Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Dua Buah Pil


__ADS_3

Jarum jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, semua pun sudah berada dalam kamarnya masing-masing. Melepas lelah dari segala kesibukan yang tak akan pernah usai.


Sedari tadi Jesselyn memejamkan matanya untuk tidur namun sulit baginya karena ia hanya berada di dalam kamar untuk waktu yang lama. Berulang kali ia berteriak agar pintu kamarnya dibuka namun bagai tinggal dihutan tak seorangpun datang atau hanya untuk sekedar menyahutinya.


Pintu kamarnya dibuka hanya saat oma mengantarkan makan malamnya yang langsung dikunci lagi saat oma meletakkan nampan ditangannya di atas meja. Baru saja ia akan mengatakan sesuatu namun tatapan tajam oma membuatnya mengurungkan niatnya. Bibirnya seakan keluh untuk beradu argumen dengan oma, terlebih ia tahu tidak akan menang dari wanita tua itu.


Sudah puluhan kali gadis itu berguling-guling di atas tempat tidurnya berharap ia akan segera mengantuk dan dapat tertidur namun sia-sia.


Sesaat kemudian ia mendekati pintu kamarnya berpikir jika mungkin pintunya sudah tidak dikunci lagi. Ia terkejut saat ia baru saja memegang handle pintu seseorang sudah terlebih dahulu mendorongnya dari luar.


"Hakh! Kak Leon..." ucap Jesselyn sumringah.


Dengan sigap Leon menutup mulut gadis itu menggunakan telapak tangannya karena suara Jesselyn yang sedikit kuat.


"Stttt...kamu mau orang-orang rumah lihat kita?" ucap Leon mengingatkan dan dijawab Jesselyn dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu pelanin suaranya atau ngak usah ngomong sekalian. Paham?"


Jesselyn menganggukkan kepalanya mengerti maksud perkataan Leon.


Leon kembali menutup pintu kamar setelah terlebih dahulu mengamati jika tidak ada orang yang melihatnya masuk ke dalam kamar Jesselyn ditengah malam.


"Kenapa makannya sedikit?" tanya Leon saat memperhatikan piring bekas makan Jesselyn yang hanya berkurang sedikit.


"Aku ngak selera kak," ucap Jesselyn apa adanya. "Kak Leon ngapain malam-malam begini ke kamar aku, kalau oma lihat nanti yang dimarahin pasti aku, iyakan?" dengus Jesselyn yang kini duduk diatas ranjangnya. Menyandarkan kepalanya ke belakang.


Bukannya menjawab pertanyaan Jesselyn, Leon malah mengambil air minum yang masih tersisa banyak disamping piring dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Ayo minum."


Leon menyodorkan gelas dan dua buah pil yang baru saja ia buka dari bungkusnya.


"I-ini un-untuk apa kak? A-aku ngak sakit, aku ngak butuh obat."


"Jangan banyak nanya, ayo ambil dan minum."


"Eng-enggak usah kak, Jesselyn baik-baik aja."


"Keras kepala," ucap Leon tak sabar dan langsung menarik dagu Jesselyn, membuka mulut gadis itu, memaksa gadis itu menelan pil yang ia masukkan dalam mulutnya.


"Anak pintar," ucap Leon mengusap kepala Jesselyn saat ia berhasil membuat gadis itu menelan apa yang baru saja ia berikan.


"Sekarang tidurlah," lagi-lagi Leon langsung menuntun Jesselyn mengambil posisi tidur.


Bagai tersihir Jesselyn menurut namun ia masih ingin bertanya mengenai obat yang baru saja ia minum.

__ADS_1


Leon menarik selimut hingga menutupi leher Jesselyn sambil terus memperhatikan wajah polos gadis di dekatnya itu.


"Tidurlah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Itu tadi hanya vitamin supaya badan kamu fit dan segar."


Mendengar apa yang diucapkan Leon membuat hati Jesselyn menjadi tenang. Bukannya berpikir tidak-tidak hanya saja mungkin karena terlalu banyak membaca novel fiksi membuat Jesselyn sedikit bergidik saat ia dipaksa meminum obat tadi.


Tak butuh waktu lama Jesselyn jatuh dalam tidurnya, ia terlelap karena Leon yang terus mengusap lembut rambut Jesselyn. Mendengar deru nafas Jesselyn yang teratur Leon tersenyum dan mengelus kedua pipi dihadapannya.


Sebelum keluar Leon mengecup kening Jesselyn dan meninggalkan dia yang terlelap.


****


"Papa?" kaget Leon saat membuka pintu ia sudah mendapati papanya berdiri dihadapannya dengan kedua tangan berada dalam saku celana tidurnya.


"Kaget? Papa lebih kaget lihat kamu tengah malam kelayapan ke kamar anak gadis."


