
Jesselyn yang hanya mengenakan piyama berniat menggantinya sebelum pergi ke pasar malam apalagi udara dan angin malam begitu menusuk hingga ke tulang karena dinginnya.
"Boleh kak tapi aku ganti..…"
"Ngak boleh!"
Suara lantang Leon mengagetkan Jesselyn dan Nadya.
"Apaan sih kak, ngagetin deh," sungut Nadya mengelus dadanya. "Lagian cuman ke pasar malam doang, ngak jauh kok."
"Kalau mau pergi ya pergi aja sendiri, jangan ngajak-ngakak dia."
Nadya berdecak kesal, mengumpati kakaknya dalam hati. Ia tahu jika Leon pasti takut kalau sampai ada pria lain yang mendekati Jesselyn bahkan menyukainya.
Greppp
"Kamu ikut aku!"
Leon menarik tangan Jesselyn, hampir saja ia terjatuh saat menuruni tangga teras rumah namun sigap Leon menariknya.
"Gini nih kalau sudah cintanya sampai ke ubun-ubun, jatuhnya jadi cowok posesif."
Kini tinggallah Nadya seorang diri di teras rumah dengan pisang goreng dipiring dan teh yang mulai menghangat.
Jesselyn mengikuti langkah Leon yang begitu cepat. Ia tidak tahu kemana Leon akan membawanya malam ini terlebih ia belum sempat meminta izin kepada orang dirumah.
Setelah menjauh dari rumah opa, Leon memperlambat jalannya dan menyamakan posisi mereka tanpa melepas tangan Jesselyn dari genggamannya.
Ekhem...
Suasana berubah menjadi sedikit canggung diantara keduanya. Leon berusaha menutupi rasa groginya berbeda dengan Jesselyn yang terus menunduk.
Biasanya danau buatan itu cukup ramai namun karena mungkin sedang ada pasar malam, jadi orang-orang lebih memilih kesana. Pasar malam hanya ada sekali atau dua kali dalam setahun diadakan sedangkan danau itu dapat dikunjungi kapan saja.
Tibalah mereka di tempat tujuan. Meski sudah malam namun pemandangan disekitar danau sama indahnya seperti saat terang hari. Bahkan mungkin lebih indah bagi sebahagian orang karena sinar bulan yang terpantul dari air.
Pun kunang-kunang tak ingin ketinggalan menambah pesona indah danau saat malam tiba. Dengan bergerombol mereka berkedip-kedip diatas danau.
Jesselyn memandang takjub pemandangan indah di depannya. Sedari mereka tiba ia tidak berhenti menganga mengagumi tempat tersebut.
"Apa kamu suka tempat ini?"
"Sangat kak, apalagi kunang-kunangnya. Aku baru pertama kali ketempat seperti ini."
"Bagus kalau begitu," Leon senang karena tidak sia-sia membawa Jesselyn ketempat itu. "Tapi kamu ngak akan minta aku buat nangkap kunang-kunang seperti yang ada di adegan film-film kan?" tanya Leon sedikit khawatir.
"Hehehe... Enggak kok kak, lagian kasihan kunang-kunangnya. Alam bebas adalah tempat tinggal mereka jadi ngapain ngurung mereka dalam toples, yang ada mereka pada mati."
Leon kagum akan pola pikir yang dimiliki gadis itu. Tidak seperti kebanyakan gadis, ingin memiliki sesuatu hanya karena kesenangan semata tanpa memikirkan efeknya.
__ADS_1
"Lagian apa kak Leon mau kalau seandainya aku minta kakak nangkap kunang-kunang itu, enggak kan?"
"Tentu saja tidak, aku bukan laki-laki lebay."
Jesselyn tersenyum mendengar pengakuan Leon. "Iya, kakak ngak lebay tapi posesif," batinnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka berkeliling disekitar tepi danau.
Diam-diam Leon mengambil ponselnya dan mengambil foto Jesselyn.
"Cantik"
Leon melihat foto Jesselyn yang ia ambil dengan kamera ponselnya dan menjadikan salah satunya sebagai wallpaper ponselnya.
Leon mendekati Jesselyn yang sedang berdiri menghadap ke arah danau. Dilihatnya gadis itu memeluk tubuhnya yang hanya memakai piyama sedangkan Leon memakai Hoodie.
"Egh...kamu kedinginan?"
Leon memeluk gadis itu dari belakang untuk membuatnya merasa sedikit lebih hangat.
Jesselyn mengangguk membenarkan perkataan Leon, bohong sekali jika ia mengatakan tidak kedinginan sedangkan wajahnya sudah terasa membeku.
Sesaat Leon melepas pelukannya, ia menurunkan zipper Hoodie-nya dan kembali memeluk Jesselyn. Leon semakin merapatkan tubuh mereka agar Hoodie yang ia pakai cukup untuk mereka berdua mengingat tubuh Jesselyn yang ramping. Walaupun sedikit memaksa Leon berhasil menarik zipper itu kembali keatas.
