
"Cepat minum!"
"Buat apalagi lagi kak, semalamkan sudah?"
"Dan ini buat malam ini."
Jesselyn langsung menerima dan meminum dua buah pil yang kembali diberikan Leon sama seperti malam sebelumnya.
"Tidurlah!" ucap Leon tersenyum sembari mengusap kepala Jesselyn.
"Sebentar lagi kak, baru juga jam sembilan. Anak SD aja masih pada belom tidur jam segini," ucap Jesselyn sibuk memainkan ponselnya.
"Kamu memang bukan anak SD tapi akan menghasilkan anak SD sebentar lagi," ucap Leon mengambil ponsel dari tangan Jesselyn dan meletakkannya diatas meja disamping tempat tidur.
"Maksud kak Leon?" tanya Jesselyn tak mengerti maksud perkataan Leon.
"Sudahlah dan tidur sekarang. Oma hanya kasih waktu lima belas menit untuk aku masuk ke kamar kamu."
"Kak, maaf untuk besok."
"Memangnya ada apa dengan besok?"
Jesselyn menggelengkan kepalanya tak bersemangat. Sejak kejadian dikamar mandi saat Leon menyayat pergelangannya, Jesselyn sudah tidak berani memikirkan rencana pernikahan mereka yang akan diadakan besok hari. Ia tahu tidak mungkin melanjutkan pernikahan saat keadaan pergelangan Leon yang masih sakit apalagi sepertinya oma dan ibunya Jesselyn sendiri sepertinya membuat jarak antara dirinya dan Leon.
Terlebih tak ada seorangpun dari anggota keluarga yang pernah membahas bagaimana kelanjutan pernikahan mereka. Meskipun begitu sedih namun Jesselyn berusaha menutupinya dan masih berharap suatu hari nanti keadaan akan kembali berpihak padanya.
"Maafin aku kak, harusnya besok itu kita akan nikah tapi karena aku semuanya jadi rusak. Jesselyn minta maaf kak," ucap Jesselyn penuh rasa bersalah.
Jesselyn meraih kedua tangan Leon yang berdiri dihadapannya dan meletakkannya pada pipinya. Diciumnya satu persatu telapak tangan Leon dan tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi tangan Leon.
"Kenapa menangis? Semuanya akan baik-baik saja, oke?" ucap Leon yang kemudian berjongkok dan menghapus air mata gadisnya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak dan tidurlah. Oma sebentar lagi datang dan ngak baik buat kita kelamaan berdua dalam satu kamar."
"Memangnya kenapa, kita tidak ngelakuin apapun," ucap Jesselyn memajukan bibirnya cemberut.
Jesselyn menarik Leon menuntunnya duduk disampingnya diatas ranjang dan memeluknya erat.
Leon tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan Jesselyn dan mengacak rambut gadis itu hingga berantakan.
Leon mengecup kening Jesselyn dan akan keluar dari kamar karena ia tahu sebentar lagi ia berada disana maka tidak dapat ia jamin apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat Leon akan berdiri tiba-tiba Jesselyn menahannya dengan duduk diatas pangkuan Leon. Leon terkesiap karena tidak biasanya Jesselyn bersikap demikian apalagi kini Jesselyn sudah mengalungkan kedua tangannya pada leher Leon.
"Ka- kamu mau apa?" ucap Leon gugup saat Jesselyn tersenyum memandangnya lekat. "Kamu baik-baik ajakan?"
Cup
Cup
"Selamat malam kak Leon," ucap Jesselyn setelah mengecup kedua pipi Leon dan beranjak dari pangkuan Leon.
"Kamu?"
"Kakak kenapa, kenapa wajah kakak merah semua seperti tomat? Kak Leon sakit?"
Leon yang pikirannya sudah akan melayang langsung saja keluar dari kamar Jesselyn tanpa merespon lagi perkataan gadis itu.
****
__ADS_1
"Shiit, apa ini yang dibilang orang-orang godaan saat akan menikah?"
Leon melepas satu persatu pakaiannya hingga tidak ada kain yang menempel pada tubuhnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya yang terasa panas dengan air dingin.
Rahangnya terlihat mengeras karena menggigit giginya menahan sesuatu dalam tubuhnya. Ia mengusap-usap tengkuk dan lehernya kasar. Kepalanya yang masih terasa panas dibiarkannya terus diguyur dinginnya air shower.
Malam ini Jesselyn dapat tidur dengan mudah, mugkin karena seharian mendapat perawatan tubuhnya terasa ringan. Berbeda dengan Leon yang entah mengapa sulit untuk tidur dan bolak-balik kedalam kamar mandi.
****
Pukul tiga pagi pintu kamar Jesselyn terbuka. Dua wanita melangkah masuk mendekatinya yang tertidur pulas.
Mira dan Lena saling bertukar pandang dengan senyum diwajah mereka. Mengamati wajah damai dihadapan mereka yang begitu mereka sayangi.
"Nak, ayo bangun."
Mira mengelus-elus kepala Jesselyn lembut, membangunkannya pelan agar tidak membuatnya terkejut.
"Ayo bangun sayang," ucap Lena kemudian.
Tak butuh waktu lama Jesselyn akhirnya membuka kedua matanya meski masih dalam keadaan setengah sadar karena masih mengantuk.
"Ibu? Tante? Ngapain disini?"
Jesselyn melihat jam pada ponselnya dan masih pukul tiga lewat lima belas pagi hari.
"Ada apa, bu?" Ada masalah apa pagi-pagi ke kamar Jesselyn?" tanya Jesselyn membenarkan duduknya.
Kedua wanita paruh baya tersebut duduk menghadap Jesselyn hingga membuat Jesselyn bertambah bingung.
Belum lagi ia melihat sebuah kotak yang cukup besar sudah ada diatas ranjangnya dekat kakinya.
