
Lima bulan kemudian....
Sebuah mobil sedan menerobos gelapnya malam yang sedang diguyur hujan lebat. Dalam keadaan khawatir bercampur takut Leon melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Pandangannya bergantian pada jalan di depan mata dan wanita yang mengerang kesakitan disebelahnya.
Saat terbangun hendak buang air kecil Jesselyn tiba-tiba merasakan keram pada perutnya, ia menangis ketakutan melihat cairan mengalir ke kakinya. Leon yang tengah tertidur pulas terbangun mendengar tangisannya, menghampirinya ke kamar mandi dan melihat Jesselyn bersandar pada dinding kamar mandi dengan derai air mata.
"Kamu kenapa?"
Leon yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi langsung tertuju pada pakaian bawah yang digunakan Jesselyn.
Jesselyn hanya menggelengkan kepalanya disela-sela isakannya. Ia tidak berani bergerak karena takut.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Leon mengambil mantel, memakaikannya pada Jesselyn dan menggendongnya menuju garasi.
Jalanan licin dan hujan lebat seolah mendukung kekalutan keduanya. Sambil menyetir Leon menghubungi mamanya yang berada di Bogor untuk memberitahu keadaan Jesselyn.
"Pelan-pelan kak, jangan ngebut. Telponnya nanti aja waktu dirumah sakit."
"Ha? Oh iya, maaf."
Jalanan yang sepi membuat laju kendaraan Leon yang sedikit cepat dapat dengan mulus tiba di depan pintu Gawat Darurat rumah sakit.
Satpam yang bertugas langsung mengarahkan Leon dan dokter yang sedang piket berjaga pun sudah bersiap untuk memberi pertolongan.
"Tolong istri saya, dok. Itu ada cairan dok yang keluar, tolong dok."
"Tenang, pak. Kalau bapak kalut bagaimana dengan istri bapak," ucap dokter melihat kekalutan Leon.
"Maaf, dok. Saya cuman khawatir istri dan anak saya kenapa-napa."
"Bapak yang tenang, kita akan periksa istri bapak."
Seorang dokter dan perawat mengecek kondisi Jesselyn dan bayi dalam kandunganya sedangkan Jesselyn yang terbaring diatas kasur rumah sakit hanya bisa diam dan menunggu apa yang aka dikatan si dokter. Pun dengan Leon yang berada di samping Jesselyn tak melepas genggamannya dan terus mengusap lembut rambut Jesselyn.
"Usia kandungannya memang belum genap sembilan bulan tapi kita harus melakukan operasi saat ini juga dikarenakan air ketuban yang sudah pecah. Jadi cairan yang keluar yang bapak dan ibu lihat tadi adalah air ketuban."
"Lakukan yang terbaik dok buat istri dan anak saya."
Tanpa berpikir panjang Leon langsung menyetujui apa yang dikatakan oleh dokter.
"Kamu siap kan, sayang?"
Meski khawatir dan takut namun Jesselyn mengangguk sembari tersenyum. Ia tahu jika Leon sama khawatirnya dengannya dan ia tak mau membuat suaminya itu semakin ketakutan. Meski terlihat kuat diluar namun sesungguhnya Leon seseorang yang mudah kalut saat dalam keadaan yang genting.
"Kamu jangan takut, oke?" ucap Leon memberi kekuatan namun siapa sangka Jesselyn malah tertawa kecil mendengarnya.
"Kakak yang harus tenang dan jangan takut. Aku akan baik-baik aja kalau kak Leon juga tenang dan ngak gugup."
"Aku tenang kok, aku ngak gugup."
Leon mengambil ponselnya dan kembali menghubungi mamanya dan memberitahu keadaan Jesselyn.
"Ibu kak," ucap Jesselyn mengingatkan Leon untuk memberitahu ibunya di kampung.
Usai mematikan sambungan telepon seorang perawat memintanya untuk menandatangani kertas untuk dilakukannya tindakan operasi.
Awalnya pihak rumah sakit dan dokter yang menangani persalinan Jesselyn melarang Leon untuk ikut kedalam ruang operasi namun karena Leon yang keras kepala dan memaksa akhirnya keinginannya dikabulkan.
"Kamu kuat sayang dan kamu pasti bisa. Aku ngak akan ninggalin kamu."
