
Seminggu setelah berada tiba di kampung
"Pelan- pelan makannya nak?"
"Enak makanannya, bu. Aku rindu masakan ibu yang super enak." memuji masakan ibunya yang memang begitu lezat menurutnya.
"Hanya ada tahu dan ikan goreng, kalah enak sama yang ada di rumah om Bagas?"
"Iya bu, tapi masakan yang dibuat oleh tangan ibu lebih nikmat dari steik yang pernah aku makan di restoran mewah waktu disana."
"Ada - ada saja anak ibu yang cantik ini.
Tapi ibu mau kamu jawab dengan jujur, kamu yakin ngak balik lagi ke rumah om Bagas?" menatap serius Jesselyn yang sedang mengunyah makanannya.
"Yakin bu, Jesselyn kan da bilang dari kemarin kalau Jesselyn lanjut kelas tiga disekolah yang lama" jawab Jesselyn dengan mulut penuh makanan.
"Tapi kenapa nak? Kasih ibu alasannya, ibu ngak tau mau ngomong apa sama tante kamu. Semenjak kamu bilang ngak balik ke sana lagi tante kamu bolak-balik telpon ibu dan ibu ngak tahu mau kasih alasan apa. Atau ada sesuatu yang kamu ngak mau ceritain ke ibu?"
"Ngak ada apa-apa kok ibuku yang baik... Jesselyn cuman lebih senang kalau tinggal dengan ibu apalagi sekolah disana buat otak jesselyn dipress. Apalagi ada Dela dan Neta di sini."
"Ibu heran sama kamu saat orang-orang ingin ke kota besar, eh...kamu malah senang dikampung?"
"Hehehe.... gitu deh, bu!" nyengir kuda.
"Tapi om Bagas dan keluarganya baik kan sama kamu selama disana? Atau jangan - jangan kamu lagi yang nakal dan nyusahin?"
"Bukannya aku ini putri ibu yang cantik dan terbaik?"
"Hem....iya deh...iya...anak ibu bukan hanya parasnya saja yang cantik tapi kepribadiannya juga cantik!"
"Setelah makan siang aku main ke tempat Neta ya bu, sama Dela juga."
"Ya sudah, tapi pulangnya jangan kesorean.
Itu lagi kalau makan tangannya jangan dijilatin kalau dilihat orang, ih....gadis tapi jorok" menunjuk jari-jari tangan putrinya yang sedang dijilatin.
__ADS_1
"Hihihi....maaf bu" Jesselyn tersenyum namun masih tetap menjilati sisa-sisa makanan yang menempel dijari-jarinya.
****
Dirumah keluarga Bagas, sang nyonya rumah duduk dengan ke dua matanya yang berkaca-kaca. Ia sangat sedih mendengar kabar bahwa Jesselyn akan kembali bersekolah dikampungnya.
"Maaf....maafkan saya....saya sudah berusaha tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Maaf...." Lena terisak begitu pilu mengingat kejadian sebelas tahun lalu. Kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan karena lewat sebuah pengorbanan dan kebesaran hati seseorang ia dapat menjalani kehidupannya bersama keluarga yang ia sayangi.
"Mama kenapa sih dari kemarin- kemarin bawaannya murung dan sedih terus. Mama bisa sakit loh, pasti karena Jesselyn kan?
Tapi Nadya penasaran kenapa mama sebegitunya, kan hal yang wajar kalau Jesselyn ingin kembali bersekolah dikampungnya dan tinggal bersama ibunya. Atau jangan - jangan dia adik aku yang mama dan papa titip ke ibunya yang dikampung waktu bayi?" berpikir bak drama.
"Mama cuman lahirin dua orang Nadya sayang, jangan aneh-aneh pikiran kamu?"
"Terus kenapa ma, kasih tahu Nadya alasannya dong, biar pikiran Nadya ngak aneh-aneh."
"Hem....
Sebelas tahun yang lalu seorang pria bernama Pandu menolong mama dalam sebuah kecelakaan saat akan menjemput Leon dari sekolahnya. Pria itu memberanikan dirinya untuk mengeluarkan mama dari dalam mobil karena tak seorang pun yang bergerak saat itu. Banyak orang tapi semuanya hanya melihat tanpa berbuat apa-apa, tapi mama bisa paham situasinya karena dalam hal seperti itu tidak boleh bertindak sembarangan."
"Pandu, itu ayahnya Jesselyn. Saat itu dia langsung membawa mama ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis. Dia juga nungguin mama sampai papa kamu tiba dirumah sakit. Keadaan mama sangat kritis, mama memerlukan banyak transfusi darah bahkan mama membutuhkan donor jantung karena ada masalah pada jantung mama.
