
Pagi ini Leo mengunjungi rumah sakit untuk membesuk sepupunya yang sedang menjalani perawatan akibat kecelakaan lakalantas. Saat akan pulang tanpa sengaja ia melihat Bagas, rekan bisnis ayahnya yang juga dikenalnya karena pertemanannya dengan Jesselyn.
Bagas yang juga sudah mengenal Leo lantas mengajaknya ke kantin rumah sakit untuk makan. Leo begitu sungkan menolak ajakan Bagas sehingga ia mengiyakan ajakan pria paruh baya tersebut.
Leo terkejut saat mendengar Jesselyn sedang dalam keadaan sakit, gadis yang selama ini diam-diam ia sukai.
Karena memang tidak sedang lapar, Leo akhirnya meminta izin dengan alasan ingin menjenguk Jesselyn.
Ceklek
Leo membuka pintu kamar tempat Jesselyn dirawat. Dengan pelan ia berjalan dan masuk kedalam ruangan tersebut.
"Siang, tante?" sapa Leo menjumpai Lena yang sedang menunggui Jesselyn.
"Leo, kamu tahu dari mana Jesselyn sedang ada disini, nak?" tanya Lena bingung karena Leo tiba-tiba datang.
"Maaf kalau Leo mengganggu, tante? Tadi Leo habis jenguk sepupu Leo dan ngak sengaja ketemu om Bagas waktu mau pulang. Jadi saya tahu dari om kalau Jesselyn sedang dirawat disini."
"Oh, kirain kamu ada telepati sama dia?" menunjuk kearah Jesselyn sambil tersenyum.
"Hehehe, ngak kok tante."
"Terimakasih ya sudah jenguk? Seperti yang kamu lihat, dia masih tidur. Tapi kata dokter sebentar lagi dia bakalan bangun," kata Lena memberitahu.
Leo memperhatikan wajah Jesselyn yang tidur begitu tenang dan damai. Wajah yang tidak akan pernah membuatnya bosan saat dipandang.
Meskipun wajahnya pucat tapi itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan gadis itu.
Seperti yang dikatakan oleh dokter, akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi gadis itu pun sadar dan bangun dari tidurnya.
"Jes, kamu sudah bangun sayang?" ucap Lena saat melihat Jesselyn mulai membuka matanya.
"Tante?"
Jesselyn mengerutkan keningnya melihat ia sedang berada ditempat yang tidak ia kenal.
"Iya, sayang? Jangan banyak gerak dulu ya, kamu masih butuh banyak istirahat."
"Kenapa Jesselyn ada dirumah sakit, tante? Bukannya tadi kita lagi dijalan mau kerumah?" tanya Jesselyn melihat selang infus didekatnya. "Leo? kamu juga ada disini?" Jesselyn semakin bertambah heran melihat kehadiran Leo.
"Iya, aku disini jengukin kamu. Lebih baik kamu ngak usah banyak nanya dan mikir, itu bisa nguras tenaga kamu dan ngak baik buat kondisi kamu sekarang ini. Benar kan, tante?"
"Apa yang Leo bilang barusan itu benar, nak. Kamu ngak usah banyak nanya dan mikir, kamu hanya kecapean dan butuh istirahat yang banyak kata dokter."
"Jesselyn minta maaf kalau sudah nyusahin ya, tante?" ucap Jesselyn menundukkan kepalanya, merasa tak enak hati dan menyusahkan orang lain.
"Enggak sayang, kamu jangan ngomong seperti itu ya? Tante dan semuanya ngak ada yang merasa disusahin sama kamu. Jadi, jangan berpikiran seperti itu ya?" ucap Lena mengusap lembut pucuk kepala Jesselyn.
__ADS_1
"Makasih tante, Jesselyn senang dan beruntung punya tante."
Saat Jesselyn akan membenarkan posisi duduknya, dengan sigap Leo membantunya dengan senang hati. Lena yang menyaksikan kedekatan mereka berdua hanya dapat tersenyum. Ia senang karena Jesselyn memiliki seorang teman yang sangat baik.
Bagas sangat lega mengetahui Jesselyn yang sudah siuman. Meskipun terlihat sangat tenang, namun sebenarnya ia sama khawatirnya dengan Lena mengenai kondisi Jesselyn.
Hoammm...
Lena menguap begitu panjang.
"Mama ngantuk?" tanya suaminya yang duduk disofa bersama Leo.
"Iya, ni pa."
"Lebih baik tante pulang dulu buat istirahat. Tante juga belum makan siang dari tadi, padahal sudah hampir sore. Kalau Tante juga sakit gimana?" ucap Jesselyn memberi saran dan juga khawatir jika sewaktu-waktu Lena bisa juga jatuh sakit.
"Kalau tante dan om pulang siapa yang nemanin kamu?"
"Biar Leo aja yang nungguin Jesselyn, tante?" ucap Leo menawarkan diri.
