Dear Me Jesselyn Anastasya

Dear Me Jesselyn Anastasya
Laki-Laki Egois dan Brengsek


__ADS_3

Dibawah, disamping Jesselyn berada Leon menjatuhkan tubuhnya, masih dengan kepala menunduk ia berlutut dengan wajah kusut dan berantakan.


"Maaf"


Satu kata keluar dari mulutnya atas perbuatan yang baru ia lakukan. Dengan tubuh atas tanpa sehelai benang pun yang menempel, telapak tangan yang terus-menerus menyeka air mata dan suara hati yang tak berhenti memaki diri sendiri Leon berlutut penuh iba.


"Maaf"


Seperti bocah yang baru pandai berbicara dan minim kosa kata Leon terus-menerus hanya mengucapkan kata maaf.


Jesselyn tak bergeming sedikitpun setiap kata itu keluar dari mulut bibir yang baru saja dengan rakus mencumbunya. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian yang hampir membuatnya kehilangan sesuatu yang paling berharga dan yang harus ia serahkan kepada pria masa depannya.


"Maaf. Aku salah, aku tidak seharusnya seperti ini. Bicaralah katakan sesuatu," ucap Leon dengan suara yang tak kalah parau dengan Jesselyn.


"Hiks...hiks...hiks..," hanya suara tangis yang terdengar dari gadis itu.


Marah, kesal dan emosi yang dirasa Leon sejak membawanya ketempat mereka sekarang berada berubah menjadi rasa penyesalan yang tak dapat ia ungkapkan dengan apapun.


Leon berdiri, mencoba mendekati gadis yang masih memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan dari posisinya berada.


Ranjang bergoyang membuat Jesselyn semakin memeluk erat tubuhnya membuat tangisnya semakin tak karuan.


"Jangan lagi kak, jangan lakukan lagi," Jesselyn memohon seakan Leon ingin mengulangi perbuatannya lagi.


"Ngak, aku minta maaf. Aku salah dan sudah seharusnya mendapat hukuman," Leon meraih kedua tangan Jesselyn yang justru membuatnya tambah takut.


"Lepas kak," Jesselyn mencoba menarik tangannya namun Leon menahannya kuat.


"Apa sekarang kamu takut sama aku, hem? Kamu takut dengan si brengsek ini?"


Jesselyn menganggukkan kepalanya namun tak berani menatap wajah pemuda di depannya.


"Jangan diam saja, ayo kamu pukul aku, pukul, pukul..." ucap Leon mengarahkan kedua tangan Jesselyn pada wajahnya agar gadis itu melampiaskan kemarahannya. "Ayo, kamu pukul aku yang kuat. Kamu bisa tampar aku dan memaki aku. Oh, aku tahu kamu sangat ingin menjambak rambutku dari dulu maka sekarang kamu bisa melakukannya dengan sesukamu. Ayo, ayo, ayo lakukan. Hug...hug...hug..."


Tak berhenti Leon menuntun tangan Jesselyn agar memukul dan menjambak rambutnya diiringi tangis penyesalannya. Ia sadar perlakuannya kali ini tidak akan mudah untuk dimaafkan.

__ADS_1


Leon menjatuhkan kepalanya dekat kaki Jesselyn yang tertutupi selimut putih kusut. "Ayo, pukul aku sesukamu."


Bukannya semakin diam suara tangis Jesselyn pun semakin menjadi-jadi.


Jesselyn tidak dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Ketakutannya, kemarahannya dan kesedihannya atas perlakuan Leon membuatnya merasa tak ingin bersitatap dan mengatakan apapun pada Leon. Akan tetapi disisi lain melihat Leon dengan keadaan dan tangisnya seperti sekarang ini membuatnya begitu iba dan kasihan.


"Tolong jangan menangis lagi," pinta Leon penuh harap.


Cukup lama mereka dengan posisi Jesselyn meringkuk memeluk erat selimut dan Leon yang menjatuhkan kepalanya dekat kaki gadis itu.


****


Pukul satu dini hari Jesselyn membuka matanya perlahan-lahan karena sempat tertidur sangkin lelah yang ia rasa. Kepala dan matanya terasa berat, mungkin karena efek dari menangis. Ia mengangkat kepalanya dan saat akan menggerakkan kakinya ia merasakan sesuatu yang berat.


Mata yang masih sendu itu manatap tubuh pria yang sepertinya juga sedang tertidur di dekat kakinya.


Jesselyn mengeluarkan satu tangannya dari dalam selimut, dengan pelan ia mengelus rambut Leon agar tidak membuatnya terbangun.


Bulir bening kembali menetes dari pelupuk matanya. Dilihatnya sekeliling yang begitu berantakan oleh pakaian, tas dan sepatu yang berserakan dimana-mana dan kembali pada Leon yang tanpa busana dibagian atas tubuhnya.


