
"Baiklah bagi adik-adik maba yang maju kedepan sebagai hukumannya kalian harus berlari keliling ruangan ini sebanyak lima kali. Tapi...ada tapinya ya, kalian harus berlari berpasangan dengan salah satu entah itu teman sesama maba atau dengan kakak pandu yang ada disini." Instruksi si pemandu yang diiringi riuh dari para maba.
Hu.......
Hu.......
Teriakan memenuhi seisi ruang auditorium, sorakan dan tepuk tangan saling bersautan memecahkan telinga bagi siapa pun yang berada ditempat itu.
"Mulai sekarang saya kasih waktu sepuluh menit untuk mencari siapa yang akan mau menemani kalian berlari mengelilingi ruangan ini," lagi sang pemandu didepan memberikan instruksi.
"Hitungan ketiga silahkan untuk mencari dan bawa kedepan. Satu...dua...tiga....mulai. Ingat hanya sepuluh menit!"
Saat para maba yang senasib dengan Jesselyn berlari kelimpungan untuk mendapatkan partnernya, Jesselyn justru masih bengong ditempatnya berdiri. Menggoyang-goyangkan lututnya sambil melihat kepada semua orang yang ada diruangan itu.
"Gimana ini, siapa yang mau jadi pasangan aku? Kak Nadya gimana dong?" jeritnya dalam hati
"Usman mau ngak ya, badannya kan bongsor, hitung-hitung biar dia ngurangin lemak. Aku coba aja deh," berlari ke barisan fakultas ekonomi untuk menjumpai orang yang dimaksud.
"Usman, mau ya?" pinta Jesselyn melipat kedua tangannya penuh harap.
"Ngak deh, yang ada gue engap ngelilingi ini auditorium. Noh, si Andi aja. Badannya ringan dan kakinya panjang, pasti cepat larinya." Menunjuk kearah pria bertubuh tinggi dan kurus.
"Mau kan, Ndi? tolong dong ya, ya, ya? Selesai ospek aku traktir deh, mau kan?" menoleh kearah Andi dengan menampilkan wajah memelas butuh pertolongan.
"Sebenarnya aku mau tapi aku lagi sakit perut, mules dari acara dimulai. Ini aja lagi ngumpulin keberanian buat permisi ke toilet," jawab Andi sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya.
"Hati-hati lo, cepetan ke toilet keburu cepirit lo disini," kata seorang maba yang lain.
"Sorry ya, Jes?"
"Yah mau gimana lagi Ndi, kamu punya niat mau nolongin aja da syukur. Ngak kebayang juga kalau kami lari nanti sambil megangin perut begitu apalagi kalau sampai...., ah...sudahlah." Jesselyn membayangkan susuatu yang mengerikan jika ia berlari dengan Andi yang sedang sakit perut.
"Sama kak Pandu aja, Jes?" kata Usman memberi masukan.
"Mau ngak ya?"
"Coba aja lagian kamu cantik pasti para kakak pandu banyak yang suka dan mau nolongin kamu. Apalagi kak Adit tuh dari tadi liatin kamu melulu."
"Aku coba ya?"
"Semoga berhasil, Jes!" bisik Andi dan Usman memberi semangat.
Jesselyn berlari mendekati Adit yang sedang berdiri dibelakang barisan.
"Kak?" ucap Jesselyn dengan lembut.
"Kenapa? ada masalah dan perlu dibantu?" tanya Adit serius berharap apa yang dipikirkannya menjadi kenyataan.
"Kak, aku mau minta tolong buat...."
"Tiga...dua...satu....waktunya habis dan silahkan kepada adik-adik membawa pasangannya kedepan," suara sang pemandu didepan seketika membuat kaki Jesselyn melemah tidak kuat untuk menopang tubuhnya berdiri.
Belum sempat ia mengatakan keinginannya pada Adit, ia harus kembali kedepan dengan langkah yang begitu berat. Ia berharap ada sedeorang yang tiba-tiba muncul dan memberikannya kekuatan untuk menghilang saat itu juga.
"Apa semuanya sudah punya pasangan untuk berlari?" tanya sang kakak Pandu.
