
Acara pernikahan telah usai, para tamu undangan satu per satu meninggalkan tempat resepsi pernikahan. Sepasang anak muda kini resmi sudah menyandang status suami istri yang sah.
Lelah, itulah yang dirasa pasangan baru tersebut namun tak mengurangi rasa bahagia keduanya.
Suasana mobil yang membawa pulang Jesselyn dan Leon terasa bagai kuburan karena tak seorangpun dari keduanya yang mengucapkan sepatah katapun. Awalnya keluarga menyarankan mereka untuk beristirahat disalah satu hotel untuk semalam namun dengan mantap Jesselyn menolak tawaran tersebut sedangkan Leon hanya dapat mendengus kesal saat ia sudah terlebih dahulu menyetujui saran keluarga.
Tiba dirumah keduanya langsung naik kelantai atas untuk membersihkan tubuh mereka dan berganti pakaian. Semua anggota keluargapun melakukan hal yang sama.
"Kalian mandi dan ganti baju sana, setelah itu turun untuk makan malam," ucap Lena sambil melepas jepitan sanggulnya.
"Iya ma," jawab Leon sedangkan Jesselyn hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau ada yang kamu butuh bilang sama ibu ya sayang," giliran ibu Jesselyn yang berbicara.
"Iya, bu."
****
"Kamu mau kemana?" tanya Leon saat ia membuka pintu kamarnya dan Jesselyn terus berjalan menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Leon.
"Mau ke kamar kak, mau mandi dan ganti baju," jawab Jesselyn menggaruk lengannya. Mungkin karena tidak terbiasa atau karena pertamakali memakai kebaya Jesselyn merasakan gatal pada tubuhnya.
Jesselyn melongos masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Leon.
" Oh, Tuhan. Tapi dia istriku sekarang."
Karena sudah begitu gerah Jesselyn mulai membuka satu per satu kancing kebaya yang melekat pada tubuhnya.
Ceklek
Jesselyn terkejut saat mendengar suara pintu terbuka sedangkan seingatnya ia sudah menguncinya dari dalam.
Spontan Jesselyn menutup bagian kancing yang sudah ia lepas dengan menggunakan bantal.
Leon mendekat, berjalan pelan sembari melepaskan jasnya dan melemparkannya ke atas ranjang milik Jesselyn.
Sekali tarikan pada pinggang Jesselyn, Leon berhasil membawa sang gadis kedalam pelukannya. Dengan menggunakan sedikit tenaganya Leon berhasil menyinkirkan bantal yang menjadi penghalang antara mereka.
Jangan tanya bagaimana keadaan jantung Jesselyn, berdegup kencang tak karuan dan tidak tahu harus berbuat apa. Menggunakan telunjuknya Leon menyusuri seluruh wajah gadis dihadapnnya. Dari dahi turun kehidung, bibir, dagu dan leher hingga berhenti pada bagian dada yang sudah terbuka kancingnya.
"Ja-jangan kak, ngak usah. Bi-biar aku sendiri saja nanti."
Jesselyn menahan tangan Leon yang hendak membuka kancing kebaya yang lainnya. Leon menatap mata Jesselyn saat tangannya ditahan, ia sama sekali tidak mengindahkan perkataan Jesselyn dan terus melepas satu persatu kancing kebaya hingga semuanya terlepas.
"Kak, a-aku mau...."
"Stttt...," Leon menempelkan telunjuknya dibibir Jesselyn dan menggelengkan kepalanya.
"Sekarang giliranmu," ucap Leon berat.
"Nga- ngapain kak?" tanya Jesselyn semakin gugup.
"Lepas kancing kemeja ini, kemeja ini membuatku gerah dan sesak," ucap Leon mengarahkan dagunya kebawah menunjukkan kemeja ditubuhnya dan dengan kasar melepaskan dasinya.
"Ta-tapi kak," ucap Jesselyn lagi ingin mencari alasan.
"Tidak nurut perkataan suami berarti bukan istri yang baik, iyakan?" seringai Leon menyatukan kening mereka.
Mendengar apa yang diucapkan Leon membuatnya tak berdaya. Dengan mengumpulkan keberaniannya Jesselyn mulai melepas satu persatu kancing kemeja Leon hingga tidak ada yang tersisa.
