Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Balas Budi


__ADS_3

Dua pasang mata saling beradu tak ingin kalah. Keempat bola mata melotot seakan ingin melompat dari tempatnya.


Suasana hening ruangan kosong tempat keduanya saat ini berada semakin menambah ketegangan yang ada.


Sosok gadis manis yang selalu menampilkan senyum diwajahnya berubah hanya dalam waktu semalam. Sorot mata yang begitu tajam darinya membuat pria dihadapannya seolah tak percaya jika itu adalah Jesselyn, gadisnya yang berhasil mendobrak pintu baja hatinya.


Jesselyn menarik tangannya dari genggaman Leon, menatap jengah padanya.


"Mana?" tanya Leon mencoba bersikap tenang.


"Dirumah" jawab Jesselyn ketus seolah malas menanggapi pertanyaan Leon.


"Kenapa dilepas? Bukannya aku sudah bilang untuk tidak melepasnya, ha?" Amarah Leon mulai mencuat hingga tak sadar kini mengeraskan rahangnya. "Kamu sadarkan itu cincin apa?"


"Kenapa harus? Apa pentingnya hingga harus selalu memakainya? Aku punya hak untuk memakai atau tidak memakainya. Sebaliknya, kak Leon ngak punya hak ngatur aku."


"Aku dan kamu sudah tunangan," tunjuk Leon pada cincin dijarinya sendiri. "Jadi, aku punya hak atas kamu!" ucap Leon membentak. Ia tidak menyangka jika pertungangan antara mereka berdua dianggap biasa saja oleh Jesselyn.


Jesselyn menarik keatas sudut bibirnya, tersenyum sinis mendengar ucapan Leon.


"Jangankan yang masih tunangan, yang sudah menikah sekalipun bisa cerai kak," ucap Jesselyn begitu santai.


Emosi Leon memuncak mendengar perkataan Jesselyn. Ia menarik dan menekan kuat kedua lengan gadis itu.


Rasa sakit begitu terasa dikedua lengan gadis itu namun sekuat tenaga Jesselyn menahannya tak ingin kalah dari Leon.


"Lepas!" teriak Jessely membuat seseorang yang melewati ruangan itu masuk kedalam untuk mencari sumber teriakan.


Sinta melongo melihat Jesselyn bersama dengan Leon. Ia yang memang sedang mencari keberadaan Jesselyn, menarik tubuhnya tak ingin mengganggu keduanya yang begitu serius. Seperti biasanya, Sinta bukanlah orang yang ingin tahu pada setiap hal yang ia lihat dan dengar dan menjunjung tinggi akan privasi seseorang.


"Maksud kamu apa?" menggoyang tubuh Jesselyn. Suara Leon bergetar, ia tidak pernah membayangkan mendengar kalimat itu terucap dari bibir gadisnya.


Dert...


Dert...


Dert...


Jesselyn merogoh kantong celana jeans-nya mengambil ponsel dari dalam. Dilihatnya nama kontak sipenelpon yang ternyata adalah Leo.


Mata Leon mengikuti pergerakan tangan Jesselyn dan bola matanya berhasil menangkap nama yang menghubunginya


"Kenapa dia selalu hubungin kamu, dia mau apa?" tanya Leon tak suka.


"Bukan urusan kak Leon!" ucap Jesselyn melototkan kembali matanya pada Leon. Melepaskan tangan Leon yang menekan lengannya dan berlalu meninggalkannya.

__ADS_1


Brakk


Leon menendang salah satu kursi diruang itu dan tak sengaja mengenai tulang betisnya.


"Arghhhh..." ringis Leon kesakitan namun sama sekali tidak dipedulikan oleh Jesselyn bahkan untuk sekedar menoleh pun tidak.


****


Brummm....


Usai pertengkarannya dengan Jesselyn yang sama sekali tidak ada hasilnya dan ia juga tidak tahu yang menjadi alasan gadisnya itu marah, Leon langsung pulang kerumah tanpa menunggui Jesselyn seperti biasanya.


