Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
I Want...


__ADS_3

Gadis itu menggeliat, entah apa yang dimimpikannya hingga ia tersenyum dengan mata yang masih tertutup.


Dirabanya tempat tidur disebelahnya namun tidak ada apa-apa disana selain selimut yang membungkus tubuhnya.


"Kak Leon," panggilnya pelan dengan mata mengitari seluruh sudut kamar.


Jesselyn beranjak dari tempat tidur saat mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Ingatannya kembali pada kejadian dihari sebelumnya.


"Kak Leon," panggilnya lagi dan langsung membuka pintu kamar mandi.


Kosong. Leon tak ada disana. Dilihatnya jam dinding sudah hampir menunjukkan pukul satu siang, ia melangkah keluar berpikiran mungkin saat ini semua orang sedang berada dimeja makan untuk makan siang.


Benar saja saat ia turun dari lantai atas ia langsung melihat semua anggota keluarga berada dimeja makan menikmati makan siang, tidak hanya itu semuanya terlihat begitu serius mendiskusikan sesuatu namun Jesselyn tidak tahu akan apa sebab ketika ia akan ikut bergabung semuanya diam seketika. Tidak ada percakapan lagi selain suara alat-alat makan.


Dari tempat duduknya Jesselyn melirik satu per satu orang yang ada disana, tak terkecuali oma yang duduk di sebelah kanan Leon. Oma menatap tajam saat beradu pandang dengan Jesselyn sambil mengunyah kuat-kuat makanan dimulutnya.


Jesselyn langsung menelan liurnya dan menunduk takut seolah oma sedang memburunya sebagai mangsa.


"Ayo, kamu makan yang banyak sayang biar kamu juga kuat dan sehat," ucap Lena memecahkan ketegangan Jesselyn sedangkan Mira ibunya hanya terus memandanginya tanpa mengatakan sesuatu.


"Iya tante. Makasih."


Jesselyn mulai menyantap hidangan di depannya. Matanya kini tertuju pada Leon yang hampir menyelesaikan makanannya.


Buru-buru Jesselyn menyendok makanan kemulutnya. Bagai sedang kelaparan Jesselyn melahap cepat makanannya. Segelas air putih pun habis dibuatnya.


"Makasih, Jesselyn sudah kenyang, mau ke atas dulu,"ucap Jesselyn yang langsung ngacir ke lantai atas.


Semuanya hanya tersenyum menyaksikan tingkah Jesselyn, termasuk Leon yang juga sudah menyelesaikan makannya.


"Leon istirahat ya," ucap Leon sambil berdiri.


"Ya sudah, kamu istirahat ya biar kamu cepat pulih. Perban kamu nanti mama ganti setelah selesai makan ya," ucap Lena.


"Ngak usah ma, Leon bisa sendiri. Gampang kok, ngak susah."


"Tapi nak, tangan kamu masih..."


"Ma, please?" ucap Leon memotong perkataan mamanya.


Lena tak dapat berbuat apa lagi selain menuruti keinginan anaknya.


****


"Kamu?"


Baru saja Leon membuka pintu ia langsung dikejutkan dengan keberadaan Jesselyn yang sudah berdiri di depan pintu. Dengan mengembangkan senyumnya Jesselyn membawa Leon kedalam kamar dan mendudukkannya di atas ranjang.


"Kamu ngapain disini?" tanya Leon bersikap biasa-biasa saja.


Masih dengan senyumnya Jesselyn hanya menggelengkan kepalanya. Duduk disamping Leon dan memandanginya lekat.


Dalam suasana yang sedikit canggung Leon membuka laci dekat tempat tidurnya, mengeluarkan sebuah tas kecil berisi alat-alat untuk mengganti perban di pergelangannya.

__ADS_1


"Mau apa?"


"Biar aku aja kak yang ganti perbannya."


"Aku bisa sendiri," ucap Leon menepis tangan Jesselyn.


Jesselyn terkejut saat tangannya ditepis oleh Leon. Nyalinya sedikit menciut, sungguh ia takut jika Leon kembali pada sifatnya saat seperti pertama kali bertemu dulu.


Hampir saja ia menangis namun sekuat tenaga ia berusaha untuk menahannya. Melihat Leon yang sudah mulai membuka perban ditangan dan mengalami kesulitan, Jesselyn langsung merebut perban pengganti yang juga dipegang Leon dan memasukkannya dalam saku celana yang dipakai Jesselyn.


"Kamu?" ucap Leon terperangah.


"Kenapa?" ucap Jesselyn seolah menantang dengan membusungkan dadanya dan mata melotot sedangkan dalam hatinya ia begitu ketakutan dengan apa yang ia lakukan.


"Come on, balikin perbannya, please?" pinta Leon memohon.


"Ngak. You are free now, itukan yang kemarin kak Leon bilang ke aku, berarti aku bebaskan mau ngelakuin apapun sekarang," ucap Jesselyn yakin.


"Yes, you're free now. Sorry!"


Baru saja Leon memutar tubuhnya membelakangi Jesselyn tiba-tiba tangan Jesselyn melingkar di pinggangnya. Memeluknya dari belakang dengan erat.


