Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Tersulut Emosi


__ADS_3

Pukul enam sore Jesselyn tiba dirumah dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Lelah dan gerah itulah yang ia rasakan setelah seharian di kampus. Ia senang akhirnya bisa melewati hari pertamanya dengan baik meskipun ada sedikit masalah.


Karena tidak ingin dihukum lagi ia meminta Bagas untuk berhenti disebuah Supermarket saat menjemputnya pulang tadi. Ia membeli sebuah botol dodot yang masih ia perlukan selama dua hari kedepan.


"Capek banget!" duduk di sofa dengan benda-benda aneh yang menempel ditubuhnya.


"Kamu mandi sana, bau dan kucel," ejek Leon yang tiba-tiba sudah berada diruang tamu dan menyalakan televisi.


"Sebentar kak, lima menit aja. Aku masih capek," menyandarkan kepalanya ke sofa.


Huamm....


Terdengar suara Jesselyn menguap.


"Ngantuk," ucapnya pelan tapi masih dapat di dengar Leon yang sedang menonton televisi.


"Jangan tidur di sofa lagi. Berat!" Leon berkata dengan nada ketus.


"Enggak kok kak. Terus apa yang berat ya kak?" tanya Jesselyn penasaran akan perkataan Leon.


"Pikir aja sendiri!" lagi Leon berkata dengan ketus.


"Aneh banget ni kak Leon," batin Jesselyn.


"Aku keatas ya kak, mau mandi dulu."


"Terserah"


Dari balik pintu kamarnya Lena merasa ada yang aneh saat melihat Leon berada di ruang tamu bersama Jesselyn.


"Pa, ngak biasanya Leon duduk berdua dengan Jesselyn. Biasanya paling waktu rame-rame doang. Tadi dia sendiri justru yang menghampiri Jesselyn?"


"Bukannya itu kabar baik?"


"Iya sih pa, tapi ada yang beda?"


"Biarin aja mereka. Kayak ngak pernah muda aja."


"Apaan sih papa, maksudnya mama tua gitu?" protes Lena dikatakan tua oleh suaminya.


"Emang mama masih muda seperti Nadya dan Jesselyn? Enggak kan?"


"Ya...ngak juga, sih pa."


"Nanti jangan lupa bilangin ke Leon ma, biar besok Jesselyn pergi ke kampus sama dia."


"Iya pa, kira-kira si Jesselyn sudah tahu apa belum ya kalau satu kampus dengan Leon?"


"Sepertinya belum. Kalau sudah tahu pasti tadi ngomong waktu papa jemput pulang."


"Gitu ya?" memikirkan sesuatu.


Keesokan harinya Jesselyn bangun lebih pagi karena tidak ingin ada masalah lagi.


Pukul setengah tujuh pagi ia sudah selesai dan menunggu Bagas untuk diantar.


Brum....


Brumm....


Brummm.....


Bunyi motor Leon dari garasi.


"Kak Leon pagi-pagi begini mau kemana?" gumam Jesselyn memeriksa perlengkapannya.


Brum...Brum...Brum...


"Berisik loh kak?" gumamnya lagi saat kembali mendengar bunyi motor Leon.


"Kamu langsung kegarasi aja Jes," ucap Lena buru-buru karena tidak tahan mendengar suara ribut motor anaknya itu.


"Nunggu di dalam mobil kali maksudnya tante," pikir Jesselyn.


Ia berjalan memasuki garasi dengan membawa semua keperluannya dan benda-benda aneh lainnya yang menempel padanya.


"Lihat jam ngak sih? Lam?" ucap Leon seketika Jesselyn tiba digarasi.

__ADS_1


Jesselyn yang tidak tahu apa-apa melihat sekelilingnya dan hanya ada dia disitu selain Leon.


"Cepat naik!"


"Ha?"


"Pake bengong lagi. Cepat kalau ngak mau telat?"


"Pakai" menyerahkan sebuah helm.


"Buat apa kak?" tanya Jesselyn heran.


"Kamu dianterin kak Leon sayang, soalnya om lagi ada urusan kantor pagi ini," seru Lena yang tiba-tiba muncul dan pergi begitu saja.


"Oh...," melihat kearah Leon.


