
Seorang pria meremas ponsel yang ia arahkan ke dekat telinganya. Ia menutup mata dan menghembuskan nafasnya kasar mendengar apa yang disampaikan seorang pelayan wanita padanya.
"Berhenti memberitahuku tentang anak itu. Cukup awasi dia dan jangan sampai dia meninggalkan rumah hingga aku kembali."
Leo mematikan sambunga telponnya, ia kembali fokus pada laptop dan file-file dimejanya. Ia terlihat begitu serius namun tak lama kemudian ia membanting laptopnya, menggebrak meja dan melempar ponselnya hingga hancur berserakan.
****
"So, kita kemana nih?" Ilham yang mengambil alih setir kemudi menanyakan tujuan mereka malam ini.
"Bioskop! Bioskop xxxxx," seru Nadya.
"Bioskop? Ngak ada tempat lain lagi?" tanya Ilham.
"Ceritanya kita kan lagi ngedate, double date gitu loh sayang. Seperti anak muda gitu loh...."
Jesselyn senyum-senyum disamping Leon. Tangannya digenggam erat suaminya dan meletakkannya diatas paha.
Tak lama mereka tiba di depan bioskop. Nadya membeli tiket dan meminta Ilham membeli popcorn dan minuman ringan.
"Tara..." Nadya menunjukkan enam tiket bioskop ditangannya, memperlihatkannya pada Jesselyn dan Leon.
"Kenapa tiketnya ada enam, kita cuman berempat," ucap Jesselyn.
"Siapa bilang? Orang kita nontonnya berenam kok. Tunggu aja, bentar lagi dua orang pasti nongol."
Mereka berempat menunggu orang yang dimaksud Nadya di luar bioskop. Sudah dua puluh menit mereka menunggu namun yang ditunggu tak kunjung tiba hingga membuat Leon kesal. Dia sudah tidak sabar lagi apalagi harus berdiri lama-lama untuk menunggu orang yang tidak ia tahu siapa.
Nadya melirik ke arah Leon dan ia cukup paham dengan sifat kakaknya yang tidak sabaran menunggu. Nadya mengetik pesan dan mengirimkannya pada seseorang.
"Bodoh amat! Kita masuk duluan sayang." Leon mengambil dua tiket dari tangan Nadya dan mengandeng tangan Jesselyn, membawanya ke dalam bioskop.
Ilham yang juga sudah lelah berdiri langsung mengikuti langkah Jesselyn dan Leon memasuki bioskop.
"Ayo, kamu mau jadi manekin disini? Kita nungguin di dalam aja. Di dalam nungguin dia yang entah siapapun itu orang yang aku ngak kenal."
Nadya mendengus kesal dan ikut menyusul ke dalam. Seharusnya orang yang ditunggu-tunggu sudah tiba saat mereka juga tiba namun entah mengapa belum muncul juga sedangkan film yang mereka akan tonton sudah akan mulai diputar.
Mereka duduk pada baris yang sama dan tersisa dua kursi kosong di tengah, diantara Leon dan Ilham. Leon menatap dua kursi kosong tersebut dengan tatapan tak suka.
Bioskop berubah menjadi gelap karena film sudah mulai di tayangkan. Suasana seketika hening dan hanya terdengar suara dari para pemeran dalam film yang mereka tonton.
Film barat dengan genre komedi romantis adalah pilihan mereka, tepatnya pilihan Nadya karena dialah orang yang membeli tiket tadi.
"Ih... kamu ngapain sih dempet-dempet ke aku, ngak malu dilihatin Nadya dan suaminya?" Jesselyn mendorong bahu Leon yang menempel dibahunya.
"Ngak romantis banget sih kamu sayang. Kita suami istri jadi ngak masalah dan buat apa malu, kecuali kalau kita itu bukan pasangan suami istri atau kalau kita itu pasangan selingkuh."
"Tapi tetap aja kak, aku ngak nyaman sama mereka."
