
Malam hari sebelum Jesselyn masuk kampus ia sudah mempersiapkan segala keperluannya, termasuk atribut ospek yang harus dibawa selama tiga hari. Kemarin pagi ia diantar Bagas ke kampusnya untuk mengikuti pengarahan mengenai hari pertama mereka saat dikampus.
Banyak yang harus dipersiapkan mulai dari sepatu hitam dengan tali rapia, karung beras ukuran sepuluh kilo bertali senada dengan tali rapia pada sepatunya untuk dijadikan sebagai tas sandang, tanda pengenal atau identitas diri pada karton, topi kerucut dari karton, satu papan petai sebagai kalung dileher, kaleng minuman bekas berisi tiga kelereng untuk diikat di pinggang dan rambut dikuncir sesuai bulan kelahiran. Banyak sekali yang harus Jesselyn persiapkan untuk besok, tapi berkat bantuan Bagas dan Lena semuanya dapat terselesaikan.
"Persiapan buat besok sudah bereskan Jes? Jangan sampai ada yang kelupaan, nanti bisa-bisa kamu kena hukuman sama panitia ospek," Bagas memperingatkan Jesselyn agar janahn sampai ada lagi yang kelupaan. Ia berharap semua berjalan lancar bagi Jesselyn.
"Sudah om!"
"Enak aja main hukum sebarangan, tenang aja sayang kamu bakalan baik-baik aja selama ospek. Seandainya kamu melakukan kesalahan kamu ngak bakalan dapat hukuman kok, percaya sama tante," sanggah kena denagn ekor mata yang melirik Leon yang juga sedang melihat kearahnya.
"Kalau memang karena kesalahan sendiri dan keteledoran sendiri bukannya memang sudah seharusnya dapat hukuman?"
"Kan masih bisa lewat teguran, pa?" protes Lena tak setuju dengan suaminya.
"Mudah-mudahan besok kamu dapat kakak pandu yang baik hati."
"Semoga om. Doain Jesselyn ya om-tante?"
"Kita selalu doain dan berharap yang terbaik buat kamu selalu sayang, iya kan pa?"
"Benar kata tante kamu Jes, jadi mulai sekarang kalau ada apa-apa kamu harus cerita sama om-tante, oke?"
"Baik om-tante"
"Harus cerita jika ada yang menyulitkan kamu, sekalipun itu anak om, paham?" lagi-lagi Leon mendapat tatapan yang mematikan dan kali ini dari papanya sendiri.
Merasa jengah dengan omongan papanya, Leon yang sedari tadi asik menonton acara sepak bola memilih untuk masuk ke kamarnya. Dia juga butuh istirahat untuk kegiatan kampus besok.
Bagas dan Lena yang melihatnya hanya bisa terdiam dan saling bertukar pandang.
"Sudah hampir pukul sepuluh malam, lebih baik kamu istirahat biar besok pagi ngak telat dan badan kamu fit."
"Iya tante, Jesselyn juga sudah mulai ngantuk. Jesselyn juga capek seharian nyiapain persiapan buat besok," meskipun barang-barang yang akan digunakannya besok sangat mudah mendapatkannya, namun waktu yang disita cukup lumayan untuk menyelesaikan semuanya.
"Ya sudah kamu masuk ke kamar sana. Tante masih mau nonton dulu, belum ngantuk soalnya. Kasihan juga kalau om harus nonton bola sendiri, Leon da keburu masuk kamar."
"Kalau gitu aku istirahat deluan ya om-tante?"
"Mimpi indah ya sayang" ucap Lena saat Jesselyn menaiki tangga.
Saat melewati kamar Leon yang pintunya setengah terbuka, Jesselyn langsung menutup matanya dengan kedua tangannya dan mengeluarkan suara orang terkejut namun dengan nada yang pelan.
"Hakh...kak Leon?" bukannya lari Jesselyn justru mematung di depan kamarnya Leon. Ia begitu terkejut melihat penampilan Leon yang hanya mengenakan celana pendek sedikit di atas lutut tanpa memakai baju. Menampilkan dada putih dan mulus Leon.