"Ha, oh. Ha oh aja dari tadi. Pekai ini dan naik."


"I-iya kak"


"Lama banget?" menarik tangan Jesselyn agar menghadapnya dan memakaikannya helm.


"Sudah. Naik!"


Langsung saja Leon menggas motornya saat gadis itu sudah naik keboncengannya. Jesselyn memegang kedua celananya agar tidak terjatuh atau tiba-tiba oleng.


"Pegangan," ucap Leon dari dalam helmnya.


"Kenapa kak?" samar mendengar ucapan Leon.


"Pegangan yang kuat."


"I-iya kak," meletakkan kedua tangannya dibahu yang selalu dia panggil dengan sebutan kakak.


"Aku bilang pegangan yang kuat bukan letakin tangan kamu seperti itu?"


"Mau gimana lagi sih kak?" bingung dengan perkataan Leon.


"Ngak mungkin pegang pinggangnya kak Leon kan?" berkata dalam hati melihat bagian belakang badan Leon.


Jesselyn masih bingung harus berpegangan erat pada apa diboncengan Leon. Dengan pelan ia menurunkan kedua telapak tangannya dan dengan ketidak yakinan, ia awalnya memegang tas yang digendong Leon, turun hingga memegang kemeja lengan panjang Leon tanpa membuat sentuhan pada bagian pinggangnya.


"Sudah kak," ucap Jesselyn yakin


"Kamu mau jatuh?" Leon melihat Jesselyn hanya memegang ujung pakaiannya.


"Ngak kak, aku pegang dengan kuat kok."


Mendengar pengakuan gadis itu Leon langsung menaikkan kecepatan motornya dan melewati banyak kendaraan yang tadinya berada di depan mereka. Jesselyn sentak terkejut saat Leon menambah kecepatan, ia menutup matanya sambil menahan nafas seraya berdoa agar tidak melayang dari atas motor Leon.


Kurang dari lima belas menit Leon menghentikan motornya tak jauh dari area kampus.


"Turun!"


"Bukannya masih di depan dikit lagi kak? Nanggung kak?"


"Wajah kamu kenapa?" memperhatikan wajah Jesselyn yang agak pucat.


"Ngak kenapa-napa kak, hanya sedikit takut aja waktu diboncengan kakak?" berkata bohong karena sebenarnya ia begitu sangat ketakutan dan gemetar saat diboncengan Leon.


"Takut? Ck, kenapa takut? Bukannya sudah terbiasa naik motor waktu SMA?"


"Iya sih kak, tapi ngak kencang seperti tadi."


"Jadi kamu ngak suka aku boncengin? Ya sudah kalau gitu, nanti kamu pulangnya sama dia aja." Leon kembali menjalankan motornya setelah Jesselyn turun dan memberikan helm yang ia pakai tadi.


"Kak..? Kak Leon? Kak..?" Jesselyn berteriak memanggil Leon karena tidak mengerti apa maksudnya.


"Kenapa lagi sih kak?" batinnya sedih.


Ia berjalan menuju tempat ospek sesuai dengan yang diberitahukan pada mereka saat akan mengakhiri hari pertama ospek.


Tidak ada yang spesial tapi hari keduanya berjalan dengan lancar tanpa ada masalah sedikitpun. Jesselyn juga belum mengetahui jika ternyata ia dimasukkan Bagas di kampus yang sama dengan Leon. Leon memang ikut dalam panitia ospek bahkan sebagai wakil ketuanya akan tetapi dia lebih memilih melakukan hal-hal selain tampil di hadapan para maba.


Ia selalu memperhatikan segala kegiatan yang dilakukan Jesselyn dan interaksi Jesselyn dengan siapa pun.


Iya, Leon selalu memperhatikan Jesselyn. Seperti saat ini dan entah apa yang ia pikirkan sampai kembali mengepalkan kedua tangannya dan berdecak kesal saat melihat sepasang maba saling bertukar pandangan dan senyuman. Ia tidak menyangka jika masih akan melihat kedakatan Jesselyn dan Leo.

__ADS_1


"Sorry ya selalu ngerepotin kamu Leo," ucap Jesselyn saat berjalan menuju parkiran ketika ospek hari kedua berakhir.


