Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Menangis Dalam Selimut


__ADS_3

Dertt....


Dertt......


Leon yang juga masih berada dan menyenderkan kepalanya ke tiang pondok mendengar suara ponsel berdering. Nadya yang berada dekat dengan ponsel tidak mendengar suara dering ponsel lagi karena sudah berada dalam mimpinya akibat kekenyangan.


Leon meraih ponsel tersebut dan melihat sebuah panggilan dari seseorang bernama Leo.


"Maaf kak ini ponsel aku" Jesselyn langsung mengambil ponselnya dari tangan Leon. "Aku kedalam sebentar kak, bersih- bersihnya nanti aku lanjutin lagi."


"Sekarang!" bunyi suara ketus Leon


"Aku cuman mau tanya sesuatu ke tante, sebentar kok kak," mnggenggam ponselnya yang tetap berdering.


"Kamu mau ngumpulin lalat -lalat disini? Ngak lihat berantakan dan kotor?"


Jesselyn mendengus kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia memasukkan ponselnya ke kantong celananya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Karena ponselnya berdering lagi akhirnya ia mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Leo, maaf ya aku belum sempat tanya ke tan......." belum lagi menyelesaikan kalimatnya Leon sudah merampas ponsel Jesselyn.


"Apa-apaan sih kak, itu Leo lagi nelpon?"


"Oh.." melihat nama kontak si penelepon.


Clung....


Leon melempar ponsel Jesselyn kedalam kolam renang disisi kanan pondok.


"Kak Leon?" bentak Jesselyn.

__ADS_1


"Kenapa? Sejak kapan berani bentak- bentak, ha?" Leon berbalik membentak Jesselyn lebih kuat.


Mendengar perkataan Loen membuat tubuhnya bergetar dan memberanikan diri membuka suara.


"Kakak yang apa-apaan, aku ngak pernah ganggu kak Leon, ngerecokin kak Leon apalagi berlaku sesuka hati sama kak Leon, tapi kakak malah sebaliknya. Kemarin kakak ngerusak sepeda aku, kakak pikir aku ngak tau? Sekarang malah merampas dan melempar ponsel aku ke kolam renang. Mau kak Leon apa?" Jesselyn mengeluarkan apa yang ada di hatinya dengan mengepalkan kedua tangannya mencoba terlihat kuat di hadapan pria yang ada di depannya.


Nadya terbangun karena suara ribut keduanya, tak menyangka dengan apa yang ia dengar dan lihat. Nadya menutup mulutnya dengan dua tangan agar tidak bersuara dan menutup matanya agar terlihat masih seperti orang yang sedang tidur. Ia tidak ingin ikut campur sehingga membiarkannya saja.


"Iya...memang aku yang rusak, terus mau apa? kalau mau ngadu ke papa sama mama silahkan, dan ngak perlu punya ponsel kalau cuman buat pacaran," Leon berbicara tepat diwajah Jesselyn.


"Kak?" semakin meninggikan suaranya dan tak tahu mau berkata apa lagi. Jesselyn berlari kedalam rumah, masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia menangis di dalam selimutnya.


"Argh..." Leon melempar minuman kaleng bekasnya, membuat Nadya yang pura-pura tidur bergidik ngeri. Bukannya masuk ke rumah Leon malah keluar dengan motornya.


"Huh...huh.....huh...." menarik panjang nafasnya berkali- kali. "Mereka berdua ada masalah apaan sih harus banget pakai teriak-teriak? Gue ngak ikut-ikutan ah..." Nadya langsung menghambur ke dalam menuju kamarnya.


Pukul sebelas malam Jesselyn yang tidak juga tidur mengingat ponselnya. Ia berlari ke kolam untuk mencarinya, kulitnya berdesir saat memasuki kolam ditambah udara malam hari yang begitu dingin.


"Dimana sih....ayo dong muncul..." menunduk untuk mencari ponselnya.


Saat memasuki bagian tengah kolam tangannya ditarik kuat oleh seseorang hingga membuatnya terpeleset jatuh ke air kolam yang dingin.


"Kamu mau mati keinginan, ha?" menarik kuat tangan Jesselyn.


"Sekalian aja ke laut sana, uda bosan hidup, hah? Emang kamu bisa berenang? Ngak bisa kan, mikir dong?" cecar Leon dengan suara pelan namun mengintimidasi. Jesselyn yang sudah basah kuyup malah menarik lepas tangannya dan kembali untuk mencari ponselnya.


"Lepas dan bukan urusan kak Leon!" Jesselyn tidak mau kalah dari Leon.


"Aku bilang keluar, ayo...." Leon begitu geram dan menarik kembali tangan Jesselyn.


"Ngak mau, pergi aja sendiri sana," menantang Leon dengan kedua matanya yang melotot.

__ADS_1


"Selain ternyata keras kepala kamu juga sudah mulai ngak sopan," menatap Jesselyn tak mau kalah. "Belajar ngak sopan dari mana? Siapa yang ngajarin, ha? Oh iya..." berdecak sinis.


"Namanya Leo kan? Iya kan?"


"Terserah mau bilang apa dan satu lagi kalau ngomong jangan asal nuduh," balas Jesselyn semakin berani.


"Terserahkan? Oke" menunjuk Jesselyn dengan jari telunjuknya. "Jadi ngak masalah kan kalau aku teriak biar mama sama papa dengar sekalian."


Jesselyn merasa tembok pertahanannya runtuh saat mendengar apa yang diucapkan Leon.


"Jahat!" Jesselyn menekan ucapannya.


"Ayo keluar!" menarik kasar tangan Jesselyn keluar dari kolam. Jesselyn mengikutinya sambil berusaha menarik tangannya dari cengkraman Leon yang begitu kuat.


Setelah keluar dari kolam Leon dapat melihat dengan jelas tubuh Jesselyn yang terbentuk karena bajunya yang basah ditambah lagi kaos oblong putih miliknya membuat semakin transparan.


"Tunggu" tahan Leon saat Jesselyn berjalan mendahuluinya


"Apa lagi?" tanya Jesselyn saat membalikkan badannya.


"Pakai ini dan jangan pernah pakai baju kamu yang ini saat keluar rumah," Leon membuka kemeja panjang tangannya yang ia pakai saat keluar tadi dan memakaikannya pada Jesselyn.


"Ngak perlu dan ngak butuh!" melepaskan kemeja tersebut dan menjatuhkannya kelantai.


"Aku mau pakai apa, itu urusan aku bukan urusan kakak," Leon yang mendengarnya langsung mengambil kembali kemejanya dan memakaikan lagi pada Jesselyn.


"Cepat masuk dan ganti pakaian jangan buat mama khawatir dengan kamu sakit." Leon berjalan meninggalkan Jesselyn dibelakangnya.


...Terimakasih sudah mampir......


...Like dan komennya dipersilahkan.....

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2