Lena yang baru keluar dari kamarnya merasa ada yang salah dengan putranya. Belum sempat memanggil anaknya ia malah dikagetkan suara dentuman keras. Secepat mungkin ia berlari menyusul Leon yang sudah berada dilantai atas.


Ptak...


Dengan kasar Leon membuka pintu kamar Jesselyn dan mendorongnya kuat hingga mengenai tembok. Ia sama sekali tidak menghiraukan bunyi yang dihasilkan, bunyi yang membuat mamanya melonjak kaget.


Mondar-mandir ia mencari sesuatu. Kedua matanya menyapu atas meja milik Jesselyn. Satu persatu laci ia buka, namun tak kunjung menemukan yang ia cari.


Lena yang sudah berada di depan pintu pun kebingungan, dilihatnya wajah Leon memerah dengan rahang yang mengeras. Sebelah tangannya terkepal sedangkan yang sebelah lagi sibuk menyibak selimut diatas ranjang milik Jesselyn mencari sesuatu.


"Leon, kamu ngapain dikamar Jesselyn? Kamu lagi cari apa, nak?" tanya mamanya mendekati Leon. "Leon, mama tanya kamu lagi ngapain disini, ha?" Lena menarik tangan Leon karena tidak mengindahkan pertanyaannya.


Matanya menjurus pada pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Ia melepaskan tangan mamanya dan berjalan memasuki kamar mandi.


Didalam wastafel ia melihat dua cincin yang begitu berharga dan istimewa baginya terendam dalam air seperti benda yang tidak ada artinya.


Dengan tatapan nanar dan sendu ia mengeluarkan kedua cincin itu dari dalam wastafel yang berisi air.


Hal itu tidak lepas dari penglihatan Lena. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun rasa khawatir dan iba menyatu menyaksikan Leon yang kini duduk menekuk kedua lututnya dilantai kamar mandi sambil mengusap air mata.


Lena menghampiri Leon dan berjongkok disebelah kanan anaknya itu. Tanpa bertanya ia membawa Leon kedalam pelukannya. Lena menepuk-nepuk punggung Leon mencoba menenangkannya.


"Ma" ucap Leon menahan isakan namun air matanya lolos meluncur tanpa ada hambatan. "Leon ngak ngerti, ma. Kenapa jadi seperti ini, ma?"


"Mama ngak tahu apa yang terjadi, tapi percaya sama mama kalau semuanya pasti akan baik-baik saja, ya?" ucap Lena menyeka air mata Leon. "Semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik nanti, jadi kamu jangan seperti ini," berusaha menenangkan dan memberi pengertian pada Leon.


****


Disebuah taman yang tak jauh dari area kampus Jesselyn terus menerus mengusap air matanya dengan sebelah tangan menggenggam ponsel dekat telinganya.


"Maafin ibu, Jes. Ibu ngak bermaksud bohongin kamu, itu juga sudah masa lalu, nak. Ibu yakin mereka benar-benar sayang sama kamu," ucap Mira, ibunya Jesselyn dari seberang telepon.


"Kenapa ibu bisa seyakin itu? Mereka cuman mau balas budi, mereka merasa berhutang karena tante Lena makanya ayah meninggal waktu itu. Ibu bohong bilang ayah meninggal karena kecelakaan saat bekerja. Ayah meninggal karena tante Lena. Kalau bukan karena tante Lena maksa ayah buat kasih donor jantung itu, ayah mungkin pasti masih ada sekarang, bu."

__ADS_1


Disana, disebua rumah kecil dan sederhana seorang ibu sedang duduk di depan mesin jahit menangis mendengar setiap kalimat yang diucapkan putrinya melalui sambungan telepon.


Bayangan saat putri kecilnya dulu meraung-raung menyaksikan tubuh kaku tak bernyawa ayahnya saat berada dirumah sakit kembali menyapa ingatannya.