"Maafin Jesselyn juga kak, aku tahu kakak marah karena tahu aku kerja dan tidak menghiraukan semua pesan dan panggilan telepon dari kakak," ucap Jesselyn dengan suara yang begitu pelan. "Tapi kenapa harus sampai seperti ini kak, aku takut dengan kak Leon yang seperti ini."


"Maaf"


Suara Leon mengagetkan Jesselyn, dengan cepat ia menarik tangannya dari rambut leon dan merebahkan tubuhnya. Ia membelakangi Leon dan menyelimuti tubuhnya hingga leher.


Leon yang ternyata tidak tidur mendengar semua apa yang diucapkan oleh Jesselyn. Ia duduk memandangi tubuh yang memunggunginya. Ia merebahkan tubuhnya disamping gadis yang kini sedang berpura-pura tidur.


Jantung Jesselyn kembali berdegup kencang merasakan hangatnya nafas Leon mengenai wajahnya.


"Apa kamu setakut itu denganku, hem?" tanya Leon lembut. Refleks Jesselyn menganggukkan kepalanya tak sadar jika ia sedang berpura-pura tidur. "Tidurlah, besok pagi kita pulang."


Kerja jantung Jesselyn semakin cepat tatkala Leon memeluk tubuhnya erat membuatnya berdesir tak karuan.


Meskipun butuh waktu lama namun pada akhirnya Jesselyn dapat tidur nyenyak berbeda dengan Leon yang sama sekali tetap terjaga.

__ADS_1


****


"Kenapa belum tidur, ma? Ini sudah hampir setengah tiga pagi loh, ma."


"Leon belum pulang, pa. Mama telpon ngak diangkat, biasanya kalau pulang telat atau nginap dirumah teman selalu kabarin mama."


Lena masih terjaga menunggu Leon yang belum pulang. Sebenarnya sejak Leon kembali dan pergi lagi Lena merasa ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Lena tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya namun ia begitu cemas mendapati Leon yang belum pulang hingga jam dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi.


"Mama sudah cek ke kamarnya dan kamar Jesselyn belum?"


"Sudah pa, dari tadi mama belum dengar suara motornya juga. Mama belum tidur dari tadi."


Bagas menarik tangan istrinya agar meletakkan kepalanya diatas bantal. Ia mengerti bagaimana perasaan khawatir dan cemas istrinya saat ini.


Namanya juga seorang ibu, sebesar apapun anak itu dan setua apapun seorang anak, yang namanya anak tetaplah anak yang akan selalu berada dalam hati dan pikiran orangtuanya, terlebih ibu yang sudah melahirkannya.


"Sudah, mama tidur aja sekarang. Mungkin Leon lupa kabarin kita, bukannya tadi mama bilang kalau Leon pergi lagi karena ada urusan dikantornya, hem? Leon itu seorang arsitek yang semakin malam maka ide-ide brilian untuk membuat design gambar semakin bagus. Mungkin dia asik kerja dan lupa kasih kabar. Jadi mama tidur ya?"


Bagas memberi pengertian pada istrinya meskipun sejujurnya ia juga khawatir dan cemas seperti teman hidupnya itu namun tidak mungkin ia menunjukkan hal itu disaat istrinya juga perlu ditenangkan.


Ada sedikit rasa tenang dihati Lena saat mendengar penuturan suaminya. Mata yang sebenarnya sudah berat akhirnya mengajaknya untuk berbaring disebelah suaminya.


****


Sementara orang-orang sedang tertidur pulas Leon justru masih tetap terjaga. Sebentar pun Leon tak melepas pelukannya pada Jesselyn yang sudah bersatu dengan alam mimpinya.


Perlahan Leon membalikkan tubuh gadis itu menghadap ke arahnya. Wajah sembab dan sendu, mata merah dan bengkak serta bibir yang terdapat sedikit luka gigitan karena ulahnya membuatnya semakin merasa bersalah dan menyesal.


"Aku sayang sama kamu hingga tak ingin ada laki-laki lain yang dekat denganmu. Aku yang egois karena ingin membuatmu jadi milikku seutuhnya hingga aku hampir melakukan kesalahan terbesar padamu. Maafkan aku, tolong maafkan aku, laki-laki egois dan brengsek ini."


Leon membawa Jesselyn kedalam pelukannya. Ciuman yang begitu lembut ia berikan pada kening sang gadis dan tak lupa juga pada bagian bibir yang terluka.


Jesselyn menggeliat, ia justru semakin menenggelamkan kepalanya pada dada polos dihadapan wajahnya hingga membuat wajah dan dada itu menempel.


"Tidurlah."

__ADS_1


Cup


Sekali lagi Leon mencium lembut kening Jesselyn.


__ADS_2