
Di parkiran, dalam salah satu mobil sedan dua orang membisu tak satu pun mengeluarkan suara mereka.
Jesselyn tertunduk lesu sekaligus malu, tidak berani melihat kearah Leon yang juga diam tanpa sepatah kata. Leon diam namun ia tidak melepas pandangannya pada Jesselyn. Dengan kepala yang diletakkan diatas setir mobil, Leon senyum-senyum memandangi wajah Jesselyn yang begitu malu.
Sebenarnya leon tidak tahan melihat wajah Jesselyn yang menahan malu dan merasa tak enak setelah pertemuannya dengan wanita yang menurutnya begitu seksi tadi. Akan tetapi Leon sengaja menunggu sampai gadis itu yang deluan bicara.
"Maaf kak?" ucap Jesselyn membuka suara.
"Untuk apa?"
Timbul niat Leon untuk sedikit mengerjai Jesselyn.
"Yang tadi."
"Yang tadi mana?"
"Yang tadi kak, untuk wanita yang tadi."
"Oh... wanita yang tiba-tiba meluk aku tadi?"
Jesselyn menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Leon.
"Ya sudah, lupain aja."
Leon menyalakan mesin mobil dan keluar dari parkiran gedung.
Leon menyetir mobil dengan senyum diwajah mengingat kejadian saat seorang wanita tiba-tiba memeluknya dengan erat. Bahkan dengan tatapan tidak suka Jesselyn bertanya siapa wanita tersebut.
Jesselyn tidak dapat menyembunyikan rasa malunya saat wanita itu mengelus rambut dan pipi Jesselyn sambil memperkenalkan siapa dirinya.
Wanita itu adalah Siska, kakanya Adit sekaligus designer yang menangani gaun pengantin yang dipakai Bela dan yang juga akan menangani gaun pengantin buat Jesselyn.
Siska yang sudah menganggap Leon seperti adiknya sama seperti Adit, tak sengaja bertemu Leon tadi apalagi mereka sudah lama tidak bertemu, sehingga Siska merasa senang dan langsung memeluk Leon.
Biasanya dulu kalau bukan Adit yang main kerumah Leon, maka Leonlah yang akan main kerumah Adit. Mungkin karena sudah bekerja dan memliki aktivitas yang bertambah membuat Leon dan Adit tidak punya waktu saling berkunjung apalagi mereka setiap hari juga bertemu ditempat bekerja.
Jesselyn yang sudah berpikir aneh-aneh pun akan wanita tersebut semakin merasa malu saat seorang pria melingkarkan tangannya di pinggang Siska dan memanggilnya dengan sebutan sayang. Pria itu adalah Robert, suami Siska yang juga seorang desainer ternama.
"Aku benar-benar minta maaf untuk yang tadi kak karena bersikap tidak sopan," ucap Jesselyn menyesal.
Leon mengelus-elus rambut Jesselyn sedangkan sebelah tangannya memegang kemudi mobil.
"Tapi aku ada satu permintaan dan kak Leon harus janji ngak boleh marah," pinta Jesselyn ragu.
"Apa?"
"Jangan peluk-peluk dan mau dipeluk-peluk sama wanita lain, oke?"
"Kamu cemburu?"
"Bukan cemburu, aku cuman ngak suka ada wanita lain yang menempel sama kak Leon."
"Aku janji. Aku janji tapi ngak janji kalau mereka yang tiba-tiba peluk aku seperti kak Siska tadi. Bagaimana?" goda Leon.
Hiks...hiks...hiks...
Jesselyn menangis mendengar ucapan Leon.
__ADS_1
Chittttt...
Leon menginjak rem mobil saat mendengar isakan Jesselyn. Ia tidak menyangka jika gadis itu akan menanggapi ucapannya serius.
Setelah menepikan mobilnya, Leon melepas seat beltnya dan juga seat belt Jesselyn. Leon menangkup wajah yang sudah basah itu dan membawanya kedalam pelukan.
Hua...hiks..hiks...
"Maaf, aku bercanda. Mana mungkin aku melakukannya pada wanita lain sedangkan ada kamu yang dengan susah payah aku dapatkan. Maaf."
"Janji?"
"Iya, aku janji."
"Ya sudah, ayo pulang."
Sesaat kemudian tangisan Jesselyn berhenti dan menghapus air matanya. Jesselyn tersenyum memakai kembali seat beltnya seakan ia tidak menangis barusan.
Leon mengerutkan alisnya, tidak mengerti dengan sikap Jesselyn yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
****
H - 9 Menjelang pernikahan
Sore hari sepulang bekerja Leon menjemput Jesselyn di kosannya. Ia akan membawa pulang gadisnya itu kembali kerumah papanya.
Jesselyn mengemasi semua barang-barangnya kedalam koper dan kardus dibantu oleh Leon. Jesselyn mengumpulkan semua pakaian yang ia jemur dan membawanya ke dalam, saat akan memasukkan kedalam koper kakinya tersandung oleh buku besar, membuatnya terhuyung dan terjatuh.
Jesselyn dan pakaian ditangannya menimpa Leon yang juga sedang memasukkan buku-buku ke dalam kardus.
Jesselyn mengangkat tubuhnya sedangkan wajah Leon masih ditutupi sempurna oleh pakaian.
