
...Lama aku menantinya,...
...Kini terasa dihati terdalam,...
...Saat cinta datang,...
...Saat cinta terasa dihati,...
...Mengapa kesalahan yang justru kuperbuat?...
...Mengapa saat cinta hadir hati jadi tak menentu,...
...Perasaan ini membuatku seakan tak layak memilikinya....
...~ Leon ~...
...Tertoreh hatiku menemukan sinar hatimu. Kadang kau benar-benar memberi harapan namun kau pun dapat memberi banyak keraguan....
...~ Jesselyn ~...
Pagi-pagi sekali sepasang anak muda membelah dinginnya jalanan ibu kota. Dinginnya udara pagi menambah kebekuan diantara keduanya yang tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.
Satu jam yang lalu masih dalam keadaan terlelap gadis itu dibangunkan oleh nafas yang begitu hangat dan menggelitik ditelinganya. Ia mengerjap, mengumpulkan kesadarannya, menyatukan puing-puing kejadian yang samar-samar ia ingat.
Baru setelah ia kembali kealam sadarnya, refleks ia mengangkat tubuhnya namun berat yang ia rasa. Seluruh tubuhnya terkunci rapat.
"Kamu sudah bangun?" suara yang begitu dikenalnya kembali membawanya pada kejadian paling menakutkan setelah kepergian ayahnya belasan tahun yang lalu.
Jesselyn mencoba untuk bangun dari tidurnya namun tangan yang semalam begitu mudahnya melucuti pakaiannya menahan pergerakannya.
Dalam dekapan yang begitu hangat namun masih memberinya rasa takut Jesselyn menggigit-gigit kuku jempolnya.
Cup
"Ayo, aku antar kamu pulang."
Leon melepas pelukannya dan turun dari ranjang. Ia membasuh wajahnya dikamar mandi. Satu persatu dipungutnya pakaian yang berserakan dilantai. Dipakainya apa yang menjadi miliknya.
__ADS_1
Leon mendekati ranjang dan memberikan pakaian milik gadis itu. Gadis itu masih meringkuk dalam selimutnya.
Ragu-ragu Jesselyn meraih kemeja yang semalam dengan begitu mudahnya Leon tanggalkan.
"Pakailah"
Secepat kilat Jesselyn berlari kedalam kamar mandi untuk membenarkan pakaian dan wajahnya yang sama kusutnya dengan selimut ditubuhnya. Jesselyn keluar, berjalan begitu hati-hati, kedua tangannya memegang erat bagian kancing kemejanya.
Deg
Jesselyn melangkah mundur saat Leon berjalan kearahnya. Maniknya menangkap jari-jari pemuda itu kembali membuka satu persatu kancing kemejanya, lagi-lagi banyangan kejadian semalam menghantui pikirannya.
"Lepas pakaianmu," pinta Leon dengan lembut.
"Eng-enggak!" jawab gadis itu tanpa berpikir.
Sekuat tenaga Leon melepas tangan gadis itu dari kemejanya. Leon menanggalkan pakaian atas itu dan melemparkannya dalam tong sampah.
"Pakai punyaku saja, punyamu tidak bisa dikancing lagi."
Seperti seorang anak kecil, Leon membantu Jesselyn memakaikan kemejanya pada gadis yang begitu tegang itu.
Gadis itu terus saja mematung, membeku dalam diam, begitu enggan menanggapi semua pertanyaan untuknya. Leon menyibakkan rambut yang begitu berantakan dan merapikan hingga refleks siempunya menutup mata.
Bersusah payah Leon mengambil kunci yang ia lemparkan ke bawah kolong tempat tidur. Tak disangka ulahnya itu membuatnya begitu kewalahan hingga terpaksa harus menggeser posisi tempat tidur yang cukup besar dan tentunya begitu berat.
"Ayo" ajak Leon meraih tangan Jesselyn dan membawanya keluar dari kamar hotel. Kamar yang menjadi saksi bisu akan kegilaan Leon dan ketidak berdayaan Jesselyn.
****
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian dikamar hotel. Tak ada yang berbeda kecuali komunikasi yang minim diantara keduanya meskipun setiap harinya mereka semakin banyak bertemu.
Setiap pagi Leon akan membawa sarapan dan memakannya bersama dengan sang gadis, mengantarnya ke kampus, dengan penuh kesabaran ia akan menunggui Jesselyn hingga selesai bekerja di Rainbow Cafe dan mengantarnya pulang ke kontrakan.