Leon yang mendengar suara terkejut Jesselyn langsung memakai kaosnya dan keluar menghampiri Jesselyn yang masih berdiri dengan tangan menutup matanya.
"Masuk!" Leon menarik Jesselyn kedalam kamarnya. "Kamu lihat apa?"
"Maaf kak, aku ngak sengaja tadi. Maaf kak?" Jesselyn ketakutan membayangkan Leon akan memarahinya.
"Kamu kira aku hantu sampai tutup mata segala, hah?" Leon menghardik Jesselyn yang semakin gemetaran.
"Bukan gitu kak," suara Jesselyn semakin kuat karena merasa gugup tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Brukk
Leon menarik Jesselyn mendekat padanya hingga dada mereka bertabrakan.
"Aw! Sakit kak?" erang Jesselyn akibat rasa sakit didadanya.
"Diam! Pelanin suara kamu nanti mama dengar?" menutup mulut gadis tersebut dengan telapak tangan kanannya.
"I..iya kak, jangan marah tapi ya? Aku ngak sengaja, makanya pintu kamarnya ditutup lain kali kak."
"Kenapa jadi ngatur, hah? Mau pintunya aku buku atau aku tutup itu urusan aku. Kamu siapa ngatur aku? Jangan-jangan kamu sering ngintip lagi, iyakan?"
"Ngak pernah kak" Jesselyn yang memang tidak pernah mengintipnya langsung menyanggah ucapan Leon.
"Keluar! Awas kalau ngintip lagi." Leon mendorong Jesselyn keluar dari kamarnya karena melihat wajah Jesselyn yang memucat.
"Tapi kak, itu...?" Jesselyn menunjuk kalung yang dipakai Leon.
"Apa?" Leon bertanya dengan memelototkan matanya pada Jesselyn.
"Itu cincinnya balikin ke aku kak, itu pemberian tante buat aku."
"Ini punyaku, sejak kapan jadi punyamu?" tolak Leon.
"Itu punya Jesselyn kak yang aku kasih ke kak Bela dulu dan kakak pasti minta balik ke kak Bela, iya kan?"
"Kalau pemberian mama kenapa kamu kasih keorang lain? Sekarang main minta gitu aja," Leon berdecak pinggang di depan pintu kamarnya.
"Kak Bela kan bukan orang lain, dia pacarnya kak Leon?"
"Paham kak" menganggukan kepalanya tak ingin berdebat. "Cincinnya, kak?" Jessely menyodorkan tangannya terbuka untuk meminta cincinnya.
"Ngak segampang itu"
"Kalau gitu aku bilangin tante," ancam Jesselyn dengan keberanian yang tidak tahu dari mana datangnya.
"Silahkan aja, yang ada mama bakal marah karena pemberianya dikasih ke orang lain dengan asal. Sana kasih tahu mama, cepat sana...atau aku aja yang masih tahu mama, mau?"
"Ja.. jangan kak"
"Bagus, sekarang lebih baik masuk kamar kamu dan tidur!"
"Baik kak. Oh iya, soal...."
"Apalagi sih?" Leon memotong kalimat Jesselyn yang belum juga pergi dari hadapannya.
"Apaan?"
"Handphone yang kakak kasih dulu masih ada dilaci meja belajar aku kak."
"Kasih ke orang lain, buang atau bakar aja sekalian. Terserah dan ngak peduli!" Leon menggigit giginya emosi. Ia mendorong tubuh Jesselyn dan masuk ke kedalam dengan membanting pintu kamarnya.
Jesselyn begitu terkejut mendengar suara dentaman pintu kamar Leon dan berlari menuju kamarnya. Ia tidak ingin diamuk Leon karena mendapati dirinya masih berdiri di depan pintu kamar Leon jika seandainya keluar tiba-tiba.
