Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Telor Mata Sapi


__ADS_3

Tidak seperti saat pertama datang dulu, kali ini Jesselyn bangun lebih awal. Karena sebelumnya sudah terbiasa maka pagi ini juga Jesselyn ikut membantu Lena menyiapkan sarapan untuk orang-orang dirumah.


Selain ada roti yang menjadi menu sarapan setiap paginya, Lena juga menyiapkan nasi goreng dengan telur mata sapi. Lena tidak ingin terlalu berlebihan akan menu sarapan pagi jadi ia hanya menyiapkan yang sederhana saja beda jika untuk makan siang dan malam.


"Kalau kamu ngak ada, hanya ada tante setiap paginya di dapur. Sepi rasanya ngak ada kamu Jes," mengingat hampir setiap pagi ia hanya seorang diri di dapur yang cukup luas itu dengan perabotan yang super lengkap.


"Maafin Jesselyn ya tante?" Jesselyn merasa menyesal mendengar ucapan Lena.


"Yang penting kamu sekarang ada disini dan lagi di dapur berdua sama tante nyiapin sarapan. Tante juga sangat berterimakasih karena kamu mau balik kesini lagi sayang, tante juga minta maaf kalau kamu merasa tidak nyaman dengan kak Leon."


"Ngak kok tante, aku baik-baik aja selama disini. Kak Leon juga baik sama aku. Mungkin karena sibuk dengan kuliah jadi ngak punya banyak waktu buat ngobrol makanya ngak sedekat seperti ke kak Nadya," Jesselyn mencoba berpikiran positif akan sikap Leon kepadanya yang terkesan cuek selama ini.


"Heh! Sibuk apanya? Paling selesai kuliah dia main futsal sama teman-temannya. Malahan dia lebih sering ada dirumah saat kamu ada disini dulu. Walaupun tidak setiap hari tapi dia jadi lebih sering pulang tepat waktu, ngak kelayapan seperti sebelum kamu ada." Lena mengerucutkan bibirnya mengingat kebiasaan Leon sebelum kehadiran Jesselyn dirumah mereka.


"Bagus dong tante jadi ngak bikin khawatir kan kalau kak Leon pulang lama-lama?"


"Bagus apanya? Justru tante jadi aneh lihat dia belakangan ini."


"Aneh kenapa tante?" membuat Jesselyn yang sedang menata meja mamakan menoleh kepada Lena yang sedang mengambil beberap telur dari lemari es.


"Iya aneh, pokoknya aneh deh Jes" Lena tidak memberi tahu kepada Jesselyn jika Leon jadi suka melamun dan tersenyum sendiri sambil makan es krim. Lena juga tidak memberitahu jika tanpa sepengetahuan Leon, Lena sering melihat Leon masuk kedalam kamar Jesselyn yang kosong. Bahkan Leon pernah bingung menjawab apa saat Lena melihatnya keluar dari kamar Jessselyn dipagi hari dengan wajah bantalnya.


"Ma, sarapan buat papa dibuat bekal aja biar nanti dimakan dikantor. Takut telat soalnya ada rapat penting untuk pembukaan cabang baru."


ucap Bagas tiba-tiba dengan penampilannya yang sudah rapi.


"Baik pa, mama siapin dulu ya," Lena yang mengerti kesibukan suaminya dengan singap menyediakan keperluan suaminya termasuk bekal sarapan paginya.


"Papa semangat ya cari duitnya?" Ucap Nadyabyang entah sejak kapan sudah berada dimeja makan sambil mengunyah nasi goreng dimulutnya.


"Iya..., kamu juga semangat kuliahnya biar lulus tepat waktu dan bantu papa kerja di kantor?" kata Bagas memberi nasihat kepada anak bungsunya.


"Siap bos!" Nadya mengangkat tangannya layaknya seperti upacara penaikan bendera.


"Hahaha..." Lena tertawa melihat kelakuan Nadya yang ada-ada saja. Ia mengantar suaminya kedepan dan memasukkan bekal untuk suaminya ke dalam mobil.


"Kakak ngak ke kampus?" tanya Jesselyn yang juga sedang menikmati sarapannya.


"Besok ajalah, biasanya hari pertama satelah libur semester, jangankan mahasiswanya dosen aja jarang yang masuk."