Dari awal jantung mama memang sudah lemah ditambah lagi akibat kecelakaan. Sangat sulit untuk mendapatkan donor jantung ditambah lagi keadaan mama yang Kritis selama beberapa hari."
"Jangan bilang kalau ayahnya Jesselyn yang udah donorin jantungnya buat mama?"
"Mama kan belum selesai Nadya?" Lena kesal karena Nadya yang selalu memotong kalimatnya.
"Maaf, ma. Terus gimana ma?"
"Seminggu setelah kecelakaan mama sudah sadar namun masih sangat lemah, kami dapat kabar bahwa ada satu donor jantung tapi itu bukan untuk mama. Itu untuk seorang pria yang juga dirawat dirumah sakit itu.
Dengan menggunakan kursi roda dan ditemani papa, kami pergi menemui pasien yang mendapat donor jantung itu. Kami terkejut karen orang itu adalah ayahnya Jesselyn.
Ayahnya Jesselyn sudah menunggu selama berbulan-bulan dan akhirnya baru ada saat itu.
__ADS_1
Karena keadaan mama yang juga sangat memerlukannya, kami memohon agar donor yang ada diberikan pada mama. Sebenarnya dokter sudah memberitahu kalau donor buat mama itu akan tiba dalam tiga hari lagi. Tapi mama tidak sabar, mama meminta pak Pandu untuk mendahulukan mama. Yang mama tahu saat itu hanya menangis dan menangis agar diberi belas kasihan. Mama tidak ingin meninggalkan kamu, Leon dan papa. Mama kasih tahu pak Pandu jika mama punya dua anak kecil yang sedang nungguin mama dirumah. Saat sudah kembali ke kamar rawat mama, dokter memberitahu kalau donor jantung buat pak Pandu diberikan pada mama. Mama sangat senang dan berterima kasih ditambah lagi operasi donor jantung itu berjalan dengan baik tanpa ada kendala."
"Terus pak Pandunya gimana, ma?"
"Pada waktu pak Pandu akan dioperasi mama dan papa menjenguknya untuk memberi semangat dan terimakasih. Saat itu pak Pandu ditemani oleh istrinya dan putrinya yang masih kecil bernama Jesselyn. Saat itu ayahnya Jesselyn meminta mama untuk menjaga putriny jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Mama tidak mengerti pada ucapannya saat itu, tapi mama berjanji akan menjaga istri
dan putrinya. Mama berdoa agar operasi donor jantung pak Pandu berjalan dengan baik tapi Tuhan berkehendak lain. Donor jantung yang akan diterima pak Pandu mengalami masalah saat operasi akan dimulai.
Mendengar kabar itu ayahnya Jesselyn syok hingga terkena serangan jantung. Pak Pandu meninggal di ruang operasi dan itu membuat mama sangat menyesal."
"Oh...ternyata itu alasannya mama sangat sayang sama Jesselyn?"
"Karena saat itu Jesselyn masih kecil dia hanya tahu jika ayahnya mengalami kecelakaan saat bekerja dan meninggal saat berada di rumah sakit."
"Nadya ngak bisa bayangin gimana perasaan ibunya Jesselyn saat itu, tapi aku yakin ibunya juga orang yang sangat baik dan kuat. Berkat pertolongan Tuhan dan kebaikan pak Pandu serta keluarganya mama bisa seperti sekarang ini."
"Mama ingin membalas budi pak Pandu walaupun mama tahu apapun yang mama lakukan tidak sebanding dengan apa yang pak Pandu sudah lakukan. Mama sangat senang saat Jesselyn bersekolah dan tinggal dengan kita tapi sekarang, hem.......mama ngak tau mau berbuat apa lagi?"
"Kak Leon tahu ini ngak mah?"
"Dia sudah tahu dihari Jesselyn datang untuk pertama kalinya ke rumah kita. Papa kamu juga yang meminta Leon untuk menjemputnya di bandara hari itu, tapi seperti yang kamu sudah tahu dia malah biarin Jesselyn di bandara sampai papa kamu yang jemput akhirnya."
"Wah...kebangetan dong ma itu anak. Pantesan papa galak banget waktu itu?"
"Tapi mama tenang aja, kalau Tuhan berkehendak, suatu saat Jesselyn pasti kembali ke rumah ini lagi," ucap Nadya meyakinkan mamanya.
Nadya berusaha meyakinkan mamanya dan mencoba menghiburnya.
Nadya juga merasa kasihan pada Jesselyn yang harus kehilangan ayahnya saat ia masih kecil. Nadya juga sangat geram mengingat kelakuan kakaknya pada Jesselyn apalagi saat ke jadian di pondok rumah. Ingin rasanya ia menggundul kepala kakaknya saat itu juga.
FLASH BACK OFF
...Terimakasih sudah mampir......
...Like dan komennya dipersilahkan.....
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...