"Jangan. Kamu sudah dari tadi disini, nanti mama kamu cariin lagi," ucap Lena menolak tawaran Leo.
"Ngak tante. Tadi Leo sudah kabarin kerumah kalau Leo juga lagi jenguk Jesselyn disini. Mamakan juga kenal sama Jesselyn," kata Leo meyakinka tante Lena.
"Iya, tante. Tante dan om pulang aja dulu buat istirahat, Jesselyn baik-baik aja disini. Kalau ada apa-apa pasti Jesselyn langsung kabarin."
****
Dikampus, karena begitu sibuk dengan urusan skripsinya Leon sama sekali belum menyentuh ponselnya. Bahkan ponselnya yang ia taruh dalam laci tasnya sengaja dibuatnya hanya dalam mode getar. Puluhan panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya sama sekali tidak ia ketahui. Yang ada di kepalanya saat ini hanya ingin segera meyelesaikan skripsinya, wisuda dan langsung bekerja.
"Sepi," ucap Leon melihat keadaan rumah yang begitu hening.
Karena begitu lelah Leon langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dari kamar mandi ia langsung merebahkan tubuhnya diatasi tempat tidur hanya dengan handuk yang terlilit dipinggangnya.
Ditariknya selimut hingga pinggangnya. Sesaat akan tidur tiba-tiba ia teringat ponselnya. Ialu meraih tasnya dan mengeluarkan benda pipih itu dari dalamnya lacinya.
Leon begitu heran melihat begitu banyak panggilan dari papa dan mamanya yang tidak ia jawab. Hingga ia membuka pesan masuk dari papanya.
Matanya membulat membaca dua pesan yang dikirim papanya. Dengan secepat kilat ia memakai pakaiannya dan menyambar kunci motor yang ia letakkan diatas nakas.
"Mama?" ucap Leon saat membuka pintu rumah.
"Hmmm, kamu dari mana aja? Kenapa panggilan telepon papa kamu juga ngak dijawab?"
"Maaf, ma. Tadi Leon ada urusan dikampus," jawab Leon apa adanya.
Matanya celingak-celinguk melihat kebelakang mamanya, namun yang ia lihat hanya papanya sedang mengeluarkan yang ia tahu adalah oleh-oleh yang diberikan opa dan oma untuk mereka bawa.
__ADS_1
"Kamu cari apa?"
"Eng-enggak ma," ucap Leon namun matanya masih celingak-celinguk mencari sosok yang ingin ia lihat.
"Dia masih dirumah sakit," kata Lena seolah mengerti apa yang dicari oleh anaknya itu. "Kondisinya sangat lemah, jadi belum bisa langsung pulang."
Leon mengikuti arah jalan mamanya yang masuk kedalam. Lena tahu jika Leon ingin bertanya lebih lanjut mengenai Jesselyn namun begitu sulit untuk keluar dari mulutnya.
Ya, Lena sangat memahami sikap dan sifat anak laki-lakinya itu.
"Kata doker dia kecapean dan karena terkena air hujan juga pastinya," kata Lena mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Ekhem-ekhem," tenggorokan Lena kering dan merasa haus.
Leon berlari dan dengan cepat kembali bersama segelas air putih ditangannya.
Leon menyerahkannya tanpa berkata apa-apa.
"Terimakasih" ucap Lena setelah meneguk habis isi gelas tersebut.
Lena berhenti berbicara, sengaja agar Leon membuka mulutnya. Lima bahkan hampir sepuluh menit lamanya Leon hanya duduk diam menunggu mamanya bersuara lagi. Hal itu membuat mamanya menjadi kesal.
"Mama dan papa pulang sebentar buat istirahat dan kamu mau kemana sudah pakai jaket?" ucap Lena kembali memulai percakapan searah mereka.
"Emmm, kalau mama dan papa pulang berarti dia sendiri dirumah sakit?" ucap Leon mulai berbicara.
"Ngak juga,"celutuk Bagas menyandarkan punggungnya disofa.
"Nadya yang jagain?" tanya Leon ingin tahu pastinya.
"Leo. Dijagain sama Leo," jawab Lena santai diiringi uapan karena lelah dan mengantuk.
"Ma? Pa?" pekik Leon mengagetkan sepasang suami istri itu.
"Kamu apaan sih? Suara kamu ngagetin Leon?" ucap Lena mengelus-elus dadanya.
Leon berdiri, mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa mama biarin Leo jagain dia?" tanya Leon frustasi dan ingin mengatakan sesuatu lagi namun ia urungkan.
"Leon kerumah sakit sekarang," ucap Leon dan berlari ke garasi tempat motornya berada.
...Terimakasih bagi yang masih nungguin kelanjutan cerita ini, ya......
...Aku pengen up banyak-banyak biar ceritanya cepat kelar tapi...
...dunia nyata sangat menguras stok pikiran dan hati, jadi ngedampak waktu buat kelanjutan cerita. Tetap semangat buat semuanya😊😊...
__ADS_1