"Oh...." Jesselyn menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Makanya sebelum nanti sore aku balik ke kos-an kita nonton drama Korea ya? Mau kan? Da lama ni ngk nonton berdua?" Nadya mengatupkan kedua tangannya seperti ingin diberi belas kasihan.


Ia bisa saja menonton sendiri, tapi berdua bukankah lebih baik? (Hehehe... ada-ada aja si author receh ini😁😁😁).


"Ngak kak"


"Kejam amat deh," sungut Nadya.

__ADS_1


"Ngka nolak maksudnya kak. Hehehe..."


"Kirain..., berhubung aku sudah kenyang aku kemar dulu ya, mau nyiapin barang-barang yang mau dibawa ke kos-an nanti sore biar nanti nonton drama koreanya lebih fokus." Nadya yang sudah selesai dengan sarapanny langsung meletakkan piring kotornya di wastafel.


"Fokus itu buat belajar kali Nad," sahut Lena yang berjalan kearah mereka.


"Belajarnya juga fokus kok ma, tenang aja mamaku sayang yang cantik dan berhati baik" puji Nadya yang memang sesuai dengan kenyataan.


"Kamu disini dulu temani mama dan Jesselyn sampai selesai makan" perintah Lena pada Nadya.


"Siap bos!" Nadya kembali duduk ke kursinya untuk menemani mamanya dan Jesselyn yang sedang sarapan.


"Mama ngak nambah? Sini biar aku ambilin," mengambil setengah sendok masih goreng untuk diberikan pada mamanya.


"Mama sudah cukup. Mending kamu pergi ke kamar kamu aja sana, dari tadi kayak cacing kepanasan duduknya."


"Hehehe...bukan gitu ma, tapi ya udah aku ke kamar ya. Makan yang banyak Jes," Nadya berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Biar aku aja tante," ucap Nadya saat melihat Lena memegang spons cuci piring.


"Sudah, kamu rapiin mejanya aja. Beberapa hari kedepan mungkin kita akan capek, soalnya ibu Sri lagi ada acara keluarga di kampung halamannya," Lena mulai mencuci satu persatu piring kotor yang ada di wastafel.


"Kalau kerjaan dirumah Jesselyn bisa kok tante," ucap Jesselyn memberitahu. Jesselyn yang tinggal dikampung sudah terbiasa dengan segala pekerjaan rumah.


"Kamu kan beberapa hari lagi juga masuk kuliah, jadi butuh banyak persiapan. Nanti kamu kecapean gimana?"


"Jesselyn sudah biasa tante kalau soal kerjaan rumah jadi ngak ada masalah," meyakinkan Lena agar tidak khawatir.


"Terserah tante aja gimana baiknya," Jesselyn berjalan mendekati Lena yang masih berkutat dengan piring-piring kotor. "Biar aku aja yang nyucinya tante," Jesselyn meraih sponse yang ada di tangan Lena dan melanjutkan mencuci sisanya.


"Kalau gitu tante kedepan ya, mau ngurusin bunga-bunga dan tanaman kesayangan tante."


"Iya tante"


Dikamarnya Leon yang masih mengantuk harus terbangun karena cacing-cacing diperutnya tengah bergendang ria. Semalam ia melewatkan makan malamnya karena baru kembali ke rumah sekitar pukul satu malam. Saat bermain diluar bersama teman-temannya dia hanya memakan sepotong pizza dan minum satu minuman kaleng.


Dengan penampilan orang yang baru bangun tidur ia turun kebawah menuju meja makan.


Leon yang tidak menggunakan sendal rumah membuat Jesselyn yang sedang mencuci piring tidak mengetahui kehadiran seseorang dibelakangnya.


Sesampainya dimeja makan Leon langsung melihat menu sarapan pagi yang tersedi, ia menggelengkan kepalanya saat melihat telur mata sapi dihadapannya. Ia menyukai semua yang ada di atas meja terkecuali telur mata sapi. Karena baru bangun tidur, kesadarannya pun belum seratus persen kembali.


Leon menuangkan air ke sebuah gelas dan meminumnya sambil berjalan ke arah orang yang sedang mencuci piring.


"Tumben pagi begini rajin banget nyuci piring, biasanya kalau ngak ada ibu Sri palingan juga mama yang bersih-bersih," pikir Leon mengira orang yang membelakanginya adalah Nadya.