"Sudah kak!" jawab sebelas maba yang mendapat hukuman kecuali Jesselyn.
__ADS_1
"Kamu pasangannya mana?" tanya kak pandu melihat Jesselyn hanya seorang diri berdiri paling ujung barisan.
"Belum ada kak"
"Belum ada?"
"Ia kak, belum ada. Kakak mau ngak jadi pasangan aku?" tanya Jesselyn tanpa sadar. "Ngomong apa barusan aku, gawat kalau hukumannya semakin ditambah," batinnya.
"Saya? Hahaha..." tertawa mendengar permintaan tiba-tiba dari maba yang sedang berdiri didepannya.
"Hah...." menghembuskan panjang nafasnya dan meninggalkan Jesselyn.
"Baik sekarang silahkan berlari bagi yang sudah dapat pasangan. Mulai!"
Sebelas pasangan mulai berlari mengelilingi ruangan, sedangkan Jesselyn masih berdiri menanti hukuman yang lain dari sang senior.
"Baik, singkat saja buat kalian semua dan juga teman sesama senior yang ada diruangan ini, silahkan kedepan jika ada yang berkenan menjadi pasangan dari Jesselyn Anastasya." Raka sang senior memberitahu.
"Hitungan ke lima silahkan siapa saja yang mau membantunya. Satu...dua...tiga...empat...lima!"
Jesselyn menutup matanya berharap ada yang maju kedepan.
Hu....u...u...
Kembali suara gemuruh memenuhi ruangan saat seseorang berlari dan berdiri dibelakang Jesselyn yang sedang menutup matanya. Mendengar langkah seseorang dan berhenti dibelakangnya, Jesselyn akhirnya membuka matanya untuk melihat apakah ada malaikat penolongnya hari ini.
"Kamu?" terkejut melihat orang yang berdiri dibelakangnya. Tidak menyangka akan melihatnya disini.
"Iya, ini aku." Tersenyum melihat Jesselyn.
"Kenapa bisa ada disini?"
"Jangan! Kalau mau bantu jangan setengah-setengah nanti ngak ada pahalanya," tersenyum dengan tubuhnya masih membelakangi pria yang kemudian bergerak kesisi kanannya.
"Karena sudah ada yang bersedia kedepan jadi silahkan untuk ikut berlari seperti yang lainnya," ucap Raka kepada Jesselyn dan pasangannya.
"Siap?" Menggenggam tangan kiri Jesselyn.
"Siap!" Jesselyn menganggukkan kepalanya.
Mereka mulai berlari sambil sesekali tersenyum. "Terimakasih Tuhan" ucap Jesselyn dalam hatinya senang.
Ketika dua belas maba menjalani hukuman mereka, para maba yang lain kembali mendapat bimbingan dan arahan mengenai kampus yang mereka pilih untuk melanjutkan sekolah mereka. Suara yang memberi arahan pun sengaja diperkuat agar para maba yang sedang dihukum juga dapat mendengarkan.
"Coba orang yang lari sama itu cewek gue, pasti senang bangat gue. Lumayan bisa menggenggam tangannya lama," ucap Adit berdecak pinggang.
"Salah kakak tidak langsung lari kedepan. Payah!" kata seorang maba perempuan yang berdiri di belakang Adit.
Adit yang mendengarnya langsung memutar tubuhnya melihat asal suara tersebut.
"Kamu bilang apa? Sinta Fitriani!" menyebutkan nama pemilik suara sesuai dengan yang tergantung dilehernya. "Kamu bilang saya payah? Aku bukannya payah hanya saja kurang cepat dari tu cowok. Tadi aku sudah mau lari kedepan tapi seperti yang kamu lihat," memberitahu Sinta situasi yang ada.
"Iya aku lihat Kakak lamban. Hehehe.." Sinta tertawa pelan meledek sang senior
Adit melihat Sinta yang tertawa dengan seringai diwajahnya.
"Awas aja nanti kamu," ucap Adit dalam hati kemudian berjalan meninggalkan Sinta.
__ADS_1
Tepat disamping meja panitia acara seorang pria berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya dengan senyuman kecut diwajahnya.
"Dia lagi," ucap Leon dalam hatinya kemudian meninggalkan auditorium.