Sepanjang proses operasi berlangsung Leon tak berhenti mengucapkan kalimat-kalimat sayang dan cinta, menciumi wajah Jesselyn dan tak melepas genggaman tangan mereka.
Mendapat kabar mengenai kondisi Jesselyn yang akan melakukan operasi Lena dan Bagas langsung menuju Jakarta tepatnya rumah sakit tempat Jesselyn berada. Meski tidak ikut tetapi oma dan opa berharap dan mendoakan yang terbaik.
__ADS_1
****
Dikamarnya Ilham tengah gelisah pasalnya sejak siang tadi Nadya sama sekali belum menghubunginya, tidak seperti hari-hari biasanya.
Panggilan dan pesan yang ia kirim tak satupun direspon.
"Sudahlah, paling dia lagi sibuk dengan tugas kampusnya dan ketiduran."
Ilham naik keatas tempat tidurnya dan baru saja ia merebahkan tubuhnya ia tersenyum mendapat panggilan telpon dari Nadya. Tanpa melihat nama si penelepon Ilham tahu jika orang itu adalah Nadya karena khusus untuk gadis itu ia membuat nada dering yang berbeda dari semua kontak yang ada di ponselnya.
"Pak dokter....."
Suara keras Nadya membuat Ilham menjauhkan ponsel dari telinganya. Biasanya ia akan menggunakan nada yang lembut saat menghubungi Ilham namun kali ini suaranya begitu memekakan telinga dan terdengar begitu bersemangat.
"Sebentar lagi kita nikah, pak dokter!" ucap Nadya bersemangat.
"Kerongkongan kamu ngak sakit kalau teriak?"
"Untuk yang satu ini enggak kok. Hahaha... Barusan mama telpon aku dan ngabarin kalau Jesselyn lagi mau lahiran, itu artinya kita bakalan nikah sebentar lagi, itu artinya kita akan jadi suami-istri, itu artinya pak dokter bakalan sah jadi suami aku, itu artinya kita akan tinggal bersama, itu artinya...."
"Itu artinya kita juga bakalan punya anak," ucap Ilham menghentikan Nadya yang tak berhenti bicara.
"Apa? Anak? Anak kita? Aku mau!"
Ilham tak dapat menahan senyumnya, dia yang tadi sudah mulai mengantuk senyum-senyum mendengar semua rencana dan angan-angan Nadya mulai dari rencana pernikahan hingga saat nanti sudah memiliki anak.
****
Suara tangis bayi pecah dalam ruang operasi, suara kecil tak berdosa itu memenuhi seisi ruangan. Leon tak tahan membendung air matanya, ia terisak haru untuk pertama kalinya mendengar suara tangis bayi baru lahir dan itu tangis bayinya, buah cintanya bersama wanita yang sangat dicintanya.
"Anak kita sayang, kamu dengar suaranya kan?"
Sama seperti Leon, ia pun menangis bahagia. Seluruh wajahnya dihujani ciuman oleh pria yang masih setia menggenggam tangannya.
Setelah menyelesaikan seluruh tindakan operasi dan membersihkan si bayi, seorang perawat membawa bayi itu pada Leon dan Jesselyn.
"Makasih, suster."
"Bayinya ganteng seperti papanya."
"Anak saya laki-laki, sus?"
"Iya, anak bapak dan ibu laki-laki. Ini pak, gendong anaknya."
Meski canggung namun Leon menerima bayinya dan menggendongnya dengan penuh hati-hati.
"Anak papa," ucap Leon mencium kening bayi laki-lakinya.
Ia menunjukkannya dan meletakkannya disebelah Jesselyn yang masih terlihat lemah setelah operasi.
"Ganteng ya seperti aku," ucap Leon percaya diri.
"Aaaa...." Jesselyn kesakitan menahan tawa akibat ucapan Leon.
"Tahan sayang, jangan banyak gerak nanti perut kamu sakit," ucap Leon mengusap kepala Jesselyn. " Makasih ya sayang, makasih buat bayinya."
"Anakku ganteng!" ucap Jesselyn dengan suara yang begitu pelan.
"Anak kita," ucap Leon mengoreksi perkataan Jesselyn.
"Iya, anak kita. Anak Leon dan Jesselyn."