Lena mengangkat kotak besar tersebut dibantu oleh Mira dan meletakkannya diatas pangkuan Jesselyn.
"Ayo, dibuka sayang," ucap Lena mengulas senyum.
Sebelum Jesselyn membuka kotak tersebut ia terlebih dahulu melirik ibunya yang juga tak melepas pandangannya dari sang putri semata wayang.
Mira mengganggukkan kepalanya tanda ia juga meminta Jesselyn melakukan apa yang diminta Lena.
Dalam keadaan yang bingung dan tidak tahu apa-apa Jesselyn membuka kotak dipangkuannya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat isi dalam kotak itu.
"Ini maksudnya apa tante?"
Air mata Jesselyn mengalir saat melihat gaun pengantin yang begitu indah dihadapannya. Gaun yang ia dan Leon pilih bersama untuk ia pakai saat menikah.
"Ibu?" lirih Jesselyn berderai air mata.
Mira yang tak tahan melihat putrinya menangis pun juga ikut menangis. Ia mengganggukkan kepalanya pada Jesselyn dan meraih tangannya.
"Ayo sekarang kamu mandi dan siap-siap untuk dirias sayang," ucap Mira menepuk-nepuk pelan punggung tangan Jesselyn.
"Tante?"
Jesselyn masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi dan ingin diyakinkan oleh Lena, tantenya.
"Bukankah ini harinya sayang?" ucap Lena ikut mengelus kepala Jesselyn. "Iya, hari ini kamu akan nikah dengan..."
"Dengan kak Leon kan?" tanya Jesselyn memotong kalimat Lena dengan semangat.
__ADS_1
Baik Lena maupun Mira sama-sama menganggukkan kepala mereka sembari tertawa kecil melihat Jesselyn yang tiba-tiba bersemangat.
****
Setelah menyelesaikan ritual mandinya Jesselyn sudah ditunggu oleh salah satu penata rias pengantin terbaik. Nadya yang juga berada disana ikut membantu Jesselyn saat akan memakai gaun pengantinnya.
Mira memakaikan sebuah kalung berlian yang tidak begitu mahal namun begitu indah saat dipakaikan dileher Jesselyn. Kalung yang dulu diberikan oleh suaminya, Pandu saat mereka akan menikah dan kini ia berikan pada putrinya dihari dimana ia akan menikah.
"Cantik!"
"Makasih, bu. Kalau ayah ada dia juga pasti senangkan?" ucap Jesselyn penuh haru.
"Dia pasti senang dan bahagia jadi kamu ngak boleh sedih dihari bahagia kamu ini. Kami semua sangat menyayangimu, nak."
"Lihat, kamu cantik sekali dengan gaun pengantin ini."
Ibu dan anak itu berpelukan untuk beberapa waktu dan kembali pada persiapan selanjutnya.
****
"Ayo cepat, apa lagi yang kamu tunggu?"
"Bentar pa, Leon ketemu dia sebentar ya?"
"Untuk apa? Nanti saja disana. Kita berangkat deluan bersama oma dan opa. Nanti Jesselyn nyusul bersama mama, ibu Mira dan Nadya."
"Sebentar doang pa," pinta Leon mengiba.
"No! Ayo jalan. Hati-hati jangan sampai setelan kamu kusut."
Leon mendengus kesal karena tidak diperbolehkan bertemu Jesselyn sebelum berangkat ketempat mereka akan melangsungkan pernikahan.
Setelah semua persiapan dirasa selesai mereka berangkat terlebih dahulu.
Karena suasana jalanan yang macet hingga butuh sekitar dua puluh menit mereka tiba digereja tempat Leon dan Jesselyn akan mengucapkan janji suci.
Satu persatu undangan sudah mulai berdatangan, bahkan Neta dan Dela pun hadir dihari pernikahan sahabat mereka.
Kehadiran Neta dan Dela direncanakan Leon sebagai salah satu kejutan untuk Jesselyn. Ia ingin Jesselyn dikelilingi orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya dihari penting dalam hidupnya.
****
"Wihhh... Cantik banget kamu, Jes."
Nadya terpukau melihat penampilan Jesselyn yang menggunakan gaun pengantin.
"Kak Nadya jangan gitu dong, aku jadi malu."
"Memang kamu cantik kok Jes, pantesan kak Leon sayang banget sama kamu. Kak Leon ngak mau kehilangan kamu dan sangkin sayangnya sama kamu dia ngotot buat ngelanjutin pernikahan kalian hari ini."
"Maksud kak Nadya?"
"Sebenarnya kemarin setelah pulang dari rumah sakit Leon ngomong sama semua keluarga kalau pernikahan kalian harus tetap dilaksanakan meskipun seperti yang kamu tahu kondisi pergelangan tangan kak Leon masih belum pulih. Awalnya oma dan ibu kamu tidak setuju tapi kamu tahu sendiri kan kak Leon orangnya gimana, dia tetap maksa dan minta supaya semuanya dirahasiakan dari kamu."
"Jadi maksudnya?"
"Maksudnya pernikahan kalian sesuai dengan rencana awal," ucap Nadya mengulurkan tangannya membantu Jesselyn menuruni tangga.
Lena dan Mira yang sudah menunggu kedatangan Jesselyn dan Nadya langsung membukakan pintu mobil untuk Jesselyn masuk. Mereka akhirnya berangkat menuju gereja menyusul Leon yang sudah terlebih dahulu berangkat. Dibelakang mereka ada mobil penata rias yang juga mengikuti mereka.
__ADS_1
Sungguh saat ini hati dan pikiran Jesselyn dipenuhi dengan kebahagian dan tak sabar untuk bertemu dengan Leon yang sudah menunggunya dengan tak sabar juga.