__ADS_1
Begitu kasar Leon melepas kemejanya dengan sebelah tangan dan sebelah lagi memegang pergelangan Jesselyn, tidak membiarkannya menjauh darinya. Kaos putih yang menempel pun tak luput ia lepaskan.
Kembali Leon menarik pinggang Jesselyn, merapatkan tubuh mereka dan menyatukan kening mereka lagi. Jesselyn meraskan nafas Leon semakin memburu dan dada pria itu maju mundur begitu terasa pada dada miliknya.
Tanpa aba-aba Leon mengecup bibir Jesselyn yang masih diolesi lipstik. Perlahan Leon memagutnya, begitu lembut dan halus hingga lama kelamaan berubah menjadi sedikit kasar karena Leon ********** tanpa henti.
Merasa terganggu dengan kebaya yang masih menempel, Leon langsung melepasnya dengan paksa hingga beberapa payetannya putus dan berserakan dilantai. Dilemparkannya kebaya tersebut dan kembali meraup bibir gadisnya.
Tubuh tegang Jesselyn berdesir saat merasakan kulitnya menempel pada kulit Leon. Rambut Jesselyn yang tadinya tertata rapipun sudah terlihat berantakan. Tanpa henti Leon terus memagut dan ******* bibir Jesselyn yang begitu manis dan menggoda.
"Come on," ucap Leon disela-sela ciumannya karena tak ada respon dari Jesselyn. "Lepaskan!" ucap Leon lagi menuntun tangan Jesselyn kearah ikat pinggangnya.
Jesselyn gelagapan, tak tahu mana yang terlebih dahulu ia lakukan karena Leon yang semakin agresif meraba-raba punggungnya.
Lagi-lagi karena tidak ada respon dari Jesselyn, Leon membuka paksa ikat pinggangnya dan dengan sekali tarikan ia berhasil melepaskannya.
Ceklek
Pandangan Leon dan Jesselyn langsung mengarah pada pintu.
"Ma-maaf, ma-mama ngak tahu kalau kalian ada dikamar ini," ucap Lena saat Leon menarik ikat pinggangnya keatas.
Brakkk
Menutup kembali pintu kamar.
Lena begitu terkejut dengan apa yang baru ia lihat. Awalnya ia hanya akan meletakkan beberapa pakaian baru dan beranggapan jika Jesselyn berada dikamar Leon.
"Dasar anak nakal, tidak sabaran," ucap Lena meninggalkan pakaian baru yang ia bawa dikamar Leon. Ia tahu jika anaknyalah yang pasti memulai kejadian tadi.
Leon menjatuhkan tubuhnya telentang diatas tempat tidur sesudah mamanya meninggalkan mereka. Dengan keadaan bertelanjang dada ia menjambak rambutnya kesal.
Leon membalikkan tubuhnya, menenggelamkan wajahnya pada bantal dan berteriak namun hanya dapat di dengar oleh Jesselyn karena teriakannya ditahan oleh bantal. Leon menendang-nendang kakinya membuat seprei yang melapisi ranjang tersebut berantakan.
Sejak kedatangan Lena tadi dan Leon menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang, Jesselyn hanya diam mematung sembari menggigit-gigit kukunya. Ia juga bingung apa yang harus ia lakukan pada Leon karena pria itu sepertinya begitu kesal akan sesuatu yang ia kurang tahu apa alasannya.
"Kita siap-siap ya kak, nanti mereka kelamaan nunggu kita dibawah," ucap Jesselyn lembut.
Jesselyn duduk disebelah Leon dan mengusap kepalanya.
"Ayo kak," bujuknya agar Leon membalikkan tubuhnya.
Benar saja, Leon langsung membalikkan tubuhnya dan mengangkat wajahnya melihat pada Jesselyn dengan tampilan yang menggoda karena hanya memakai penutup dada hingga perut sedangkan bagian bawahnya masih tertup hingga mata kakinya.
Leon meraih selimut dan melemparkannya pada Jesselyn hingga menutupi wajah dan sebahagian tubuhnya.
"Cepat mandi atau pakai bajumu, jangan membuatku semakin ingin menerkammu sekarang."
Leon beranjak dan memugut pakaiannya yang berserakan disembarang lantai.