****
Saat subuh Lena dan bagas tiba dirumah sakit. Keduanya ikut menangis bahagia atas kelahiran cucu pertama meraka. Bagas meminta dokter untuk memberikan perawatan terbaik pada Jesselyn agar kondisinya cepat pulih.
__ADS_1
"Sekarang kita sudah jadi opa dan oma. Sama seperti bapak dan ibu di Bogor," celetuk Bagas menyeringai.
"Iya, pa. Dan itu tandanya papa ngak usah repot-repot lagi buat ngecat rambut papa yang putih."
"Hahaha... Jangan dong, ma. Papa juga masih mau terlihat muda. Papa ngak sabar pengen jalan-jalan berdua ditaman dengan cucu papa."
"Sabar dong, pa. Baru lahir juga, nanti ada waktunya."
****
Mira yang juga sangat menantikan kelahiran sang cucu menyempatkan dirinya selama beberapa hari melihat Jesselyn dan anaknya. Saat ini ia sedang menimang cucunya itu yang masih berumur beberapa hari sambil menyanyikan lagu tidur.
"Anak Jesselyn ganteng ya, ma."
"Anak Leon juga, ma."
"Iya-iya, anak kalian dua, papanya juga ganteng," ucap Mira menggoda putrinya yang sudah berstatus sebagai seorang ibu.
"Oh iya, kalian sudah punya nama buat anak kalian?"
"Sudah, ma. Leon sudah siapin namanya."
" Siapa?"
"Adnan Gibran, yang artinya penenang hati yang pandai. Leon mau selain menjadi orang yang cerdas dan berilmu anak Leon juga menjadi seorang yang dimana kehadirannya membawa ketenangan pada orang-orang disekitarnya, khususnya buat Jesselyn, mamanya.
"Nama yang sangat bagus. Kalian juga harus ingat, sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik buat cucu mama ini."
"Iya, ma."
Jesselyn dan Leon tersenyum melihat Adnan yang begitu tenang digendongan Mira.
****
Kondisi Jesselyn yang cukup stabil membuatnya tidak perlu berlama-lama berada dirumah sakit. Kini ia sudah berada dirumah akan tetapi dalam pengawasan ketat Leon. Keduanya sepakat untuk tidak menggunakan jasa seorang baby sister dalam mengasuh anak mereka. Jesselyn tidak terlalu khawatir untuk mengasuh anaknya saat Leon bekerja karena ada mama Lena yang akan membantunya.
Masa-masa menjadi orang tua baru begitu mereka nikmati meski harus begadang dan siaga setiap kali mendengar tangis sibayi.
"Kak Leon bisa geser dikit lagi ngak sih, lagian kalau tidurnya seperti ini kan kasihan Adnan jadi dipinggir. Mending kak Leon pindah biar Adnan ditengah seperti biasanya."
"Kalau aku taruh dalam box-nya gimana, dia juga udah tidur nyenyak, boleh kan?"
"Enggak boleh! Biar Adnan tidur di tengah dan kak Leon minggir sana."
"Tapi aku juga kangen sama kamu, kamu ngak kasihan? "
"Terus kak Leon maunya gimana?"
"Seperti yang aku bilang tadi, Adnan aku taruh dalam box-nya dan kalau nangis aku ambil lagi dan letakin disamping kamu," gimana? Lagian anak kita anteng kok boboknya dan ngak rewel. Oke-oke?"
"Ngak!"
Leon mendengus, ia pindah keposisi yang diminta Jesselyn.
"Cepat besar ya, nak."
"Memangnya kenapa?" tanya Jesselyn dengan mata yang mulai terpejam.
"Biar dia tidur dikamarnya sendiri dan aku bisa disayang-sayang kamu lagi tiap mau tidur."
"Hahaha.... Dasar! Kak Leon harus sadar kalau sekarang kakak itu sudah jadi seorang papa ."
"Aku sadar kok, malah aku senang jadi papa muda. Adit aja cemburu lihat aku sudah gendong anak sendiri."
"Ya sudah. Lebih baik sekarang kak Leon istirahat, besok kakak kerja dan ketemu klien penting, iyakan?"
__ADS_1
"Tapi cium dulu," pinta Leon memajukan bibirnya.
Jesselyn tertawa kecil takut bayinya terbangun. Dengan gerakan tangan ia menyuruh leon untuk mendekat dan memberinya ciuman selamat malam.