"Yon, mau kemana lo? Adit berteriak memanggil Leon yang berjalan keluar ruangan.
"Yon?" Panggil Adit lagi karena tidak menjawab panggilannya. "Ini anak ada masalah hidup apa sih belakangan ini," ucap Adit yang kemudian berlari menyusulnya.
"Bro, budeg lo sekarang?" teriak Adit saat mendapati Leon duduk diluar gedung.
"Berisik lo, mending lo pergi karena gue lagi ngak mood buat lo ajak becanda."
"Sadis lo Yon, ada masalah? Cerita ke gue. Buat apa punya teman kalau ngak bisa diajak cerita. Gue selalu cerita kalau lagi ada masalah dan lo juga selalu dengerinnya"
"Gue ngak kenapa-kenapa," jawab Leon singkat.
"Ngak kenapa-kenapa tapi wajah seperti orang yang baru putus cinta. Kenapa? Sicincin belum jumpa juga? Sudah bro, masih ada banyak yang lain. Mending lo main basket sampai ngos-ngosan sana."
"Udah. Gak mempan," jawab Leon ketus.
"Berat ya bro?"
Leon tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Gitu dong bro, harus senyum."
Hufff...
Terdengar suara Adit menghela kasar nafasnya.
"Tau ngak Dit kalau kata-kata lo tadi lebih cocok buat lo. Liat aja sekarang wajah lo sama persis seperti waktu putus sama Rena," kata Leon membalikkan perkataannya.
"Jangan dibahas bro yang sudah berlalu. Gue cuman kesal aja tadi kalah cepat sama cowok yang bantuin Jesselyn si maba. Enak banget dia bisa genggam tangan itu cewek."
"Ada bahasan yang lain ngak, Dit? Kalau ngak mending tinggalin gue sendiri atau gue yang pergi?"
"Sensi banget lo Yon, gue cuman cerita itu doang. Ya udah gue aja yang mending pergi, ngak enak lama-lama bareng lo disini bisa gila gue."
Adit berjalan meninggalkan Leon yang sama sekali tidak memberi respon.
"Bro, hati-hati ntar kesambet lo," ucap Adit saat meninggalkan Leon. "Itu bocah kenapa sih, ngak biasanya begitu. Paling kalau lagi ada masalah biasanya dia main basket sampai ngos-ngosan da balik lagi moodnya. Ada apa sih," mengingat kebiasaan Leon yang saat lagi ada masalah akan melampiaskannya dengan bermain basket sendirian.
"Sensi banget hari ini, gue cuman cerita tentang si maba aja dia sewot. Terserah dah tu bocah mau apa"
Baru saja tiba dimeja panitia, ponsel Adit bergetar.
Kalau gue dicariin bilang aja lagi ada urusan, isi pesan yang diterima Adit dari Leon.
"Ini anak benar-benar deh," ucap Adit saat membaca pesan tersebut.
Saat memasukkan ponselnya kembali ke kantong almamater yang ia kenakan, mata Adit menangkap sosok perempuan yang sangat membuatnya penasaran.
"Jesselyn Anastasya. Cantik dan lucu," tersenyum melihat sang gadis.
"Durian runtuh ni kalau bisa dapetin dia, si Leon buta kali bilang masih kecil," mengingat ucapan Leon sebelumnya. "Hehehe...masih kecil katanya. Yang ada kecil-kecil cabe rawit. Tunggu-tunggu," pikiran Adit seakan menangkap sesuatu saat mengatakan kata 'kecil', Mencoba mengingat-ingat sesuatu hingga akhirnya menemukannya.
"Wah..., dia ngerjain gue ternyata." Melihat Jesselyn yang mendengarkan bimbingan dari salah satu Alumni kampus tersebut.
__ADS_1
"Berarti kalau gitu si Leon? Wah...ajaib tu orang bisa seakan-akan ngak kenal sama Jesselyn. Awas lo besok Yon," geram Adit dalam hatinya.
^^^Terimakasih atas kunjungan kalian semua. Jangan lupa untuk tetap support cerita ini dengan memberikan like dan komentar yang membangun. Terimakasih semuanya ❤️❤️❤️❤️^^^