__ADS_1
Leon melirik kerah Ilham dan Nadya, ternyata keduanya terlihat begitu mesra, bergandengan tangan dan Nadya bersandar di bahu suaminya.
"Lihat tuh, mereka aja ngak malu. Anggap aja mereka ngak ada, oke?" Leon menaik-turunkan alisnya.
"Aku ngak nyaman dan geli kak kalau banyak orang-orang."
Leon tersenyum dan mendekatkan wajahnya de telingan Jesselyn.
"Iya, kamu hanya nyaman kalau hanya ada kita berdua. Nanti setelah ini kita nginap di hotel aja, ngak usah pulang kerumah malam ini," bisik Leon.
Aw...!
Leon tersentak saat pahanya dicubit Jesselyn, mengalihkan pandangan semua orang padanya namun hanya ia tanggapi biasa-biasa saja.
"Kalau gitu kamu aja yang kemari." Leon meraih tangan Jesselyn dan menangkup wajahnya, menyandarkan kepalanya pada bahu miliknya.
Jesselyn menurut saja karena tidak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang saat dia menolak keinginan suaminya. Lama-kelamaan Jesselyn mengantuk dan tertidur dengan posisi memeluk Leon.
"Kamu pasti capek banget," ucap Leon sambil membenarkan rambut yang menutupi wajah Jesselyn. Ia mengelus-elus pipi Jesselyn dan sedikit menunduk mendekatkan wajahnya hingga ia mencapai bibir yang tak akan pernah bosan untuk ia nikmati.
Leon mengecup singkat bibir Jesselyn, ia memandangi bibir itu dan kembali menciumnya dengan begitu lembut.
Terusik karena ciuman Leon, akhirnya Jesselyn membuka matanya tanpa bergerak.
"Shttt... Kamu sedang tidur dan ini hanya mimpi."
Leon kembali mengucapkan kalimat yang dulu juga pernah keluar dari mulutnya.
Keduanya larut dan begitu terbuai hingga tidak menyadari dua orang menduduki dua kursi yang tadinya kosong. Saat akan duduk tadi pasangan itu terkejut melihat suguhan di depan mata mereka. Malu dengan apa yang ia lihat, si wanita langsung duduk dan memilih fokus pada film sedangkan si pria malah tersenyum sinis menyaksikan pemandangan yang menurutnya sangatlah salah tempat.
Pasangan itu adalah Adit dan Sinta yang kemarin dikirimi Nadya pesan untuk ikut bergabung bersama mereka malam ini.
"Ditempat umum aja lo bringas begini, gimana kalau dirumah?"
Adit berkata saat leon semakin memperdalam ciumannya dan menahan tangan Jesselyn yang hendak mendorong, menarik diri dari dekapan Leon yang semakin menggila.
Jesselyn terkejut, ia langsung membuka matanya lebar-lebar. Di dorongnya kuat dada agar menghentikan aksinya. Leon yang juga mendengar suara seseorang tengah mengatainya langsung memposisikan duduknya dengan benar meski dengan wajah masam.
"Asem bener muka lo, bro."
"Diem, lo. Ganggu banget sih, lo. Jadi kalian yang dari tadi ditungguin, gue kira siapa."
"Gue ganggu diwaktu yang tepat, Yon. Kalau lo sampai ngak bisa nahan diri disini gimina coba," ucap Adit tertawa kecil dengan maksud meledek Leon.
Hening. Semua pandangan mereka tertuju pada film di depan dan begitu menikmatinya. Dua puluh menit terakhir Adit teringat sesuatu dan ia tertawa kecil melihat kekiri dan kekanan.
"Berisik!" tegur Leon.
"Sorry, bro. Bukannya apa-apa Yon, gue cuman keingat kalau kita sudah pernah diposisi seperti saat ini dulu."
__ADS_1
"Maksud, lo?"
