Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Harum


__ADS_3

Seseorang yang sedari tadi menunggu kepulangan Jesselyn langsung menghampiri keduanya dengan tatapan tak suka.


"Jadi ini alasan kamu minta nge-kos?" sinis Leon menatap Jesselyn. "Biar kamu bisa dengan bebas keluyuran dan pulang malam, ha? Itukan mau kamu?"


"Bu-bukan gitu kak,"


"Apanya yang bukan gitu, terus sekarang ini apa?" teriak Leon hingga membuat Jesselyn bergidik mengangkat kedua bahunya.


Bug


Satu pukulan mendarat di pipi Leon membuat siempunya kesakitan. Leon memegang bagian yang sakit, membuka mulut seraya menggerak-gerakkannya.


Ia tersenyum sinis mendapat pukulan dari pemuda yang saat ini berdiri dihadapannya dengan tangan terkepal.


Bug


Kini gantian Leon yang mendaratkan pukulan ke wajah Leo hingga membuatnya terjatuh karena Leon juga mendorongnya kebelakang.


"Kak?" teriak Jesselyn tak tahan melihat pertengkaran keduanya yang sudah seperti anak kecil. Ia membantu Leo berdiri dan hal itu membuat Leon tak suka.


Leon segera menghampiri Jesselyn dan menarik tangannya dari lengan Leo.


"Masuk!" perintah Leon pada Jesselyn, mendorong tubuh kecilnya kearah pintu.


"Bisa ngak kalau ngak kasar sama dia?" seru Leo menepuk-nepuk bajunya yang terkena pasir.


Bug


Kembali Leon mendaratkan pukulannya ditempat yang sama pada wajah Leo.


Leo kembali membalasnya namun kali ini perut Leonlah yang menjadi sasarannya. Sakit namun sekuat tenaga Leon menahannya apalagi keadaan perutnya yang masih kosong karena belum makan malam.


Jesselyn bingung ia tidak tahu harus berbuat apa yang ia tahu kedua pemuda itu harus segera dilerai agar baku hantam keduanya berakhir. Jesselyn berlari dan memeluk pinggang Leo dari belakang dengan maksud menahan pukulan yang akan dilancarkannya lagi pada Leon.


Sakit di bagian perut Leon seolah bertambah melihat kedua tangan gadis itu melingkar di pinggang Leo.


"Cukup Leo!" pinta Jesselyn menahan tubuh pemuda itu. "Tolong" lanjutnya memohon.


Beruntung Leo mau mendengar perkataan Jesselyn dan mengurungkan niatnya untuk memukul Leon lagi.


"Yaaaaa...!" ( teriak ala Korea )


Bola mata Leon seakan hampir keluar saat ia berteriak. Sungguh ia tak rela jika gadisnya itu memeluk pria selain dirinya.


"Tangan kamu," teriak Leon menunjuk tangan Jesselyn. Sigap gadis itu melepas dan mengangkat tangannya.


Jesselyn kembali berlari menghampiri Leon dan menahan tubuh pria itu dengan memeluknya dari depan.


"Lepasin!" Leon berusaha melepaskan tangan Jesselyn dengan mendorongnya dari pinggangnya namun gadis itu semakin memeluknya erat.


"Enggak" ucap Jesselyn menggelengkan kepalanya yang menempel di dada Leon.


"Lepasin ngak?"


"Aku bilang enggak!"


Happ...


Jesselyn melompat dan menautkan kedua tangannya di leher Leon. Kedua kakinya ia angkat menjepit dan mengunci pergerakan kaki Leon. Kini Jesselyn sudah seperti anak kangguru yang menggelantung pada sang induk.


Takut terjadi keributan yang lebih besar lagi dan membuat para penghuni yang ada disekitar terganggu Jesselyn melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk menghentikan keduanya.


"Maaf Le, kamu pulang aja ya?" pinta Jesselyn agar Leo pergi dari tempat itu.


Leo menurut meskipun ia masih belum puas menghajar Leon.


"Aku pulang dan kalau ada apa-apa kamu hubungin aku, ya?" ucap Leo meskipun tak dapat melihat wajah gadis itu karena posisi yang membelakanginya.


Jesselyn menganggukan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Oh iya, apa yang aku katakan tadi serius dan tolong kamu pikirkan, oke?"


"Mi-mikiran apa, mikirin apa, ha?" tanya Leon penasaran maksud perkataan Leo.


"Kak" ucap Jesselyn mengelengkan kepalanya di bahu Leon.


Leo menghidupkan motornya dan meninggalkan keduanya yang bagaikan induk dan anak kangguru.


Huff...


Leon menghembuskan nafas saat Leo sudah tak terlihat lagi.


"Naikkan kakimu keatas" perintah Leon. Jesselyn langsung menaikkan kakinya dan melingkarkannya pada pinggang Leon.


Leon berjalan kearah pintu dengan menggendong gadis itu.


"Kunci" pinta Leon.


Jesselyn merogoh sakunya untuk mengambil kunci dan memberikannya pada Leon.


Ceklek


Leon membuka pinu dan langsung menguncinya kembali saat sudah berada dalam rumah. Ia memasukkan kunci tersebut kedalam saku celananya.


"Pintunya jangan ditutup kak, kalau ada yang lihat dan mikir yang macem-macem tentang kita gimana?"


"Maka dipastikan status kita akan menjadi suami-istri."


Jesselyn menarik tubuhnya karena Leon membawanya hingga ke dalam kamar.


Srakk...