"Enggak kok, justru aku senang bisa anterin kamu lagi saperti dulu."


"Hehehe... Aku senang banget ternyata kita bisa ketemu lagi dan ternyata satu kampus juga?"


"Bagus dong, jadi bukan hanya aku aja yang senang bisa ketemu kamu lagi," melihat Jesselyn dengan senyuman manisnya.


"Bisa aja deh," Jesselyn tersipu malu mendengar pengakuan dari Leo.


"Ayok, naik Jes" ucap Leo lembut.


Brum....


Brumm.....


Brummm.


"Aw, kak Leon apaan sih?" pekik Jesselyn karena motor Leon yang tiba-tiba berada di sampingnya.


"Ck, cepat naik," menatap tajam pada Jesselyn.


"Sorry, biar Jesselyn pulangnya saya aja yang antar," jawab Leo menjawab pertanyaan Leon.


"Ayo naik?" perintah Leon pada Jesselyn tidak memperdulikan perkataan Leo.


"Tapi aku da minta Leo yang anterin pulang kak. Bukannya tadi pagi kakak bilangnya ngak bakalan antar aku pulang? Iya kan?"


"Terus kamu mau apa?" Leon membentak dan menarik tangan Jesselyn.


"Kakak yang maunya apa, kalau aku maunya pulang sama Leo aja," menatap kesal Leon.


"Kalau aku bilang pulang sama aku itu artinya pulang sama aku. Cepat naik sekarang!"


"Kak, kenapa sih?" berontak mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Leon.


"Kamu ngak dengerin aku, ayo naik?"


"Bukannya kakak yang ngak dengar kalau dia ngak mau pulang sama kakak?" Ucap Leo dan menarik tangan Jesselyn yang satunya lagi. "Jangan maksa kalau dianya ngak mau."


"Lo siapa sih??? gue ngak ngomong sama lo!" Leon meninggikan suaranya dan menatap mata Leo tajam seakan ingin menghabisinya.


"Gue ngak ada urusan sama lo jadi ngak usah ikut campur. Paham?"


"Yang jelas gue bukan orang yang bakalan bersikap kasar pada Jesselyn seperti lo kak,"


Leo turun dari motornya dan melepaskan paksa tangan Jesselyn dari Leon.


"Aw, sakit!" ucap Jesselyn saat tangannya terlepas.


"Cepat naik dan ngak pake lama!" Leon masih pada pendiriannya dan semakin terlihat emosi.


"Mending kamu sekarang naik biar aku antar pulang, oke?" Kata Leo pada Jesselyn lembut mencoba tidak menghiraukan Leon.


Leon yang mendengarnya semakin tersulut emosi.


"Naik..."


"Tapi kak aku ngak enak sama Leo, lagian kenapa sih kak?" sungut Jesselyn yang mulai kesal.


"Jes, aku pakein helmnya dulu sini," pinta Leo pada Jesselyn dengan nada yang lagi-lagi begitu lembut.


"Lo siapa sih, hah? Dari dulu kerjaannya ganggu mulu? Bisa jangan ikut campur ngak?" Ucap Leon dengan suara keras hingga bagi siapa saja yang mendengarnya akan terkejut.


Jesselyn yang ketakutan semakin bingung karena sikap Leon yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Takut jadi bahan tontonan Jesselyn langsung naik ke keatas motor Leon dan meminta maaf pad Leo.


"Sorry ya Leo?"


"Udah, aku ngak masalah kok yang penting kamu baik-baik aja." Leo yang mengerti situasi membiarkan Jesselyn pergi karena tidak ingin membuatnya dalam masalah.


Sepanjang jalan menuju rumah mereka berdua hanya diam, tak seorangpun yang berbicara. Leon diam karena masih tersulut emosi sedangkan Jesselyn diam karena takut dan kesal pada Leon.


...**Terimakasih sudah mampir buat baca ceritaku ini. Jangan lupa untuk ninggalin jejak ya, saran yang membangun diterima kok. Terimakasih**......


...**Btw, dihari kedua ospek Adit ngak ke kampus guys, karena kakak perempuannya nikah. Sebagai adik yang baik pastinya Adit harus hadir bukan**???...


...**hehehe**......

__ADS_1


__ADS_2