"Ingat, setelah ini kamarmu ada di sebelah," ucap Leon mengecup pipi Jesselyn dan berlalu meninggalkannya.
****
Setengah jam berlalu Jesselyn sudah rapi, memoles sedikit bedak dan lip glos pada bibirnya. Sebelum turun ia mengetuk pintu kamar Leon dan masuk kedalam. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati Leon sedang tertidur dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kenapa belum siap kak, ayo pakai baju dan turun ke bawah."
Jesselyn berbicara dengan memalingkan wajahnya dari Leon.
__ADS_1
"Aku lupa bajuku ada dimana," ucap Leon tersenyum. "Bukannya istri lebih tahu dimana tempatnya?"
"Tapi inikan kamar kak Leon dan aku..."
"Kamarmu juga mulai saat ini," ucap Leon mengoreksi perkataan Jesselyn.
Tidak ingin berlama-lama Jesselyn langsung membuka lemari pakaian dan mengambil pakaian untuk Leon.
"Pakai ini kak," menyerahkan sepasang piyama berwarna abu-abu.
"Yakin hanya ini?"
"Memangnya ada yang lain lagi?" tanya Jesselyn balik.
"********** mana?"
Leon menaik turunkan alisnya tersenyum.
"Da- dalaman? Kalau itu kakak sendiri ya yang ambil," ucap Jesselyn menggaruk lehernya kikuk.
"Aku juga lupa tempatnya ada dimana."
Jesselyn mendengus namun ia kembali membuka satu-persatu laci lemari untuk menemukan benda tersebut.
"Disebelah mana kak, aku ngak bisa nemuin dala....ketemu!"
Jesselyn tersenyum saat akhirnya ia melihat kumpulan benda tersebut tergulung rapi dalam salah satu laci lemari. Ia mengambil salah satu dan menyerahkannya pada Leon.
"Jangan bilang kak Leon juga lupa bagaimana cara memakainya."
Baru saja Leon akan mengatakan hal demikian Jesselyn sudah terlebih dahulu mengatakannya.
"Iya...iya...aku pakai sekarang, nih lihat aku pakai nih."
Jesselyn kembali terkejut, ia langsung menutup kedua matanya dan berbalik saat Leon melepas handuk di pinggangnya.
"Kenapa ditutup matanya," ucap Leon sembari memakai pakaian bawahnya. "Dari ujung rambut sampai ujung kaki semuanya milikmu mulai sekarang dan begitupun sebaliknya."
Leon mendekati Jesselyn sambil memakai pakaian atasnya dan berdiri tepat dihadapannya.
"Semua yang ada di dirimu adalah milikku mulai sekarang!" Leon tersenyum dan mengedipkan matanya pada Jesselyn dan berhasil membuat gadis itu tersipu.
"Ayo cepat nanti mama mikir kalau kita ngelanjutin yang tadi."
Leon meraih tangan Jesselyn dan berjalan bersama menuju meja makan dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul dan hanya menunggu mereka berdua.
****
Suasan makan malam kali ini begitu ramai karena semuanya saling melempar candaan namun bagi Jesselyn makan malam kali ini begitu canggung karen ini adalah malam pertama baginya menyandang status sebagai menantu dalam rumah tersebut.
Tak lama usai menyantap makan malam, pun karena lelah dengan aktivitas hari ini satu per satu kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
"Ambil ini, " ucap Lena menyerahkan bungkusan kecil pada Jesselyn. "Bukannya mama mau ikut campur, hanya saja kalian masih muda dan kalau seandainya belum siap untuk punya anak minta Leon untuk memakainya."
"Memangnya ini apa, ma?"
"Ini alat pengaman biar jangan sampai kecolongan," bisik Lena. "Jangan lupa suruh kak Leon memakainya saat kalian melakukannya," lanjutnya lagi berbisik.
Masih dalam keadaan bingung Jesselyn menerima apa yang diberikan mama mertuanya dan kembali ke kamar menyusul Leon yang sudah terlebih dahulu pergi.
__ADS_1
Sejujurnya Lena tidak ada masalah jika seandainya Jesselyn dan Leon langsung memiliki anak namun mengingat mereka yang masih muda ia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Ia tidak ingin kehidupan pernikahan membuat keduanya terlebih Jesselyn merasa terbebani hingga tidak dapat merasakan kehidupan masa mudanya.