Leon menyingkirkan satu persatu kain yang menutupi wajahnya. Leon melotot saat tangannya meraih dan mengangkat keatas braa milik Jesselyn yang juga ikut menutupi mulutnya.
"Ini apa?" tanya Leon berpura-pura tidak mengenal benda tersebut.
"Hakh! Ngak sopan."
Ditariknya braa miliknya dari tangan Leon dengan wajah merah padam dan langsung memasukkannya kedalam koper.
Leon terkekeh tidak dapat menahan tawanya.
Setelah dikira selesai, Leon memasukkan semuanya ke dalam mobil dan kembali kerumah.
Sebelumnya Jesselyn meminta Leon agar berpamitan dahulu dengan pak Asep sebelum mereka pergi namun Leon langsung tancap gas dan berkata jika nanti mereka juga akan ketemu lagi.
Walau ada sedikit rasa kesel namun Jesselyn menurut dan tidak mungkin melompat dari mobil hanya untuk pamit pada pak Asep.
****
H - 8
Usai mengikuti perkuliahan, Jesselyn dan Sinta pergi ke salah satu cafe. Disana Sinta bertujuan untuk menemani Jesselyn bertemu seseorang yang sudah beberapa waktu ini tidak pernah Jesselyn jumpai namun selalu menghubunginya lewat pesan WhatsApp.
Seseorang yang selalu menanyakan kabarnya, pekerjaannya dan kusulitan jika seandainya Jesselyn sedang mengalaminya.
Seseorang yang selalu ingin bertemu Jesselyn diluar namun selalu ditolak halus oleh Jesselyn.
__ADS_1
Kali ini gadis itu ingin memperjelas semuanya agar tidak membuat orang tersebut menjadi lebih kecewa.
Pukul tiga sore akhirnya Leo tiba ditempat yang sudah ia sepakati dengan Jesselyn. Seperti biasa, Leo akan selalu menyimpulkan senyumnya saat bertemu gadis cantik yang sudah berhasi mengetuk dan masuk dalam hatinya.
"Jes, aku pamit ya soalnya manager minta aku ke cafe sekarang juga."
"Tapi bukannya kamu hari ini lagi off, Sin?" tanya Jesselyn merasa heran.
"I..iya, tapi manager bilang lagi ada banyak customer jadi hitung-hitung digaji lembur."
"Terus aku gimana?"
"Santai aja, semuanya bakalan ngalir apa adanya, oke? Aku cabut sekarang, bye..."
Setelah menepuk pundak Jesselyn, Sinta yang sebenarnya berbohong langsung meninggalkan Jesselyn bertepatan saat Leon tiba dimeja mereka berada.
Sinta ingin Jesselyn menyelesaikan semuanya berdua dengan Leo tanpa bantuannya. Sinta tidak ingin berada ditengah-tengah kecangguangan antara Jesselyn dan Leo.
Keduanya hanya memesan minuman dan mulai mengobrol biasa. Tidak ada percakapan yang serius diantara mereka sampai Jesselyn mengambil sesuatu dan menyerahkannya pada Leo.
"Ini apa?" tanya Leo saat mengambil undangan pernikahan dari tangan Jesselyn.
"Makasih ya Le, selama ini kamu sudah jadi teman yang sangat baik. Aku yakin kamu pasti akan ketemu dengan perempuan yang kamu sayang dan juga sayang sama kamu."
"Kamu sayang dan bahagia dengan dia?"
Leo mengepalkan tangannya kuat, sekuat tenaga menyembunyikan rasa sakit dan kecewa dihatinya.
"Iya, dia laki-laki pertama yang aku suka dan sayang. Dan dia juga laki-laki terakhir buat aku."
Bagai disayat sembilu, Leo merasa dadanya begitu perih mendengar apa yang diucapkan Jesselyn. Ia meremas kuat pahanya dengan mata tertutup.
"Apa kamu berharap aku datang?"
"Sangat Le," ucap Jesselyn penuh harap.
"Baik, aku pasti akan datang."
"Makasih ya, Le?"
Leo mengangguk-anggukan kepalanya. Ia sungguh tidak tahan mendengar setiap kalimat bahkan kata yang diucapkan Jesselyn.
Leo meneguk semua isi gelasnya. Satu gelas es jeruk yang dipesannya habis hanya dalam sekali teguk. Dinginnya es jeruk seakan menjadi tambahan pada sesuatu yang mendidih dan panas dihati.
"Sudah sore, lebih baik kamu pulang. Ngak baik anak gadis yang sebentar lagi menikah lama-lama diluar rumah."
"Maaf, Leo."
Dengan perasaan tak enak sekaligus lega Jesselyn bangkit dari duduknya dan meninggalkan Leo yang masih memandangi undangan pernikahan ditangannya.
"Apa tidak pernah ada rasa sayang buat aku dihati kamu meski sedikitpun?"
Suara berat Leo menghentikan langkah Jesselyn.
"Kamu teman terbaik dan akan terus seperti itu," ucap Jesselyn yang lalu melanjutkan langkahnya.
Leo membuang arah pandangannya keluar yang dibatasi kaca bening. Ia tersenyum namun bulir-bulir bening lolos begitu saja dari kedua matanya. Ia tertawa kecil dengan tangan meremass undangan pernikahan gadis yang sangat diharapkannya.
__ADS_1