Lena pun tidak dapat menahan dan melarang Jesselyn bekerja setelah ia diberitahu oleh Jesselyn. Lena hanya berpesan agar pekerjaan yang dilakukan tidak sampai mengganggu kuliahnya.
Saat akhir pekan setelah selesai bekerja Leon akan membawa pulang Jesselyn kerumah orangtuanya yang juga merupakan salah satu syarat baginya untuk tetap bisa bekerja.
__ADS_1
Dua minggu berlalu begitu cepat bagi Jesselyn namun lama bagi seseorang yang begitu merindukan gadis yang ia jumpai setiap harinya.
****
Malam ini Leon pergi bersama motornya untuk menjemput gadisnya yang tengah sibuk di Rainbow Cafe. Leon melirik jam tangannya, masih pukul tujuh malam itu tandanya waktu kerja gadisnya masih ada sekitar tiga jam lagi.
Bagai seorang tamu yang datang Leon langsung memesan makanan dan minuman yang tercantum dalam daftar menu. Menunggu pesannya datang kedua bola matanya menyapu seluruh ruangan yang tampak begitu ramai, mencari gadis yang menjadi alasannya datang ke cafe itu.
Disana, pada salah satu meja gadis itu sedang menulis pesanan yang tampak seperti suami istri dengan mengulas senyuman ramah diwajahnya. Pandangan Leon tak lepas dari setiap apa yang dilakukan gadis tersebut.
"Lo lihat ngak cowok yang duduk dimeja sudut sana, ganteng banget deh pengen gue bungkus buat dibawa pulang," ucap Lilis yang juga salah satu pelayan di Rainbow Cafe.
Sinta mencari keberadaan orang yang dimaksud dan menemukan keberadaannya. Sesaat kemudian ia mencari keberadaan Jesselyn dan ternyata gadis itu berdiri tak jauh darinya menunggu pesanan tamu yang akan ia antar.
"Sudah ada yang punya Lis," ucap Sinta sambil membenarkan ikatan rambutnya.
"Tahu dari mana? Emang lo kenal dia?"
"Kenal. Itu yang punya," tunjuknya pada Jesselyn.
Lilis seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Sinta dan melanjutkan pekerjaannya.
Pukul sepuluh malam Jesselyn akhirnya selesai bekerja. Saat keluar dari cafe ia mendapati Leon sudah menunggunya. Meskipun selama dua minggu ini Jesselyn tidak banyak bicara namun Leon tetap menungguinya hingga selesai bekerja.
"Kamu sudah selesai?" tanya Leon saat gadis itu menghampirinya. Jesselyn mengganggukkan kepalanya dan membiarkan Leon memasangkan helm dikepalanya. Sebelum melajukan motornya Leon meraih kedua tangan Jesselyn, melingkarkan tangan itu ke pinggangnya.
Deg
Entah karena keinginan sendiri atau tanpa disadari, Leon begitu senang saat gadis diboncengannya semakin mengeratkan lingkaran tangannya. Menjatuhkan kepalanya diatas pundak Leon.
Sambil menitikkan air mata Leon menangkup tangan mungil gadis itu dengan sebelah tangannya. Sengaja Leon memperlambat laju motornya agar kebersamaan mereka malam ini lebih lama lagi. Tanpa sepengetahuannya gadis dibelakangnya pun ikut menjatuhkan butiran-butiran bening.
Tiba di depan kontrakan Jesselyn langsung masuk setelah melepas helmnya tanpa mengatakan apapun pada Leon, sama seperti yang ia lakukan selama dua minggu ini.
Ada banyak yang ingin dikatakan Leon namun ia mencoba tidak egois yang justru akan membuat gadis itu semakin menjauh darinya. Ia memutuskan akan menunggu hati gadis itu yang akan datang dengan sendirinya padanya bukan karena dipaksa. Dan selama ia menunggu hati gadis itu ia akan terus belajar menjadi seorang pria yang baik dan layak untuk gadis pemilik hatinya.
"Selamat malam dan mimpi indah."
__ADS_1
Leon memutar motornya kembali kerumah namun kali ini ada sedikit kelegaan dan secercah harapan dihatinya saat mengingat apa yang dilakukan Jesselyn saat diboncengan tadi.
"Hati-hati kak," ucap Jesselyn saat mendengar suara motor Leon berlalu meninggalkan kontrakannya.