__ADS_1
Bagas dan Lena yang sedang asik menyaksikan pertandingan sepak bola pun terkejut mendengar suara bantingan pintu dari lantai atas. Lena hanya mengelus dadanya sambil melihat suaminya.
"Pa?"
"Sabar ma, biarin aja mereka dulu. Mereka sudah besar dan harus bisa menyelesaikan masalah mereka tanpa kita harus ikut campur. Anggap aja mama lagi nonton sinetron yang tayangnya live. Hahaha..."
"Papa ada-ada aja, mama ngak khawatir sama leon tapi sama Jesselyn. Kalau Leon mempersulit dia gimana? Atau bisa jadi Leon kasar sama Jesselyn waktu kita ngak lihat." Lena begitu cemas karena sikap Leon terhadap Jesselyn.
"Ngak akan ma, percaya sama papa?"
"Yakin dari mana sih pa?"
"Leon ngak akan ngapa-ngapain Jesselyn kesayangan mama, yang ada dia bakalan jagain." Lena memandang tak percaya pada suaminya.
"Itu namanya impossible, pa. Tidak mungkin! Sikapnya aja cuek dan dingin."
"Cuek dan dingin itukan omongannya, beda dengan matanya?"
"Emang kenapa dengan matanya?"
"Heh......anak sendiri tapi ngak paham"
"Makanya papa ngomongnya yang jelas sama mama jangan main tebak-tebakan."
"Kalau gitu mulai besok mama perhatiin aja Leon waktu ada Jesselyn. Dengan catatan merhatiinnya biasa aja, jangan sampai ketahuan."
"Ya sudah besok mama perhatiin, emang ada apaan sih?" Lena penasaran dengan apa yang akan ia lihat dan tidak sabar menunggu besok pagi.
"Papa istirahat aja ma, besok mau nganterin kesayangan mama ke kampus."
"Dia kekampusnya biar sama dengan..." ucapannya terhenti karena langsung dipotong Bagas.
"Biar papa aja dulu ma yang ngantarin. Sabar ma jangan dipaksain, oke?"
"Oke deh, pa." Lena menganggukan kepalanya mengerti maksud perkataan suaminya.
"Mama juga istirahat da malam."
"Mama mau disini dulu sebentar lagi pa, siapa tahu ada sinetron live lagi," Lena tersenyum, ia meraih remot dari tangan suaminya dan mengganti siaran bola dengan sinetron kesukaannya.
"Apaan sih ma, ayok istirahat. Pemainnya juga butuh istirahat biar semangat saat tampil," canda Bagas pada istrinya.
Dikamarnya Leon berdiri menatap kearah halaman rumah dari atas balkon. Ia memegang cincin yang ada dikalungnya selama setahun ini dan melihat cincin yang ada dijarinya.
Ia menghembuskan nafasnya panjang dan mencium cincin yang ia pegang.
Saat memasukkan kalungnya kedalam baju,ia melihat tubuhnya melalui lobang leher bajunya dan tersenyum sendiri.
"Bagus" ucap Leon dan merapikan bajunya.
Dikamar satunya lagi Jesselyn begitu senang karena ia akan menjadi seorang mahasiswi mulai besok. Ia tidak sabar menunggu besok pagi dan berharap bisa mendapat teman baru yang baik seperti Neta dan Dela.
Jika dulu Jesselyn tidak memberitahu sahabat-sahabatnya saat pertama kali ke Jakarta maka kali ini mereka sudah mengetahuinya dan mendukung Jesselyn sepenuh hati untuk melanjutkan sekolahnya.
__ADS_1
Setiap hari mereka selalu berkomunikasi lewat grup persahabatan mereka dan saling menceritakan kegiatan, hal-hal yang mereka lakukan dan kejadian-kejadian yang mereka alami.
^^^Terimakasih atas kunjungan kalian semua. Jangan lupa untuk tetap support cerita ini dengan memberikan like dan komentar yang membangun. Terimakasih semuanya ❤️❤️❤️❤️^^^