"Mumpung lagi baik, minta dia aja kali untuk buatin telur dadar." Leon yang sudah berdiri dibelakang Jesselyn dan mengira itu adalah Nadya langsung saja mengalungkan tangan kirinya kebahu sebelah kiri Jesselyn.


Deg

__ADS_1


Jesselyn terkejut saat menyadari kehadiran seseorang disampingnya ditambah lagi dengan sebuah tangan yang menggantung dibahunya.


"Mumpung lagi rajin buatin telur dadar dong?" ucap Leon dan meminum air yang ada ditangannya tanpa melihat siapa yang ada disampingnya.


Deg


Jesselyn seketika mematung mendengar suara yang begitu ia kenal dan tangannya langsung berhenti saat membilas piring yang ia pegang dengan keran air yang tetap mengalir.


"Gue ngak suka telor mata sapi dari dulu jadi tolong buatin ya?" pinta Leon yang masih belum sadar. "Woi..., jangan buang-buang air, malah bengong lagi?" Leon meletakkan gelasnya untuk mematikan keran dan kembali meminum air dari gelas yang dia letakkan tadi.


"Kak Leon?" ucap Jesselyn dengan pelan sembari memalingkan wajahnya kearah sang pemilik nama.


Karena kaget dengan suara yang ia dengar, Leon juga memalingkan wajahnya untuk melihat orang yang ada disampingnya. Bukannya menelan air yang tadi ia minum Leon justru menyemburkannya keluar.


Phheeerh....


"Kamu?" ucap Leon kaget setelah sadar bahwa orang yang ia kira sedari tadi Nadya ternyata adalah Jesselyn.


Leon bertambah kaget saat melihat wajah Jesselyn yang basah akibat semburan air darinya.


"Kak?" ucap Jesselyn lagi saat membuka matanya karena tadi ia tutup akibat ulah Leon."


"Ka..mu disini?" tanya Leon gugup dan langsung mengangkat tangannya dari bahu Jesselyn.


"Iya kak," jawab Jesselyn yang sedang mengusap wajahnya.


"Sorry aku kira tadi Nadya." Leon langsung duduk dikursi meja makan. Ia tahu jika Jesselyn sudah seharusnya berada dirumah mereka saat ini, hanya saja cara mereka bertemu sungguh memalukan bagi Leon.


"Kak Leon bukannya mau sarapan?" tanya Jesselyn yang melihat Leon berjalan meninggalkan meja makan.


"Ngak" jawab Leon singkat.


"Bukannya kakak lapar dan mau dibuatin telor dadar?" tanya Jesselyn lagi mengingay permintaan Leon sebelumnya.


"Ngak perlu"


"Tapi tadi kak Leon minta dibuatin telor dadar, mau aku buatin ngak, kak?"


"Aku bilang ngak, ya ngak!" bentak Leon dan kembali ke kamar dengan membawa sepotong roti ditangannya.


"Hem....ternyata masih sama aja. Awas aja nanti kak, urusan kita belum selesai" Jesselyn kembali teringat akan foto-foto dalam kamarnya di kampung yang terkena coretan.


"Tapi cincin pada kalung yang dipakai kak Leon sepertinya aku pernah lihat?" gumam Jesselyn. Tanpa sengaja tadi ia melihat sebuah cincin yang ia begitu kenal berada dikalung Leon. "Ah..., sudahlah yang penting harus hati-hati saat ada kak Leon dan ngak boleh buat kesalahan," ucap Jesselyn yang kembali menyelesaikan misinya terhadap piring-piring kotor di hadapannya.


Jesselyn menyelesaikan pekerjaannya di dapur dengan cepat dan memastikan semuanya bersih dan rapi.


Setelahnya ia dan Nadya menghabiskan waktu mereka berdua dengan menonton drama Korea bertema kerajaan. Setelah menonton tiga episode secara marathon mereka akhirnya merasa ngantuk dan lelah. Saat episode ke empat baru saja berjalan lima belas menit, mereka sudah tertidur dengan nyenyak di kamar Nadya. Lena yang melihat mereka berdua tertidur dengan laptop yang masih menyala hanya bisa menggelengkan kepala dan membiarkan mereka untuk tidur.


...***Terimakasih atas kunjungan kalian semua. Jangan lupa untuk tetap support cerita ini dengan memberikan like dan komentar yang membangun....

__ADS_1


...Terimakasih semuanya ❤️❤️❤️❤️***...


__ADS_2