"Kamu tahu dari mana, nak?" tanya Mira sedih mendengar isakan putri semata wayangnya itu.


"Aku dengar sendiri, bu. Semalam Jesselyn ngak sengaja dengar obrolan om dan tante soal meninggalnya ayah."


Flash BACK ON


Saat Jesselyn mendengar obrolan Bagas dan Lena ketika ia menuju dapur untuk membuat kue sebagai hadiah buat Leon.


"Mama ngak nyangka dan kepikiran kalau Jesselyn, putri pak Pandu dan Leon anak kita bisa sampai seperti ini hubungannya," ucap Lena diiringi tawa kecil.


Hahaha....


Tawa Bagas menggelegar diruang tamu.


"Apa sih yang ngak bisa terjadi, ma? Kalau Tuhan sudah berkehendak tidak ada satupun yang bisa menghalangi, termasuk orang itu sendiri. Buktinya mama sendiri. Mama masih bisa hidup dan ada bersama dengan kami sampai sekarang."


"Iya, pa. Mama ngak bisa bayangin gimana dengan Leon dan Nadya kalau dulu mama yang ninggal gantiin ayah Jesselyn."


Lena mengingat saat pak Pandu menangis menitip keluarganya sebagai permintaan terakhirnya.


"Untung saja pak Pandu berbaik hati saat kita meminta donor yang seharusnya untuk beliau. Papa masih ingatkan, mama sampai nangis-nangis waktu memintanya pada pak Pandu?"


Jesselyn tak tahan membendung air matanya, ia kembali ke kamarnya tanpa mendengar keseluruhan obrolan kedua suami istri tersebut.


"Tapi mama sangat menyesal karena hal itu malah membuat pak Pandu pada akhirnya meninggal. Mama ngak bisa bayangin bagaimana masa kecil Jesselyn tanpa sosok seorang ayah. Ibunya hanya pernah cerita saat SD dulu ia menangis sepulang sekolah karena sedih menyaksikan teman-temannya diantar jemput ayah mereka sedangkan Jesselyn tidak." Lena menceritakan apa yang ia dengar dari Mira, ibunya Jesselyn.


Hem...


Bagas menghembuskan nafasnya, ia merasa sesak mendengarnya. Bagas akhirnya mengerti mengapa Jesselyn selalu tersenyum setiap kali ia mengantar gadis itu saat SMA dulu. Senyum dan matanya akan semakin berbinar tatkala sesekali ia menjemput Jesselyn dari sekolah. Gadis itu akan berlari menghampirinya kemobil dengan senyum merekah sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling seolah ingin memamerkan ia yang dijemput.


"Papa bisa ngerti apa yang dia rasakan, papa juga sangat senang dia ada disini."


"Iya, pa. Semuanya berjalan dengan baik saat Leon akhirnya bisa membuka hatinya buat Jesselyn. Jadi, kalau kita sudah tidak ada nanti, ada Leon yang akan jagain dia. Sampai akhir hidup, mama tidak akan pernah bisa membalas kebaikan pak Pandu. Mama hanya bisa memberikan kasih sayang mama buat Jesselyn, pa."


"Sudah, ma. Hari ini hari bahagia karena Leon wisuda. Jadi ngak baik kalau nangis-nangis, hem?" membawa istrinya yang mulai menangis kedalam pelukannya.


Ya, Lena akan selalu seperti itu. Ia akan selalu sedih dan menangis jika membicarakan tentang pak Pandu, ayah Jesselyn. Ia sadar jika apapun yang ia lakukan dan berikan pada keluarg pak Pandu tidak ada artinya dibandingkan dengan waktu yang ia boleh dapat lewati bersama suami, Leon dan Nadya.


FLASH BACK OFF


...terimakasih masih setia mengikuti cerita ini,...

__ADS_1


...maaf jika tidak sesuai dengan ekspektasi para pembaca 🙏🙏 jangan lupa untuk support cerita ini ya teman-teman 😊😊...


__ADS_2