"Bukan gitu, pa. Leon cu-cuman..."


"Cuman apa, hah? Dasar anak tidak sabaran."


"Leon ngak ngapa-ngapain kok, pa. Leon cuman kasih dia vitamin aja biar badannya fit. Oma ngak ngizinin Leon ke dalam jadi mau ngak mau Leon masuk diam-diam tadi. Tapi beneran Leon ngak ngapa-ngapain, pa."


"Siapa yang tahu kamu ngak ngapa-ngapain dia di dalam. Hanya kamu, dia dan Tuhan yang tahu. Cepat sana tidur."


"Dasar anak nakal. Lagian siapa yang buat kamar mereka bersebelahan, kakiku kram dan sudah seperti nyamuk nungguin anak nakal itu keluar dari dalam," gerutu Bagas menuruni tangga.


Sebenarnya saat Leon masuk ke dalam kamar Jesselyn, papanya sudah melihatnya namun mendapati Leon tidak keluar setelah sepuluh menit, ia akhirnya memutuskan naik keatas dan menunggu Leon hingga keluar, jaga-jaga kalau oma tiba-tiba datang dan masuk melihat Jesselyn dikamarnya.


****


H - 1


"Kakak kamu ngak ngelakuin yang aneh-anehkan semalam?"


Deg...


Jesselyn terkejut mendengar pertanyaan Bagas. Pagi ini entah mengapa Bagas yang mengantar sarapan untuk Jesselyn.


"Enggak om, kak Leon cuman ngasih vitamin," jawab Jesselyn yang mengerti maksud omnya.


"Makanlah yang banyak. Kamu harus sehat dan kuat. Kalau ada apa-apa kamu ngomong sama om, oke?"


"Baik, om."


"Om sudah menganggap kamu seperti putri om sendiri, jadi jangan sungkan sama, om."

__ADS_1


"Jesselyn juga sudah anggap om Bagas seperti ayah sendiri, Jesselyn bersyukur bisa kenal dan diterima dalam keluarga ini."


"Kalau gitu mulai sekarang kamu harus belajar untuk manggil om dengan sebutan papa, sama seperti Leon dan Nadya. Bagaimana?"


"Memangnya boleh, om?" tanya Jesselyn serius dengan mata berbinar.


Bagas menganggukkan kepalanya dan merentangkan kedua tangannya, dengan segera Jesselyn menghambur kedalam pelukan Bagas. Berada dalam pelukan Bagas membuat Jesselyn seolah kembali merasakan pelukan ayahnya belasan tahun yang lalu.


"Hiks...hiks... makasih, om."


"Papa," ucap Bagas mengingatkan.


"Makasih, pa."


Bagas tersenyum, di usapnya lembut kepala Jesselyn dan menenangkan gadis itu dari sesegukannya.


"Mulai sekarang kasih tahu papa kalau ada yang macem-macem sama kamu, paham? Termasuk Leon."


Jesselyn hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan kedua tangannya masih memeluk Bagas. Rasa rindu akan ayahnya seolah terobati saat berada dalam pelukan Bagas.


****


Siang hari ada beberapa orang yang datang ke kediam keluarga Bagas. Mereka adalah orang-orang yang diminta Lena untuk mengurus keperluan Jesselyn dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Saya mau diapain sih, mba dan mas?" tanya Jesselyn pada dua orang berseragam dikamarnya.


"Sudah, cantik. Kamu nurut aja ya," ucap salah seorang yang berjalan begitu gemulai.


"Turuti saja apa kata mereka kalau tidak nanti oma jodohkan Leon dengan gadis lain."


Deg...


Suara oma terdengar begitu nyaring namun disaat yang bersamaan terdengar begitu menjengkelkan.


"Iya, oma."


Siang hingga sore dilewati Jesselyn di dalam kamarnya dengan mendapat perawatan tubuh. Mulai dari creambath, meni-pedi, luluran, pijitan, maskeran dan beberapa perawatan lainnya yang membuatnya tertidur sambil mendapat perawatan.


Ia tidak tahu semuanya itu untuk apa namun setidaknya tubuhnya terasa rileks dan ringan setelah menyelesaikan semua ritual tersebut.


****


Malam ini Jesselyn sudah kembali ikut menikmati makan malam bersama semua orang dirumah. Cerita-cerita ringan menemani makan malam mereka hingga semua hidangan habis mereka santap.


Leon tersenyum saat mencuri pandang ke arah Jesselyn, dilihatnya gadis itu tampak semakin segar dan cerah. Sama halnya dengan Nadya yang senyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi Jesselyn besok pagi saat mengetahui apa yang akan gadis itu lakukan bersama dengan Leon.

__ADS_1


__ADS_2