loh. Sebentar lagi kita nyampe rumah, oke."
Leon menancap gas dan setibanya dirumah keduanya langsung menuju lantai atas letak kamar mereka berada.
Kedua mata mereka bertemu dan siap mendayung dilautan cinta. Akan tetapi saat Leon mulai melancarkan aksinya memenuhi keinginan istrinya, tiba-tiba Jesselyn menahannya bahkan hampir mendorong tubuh polos Leon.
"Ngak usah ya kak, Jesselyn ngak mood dan ngantuk juga."
"Apa? Tapi ini udah..."
Jesselyn tidak menghiraukan perkataan Leon dan tanpa menunggu lama ia sudah terlelap memunggungi Leon.
****
Tidak seperti biasanya, pagi ini sampai Leon akan berangkat kerja Jesselyn masih tidur nyenyak. Biasanya sebelum Leon bangun ia sudah selesai mempersiapkan keperluannya mulai dari sarapan, pakaian yang akan dikenakan Leon hingga membangunkannya untuk mandi dan berangkat kerja.
Dengan pakaian yang sudah rapi dan siap ke kantor Leon membangunkan Jesselyn. Mengusap kepalanya lembut dan mencium keningnya.
"Pagi sayang, kamu ngak ke kampus?"
Jesselyn menggelengkan kepalanya.
"Kamu sakit?
Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang diberikan atas pertanyaan Leon.
"Semalam kita ngak jadi ngelakuinnya tapi wajah kamu kenapa kelihatan capek banget, sayang?" meneliti wajah Jesselyn yang kusut.
"Aku juga ngak ngerti kak, badan aku juga pegel-pegal rasanya."
"Mending kamu mandi biar segar, aku tunggu dibawah kita sarapan sama-sama. Tadi aku pesan makanan, mungkin lima menit lagi makanannya tiba."
Jesselyn bangkit dan saat berjalan ke kamar mandi penglihatan meremang, Untung saja Leon dengan sigap menahannya hingga tak sampai terjatuh ke lantai. Takut hal yang buruk terjadi Leon membawa Jesselyn ke rumah sakit.
Dokter yang memeriksa keadaan Jesselyn tersenyum usai melakukan pemeriksaan. Berbeda dengan Leon yang tegang dan pucat takut Jesselyn kenapa-napa.
"Istri saya kenapa, dok? Istri saya kenapa bisa pingsan tiba-tiba, dok? Istri saya baik-baik aja kan, dok?
"Sabar, mas. Mas dan mba-nya pasangan muda jadi khawatirnya berlebihan. Istrinya baik-baik aja kok."
Jesselyn yang juga sudah sadar ikut mendengar penjelasan dokter.
"Hanya saja mulai sekarang tolong diperhatikan pola makan dan istirahatnya. Jangan terlalu kecapean dan minum vitamin."
"Baik, dok."
Leon menerima kertas yang bertuliskan resep untuk Jesselyn.
"Oh iya, jangan lupa untuk minum susu hamilnya."
"Hamil?" tanya Leon dan Jesselyn serempak.
Leon dan Jesselyn saling memandang mendengar perkataan dokter. Keduanya kembali tertuju pada si dokter.
"Istrinya sedang mengandung, mas. Jadi jaga baik-baik anaknya apalagi usia kandungannya baru tiga minggu."
"Tiga minggu?" kembali Leon dan Jesselyn bertanya serempak.
"Selamat untuk kalian berdua," ucap dokter tersenyum.
****
Senyum-senyum mata Leon dan Jesselyn mengarah pada perut yang kini ada nyawa malaikat kecil di dalamnya.
Leon menghujani wajah Jesselyn dengan ciuman dan mengusap perut itu lembut.
"Makasih, sayang."
"Masih belum percaya kalau ada nyawa di sini kak," ucap Jesselyn mengelus perutnya.
Seperti biasanya, Leon akan selalu memeluk Jesselyn saat tidur namun kali ini sedikit berbeda karena Leon menunggui Jesselyn hingga tertidur dalam pelukannya.
Cup
__ADS_1
"Makasih sayang, kamu semakin membuat hidupku lengkap dan bahagia. Aku bahagia mendapatkanmu dan semakin bahagia dengan keberadaan hasil cinta kita."
Leon semakin mendekap, membawa Jesselyn yang sudah terlalep kedalam pelukannya.