"Ngak muat kak, nanti Hoodie-nya rusak," protes Jesselyn merasa aneh.
"Kalau ngak muat lalu ini apa namanya?" tanya Leon melingkarkan tangannya diperut Jesselyn sedangkan tangan Jesselyn tidak dapat bergerak didalam sana.
Egh...
Leon menjatuhkan dagunya diatas bahu Jesselyn. Entah apa yang dihirupnya, antara udara malam atau aroma tubuh Jesselyn atau mungkin kedua-duanya. Leon menarik panjang nafasnya dan tersenyum, sungguh ia sangat senang malam ini. Bisa dikatakan ini adalah kencan pertama mereka yang sesungguhnya.
Jesselyn juga merasakan hal yang sama.
Keduanya memandang indah danau di depan mereka ditemani sinar bulan sabit.
Leon semakin mendekatkan kepalanya keleher Jesselyn hingga gadis itu dapat merasakan hembusan nafas Leon yang semakin hangat.
Jesselyn bergerak-gerak karena merasa sesak. Tubuhnya memang menghangat namun ia sedikit kesulitan saat bernafas.
"Jangan gerak-gerak, nanti bahaya," ucap Leon namun suaranya terdengar sedikit parau.
"Aku sesak kak."
Jesselyn mendorong paha Leon, karena itu adalah bagian terdekat yang dapat dijangkau oleh tangannya.
"Aku bilang jangan gerak-gerak," ucap Leon menekan kalimatnya sambil sedikit menggigit giginya.
"Tapi aku sesak kak, aku ngak..."
__ADS_1
Srekk....
Sekuat tenaga Leon menurunkan zipper Hoodie-nya karena tidak tahan Jesselyn yang terus saja bergerak-gerak bak cacing kepanasan, bahkan sekarang ia memaksa putar tubuhnya menghadap Leon.
Huuhhh....
Leon menarik mundur tubuhnya menjauhi Jesselyn dan mendorong Jesselyn, ia membuang nafasnya begitu kasar setelah ia berhasil membuka Hoodie-nya.
Sedikit kaget Jesselyn saat Leon mendorongnya hingga membuatnya hampir tersungkur. Dilihatnya Leon mengusap-usap tengkuknya dan memijit keningnya.
Tanpa tanya Jesselyn mendekati Leon, berpikir sesuatu terjadi padanya.
"Kak Leon kenapa, kakak sakit?"
Dengan mata tertutup Leon menggelengkan kepalanya namun tangannya berganti memijit tengkuknya.
Seperti sedang disengat listrik Leon menegang saat Jesselyn menempelkan telapak tangannya pada leher dibawah telinganya.
"Apa disini sakit?" tanya Jesselyn mencoba ikut memijit.
"Ngak, kita pulang sekarang."
Leon meraih tangan Jesselyn dan mengajaknya kembali kerumah.
"Tunggu kak," ucap Jesselyn menahan tangan Leon.
Cup
Ciuman pertama dari Jesselyn mendarat di pipi Leon. Biasanya orang yang menerima ciuman akan bersemu seketika namun berbeda dengan mereka karena justru wajah Jesselyn yang sudah bersemu duluan bahkan sudah merah merona.
Cup
Pipi yang satunya lagi tak lepas dari kecupan manis bibir Jesselyn.
Malu-malu Jesselyn menunduk dan menyandarkan kepalanya pada dada Leon, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti tomat merah siap panen atau kepiting rebus siap saji.
Leon tersenyum melihat tingkah malu-malu gadisnya itu, jujur ia tidak membayangkan Jesselyn akan menciumnya namun ternyata ia harus merubah pemikirannya.
"Ayo pulang," ajak Leon sambil mengusap rambut Jesselyn dan mengecup pucuk kepalanya.
****
Tiba di rumah Jesselyn dan Leon malah bengong melihat keadaan rumah yang sepi tak berpenghuni. Satu persatu mereka memanggil nama semuanya mulai dari opa, oma, mama, papa dan Nadya namun tak satupun dari mereka yang menyahut. Satu persatu kamar mereka buka dan kosong.
Jesselyn melihat pada rak sepatu yang tadinya hampir penuh sekarang tinggal beberapa pasang saja disana.
"Mereka sepertinya lagi pergi keluar, kak. Itu," ucap Jesselyn menunjuk arah rak sepatu.
Leon mengambil ponselnya dan benar saja ada beberapa pesan yang masuk dari papanya yang tidak ia baca saat mereka berada di danau buatan tadi.
__ADS_1
Kami semua pergi ke pasar malam. Baik-baik di rumah dan jangan macem-macem sama anak orang.
Leon mencebikkan bibirnya seraya tersenyum membaca salah satu pesan papanya.