Leon menyingkirkan buku-buku yang ada di atas meja belajar Jesselyn dan mendudukkannya disana.


"Aku tidak suka apa yang menjadi milikku berada ditangan orang lain," ucap Leon mengelus rambut sang gadis dengan lembut. "Aku tidak suka ada benda pria lain yang menempel ditubuh gadisku," Leon melepas jaket kulit yang ia yakin adalah milik Leo dari tubuh Jesselyn dan melemparkannya kesembarang arah.


"Lihat aku!" mata Leon menatap lekat kedua netra gadis di depannya. Tatapannya turun kebawah tepat pada bibir ranum sang gadis.


Ingatannya kembali saat menyaksikan Jesselyn memakan es krim lewat video call. Bagaimana cara gadis itu memasukkan makanan dingin itu ke mulutnya, menjilat bibirnya dan menyekanya dengan lidah.


Glek


Jakun Leon naik-turun membayangkannya dan tak sabar ingin mencecap bibir gadis itu.


Dert...


Dert...


Dert...


"A-ada yang telpon kak," ucap Jesselyn merasakan getaran dari saku celana Leon.


Leon memejamkan matanya menahan kesal.


"Halo, ma?" ucap Leon pada si penelepon.


"Kamu belum pulang, nak? Sudah jam sembilan dan mau hujan loh, nak."


Kesempatan itu digunakan Jesselyn untuk keluar dari kamar dan berlari masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Iya, ma. Leon masih ada kerjaan soalnya, nanti Leon kabarin mama lagi ya," jawab Leon sambil mengejar langkah Jesselyn.


Greb...


"Kak?"


"Kamu lagi dimana sih, nak? Suaranya kenapa seperti suara..."


"Nanti Leon telpon ya, ma."

__ADS_1


Leon memutuskan sambungan telepon dengan mamanya sedangkan Lena mengerutkan keningnya merasa ada yang aneh karena suara yang tadi ia dengar persis seperti suara Jesselyn.


"Kakak ngapain ikut ke dalam kamar mandi?"


"Memangnya kenapa?"


"Kak? Aku mau mandi!" ucap Jesselyn memelototkan mata sambil menggigit giginya.


"Ya sudah silahkan kalau mau mandi,"


Jesselyn mendengus kesal, ia menatap Leon jengah.


"Kakak mau ngapain?"


Jantung Jesselyn berdegup kencang tak beraturan saat Leon melepas jaketnya dan membuka ikatan dasi di lehernya.


"Menurutmu?" Leon mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Ia melempar kemeja itu menutupi wajah Jesselyn.


"Harum" batin Jesselyn saat ia menghirup aroma parfum di kemeja Leon namun ia kembali pada kesadarannya saat Leon kembali melempar kaos dalamnya pada Jesselyn.


Glek


Untuk pertama kalinya ia melihat dada telanjang Leon.


Tak


Leon menyentil kening Jesselyn dengan jarinya.


"Sampai kapan kamu akan mematung disini? Apa sampai ilermu keluar?"


"Ha?" Jesselyn refleks menyeka mulutnya takut ada ilernya keluar.


"Minggir! Aku mau mandi sebelum pulang kerumah," ucap Leon sambil membuka sabuknya. "Tapi kalau kamu mau mandi berdua denganku itu akan lebih baik lagi," seringai Leon saat menarik sabuknya.


Ptak


"Ah..."


Kening Jesselyn membentur pintu kamar mandi saat akan berlari keluar.


Hahaha....


Leon tertawa namun dengan sigap ia mengatupkan mulutnya saat gadis itu menatapnya tajam.


Tiga puluh menit kemudian Leon sudah keluar dari kamar mandi dengan berpakaian. Hanya kemeja saja yang tidak ia pakai.


"Ini" Leon melempar kemejanya tadi pada Jesselyn dan memakai jaketnya.


"Biar tidurmu nyenyak malam ini!" ucap Leon lalu mengecup pipi sang gadis.


"Apa kakak akan pulang" tanya Jesselyn ragu.


"Iya. Aku takut kalau aku tidak pulang malam ini, sampai besok siang mungkin kita masih akan berada dalam selimut yang sama.


"Maksud kakak?"


"Sudahlah, kamu akan tahu kalau sudah waktunya nanti."


Leon membuka pintu dan melangkah keluar namun Jesselyn mencegatnya dengan menarik lengannya.


"Kakak akan langsung pulang kerumah kan? Kakak ngak akan singgah kemana-mana lagi dan ngak akan jumpa teman lagi kan?" tanya Jesselyn bertubi-tubi.


"Kamu kenapa?" Leon mengerutkan keningnya karena tidak biasanya Jesselyn bersikap seperti itu. "Kamu pikir aku mau kemana lagi malam-malam begini, hem?" Leon mengusap pipi lembut gadisnya.


"Kakak harus janji langsung pulang kerumah dan tidur," Jesselyn menautkan kelingking Leon pada anak jarinya. "Kakak ngak boleh kemana-mana lagi apalagi ketemu dengannya," ucap Jesselyn dalam hatinya.


Leon tersenyum dan entah mengapa ia sangat menyukai sikap Jesselyn yang seperti itu. Dibelainya rambut hitam gadis itu dengan lembut dan menarik pelan hidungnya.


Setelah Leon pergi Jesselyn langsung mandi dan merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil memeluk kemeja berwarna biru pastel milik Leon. Tidak butuh waktu lama sekitar lima belas menit kemudian ia sudah terlelap bersatu dengan alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2