"Dulu kita juga pernah nonton bareng dan itu juga berenam. Sama seperti saat ini, hanya bedanya laki-lakinya berbeda satu orang. Sekarang ada ipar lo, suami Nadya sedangkan dulu ada...." Adit tidak melanjut perkatannya karena Sinta sudah terlebih dahulu menyumpal mulutnya dengan banyak popcorn.
"Jangan dibahas. Kamu mau teman kamu ngamuk dan ngeluarin taringnya karena kamu bawa-bawa saingan dia dulu?"
"Maaf sayang, aku lupa dan hampir saja gali kuburan sendiri. Untung ada kamu."
Adit melihat ke kiri dan ternyata Leon sudah menatapnya dengan mata elang yang siap untuk mencabik-cabik tubuhnya.
"Ngak usah emosi, bro. Lagian doi sudah jadi istri lo sekarang, milik lo buat selamanya dan jadi ibu dari anak-anak, lo. So, you are the winner."
Adit menepuk-nepuk bahu Leon dan mengacungkan kedua jari jempolnya di hadapan sahabatnya itu.
****
Usai dari bioskop ketiga pasangan tersebut singgah di salah satu cafe untuk mengisi perut dan mengobrol. Ilham yang baru pertama kali bertemu Sinta dan Adit pun sudah terlihat akrab.
Semuanya saling menceritakan kegiatan mereka sehari-hari, mulai dari pekerkerjaan, hobi dan dan lainnya. Sedangkan para wanita sibuk membahas anak-anak mereka, bahkan Sinta mendapat banyak masukan mengenai pernikahan sampai saat sudah memiliki anak. Jesselyn dan Nadya banyak memberi masukan pada Sinta karena bulan depan ia akan bersanding dengan Adit, mengikuti jejak Jesselyn dan Nadya membentuk keluarga kecil baru yang bahagia.
Mereka kembali mengingat dan menceritakan bagaimana awal pertemuan mereka satu dengan yang lainnya yang tentunya membuat memori-memori masa lalu kembali dibuka.
Senyum, tawa dan canda menghiasa meja yang berada disudut cafe yang mengarah ke jalan raya.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita dan akan bertemu siapa. Selalu ada alasan saat kita dipertemukan dengan seseorang dalam hidup kita.
Bahagia saat dapat bersama orang-orang yang kita sayangi. Bersyukur saat kita memiliki sebuah kesempatan.
****
Diatas ranjang besar, dalam balutan selimut putih, Leon dan Jesselyn menikmati pemandangan pantai yang terlihat dari dinding kaca kamar tempat mereka menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.
"Tetaplah seperti ini, menjadi Jesselyn apa adanya yang menjadi cintanya Leon." Leon mengecup kening Jesselyn yang berada dalam pelukannya. Wanitanya itu tersenyum menerima setiap sentuhan tangan Leon di pipinya.
"Dan menjadi Leon cintanya Jesselyn." Jesselyn sedikit mengangkat kepalanya, ia mengecup pipi Leon sedangkan tagannya menarik selimut untuk menutupi dadanya.
"You are mine," ucap Leon mendekap Jesselyn.
"You are mine too," balas Jesselyn menenggelamkan wajahnya pada dada Leon.
Jesselyn Anastasy, gadis biasa dengan kehidupan sederhana, gadis yang selalu mendapat kebahagian dari orang-orang di sekitarnya meski terkadang ada saat dimana dia harus menangis.
Gadis itu kini telah menjadi seorang wanita yang sangat bahagia meski ia tahu bahwa perjalan kedepannya pasti akan dihiasi drama-drama kehidupan yang aka membuat hidupnya semakin berwarna.
****
Tanpa permisi dua bocah berlari dan naik keatas ranjang. Keduanya menghambur ke dalam pelukan suami istri yang tersenyum menanti kedatangan mereka.
"Mama... Papa..."
__ADS_1
*❤️END❤️*