Hap!


"Kamu ngapain?"


"Bukannya aku bebas ngelakuin apa aja ya, berarti aku bebas juga kan buat meluk kakak?"


Cukup lama mereka dengan posisi Jesselyn memeluk Leon dari belakang. Leon yang kemarin merasa jika harinya telah usai kini merasa bahagia.


"Please?" ucap Leon mengulurkan tangannya, menunjuk pergelangan tangannya yang ingin diganti perban.


Jesselyn menggagguk seraya tersenyum, membawa prianya itu untuk duduk di tepi ranjang. Perlahan Jesselyn mulai membuka perban yang akan diganti dengan yang baru.


Tak sedetikpun terlewatkan oleh Leon setiap pergerakan Jesselyn bahkan Leon tidak membiarkan tangannya yang satu lagi menganggur.


Sebelah tangannya bekerja mulai dari mengusap kepala dan membelai rambut indah perempuan di hadapannya. Menelusuri setiap inci dan sudut wajah manis dan imut yang sudah berhasil merongrong kerasnya hati Leon yang dahulu.


Begitu cekatan Jesselyn mengganti perban hingga tak butuh waktu lama baginya untuk melakukannya.


"I want..." ucap Leon menggantung saat jempolnya mendarat pada bibir Jesselyn.


Jesselyn menunduk sambil tersenyum mendengar apa yang diucapkan Leon.


Secepat kilat Jesselyn mendaratkan bibirnya di kedua pipi Leon.


"Just it?" tanya Leon dengan mengedipkan sebelah matanya.


Senyum diwajah gadis itu kembali mengembang, ia tahu apa yang dimaksud Leon.


Menggunakan jari telunjuknya Leon memukul-mukul bibirnya yang sengaja ia majukan.


Kini keduanya saling melempar senyuman satu sama lain. Entah apa yang dirasakan Jesselyn hingga ia merasa begitu geli dengan situasi yang ada.

__ADS_1


Jesselyn menggelengkan kepalanya namun tidak seirama dengan gerakannya yang justru semakin mendekat pada Leon dan mendekatkan wajahnya hingga nafas mereka saling bertegur sapa. Ia kembali menggeliat geli saat menangkup wajah pria dihadapannya yang tak melepas tatapannya.


Leon menarik pinggang Jesselyn hingga terjatuh diatas pangkuannya.


"Really love you," ucap Leon tersenyum.


"Idem!" balas Jesselyn singkat.


"No, say that you love me," pinta Leon.


"Jesselyn loves kak Leon," bisik Jesselyn hingga Leon berdesir saat merasakan hembusan nafas gadis itu menggelitik area telinganya.


Dua wajah anak manusia yang tadinya saling melempar senyuman kini berubah menjadi lebih serius. Kedua bibir mereka semakin mendekat untuk bersatu merasakan hangatnya kasih yang belakangan ini tidak mereka rasakan.


Bersamaan keduanya menutup mata dan siap untuk memberikan jejak pada satu sama lainnya.


Brakkk...


"Hakh! kalian mau ngapain?" pekik oma dari ambang pintu.


"Oma?"


Tak kalah kaget dari oma, baik Jesselyn maupun Leon sama-sama menjauhkan posisi mereka.


"Katakan, si-siapa yang mulai lebih dulu, ayo katakan siapa?" cecar oma berkacak pinggang menghampiri keduanya.


"Dia oma," jawab Leon santai menunjuk Jesselyn.


"Sudah kuduga, kau memang rubah cantik yang licik dan jahat."


"Apa? Bukan gitu oma, Jesselyn cuman ngelakuin apa yang diminta kak Leon."


Leon menggelengkan kepalanya membantah apa yang diucapkan oleh Jesselyn.


"Sudahlah- sudah. Kepalaku pusing selalu karena kalian berdua," ucap oma memegang leher belakangnya sambil memijit-mijitnya pelan.


"Kau, jangan lakukan hal-hal aneh pada rubah ini dan jangan mengajarinya bahkan memintanya melakukan apa yang ada dalam pikiranmu saat ini," tegas oma pada Leon namun ditanggapi biasa saja olenya.


"Dan kau, apa kau akan melakukan apa saja yang dia minta, hah?"


Kini gantian Jesselyn yang mendapat ceramah dari oma. Berbeda dengan Leon, Jesselyn justru menciut, bergidik ngeri melihat oma berbicara tepat dihadapannya.


"Maaf oma?"


"Sudahlah, sekarang ikut aku."


Jesselyn mengekori oma berjalan dibelakang. Ia tidak ingin membantah wanita tua itu karena takut dengan ancaman yang selalu diucapkannya. Ancaman yang akan mencari gadis lain dan menikahkan Leon dengan gadis tersebut.


"Masuk!" perintah oma pada Jesselyn saat tiba di depan kamar gadis itu.


Klek..


"Oma, kenapa pintu kamarnya dikunci dari luar? Buka pintunya oma," teriak Jesselyn dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Diam dan istirahatlah. Kau tidak boleh kemanapun. Kalau sudah waktunya kau pasti akan keluar dari kamarmu."


__ADS_2